Rencana Sang Tuan Muda

Rencana Sang Tuan Muda
Menemui Dokter Jantung


__ADS_3

"Bagaimana kalau dia tidak memberikan izin?" tanya Tania kwatir.


"Baik lah. aku sendiri yang akan meminta ijin kepada Kak Raka nanti. ok" Cindi berusaha meyakinkan Tania.


"Yasudah, terserah kau saja. Karna meyakinkan Kaka mu bukan hal yang mudah, kau tau itu kan." jawab nya pasrah.


"Nanti kita cari cara membujuk Kak Raka. ok!" dengan membulatkan wajah.


"Yasudah terserah kau saja" dengan wajah datar


" Nah, gitu dong. ayok kita temui kak Tommy" seraya menarik Tangan Tania bersemangat.


Mereka kembali menemui Tommy yang duduk di bangku taman yang masih memperhatikan hasil jepretan nya dari tadi.


"Jadi kapan kita mulai kak?" tanya Cindi antusias.


"Besok pagi, kalian bisa datang ke studio ku?" seraya menyerahkan sebuah kartu nama " disitu ada nomor ku dan alamat studio" dengan tatapan ke kartu nama.


"Baik kak,, sampai ketemu besok." sambil memasukkan kartu nama ke dalam tas.


"ok, sampai ketemu besok. daa" melambai kan tangan. "Berikan salam ku kepada Ferdi ya" seraya berjalan meinggalkan mereka berdua.


Tania menundukkan kepala sambil tersenyum ketika Tommy melihat nya.


Feeling ku benar benar yakin kalau produk ku kali ini akan sangat berkembang di pasar karna mereka berdua. Semoga feeling ku kali ini tidak salah.


Ketika Tommy pergi dan hanya tinggal mereka berdua.


"Nah sekarang kita pikirkan cara membujuk kak Raka" Ucap Cindi dengan tatapan lurus ke depan seraya bersandar di bangku taman.


"Aku juga tidak tau, kau tau sendiri kan semenjak menikah, ini pertama kali nya aku bisa keluar tanpa asisten atau dia" dengan posisi duduk sama persis dengan Cindi.


"Hhhmmm Hidup mu seperti di sangkar emas ternyata" ucap nya lemas seolah mengerti perasaan Tania.


"Yahh begitu lah, aku bahkan tidak punya teman kecuali kau. Semenjak tidak kuliah lagi, kita juga sudah jarang bertemu" ucap nya dengan wajah cemberut.


"Ha ha ha" Tawa Cindi membuat Tania melihat ke arah nya dengan wajah berkerut.


"Ada yang lucu??" Tanya Tania heran.


"Aku merasa lucu aja, karna bukan hanya kau saja seperti itu, semenjak kau tidak kuliah, aku juga kesepian" ucap nya masih dengan tertawa, membuat Tania juga ikut tertawa.

__ADS_1


"Tapi kak Raka memberikan 2 asisten kepadamu, mungkin agar kau tidak terlalu kesepian kali" ucap Cindi meneruskan ucapan nya.


"Aku juga tidak mengerti Cin, dia susah di tebak" jawab nya lemas.


"Tapi aku perhatikan Kak Raka itu benar benar udah jatuh hati deh kepada mu" menyiapkan mata.


"Sok tau kamu" menaikkan ujung bibir nya.


Jatuh hati bagaimana dia masih saja mengancam ku.


"Tapi mungkin kau belum menyadari nya. Jika dia tidak pernah memberikan ijin kepadamu untuk keluar mungkin karna dia itu sangat mengkwatirkan mu, anggap saja begitu." Cindi mencoba menenangkan Tania.


"Ha ha ha Seandai nya itu benar" jawab nya datar.


"Cara setiap orang dalam mencintai Wanita itu berbeda beda tau, ada yang membebaskan, ada yang protektif, ada yang cemburuan, macam macam tau" ucap nya serius.


"Seperti nya kau sangat mahir dalam urusan percintaan. mm ngmong ngmong menurut mu Sekretaris Jay ganteng nggak??!' Tanya Tania coba mengorek Cindi.


Seketika wajah Cindi berubah, ia seperti menahan sesuatu.


"Wajah nya berkarisma sih, tapi sayang nya dia bukan manusia hahaha" ucap nya seraya tertawa, Tania ikut tertawa juga.


