
Sesampainya di rumah Tania langsung berlari masuk kedalam kamar dan langsung menuju kamar mandi. Di kamar mandi ia melampiaskan kesedihannya, sesekali terdengar isak Tangis nya dari luar, ia memilih berlama lama di dalam bathtub kamar mandi.
Di ruang kerja Tuan Raka.
"Ada hubungan apa di antara mereka??" Raka dengan suara setengah teriak.
Jay memilih diam.
"Besok pagi paling lambat, beritahu aku"
"Baik Tuan"
Dia meninggalkan sekretaris Jay yang masih menunduk. Ia masuk ke kamar dan melihat Tania masih di dalam kamar mandi. Raka mondar mandir di depan kamar mandi seperti sedang memikirkan sesuatu.
Tiba tiba telpon milik Tania berdering di biarkan nya saja. Sampai Bunyi ke tiga, ia tidak bisa menahan rasa penasaran nya. Diambil nya telpon genggam milik Tania yang berada di atas meja. Hati nya semakin panas tak kala ia membaca nama yang sedang menelpon istri nya.
Kak Ferdi adalah nama yang tertera di smarphone milik Tania.
Bergetar dada nya melihat itu. Diremasnya telpon genggam milik Tania dengan sangat kuat.
Setelah beberapa waktu Tania keluar dari kamar mandi dan melihat Tuan Rada duduk di tepi kasur sambil meremas tepian kamar dengan sangat kuat. Tania yang masih sedih memilih untuk mengambil selimut dan duduk di sofa,
"Lebih baik aku tidur saja. Daripada harus melihat wajah nya" Gumannya dalam hati
"Sepertinya aku sudah terlalu baik kepadamu" Raka mulai berbicara dengan nada menahan emosi.
Tania yang mendengar itu langsung kembali duduk. Dia tau nada suaranya tidak lagi dalam keadaan baik.
"Memang nya apa yang sudah saya perbuat Tuan?!"
Kenapa aku selalu salah di matamu Tuan dan sekarang apa lagi kesalahanku.
"hah kau masih bertanya?" Tanpa melihat kearah Tania.
Kau bahkan tidak tau kesalahanmu. Kau sudah memohon kepada pria lain di hadapanku.
"Aku tidak mengerti Tuan apa yang anda bicarakan" mengerutkan dahi.
Bukan kah aku yang seharusnya marah karna kau aku hidup seperti boneka manikin.
"Berdoa saja, semoga besok kau masih bisa mendengar suara kaka mu itu" Kata kata yang penuh ancaman.
Tania langsung berlari ke arah Tuan Raka dan memegangi tanganya.
"Maafkan aku Tuan, aku memang salah. Tolong maafkan aku"
sebenarnya apa yang sudah ku lakukan, Kenapa kau selalu membawa nama kaku ku.
"Awas jangan sentuh aku, simpan saja maaf mu itu" sembari melepaskan tangan nya dari Tania.
"Tuan maaf kan aku. Aku memang bodoh" sambil menangis Tania memohon.
Apa yang harus ku perbuat sekarang, bagaimana kalau ancaman nya ini benar benar di lakukannya kali ini. Bagaimana nasib kak Anton.
__ADS_1
"Berikan handphone mu?"
Tania mengambil telpon genggam milik nya. Dan memberikannya kepada Tuan Raka.
Kenapa dia meminta hp ku, apa yang akan dia lakukan. Tunggu, rahasia apa aja di dalam ya. Aduh mati aku.
"Dari mulai sekarang, kau tidak bisa lagi memilikinya"
"Tapi kan.." Ia belum neneruskan kata kata nya
"Kau pilih ini atau kaka mu?"
"Baik lah Tuan. Anda bisa mengambilnya"
Terserahlah jika itu membuatmu tidak melakukan sesuatu kepada kakaku. Hidup kaka ku lebih berharga dari apapun itu.
"Jay" Panggil Tuan Raka dan Jay langsung masuk. Ternyata dia berada di depan pintu dari tadi.
"ia Tuan"
"ini" Menyerahkan hp milik Tania.
"Baik Tuan. Saya pamit pulang sekarang"
Sekretaris jay menutup pintu.
Tania yang masih berdiri di hadapan Tuan Raka. Ia masih di tempat, takut melakukan kesalahan. Bahkan saat Raka masuk ke kamar mandi dan keluar Tania masih berdiri di tempat semula.
