Rencana Sang Tuan Muda

Rencana Sang Tuan Muda
Sudah Cukup


__ADS_3

Raka yang sudah berada di pintu melihat Pak Sam membawa sebuah koper dan memberikan nya kepada Tania.


"Apa yang sedang kau lakukan Tania?!" Tanya Raka yang baru saja tiba dengan wajah tidak karuan.


Tania tidak menjawab nya. Ia memilih menarik koper nya. Namun di tahan oleh Raka.


"Kau belum mendengarkan penjelasan ku" Ucap Raka dengan setengah berteriak.


"Cukup. Aku katakan Cukup" dengan wajah memerah.


"Dengarkan aku terlebih dahulu" teriak Raka dengan putus asa.


"Aku tidak ingin mendengarkan apa pun sekarang"


"Sekarang aku sadar. Semenjak aku mengenal mu, terlalu banyak air mata yang keluar dari mata ku. Terlalu banyak kesedihan, setiap hari kau mengancam ku. Kau menghukum ku."


"Bodoh nya aku, aku masih saja bertahan setiap kali kau mengancam ku, menghukum ku sesuka hati mu. Walaupun begitu, hati ku sangat lemah. Hanya karna Kau memberikan sedikit kebaikan kepadaku Aku langsung Jatuh cinta kepada mu" Menarik napas dalam


"Bodoh nya aku, memberikan hati ku kepada orang yang tidak memiliki Hati." Menatap Tajam mata Raka.


"Sekarang Cukup. Aku lelah." ia mengatakan nya tanpa meneteskan air mata.


Kemudian Tania kembali menarik koper nya. Raka kembali menarik tangan nya


"Tania jangan seperti ini, Aku mohon" ucap Raka dengan wajah mengiba.


"Lepaskan" Teriak Tania dengan pandang lurus ke depan.


"Tidak bisa, kau tidak bisa keluar dari sini" Ucap Raka meninggi.


"Jika kau tidak melepaskan tangan ku. Aku akan menyakiti diri ku sendiri" Ucap Tania dengan tegas.


Raka membulatkan kelopak mata nya, tanpa sadar melepaskan tangan nya. Ia benar benar lemas dengan ucapan Tania.


Ia berjalan tiga langkah meninggalkan Raka.


"Nona anda Sa..." belum sempat meneruskan ucapan Nya.


"Diam. Aku bukan Nona mu Jay. Hari ini aku tidak ingin mendengarkan apapun. Kau bahkan sama saja dengan nya. " dengan nada marah dan Ia kembali berjalan

__ADS_1


Jay menaikkan alis nya, ia tidak menyangka Tania seberani itu, Tania yang biasa nya selalu saja menurut.


"Mari Nona saya Antar" ucap Bella dengan wajah merasa bersalah.


"Tidak perlu. Kau hanya bisa mendengarkan perintah mereka, bukan perintah ku. Dan jika perlu kau tutup mata, tutup telinga dengan semua yang terjadi" dengan nada kejam.


Bella menundukkan kepala, ia merasa bersalah karna sudah menutupi kebenaran.


Ia kembali berjalan, ketika tiba di pintu.


"Tania" Panggil Raka kembali namun kini dengan nada yang berbeda


Ia mendengar Suara Raka menyebut nama nya. Akhir nya Tania tidak kuasa menahan. Air mata nya menetes.


"Sudah Cukup" Tanpa melihat, ia membelakangi mereka semua.


"Rasa nya sangat sakit mengingat bagaimana perlakuan mu kepada ku dari pertama kali aku menginjakkan kaki di rumah ini. Walau pun begitu aku masih berharap kau akan mencintai Ku nanti nya, ternyata aku salah. Kau tidak mencintaiku walaupun itu hanya secuil. Maaf kan aku Tuan Raka. Aku menyerah, aku tidak kuat lagi" dengan isak tangis dan langsung pergi meninggalkan Rumah besar itu.


Raka yang mendengar itu syok. Ia bahkan tidak bisa berkata apa lagi. Ia hanya bisa melihat Tania semakin jauh dari pandangan nya.


*


"Terimakasih" Ucap Tania. Saat Cindi memberikan ia secangkir kopi.


