
Dua jam sudah Tania tertidur, Raka masih memeluk nya dari belakang juga ikut tertidur.. Pelan ia mulai membuka mata nya, ia melihat jam di dingding.
Ternyata aku sudah lama tertidur, rasanya perut ku sudah lapar, sebaik nya aku makan sesuatu
Ketika Tania hendak berdiri, ia kaget ada tangan yang melingkar di perut nya dan dan ia baru sadar ada orang yang memeluk nya,
Siapa dia? Tangan nya seperti tangan pria, Apa sesuatu terjadi kepada kui. kapan dia masuk dan memeluk ku.
Pelan ia mengangkat tangan Raka. Raka merasakan sesuatu dan langsung memeluk Tania kembali dengan erat.
"Bisakah kita tidur sebentar lagi. Aku masih mengantuk" seru raka dengan suara berat.
Tania terdiam. Mata nya terbuka lebar.
Itu kan suara nya. Sejak kapan dia ada disini. Ada apa ini sebenar nya. Apa aku masih bermimpi.
Kemudian ia mencubit tangan nya sendiri.
aww sakit, sepertinya ini tidak mimpi. Berani sekali dia datang dan bertingkah seperti ini seolah tidak terjadi sesuatu.
Tania langsung menarik tangan nya paksa dan beridiri. Raka ternyata cukup kaget, namun ia juga langsung ikut berdiri.
"Belum cukup kah semua ini?!" Tanya Tania lemas.
"Apa kau tidak merindukan ku?!" Tanya Raka mengalihkan pembicaraan Tania.
"Kau" Teriak Tania. " Kau sama sekali tidak punya hati"
Tania berjalan ke arah pintu dan membuka nya, ternyata pintu terkunci dan ia tidak tau kunci nya ada dimana.
"Dimana kunci nya?! Aku mau keluar" seru Tania kesal.
"Duduk" perintah Raka pelan.
"Aku katakan dimana kunci nya" seru Tania dengan setengah teriak.
"Aku bilang duduk" SUara Raka sudah sedikit meninggi dengan tatapan Tajam.
Tania tidak menghiraukan perintah Raka, ia mulai membuka laci dan mencari kunci cadangan atau sesuatu yang bisa membuka pintu.
__ADS_1
"Duduk Tania" Teriak Raka membuat Tania kaget.
Ia berdiri membelakangi Raka, wajah nya sudah pucat. Raka menarik nya dan melempar nya ke atas kasur dengan sedikit kasar.
Tania semakin pucat, ia memeluk lutut nya yang sudah bergetar sedari tadi.
"Sekarang dengar kan aku" dengan tatapan tajam.
Tania membuang muka, ia tidak mau melihat wajah Raka.
"Apa kau mendengarkan aku Tania??!" Tanya Raka dengan suara menahan emosi.
"Jika kau tidak mendengarkan ku kali ini, aku bisa saja menutup panti mu itu, mencobloskan mu ke dalam penjara, dan masih banyak lagi yang lebih kejam dari itu. Atau aku akan menghancurkan kaka mu itu" Teriak Raka.
Tania sudah semakin tidak berdaya, pelan ia melihat ke arah Raka, dengan wajah yang penuh air mata. Tangan nya masih memeluk lutut nya, ia benar benar takut melihat Raka sekarang.
Raka yang melihat Tania sudah meneteskan air mata sejenak terdiam.
"Bisakah kau mendengarkan ku sekarang?!" Tanya Raka dengan suara lebih pelan dari sebelum nya.
"Kau membuat ku Takut" dengan suara terbata sambil menangis.
Raka terdiam, ia mulai sadar diri sudah terlalu keras kepada Tania.
"Tania" seru Raka pelan.
"Aku ingin keluar, aku mohon keluarkan aku dari sini" dengar air mata terus menetes.
Raka langsung memeluk Tania.
"Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud membuat mu takut. Aku salah karna tidak bisa menahan amarah ku." Ucap nya dengan penuh penyesalan.
"Aku tidak ingin melihat mu lagi. Aku ingin keluar" ucap nya lemas dan terbata bercampur air mata.
"Aku mohon, dengarkan penjelasan ku sekali saja. Aku sudah cukup menderita berpisah dengan mu kemarin" ucap nya dengan masih memeluk Tania.
