
Cindi dengan perasaan kosong berjalan menuju kamar nya, ia membuka nya dan menutup nya, namun ia bersandar di balik pintu dengan tatapan kosong.
Kenapa dengan ku. Kenapa aku tidak mencegah nya. Ini begitu cepat sampai aku tidak tau harus berbuat apa sekarang..
Ia meletakkan tangan nya di dada nya.
Bukan kah ini konyol, aku bahkan merasa jantung ku hampir berhenti. Aku tidak bisa mencerna semua yang terjadi barusan.
Berbeda dengan Sekretaris Jay, ia memacu kendaraan nya dengan kecepatan tinggi dan berhenti di pinggir jalan.
Ada apa dengan mu Jay, kenapa kau bertingkah seperti ini. Aku bahkan tidak bisa mengkontrol diri ku saat bersama nya.
Sama hal nya dengan Cindi, ia juga meletakkan tangan nya di dada nya.
Benar, aku sudah mencintai mu Nona. Aku tidak tau apa yang akan kau pikirkan setelah ini. Tapi aku tidak akan membiarkan mu jauh dari ku setelah ini.
*
Raka sangat berpikir keras di ruangan kerja nya. Ia bahkan sesekali mengigit jari nya tanpa ia sadari.
Apa yang akan ku perbuat sekarang. Rasa nya aku tidak sudi jika dia melakukan nya lagi. Membayangkan nya di perhatikan banyak pria saja sudah membuat ku gila. Tapi aku harus punya cara melarang nya agar dia tidak kecewa kepada ku.
Dengan langkah pasti Raka masuk ke dalam kamar dan mendapati Tania sedang asik dengan smartphone nya.
"Kau belum tidur??!" Tanya Raka sembari duduk di atas kasur.
"Sebentar lagi" jawab nya datar.
"Besok kita ke rumah sakit" Ucap Raka dengan menarik tangan Tania.
"Rumah sakit??!!" mengerutkan kening "Untuk apa kita kesana?!" Tanya nya heran.
"Untuk program kehamilan. Dokter akan memeriksa kandungan mu untuk persiapan kehamilan" Sambil mengelus tangan Tania.
"Hamil??!!" dengan wajah gugup.
Aku bahkan tidak pernah memikirkan nya sama sekali. Apa ini tidak terlalu cepat dengan umur ku yang masih sangat muda.
"Ia, apa kau tidak mau mengandung anak ku Tania??!" menatap tajam wajah Tania.
"Bukan, bukan begitu.. Hanya saja besok aku masih ada pemotretan sayang. Bagaimana kalau Lusa saja" dengan tersenyum.
"Pemotretan??!" dengan wajah menahan marah
"Iya sayang. Kak Tommy meminta aku dan Cindi untuk mempromosikan brand fashion terbaru nya" Sambil mengelus tangan Raka. " Kau tidak marah kah sayang. Karna aku sangat menyukai ini" sambil menaikkan ujung bibir nya.
__ADS_1
Jangan halangi aku untuk ini, aku tidak pintar bernegosiasi dengan mu.
"Bukan nya pemotretan nya hanya sekali saja?!" Tanya Raka dengan mengerutkan kening.
"Apa kau marah?!" Tanya Tania dengan wajah murung
"Tidak,, aku hanya memikirkan tentang konsul ke dokter besok. Karna aku sudah kosongkan jadwal untuk besok" jawab nya dengan tersenyum namun senyum yang sangat berat pasti nya.
Ahh akan ku bunuh kau Tommy, berani nya kau memperdaya istri ku..
"Kita bisa cek Lusa kan??!!" dengan wajah manja
Raka menganggukan kepala nya seraya tersenyum sangat berat. Ia tidak iklas jika Tania masih melakukan pemotretan.
Tania mengecup Pipi Raka dengan sangat bahagia.
"Terimakasih" sambil memeluk Raka.
Raka yang tidak tahan langsung membalas pelukan Tania dan hendak melampiaskan nya malam ini, namun tangan Tania langsung mendorong Raka dengan pelan.
"Sayang maaf. Aku masih datang bulan" ucap nya dengan salah tingkah.
"Ahh kenapa lama sekali" dengan nada kesal.
