Return Great Magician(Dropped)

Return Great Magician(Dropped)
Pertarungan di Pesta


__ADS_3

Bab 98


Charless kemudian mendekati Mateo dan menyapanya. "Halo, apakah anda suami Nona Alice?".


Mateo kemudian mengarahkan pandangannya ke belakang dan dia melihat seorang pria paruh baya.


Mateo kembali menyapanya setelah dia melihat Charless. "Oh halo, saya suami Alice, dan anda?".


Charless kemudian memperkenalkan dirinya. "Saya Charless, dan saya berteman baik dengan Darwin".


"Tidak saya sangka suami Nona Alice akan semuda anda". Charless berkata dengan kagum.


"Hahaha, sebenarnya aku lebih tua dari kelihatannya". Mateo tertawa.


'Apakah benar apa yang dikatakannya? jika begitu, kekuatannya akan sangat tinggi jika bisa mempertahankan wajah seperti itu'. Pikir Charless.


"Dan Nona di sebelah anda ini adalah?". Charless bertanya sambil menunjuk Melissa.


Mateo kemudian memperkenalkannya. "Ini Melissa, istriku".


"Halo Nona Melissa". Charless menyapa dengan sopan.


Melissa hanya mengangguk ringan sebagai tanggapan.


Charless tidak bingung karena Mateo mempunyai istri lebih dari satu, Karena itu wajar bagi para bangsawan untuk melakukannya.


Mateo kembali berbicara dengan Melissa dan memandang anak anaknya dari kejauhan.


Charless juga duduk bersama dengan Darwin dan mengobrol tentang masa lalu mereka.


Tiba tiba seorang pria paruh baya datang dengan marah marah. "Dimana anak yang bernama Bell itu?".


Semua orang yang menghadiri pesta itu langsung mengarahkan pandangannya pada pria paruh baya itu.


Tentu saja orang itu adalah Iratus, dia datang ke pesta kali ini adalah untuk membunuh Bell dan membalaskan dendam putranya Carlos.


Captiosus yang ada di sana menghampirinya dan bertanya. "Apa yang ingin kau lakukan?".


"Aku ingin membunuhnya untuk membalaskan dendam putraku". Iratus berkata dengan sangat marah.

__ADS_1


"Hmph, aku sudah tahu kalau kau pasti akan melindunginya, jadi aku membawa banyak bawahanku untuk menahanmu". Iratus mendengus.


Kemudian dia memerintahkan semua bawahannya untuk menahan Captiosus. "Tahan dia sampai aku membunuh anak bernama Bell itu".


*Swosh*


Para bawahan Iratus langsung menahan Captiosus dan akhirnya mereka melakukan pertarungan.


Iratus kemudian memandang semua murid Akademi yang hadir, kemudian dia menangkap satu anak laki laki dan menanyainya dengan wajah yang menakutkan.


"Kau, dimana anak yang bernama Bell itu?".


Anak laki laki itu langsung ketakutan, tubuhnya gemetar dan dia juga kencing di celana. Dia menjawab dengan takut sambil menunjuk ke arah Bell. "I... itu".


*Gubrak*


Iratus melemparkan anak itu hingga menabrak meja yang berisi makanan.


Para guru Akademi ingin menghentikan itu, Namun masih ada bawahan Iratus yang menghalangi mereka.


Para bangsawan yang hadir hanya menonton saja, mereka tidak ingin salah mengambil langkah dan itu akan menghancurkan Keluarga mereka.


"Biarkan saja dulu, aku ingin melihat sekuat apa dia sekarang". Mateo berkata dengan santai.


"T.. tapi-". Alice masih khawatir.


"Tenang saja, dia anak yang kuat, jika dia akan kalah aku akan langsung turun tangan". Mateo menenangkannya dengan senyum di wajahnya.


Sementara itu dibawah, Iratus mendekati Bell dengan marah. "Jadi kau yang membuat anakku lumpuh? Kau cukup berani untuk memprovokasiku dan Keluarga Green".


"Aku membuat putramu lumpuh? aku tidak pernah melakukan itu". Bell berkata dengan bingung.


"Jangan berdalih, aku sudah tahu semuanya, aku ingin kau mati untukku". Iratus berkata dengan marah dan menyerang Bell.


Namun Bell berhasil menghindarinya, dan berkata dengan serius. "Jangan kira kau dewasa dan kuat aku akan takut denganmu, jika kau ingin bertarung maka aku akan meladenimu".


*Swosh* *Slash*


Bell bergerak dengan cepat dan muncul di hadapan Iratus dan menebaskan pedangnya yang masih bersarung.

__ADS_1


Namun Iratus dapat menghindarinya dengan mudah. "Kau cukup cepat juga untuk anak seusiamu".


"TAPI ITU TIDAK ADA APA APANYA DIHADAPANKU". Iratus berkata dengan marah dan melancarkan pukulan kepada Bell.


Namun Bell berhasil menghindarinya, Tapi serangan Iratus tidak sampai di situ saja. Dia terus menyerang Bell dengan membabi buta.


*Bam*


Setelah beberapa lama melancarkan pukulannya, Tinju Iratus akhirnya mengenai Bell dan menghantamnya dengan sangat kuat.


*Bam*


Bell terpental sangat jauh dan membentur tembok dengan sangat keras.


"Agh"


Bell sedikit menjerit setelah merasakan itu, Iratus mendekatinya dengan wajah kejam. "Sekarang kau tau kan akibat dari memprovokasiku".


Setelah tiba didepan Bell, Iratus mengangkat tangannya dan mengeluarkan Sihirnya untuk mengakhiri hidup Bell.


Sihir Petir : Tombak Petir!


"Ingatlah untuk tidak memprovokasi aku Iratus dan juga Keluarga Green dikehidupanmu selanjutnya". Iratus berkata dengan dingin.


Kemudian dia menggerakan tangannya dan ingin menusukkan tombak petirnya ke dada Bell.


Alice yang berada di atas mendesak Mateo untuk segera menyelamatkan Bell yang akan segera dibunuh oleh Iratus.


"Tenang saja, akan ada yang menolongnya". Mateo berkata dengan santai.


"Apakah kau tidak sayang dengan anak anakmu? kenapa kau hanya bersikap santai setelah melihat putramu hampir dibunuh dihadapanmu?". Alice berkata dengan marah.


"Kalau kau tidak mau membelanya, maka biarkan aku saja yang melakukannya kalau begitu". Alice berkata dengan kesal dan ingin langsung turun membantu Bell.


Namun Mateo menahannya dan berkata. "Santai saja, aku disini untuk mengamati perkembangan mereka semua, lagipula Bell tidak akan mati semudah itu".


Di bawah, sebelum Iratus bisa menusukkan tombaknya, tangannya tiba tiba terikat oleh sihir hitam dan tidak bisa bergerak.


"Kau sungguh lama sekali, jika kau terlambat sedikit saja, mungkin aku akan mati di sini". Bell berkata dengan santai dan berdiri.

__ADS_1


"Maaf maaf, aku harus berhati hati agar tidak ketahuan olehnya". Lorent menjawab dengan santai.


__ADS_2