Ia melepaskan pelukan nya dan menyatukan wajah nya mereka.
"Kemarin saat aku mendengar dari dokter bahwa kau sedang hamil aku sangat senang sekali, namun pada saat bersamaan kau di culik oleh lawan bisnis ku. Pada saat mereka menahan mu kau dehidrasi dan sangat stres, ternyata itu mempengaruhi bayi kita. Saat aku menjemput mu kau pingsan, saat itu lah dokter mengatakan kau keguguran, pada saat itu aku juga sedih, tapi kau harus tau, pada saat itu yang terpenting bagi ku adalah kesehatan mu. Aku meminta Dokter untuk tidak memberitahu mu jika kau pernah hamil, Aku tidak sanggup melihat mu terluka lagi. Kau baru saja mengalami kejadian yang membuat mu trauma. Aku tidak tega mengatakan bahwa kau harus kehilangan yang belum pernah kau ketahui sebelum nya" Ucap Raka kini dengan sebutir air mata menetes di pipi nya
__ADS_1
"Maaf kan aku karna tidak memberitahu mu. Aku hanya tidak ingin kau semakin terluka. Aku membiarkan mu keluar dari rumah karna aku tau kau masih emosi, tapi sekarang aku tidak kuat lagi berpisah dengan mu terlalu lama" ucap nya masih dengan posisi sebelum nya.
Tania terdiam, ia mencerna apa yang di katakan Raka kepada nya. Kemudian ia menatap wajah Raka. Pelan ia menghapus air mata di pipi Raka.
"Apa kah aku bisa mempercayai mu?!" Tanya Tania pelan.
Raka mengangguk.
"Kita bisa bertemu dengan Dokter nya, jika itu membuat mu percaya" ucap nya pelan "Bagaimana bisa kau tidak bisa merasakan nya Tania" tanya Raka kesal.
"Merasakan apa?!" Tanya Tania mengerutkan kening.
Raka berdiri dan membelakangi Tania.
"Kau masih saja mengatakan jika aku tidak mencintai mu, Apa sedikit pun kau tidak bisa merasakan nya?? Aku sangat mencintai mu Tania, kapan kau akan sadar itu" ucap nya kesal.
Tania membuka mata nya lebar, dengan mulut sedikit terbuka. Ia berdiri mendekati Raka.
"Apa?! Kau katakan apa?!" Tanya Tania masih belum percaya.
Ia membalikkan badan, dan kini ia berhadapan dengan Tania.
"Aku mencintai mu, Bahkan jauh sebelum kau mencintai ku. Atau mungkin aku sudah mencintai mu saat pertama kali melihat mu" Ucap nya dengan penuh keyakinan.
"Apa?! Tidak mungkin" dengan terbata dan wajah bingung.
"Tapi kau selalu mengancam ku" tanya heran.
"Iya, jika tidak begitu mungkin kau akan pergi dari hidup ku dari dulu. Aku hanya punya senjata itu agar kau selalu di samping ku" Jawab Raka sambil mengangkat wajah Tania agar tepat di depan wajah nya. " Aku tidak mau jika ada pria lain yang melihat mu, hanya aku yang memiliki hak atas hidup mu jangan tanya kenapa Tania, aku tidak akan bisa membiarkan itu terjadi. Apa kau mengerti?" dengan nada ancaman.
Tania mengangguk sambil tersenyum, kemudian ia memeluk Raka dengan sangat bahagia. Raka juga membalas pelukan nya dengan sangat hangat.
"Saat kau pergi dari rumah, apa kau tidak merindukan ku?" Tanya Raka menggoda nya namun masih berpelukan.
Tania tidak menjawab namun ia langsung mencium bibir Raka dengan lembut. Raka pasti nya tidak tinggal diam, ia juga melepaskan Kerinduan nya, ia membalas ciuman Tania dengan penuh Naf*u.
Raka mengangkat nya ke tempat tidur dan mulai melayangkan aksi nya. Dua orang yang sedang melepaskan rindu.
Malam yang panas segera di mulai, desahan demi desahan mengisi ruangan tersebut, seolah tidak ada lagi hari esok. Raka tidak melepaskan Tania malam ini walau sebentar, ia benar benar membalas satu bulan terakhir dengan penuh hasrat dan kasih sayang.
__ADS_1