
Satu minggu sudah berlalu dari hari pembukaan Yayasan, Tania lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak anak, karna pekerjaan nya tidak banyak. Semua sudah di handle oleh Suci, siapa lagi yang memberikan perintah kalau bukan Raka, ia tidak mau Tania terlalu sibuk.
Hari ini sebelum ke panti cabang, Tania kedatangan Tamu, iyaitu sahabat nya Cindi. Ia datang dan langsung duduk di sofa.
"Tumben kamu main kesini" Seraya berjalani mendekati Cindi
"Aku bosan banget, kita jalan jalan yok" Ucap nya dengan menaikkan bibir nya.
"Kamu nggak ke kampus emang?!" Tanya nya dengan sambil duduk di dekat Cindi.
"Dosen nya nggk masuk. Kita jalan jalan ya, ke mall atau ke taman kek" mengatakan nya sambil tangan nya mencari hp milik nya di dalam tas.
"Aku kabari Tuan Raka dulu" hendak berdiri mengambil smartphone nya.
"Tunggu, aku aja yang menelpon nya" langsung mengetik sesuatu di hp nya.
*
Kring kring kring
Sebuah telpon masuk dari Sebuah nomor yang tidak di ketahui.
"Hallo. Sekretaris Jay." suara dari sebrang telpon.
"Ia, dengan siapa ini?" Tanya sekretaris Jay.
"Apa kau tidak save nomor ku manusia Robot, padahal kau sudah sering menghubungi ku" setengah teriak dari sebrang telpon.
Baru menelpon tapi sudah marah saja.
"Ada perlu apa nona menghubungi ku?!" tanya nya memilih mengalihkan topik.
"Dimana kak Raka?"
"Ada di ruangan nya Nona." nada datar.
"Bisa aku meminta nomor nya ?" tanya cindi dengan nada pelan.
"Jika ada sesuatu yang penting, anda bisa mengatakan nya kepada saya Nona" masih dengan datar.
"Baik lah kalau begitu, katakan kepada Kak Raka kalau aku sedang menculik istri nya," dengan nada jelas.
"Menculik?!!" sekretaris Jay mengerutkan kening nya.
"ha ha ha maksud nya aku mau hangout bersama kaka ipar. udah ya,, bye" telpon di matikan tanpa menunggu jawaban dari sekretaris Jay.
__ADS_1
wah tidak sopan sekali, mematikan telpon padahal aku belum selesai berbicara.
*
Mereka akhir nya pergi tanpa Bella dan Suci. Awalnya Bella kekeh akan menemani Nona, tapi karna sudah mendapat telpon dari sekretaris Jay Bella mengpersilahkan mereka pergi.
Sekretaris Jay sebenar nya sudah meminta beberapa orang untuk menjaga Tania namun dari kejauhan, ia selalu di awasi semenjak peristiwa penculikan kemarin, hanya saja mereka tidak bisa mendekati Tania jika bukan karna dalam maslah besar.
"Kita mau Kemana?' Tanya Tania yang duduk di samping Cindi yang mengendarai mobil tersebut.
"Kita ke taman bunga aja kali ya. Disana banyak spot foto yang bagus, kebetulan aku bawa camera" seru nya bersemangat.
"Ya sudah terserah kau saja" jawab nya pasrah.
Aku hampir tidak pernah keluar dari rumah kalau bukan ke panti, sesekali ke salon itu juka karna perintah nya. Aku butuh udara segar sesekali.
"Apa kalian sudah pergi bulan madu?!" tanya Cindi mengagetkan Tania.
"Bulan madu??!!" Menari napas berat " Belum cin dan mungkin tidak akan pernah" Jawab nya lemas.
Jangan kan bulan madu, dia aja belum pernah mengatakan dia mencintaiku. Dia hanya mengatakan nya di depan Clara.
"Loh kenapa??!" pandangan tetap fokus pada jalanan karna sedang menyetir.
"Dia sangat sibuk bekerja" Tania membuat alasan.
"Ha ha ha kau benar, memang mereka tidak peka sama sekali" ucap nya seraya tertawa.
"Kita sampai" seru Cindi dengan girang nya.