"Aku yakin" Jawab nya sangat cepat.


"Aku juga mungkin akan melakukan hal yang sama jika ada di posisi mu Tania. Kau tidak papa tinggal disini sementara waktu. Kau perlu waktu sendiri untuk menenangkan diri" Ucap sambil mengelus lengan Tania.


"Terima kasih Cindi, jika seandai kemarin kau tidak datang mungkin aku tidak tau lagi apa yang akan terjadi kepada ku. Aku bahkan tidak tau kemana kaki ku harus melangkah" ucap nya dengan raut wajah sedih.


"Sudah lah, inti nya kau disini. Bersama ku sekarang"


*


Saat Tania keluar dari rumah itu, ia berjalan dengan air mata terus menetes. Karna pekarangan rumah Raka sangat luas ia bahkan sangat lama sampai di jalan raya.


Sementara Raka seperti bingung harus melakukan apa. Saat ia ingin mengejar Tania. Cindi melarang nya.


"Sudah lah kak. Percuma biar kan dia sendiri untuk sementara waktu." ucap Cindi dengan menyentuh tangan Raka.

__ADS_1


"Jika kaka mengejar nya akan membuat dia semakin marah. Percayakan dia ke padaku. Aku akan mengejar nya. Aku yakin tidak akan satu orang pun yang bisa menenangkan nya untuk saat ini." berusaha meyakinkan Raka.


"Lantas apa yang harus aku lakukan? apa kah aku hanya diam saja ketika istri ku pergi begitu saja?!" Tanya Raka dengan wajah yang tidak karuan.


"Kak ini hanya sementara, berikan dia waktu untuk menerima semua nya yag terjadi. Ini sangat berat bagi nya. Kaka disini. Aku akan mengejar nya" Ucap nya dengan yakin.


Ketika Cindi membuka pintu.


"Nona tunggu?!" Seru Jay. Membuat Cindi kembali membalikkan badan " Ini Pass Card, ini sandi dari apartemen di kawasan xxx. Lantai 12. Bawa Nona kesana, jangan katakan itu adalah milik Tuan." Ucap Jay seraya memberikan sebuah kartu berupa seperti kartu atm.


Cindi menerima nya tanpa bicara dan langsung pergi.


Benar saja ketika ia keluar dari kawasan rumah Raka yang cukup luas tersebut, dari kejauhan ia sudah melihat Tania berjalan dengan menarik koper nya. Dengan cepat kilat ia mengejar nya dan berhenti tepat di depan Tania.


"ikut dengan ku sekarang" Seru Cindi dari dalam mobil.


"Aku tidak mau kembali kesana" Jawab nya dengan nada marah.


"Tidak, aku tidak akan membawa mu kesana. Kita akan pergi dari sini" Ucap Cindi dengan membuka pintu mobil.


"Kau bohong" Elak Tania.


"Aku juga marah Tania. Aku juga tidak terima kau di perlakukan seperti itu. Kita ke apartemen ku" Ajak Cindi dengan mimik meyakinkan Tania.


"Apa kau bisa ku percaya?!" Tanya Tania dengan kembali meneteskan air mata.


"Sejauh ini, hanya aku yang tidak pernah berbohong kepadamu. Jika kau pergi ke rumah Kaka Anton itu akan sangat melukai nya Tania. Percaya pada ku" Ucap Cindi dengan pelan.


Tanpa sadar Tania langsung memeluk Cindi.


"Aku lelah" sambil menangis dengan sangat kuat.


"Menangis lah Tania, aku mengerti." Mengelus punggung tania, posisi masih memeluk Tania.


Setelah beberapa saat.


"Sebaik nya kita pergi sebelum mereka datang" Ucap Cindi melepaskan pelukan Tania.


Dengan cepat Cindi mengangkat koper Tania ke dalam mobil. Dan pergi ke sebuah apartemen.

__ADS_1


Sesampai nya disana Cindi meminta Tania beristirahat sementara ia akan keluar membeli makanan.


Setelah Cindi pulang Tania masih terlelap, ia tidak tega membangunkan nya. Hingga akhir nya ia juga ikut terlelap sampai pagi.


__ADS_2