"Maaf Tuan" ia langsung pergi ke sofa dan memilih untuk langsung tidur.
__________
Pagi ini semua berjalan seperti biasa, Tania juga melaksanakan Tugasnya melayani Tuan Raka dengan baik pagi ini. Sampai Tuan Raka berangkat kerja. Dia kembali ke kamar dan mulai bersiap kekampus. Keluar dari rumah ternyata pak irfan sudah menunggu.
"Selamat pagi nona" sapa nya sambil menunduk.
"Pagi Pak Irvan"
kenapa dia disini, bukan kah seharusnya dia mengantar Tuan kesayangannya itu.
"Mari non saya antar" langsung membuka pintu mobil.
"Saya naik ojek aja pak. Makasih sebelumnya" Tolak nya.
"Ini perintah Tuan Muda Nona"
"Tapi saya bisa sendiri pak"
Ah apa lagi yang di rencanakan nya kali ini. Aku lebih nyaman sendiri.
"Baiklah Nona kalau begitu saya telpon sekretari Jay. Mengabari bahwa Nona tidak mau saya antar"
"eeehh tunggu, baiklah aku mau" Langsung masuk kedalam mobil dengan wajah kesal.
__ADS_1
Tuan Raka sombong kau selalu mempersulit hidupku. Aku hanya ingin hidup normal. Bagaimana kalau cindi atau temab yang lain ada yang melihat nanti.
Sesampainya di kampus Pak Irvan tidak langsung kembali dia menunggu Nona Tania pulang. Awalnya Tania menolak, tapi tetap saja setelah mendengar Raka dia lagi lagi menurut, tapi dia membuat satu persyaratan Pak Irvan bisa menunggu di mobil atau di kantin jangan mengikuti Tania sampai ke dalam kelas.
Cindi sudah terlebih dahulu tiba di dalam kelas. Saat Tania juga tiba di dalam kelas ia langsung menarik tangan Tania.
"Kenapa nomormu nggak bisa di hubungin sih tania?" Tannya dengan serius.
"Hp ku jatuh di kamar mandi tadi malam jadi rusak deh" jawab nya dengan asalan.
maaf cin, ia kali aku jawab sekarang aku nggak punya hp karna di tahan sama si sombong itu.
"Kak Ferdi nanya kabarmu loh, dan barusan aja dia Menanyakan apa kamu udah di kampus"
"Trus kamu jawab apa?"
"Aku bilang udah sampai" sambil menunjukkan isi chat mereka.
"Dia nggak ada bahas yang lain cin?" Tannya lagi dengan wajah kwatir
"Nggak ada, tapi kelihatannya dia lagi kwatir banget sih. Memangnya kalian ada masalah ya?!"
"Masalah apaan? ngaur kamu"
Aduh gimana aku memberitahu mu ya, kalau kaka mu itu udah mengungkapkan perasaannya. Mengatasi masalah kak anton aja aku belum bisa, nah sekarang muncul lagi yang baru, Aahh pusing
"Nggak usah malu malu kali, kak Ferdi udah cerita semua nya tau"
"Apa??!!!"
"ia, dia bilang naksir sama kamu" dengan mimik yang lucu
"terus apa lagi??!!"
Belum sempat Cindi menjawab.
"Kaka" seru Cindi sambil melihat ke arah pintu. Tania yang kaget mendengar kata kaka melihat juga ke arah pintu. Ternyata Ferdi sudah berada disana. Menghampiri Tania dan menarik tangan nya.
"Ikut aku sekarang" Membawa Tania ke tempat yang sepi.
"Sekarang jelaskan semuanya"
"Kak maafkan aku"
Bagaimana ini, apa sebaiknya aku ceritakan semuanya lantas apa nanti ini tidak berbahaya untuk kak anton bagaimana aku memberitahumu semuanya dari awal.
"Kenapa harus minta maaf, kau sama sekali tidak melakukan sesuatu Tania" sambil menyentuh bahu Tania.
"Maaf kan aku kak, aku nggak bisa cerita sekarang"
Tania langsung berlari kearah parkir dan meminta Pak irvan menghantarnya pulang. Ia meninggalkan kelas hari ini.
Sebenarnya kenapa ini semua terjadi kepadaku. Bagaimana takdir mempermainkan hidupku. Ingin sekali rasanya mengakhiri ini semua. Aku sudah lelah.
__ADS_1