Mereka turun dari mobil dan membeli tiket masuk. Sesampainya di dalam Cindi terlihat sangat girang sekali, Tania juga tidak kalah girang nya karna merasa bebas.
"Tania, kau beridiri di dekat bunga itu ya, aku foto" ucap nya sambil menunjuk ke arah bunga.
Mereka banyak mengbrol dan mengambil beberapa foto.
"Cindi,,, kamu cindi kan?!" sapa seorang pria membuat Ia dan Tania menoleh ke arah asal suara.
"Hey kak Tommy?!" seru Cindi dengan membulatkan kelopak mata nya.
"Hey apa kabar kamu." Seraya memeluk nya.
"Kabar baik kak,, kaka gimana?" tanya cindi balik seraya melepaskan pelukan.
"Kabar baik juga dek, ini siapa?" meliahat ke arah Tania.
__ADS_1
"Dia teman aku kak, nama nya Tania" seraya merangkul tangan Tania.
Tommy dan Tania saling berjabat tangan, dan saling bertukar senyum.
"Kaka sendirian aja?" tanya Cindi penasaran.
"ia nih, aku sendirian aja. Tadinya kaka mau jalan jalan mau lihat spot baru untuk produk ku yang baru"
Tania hanya diam saja memperhatikan Cindi dan Tommy mengbrol yang sudah hampir sepuluh menit.
"Kebetulan kaka disini, bisa foto in kami berdua tidak?!" tanya nya seraya merangkul tangan Tania.
"Boleh," seraya menghidupkan camera milik nya.
Setelah ia mengambil beberapa foto, ia men zoom wajah Cindi dan Tania.
Sepertinya mereka cocok deh, Tinggi mereka juga tergolong standart, wajah nya mereka juga bersih, manis. Merka cocok untuk produk baru ku, Apa sebaiknya aku memberikan tawaran ini kepada mereka saja daripada harus mencari model.
"Kalian mau jadi model di produk terbaru ku?!" tanya nya sedikit kwatir seraya mata nya masih tertuju pada foto yang baru saja ia ambil.
"Produk apa?!" Tanya Tania seraya mengerutkan kening.
"Aku berencana mengeluarkan skincare baru. Nah aku belum menemukan wajah wajah baru di produk ini. Jika mengunakan artis atau model sudah tidak terlalu booming, karna mereka pasti sudah pernah ada endorse skincare merek lain, Jadi itu akan sedikit mempengaruhi pasar nanti nya. nah kalau kalian kan belum ada sma sekali, orang akan tertarik." mencoba merayu Tania dan Cindi.
Cindi melihat Tania, sejenak Cindi terdiam, ia berpikir ini adalah kesempatan.
"Bisa jadi ini adalah awal dari karir kalian kan, lagian kesempatan ini tidak datang dua kali loh, bagaimana? kalian mau?" kembali meyakinkan Mereka.
"Mau kak, kapan lagi iya kan dapat penawaran seperti ini" jawab cindi bersemangat.
"Tapi cin" Tania mencoba menyela.
"Kak aku bicara sebentar ya sama teman aku." sambil tersenyum
" Iya silahkan" jawab Tommy.
Cindi menarik tangan Tania menjauh dari Tommy.
"Kamu kenapa? ini penawaran yang bagus loh untuk karir kita berdua?" tanya cindi dengan wajah masam.
"Tapi aku harus bicarakan ini kepada Tuan Raka." berkata dengan kwatir.
"Pertanyaan ku cuma gini. Seandai nya kak Raka memberikan izin, kau mau kan pekerjaan ini?" tanya cindi dengan menatap wajah Tania.
"Apa aku cocok di sini?" Tanya Tania belum yakin pada diri sendiri.
__ADS_1
"Dengar kan aku Tania, kita itu masih muda, dunia kita seharus nya masih bebas, bukan nya duduk diam di rumah. Kamu menerima job ini bukan berarti meninggalkan Kak Raka. Toh kalau kamu menerima nya kamu sudah akan di rumah setelah sore dan seperti biasa melayani Kak Raka. Ayo lah.. ini pasti akan seru" Rengek Cindi coba meyakinkan Tania.