*
Keesokan hari nya.
Seperti yang sudah di rencanakan Cindi dan Tania. Hari ini mereka akan pemotretan bersama Tommy. Mereka bekerja sama dengan sangat baik. Jika kemarin dia hanya di temani oleh Bella, namun Hari ini dia bersama Suci. Siapa lagi yang meminta jika bukan Sekretaris Jay.
Hari ini pemotretan nya di lakukan di luar ruangan (outdor) seperti yang sudah di katakan Tommy. Mereka selesai melakukan nya hingga sore hari.
"Terimakasih atas kerja sama nya hari ini Ladies" ucap Tommy kepada Tania dan Cindi.
"Sama sama Kak" balas Cindi dengan tersenyum.
"Bagaimana dengan tawaran ku kemarin??! Apa kalian sudah punya manager??!" Tanya Tommy dengan menatap mereka secara bergantian..
Cindi dengan Cepat memanggil Suci. Ketika ia sudah mendekat.
"Ini dia manager kami kak. Nama nya Suci" ucap Cindi yang membuat Suci kebingungan.
"oohh hai Suci. Kenalin aku Tommy" mengukurkan tangan untuk bersalaman.
" Suci" datar, namun ia membalas uluran tangan Tommy.
__ADS_1
Pekerjaan ku sudah banyak di panti. Belum lagi harus mengurus permintaan Tuan Raka. Sekarang aku harus menjadi manager mereka berdua. Bukan kah ini sangat Lucu.
"Maaf Suci. Ini di luar Rencana" bisik Tania merasa bersalah namun tidak di dengar orang lain.
Suci hanya tersenyum kepada Tania.
Aku tidak berhak menolak Nona. Nikmati hari hari lembur mu Suci.
"Baiklah Suci. Saya meminta Nomor mu. Aku juga akan urus masalah pembayaran mereka untuk dua sesi pemotretan kemarin" sambil mengeluarkan smartphone nya
Mereka menyelesaikan nya dengan sangat cepat. Bukan Suci nama nya jika hanya mengurus hal seperti ini memakan waktu lama. Sementara Suci mengurus hal ini, Cindi dan Tania mengganti pakaian di ruang ganti.
"Apa kalian masih ada acara?!" Tanya fotografer kepada cindi ketika keluar dari ruang ganti.
"Memang nya kenapa mas??!" Tanya Cindi datar..
"Kita mau ngajak kalian makan malam. Bisa??!" Tanya sang fotografer.
Cindi tidak menjawab namun kaki nya terus melangkah berjalan mendekati Tania dengan masih di ikuti oleh Sang fotografer.
"Tania mas Andre ngajakin kita makan malam. Gimana? kamu bisa?!" tanya nya pelan.
"emang siapa aja?!" dengan nada berbisik.
Kemudian Cindi kembali menghadap Andre si fotografer yang tepat di sebelah nya.
"Siapa aja mas?!"
"Cuma kita kita aja, sama Tomny juga ikut" ucap nya dan di dengar oleh Tommy
"Ayok lah, ini cuman makan malam biasa aja. hitunf gitung agar kalian semakin dekat dengan team kita" Seru Tommy yang ikut mendekat ke arah Tania dan Cindi.
Tania dan Cindi enggan menolak.
Akhirnya mereka makan malam di sebuah restoran mewah. Cukup banyak pria disana, karna Tommy juga mengajak teman nya yang bekerja sama dengan nya. Sepanjang makan malam Tania hanya sesekali ikut bergabung dengan obrolan mereka.
Karna Tania sudah merasa terlalu lama di tempat itu. Ia melihat ke arah Bella dan Suci yang duduk tidak jauh dari nya namun di dalam restoran yang sama. Seolah Mengerti dari raut wajah Bella. Tania langsung berdiri.
"Kaka semua, terimakasih atas makan malam nya. Kita permisi pulang duluan ya" dengan tersenyum.
"Bagaimana kalau saya antar saja?!" Tanya Tommy dengan santai.
"Aku mengantar Cindi" ucap Andre si fotografer.
"Tidak bisa" Teriak seseorang dari pintu, Tania dan Cindi sangat mengenal suara tersebut.
__ADS_1