
Bab 100
Meski seluruh tangannya hancur, Pedang yang digunakan Bell tidak tergores sedikitpun. Itu membuktikan kalau pedang itu sangat kuat.
"Bell"
Alice yang melihat semua itu dari atas, berteriak dengan histeris. Dia kemudian memandang Mateo dan berkata dengan khawatir. "Apakah sekarang kau tidak ingin membantunya?".
Mateo menggelengkan kepalanya. "Tidak, Nanti ada yang akan membantunya".
"Apa kau tidak khawatir dengan kondisi anakmu sendiri?". Alice berkata dengan marah.
"Tentu saja aku khawatir, Tapi Bell tidak akan mati hanya dengan itu". Mateo berkata dengan santai.
Kemudian dia mengarahkan pandangannya kepada Captosius. "Aku juga ingin melihat kekuatan milik Kakek tua itu".
"Jika kau tidak mau membantunya, maka biar aku saja yang melakukannya". Alice ingin langsung terjun setelah berkata.
Namun dia dihentikan oleh Mateo. "Kau tunggu di sini saja. Lagipula jika kau kesana, kau tidak akan bisa banyak membantu mereka".
"T.. tapi-".
"Kita lihat saja dulu".
Sebelum Alice bisa berbicara, Mateo memtongnya terlebih dahulu.
.....
Beberapa waktu sebelum tangan Bell dihancurkan oleh Iratus.
Captosius terus bertarung dengan bawahan yang dibawa oleh Iratus. Sebenarnya mereka bukan bawahan, lebih tepatnya adalah tetua dari Keluarga Green.
Seorang tetua berkata sambil tertawa. "Kekeke, Captosius... Sekarang aku akan membalas kekalahanku saat masih muda dulu".
"Heh, kau pikir kau sekarang sudah bisa mengalahkanku Dix? Selama bertahun tahun ini aku juga sudah bertambah kuat". Captosius berkata dengan dingin.
"Jika aku sendiri saja memang tidak bisa, tapi jika kami berempat menyerangmu secara bersamaan, kami dapat mengalahkanmu dengan mudah". Dix berkata dengan bangga.
"Kita lihat saja". Captosius mendengus.
Sihir Api : Badai Api!
Amukan api muncul dari udara kosong dan menyerang empat tetua Keluarga Green dengan gila.
__ADS_1
Sihir Besi : Penjara Besi!
Salah satu dari tetua Keluarga Green menggunakan sihirnya untuk membuat pelindung yang melindungi mereka dari amukan api.
"Heheh, Besiku lebih kuat dari apimu". Tetua itu terkekeh.
Kemudian salah satu tetua menyerang Captosius dengan sihirnya.
Sihir Tanah : Pengekang!
Tiba tiba tanah di bawah kaki Captosius langsung bergerak dan mengurung Captosius hingga menyisakan kepalanya saja yang terlihat.
Sihir Besi : Pelapis!
Tetua yang menggunakan sihir besi tadi kembali menggunakan sihirnya untuk memperkuat tanah yang mengekang Captosius.
"Heheh, Sekarang adalah gilaranku yang akan menyerangmu". Dix terkekeh dan melesat ke arah Captosius.
Sihir Petir : Thunderbolt!
Sebuah senjata petir yang sangat dahsyat muncul di tangan Dix. Kemudian dia menebaskannya ke arah Captosius yang sudah tidak bisa bergerak lagi.
*Slash* *Drrrtt*
Melihat itu Captosius langsung mengeluarkan sihir terkuatnya.
Tiba tiba seorang raksasa api muncul di hadapan Dix. Kemudian raksasa itu menelan serangan dari Dix dan menyerangnya dengan tinjunya.
*Bam*
Dix terpental ke belakang sangat jauh, Namun seorang tetua yang menggunakan sihir angin bisa menahan agar Dix tidak menabrak dinding.
"Sial, dia masih bisa menggunakan sihirnya". Dix menggeram dengan marah.
Setelah beberapa saat Captosius berhasil lepas dari kekangan tanah yang dilapisi oleh besi.
Setelah dia lepas dari kekangan itu, Captosius ingin langsung menyerang Dix dan yang lainnya.
Namun dia melihat Iratus menyerang Bell menggunakan Gungnirnya. Captosius ingin menghentikannya, Namun dia tidak bisa menghentikannya karena serangan itu sangat cepat.
Dia hanya melihat setelah Gungnir itu hampir mengenai Bell. Jadi dia tidak punya cukup waktu untuk menghentikkannya.
Captosius sangat marah setelah melihat lengan Bell hancur menjadi debu, dia memandang Dix dan yang lainnya, lalu berkata dengan marah. "Aku tidak punya waktu untuk menghadapi kalian semua".
__ADS_1
Captosius langsung pergi meninggalkan Dix dan yang lainnya. Dix dan tetua dari keluarga yang lain ingin menghentikan Captosius, Namun mereka dihadang oleh Surtr.
Mereka terpaksa harus melepaskan Captosius dan menghadapi Surtr, sang raksasa api.
Captosiusberteriak dengan marah. "IRATUS, AKU AKAN MEMBUNUHMU DENGAN TANGANKU SENDIRI HARI INI".
"Heh, aku tidak takut denganmu, ayo maju sini". Iratus terkekeh.
Captosius berlari ke arah Iratus dengan cepat. Melihat itu Iratus mengeluarkan sihirnya untuk menyerang Captosius.
Sihir Petir : Thunderbolt!
"Heh, aku juga bisa menggunakan Thunderbolt, karena tetua Dix tidak bisa menyerangmu dengan Thunderboltnya. Maka biarkan aku yang melakukannya".
Iratus berkata dengan senyum mengejek di wajahnya. Dia juga melihat pertarungan Dix dengan Captosius, Makanya dia tahu kalau Dix mengeluarkan Thubderbolt dan gagal.
Iratus bergerak menuju ke arah Captosius, dia ingin langsung membunuh Captosius dengan sekali gerakan.
"RASAKAN INI"
Captosius yang melihat itu langsung mengeluarkan pedang dari Space Ringnya.
'Sepertinya aku harus menggunakan pedang ini'. Pikir Captosius.
Pedang itu berwarna hitam dengan garis garis merah di gagang dan pinggirannya.
"BALISARDA : PEMOTONGAN SIHIR"
Thunderbolt milik Iratus berbentrokan dengan Balisarda milik Captosius.
Thunderbolt milik Iratus langsung lenyap setelah berbentrokan dengan Balisarda. Bagaimana tidak, Balisarda adalah pedang yang bisa menghilangkan sihir.
Balisarda itu kemudian mengenai dada Iratus hingga membuatnya terluka sangat parah.
Captosius ingin langsung membunuhnya, Namun Dix dan tetua dari Keluarga Green yang lain menghalanginya.
Mereka berhasil mengalahkan Surtr dengan luka yang parah. Ketika mereka melihat Captosius ingin membunuh Iratus.
Mereka langsung berlari untuk menghentikannya, Dan akhirnya mereka berhasil melindungi Iratus dari serangan Captosius.
Salah satu tetua kemudian berteriak kepada Dix. "Dix bawa Iratus pergi dari sini dengan cepat, Biar kami bertiga yang menahannya di sini".
Dix mengangguk dan langsung membawa Iratus pergi dengan langkah petirnya.
__ADS_1
Captosius ingin mengejarnya, Namun dia dihentikkan oleh tiga tetua dari Keluarga Green.
"Langkahi mayat kami dulu jika kau ingin membunuh mereka berdua". Salah seorang tetua berkata sambil menghalagi Captosius.