Hari sudah menjelang sore, Mereka berdua memilih untuk pulang sebelum Raka pulang terlebih dahulu ke rumah. Cindi terlebih dahulu mengantar Tania kerumah dan ingin bertemu dengan Raka untuk meminta ijin atas rencana mereka.


Setiba nya di rumah, mobil Raka sudah terparir di garasi memuat Tania menjadi kwatir.


"Mereka sudah tiba di rumah, bisa bisa dia marah nih" ucap Tania kwatir ketika turun dari mobil.


"Jangan panik gitu, sebaik nya kita temui dulu" coba menenangkan padahal ia juga sedikit kwatir.


Mereka melihat Sekretaris Jay berada di bangku taman sedang menikmati secangkir kopi dan sedang membaca sesuatu di tablet nya, dengan kaki di silang.


"Bagaimana kalau kau meminta bantuan kepada Manusia robot itu" Tanya Cindi seraya berjalan dengan nada berbisik.


"Percuma, dia tidak akan mau, aku sudah sering mencoba nya" jawab Tania dengan berbisik tapi sudah semakin dekat kepada sekretaris Jay.


"Baik lah, akan aku coba" Ucap cindi setengah yakin,


Semoga saja hati nya sedang baik.


"Selamat sore sekretaris Jay" Sapa cindi ketika sudah dekat dengan sekretaris jay.

__ADS_1


Ia langsung berdiri dan lantas melihat jam di tangan nya.


"Selamat malam lebih tepat nya Nona" ucap nya tegas.


Sepertinya hati nya sedang tidak baik, bagaimana cara meluluhkan hati nya ya.


"Kau sudah memberitahu Kak Raka kan kalau tadi aku bersama kaka ipar keluar" bertanya dengan melirik Tania.


"Silahkan masuk Nona, Tuan sudah menunggu Anda" memilih berbicara kepada Tania dan mengabaikan pertanyaan Cindi.


"Kau benar. Aku masuk lebih dulu ya Cin" langsung berjalan terburu buru.


"Nanti aku susul" Seru nya setengah teriak karna melihat Tania sudah langsung pergi.


"Sepertinya banyak hal yang ingin anda katakan kepada saya Nona?!" Tanya Sekretaris Jay seraya duduk kembali seperti semula.


"Tidak ada, sebaiknya aku susul Kaka ipar" sembari membuang muka dan hendak berjalan.


"Benar kah, anda tidak ingin menjelaskan ini kepada saya?" menunjukkan sebuah foto.


Oh my God, dia sudah tau, aku belum memikirkan alasan nya lagi.


Cindi langsung duduk tepat di samping Sekretaris Jay, ia mencubit tangan sekretaris Jay.


Kenapa dia bersikap seperti ini lagi.


"Apa yang andan lakukan Nona?" tanya Jay seraya mengusap tangan nya yang di cubit oleh Cindi.


"Apa Robot bisa merasakan sakit ya??" dengan wajah serius "Apa suhu tubuh mu normal seperti kami Sekretaris Jay" langsung menempelkan tangan nya di kening Sekretaris Jay seolah ingin merasakan suhu tubuh sekretaris Jay.


Kini wajah Cindi sangat dekat dengat wajah Sekretaris Jay, namun Jay hanyya diam saja, sepertinya ia menikmati perlakuan Cindi yang aneh kepada nya.


Besok lebih baik aku menemui Dokter Jantung, seperti nya ada yang salah dengan jantung ku, kenapa berdetak sangat cepat begini, aku yakin aku menderita penyakit tertentu. Jay.


Sekretaris Jay langsung berdiri.


"Apa yang Anda lakukan Nona??" Tanya sekretaris Jay namun dengan wajah yang salah tingkah.


"Aku sangat yakin Jay, kau bukan manusia, kau tau segala nya. Padahal aku dan Tania hanya berdua saja tanpa asisten hari ini, tapi kau tetap bisa mengetahui apa saja yang kami lakukan dan dengan siapa kami berbicara. Kau lahir dari planet mana sih??" masih dengan wajah serius.


Kenapa dia sangat menggemaskan begini. Aku sering melihat Nona bersikap seperti ini kepada Tuan. Dia juga bersikap seperti ini kepada ku, apa semua wanita seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2