
Bab 46
Mateo kemudian pergi menuju ke tempat latihan para tentaranya.
Dia berjalan keluar dari Istana dan meaniki kereta kuda pribadi miliknya. Dia kemudian menyuruh Kusir untuk menuju ke Kamp Latihan Tentara.
Beberapa saat kemudian Mateo tiba di sebuah bangunan yang besar, bangunan itu bertuliskan [Kamp Tentara].
Mateo memasuki [Kamp Tentara], Para prajurit yang melihat Mateo tiba langsung memberikan penghormatan.
"Yang Mulia".
Mateo mengangguk kepada mereka dan terus berjalan menuju kearah Kevin.
Mateo kemudian bertanya kepada Kevin."Bagaimana latihan para tentara?".
"Sejauh ini sudah ada perkembangan, jika di sesuaikan dengan petualang, mereka mungkin akan menjadi petualang Rank-B". Kevin menjelaskan.
Dia kemudian menambahkan."Ada juga beberapa yang Rank-A dari mereka".
Mateo mengangguk dan mempersilahkan mereka untuk latihan kembali.
"Hiyaaa"
"Uwaaa"
Teriakan para tentara terdengar dengan sangat keras, mereka berteriak untuk memompa semangat mereka.
Melihat ini Mateo mengangguk dan bergumam."Mungkin mereka sudah bisa menyaingi tentara dari Kerajaan lain".
Setelah beberapa waktu melihat tentaranya berlatih, Mateo akhirnya memutuskan untuk kembali ke Istana.
"Terima kasih atas kunjungannya Yang Mulia".
Semua tentara membungkuk dengan hormat, Mateo mengangguk dan berjalan keluar dari [Kamp Tentara].
__ADS_1
Mateo kemudian menaiki kereta kudanya dan menyuruh kusir untuk kembali ke Istana.
Setelah beberapa waktu, akhirnya mereka tiba di Istana. Mateo keluar dari kereta kudanya dan langsung masuk ke Istana.
Sesampainya di dalam Istana, dia dihentikan oleh seorang pelayan. pelayan itu berkata kepada Mateo dengan gugup.
"Yang Mulia, sepertinya Ratu sudah hampir melahirkan, dan sekarang beliau berada di kamar Yang Mulia dan di temani oleh beberapa tabib Istana".
Mendengar itu Mateo langsung menuju kekamarnya, setelah tiba di depan pintu kamarnya. Mateo langsung menerobos masuk.
Ketika Mateo masuk kekamarnya, dia melihat Mia yang sedang berbaring dan meringis kesakitan.
Mateo langsung menghampirinya dan menggenggam tangannya sambil berkata.
"Mia, bertahanlah, aku menemanimu di sini".
Mia menggenggam tangan Mateo dengan erat dan berkata."Sayang, sepertinya anak kita akan lahir".
Mateo terus menggenggam tangannya sambil menenangkannya.
Tabib terus memberikan Instruksi kepadanya.
"Yang Mulia, dorong lebih kuat lagi, sedikit lagi bayinya akan keluar".
"HEhhhh"
Mia terus berusaha mendorong bayinya agar keluar.
"Uwa uwa uwa"
Beberapa saat kemudian terdengar suara tangisan bayi.
"Syukurlah Yang Mulia, bayinya telah lahir". Tabib berkata dengan gembira.
Kemudian tabib itu membersihkan bayi itu sebelum menunjukkannya pada Mateo dan Mia.
__ADS_1
"Yang Mulia, bayinya adalah perempuan yang sehat dan gemuk". Tabib itu memberikan bayinya kepada Mateo.
Mateo menggendongnya dan memperlihatkannya kepada Mia dan berkata."Sayang, ini adalah putri kita".
Mia mengangguk dengan lemah, tapi wajahnya dipenuhi dengan senyuman bahagia.
Mia kemudian berkata kepada Mateo."Sayang, sekarang kamu berikan nama kepada putri kita".
Mateo mengangguk dan melihat keluar jendela, dia membawa bayinya keluar jendela dan melihat bulan yang bersinar terang.
Mateo mengangkat bayinya dan berkata."Karena putriku lahir di saat bulan bersinar dengan sangat cerah, seakan dia sangat bahagia dengan kelahiran putriku. Maka aku akan memberikannya nama Diana. Diana Cornelius, Diana yang berarti Dewi Bulan, atau juga Kecantikan dan Kesucian".
Bulan jadi bersinar lebih terang seakan merestui Diana sebagai Dewi Bulan.
Mateo kemudian membawanya kembali kepada Mia, dan membiarkan Mia untuk menyusuinya.
Mia menyambutnya dengan senang hati dan berkata."Diana, nama yang sangat indah".
"Kuharap dia akan tumbuh menjadi anak yang bersinar terang dalam kegelapan seperti bulan". Tambahnya.
Mia kemudian menyusuinya, Diana menghisap ASI milik Mia dengan sangat cepat.
Melihat itu Mia tersenyum."Sepertinya putriku sangat haus".
Mateo kemudian menyuruh tabib itu kekuar untuk memberitahu semua orang bahwa Putri dari Kerajaan Cornelius telah lahir.
tabib itu keluar dan memanggil semua orang yang ada di Istana untuk merayakan kelahiran Putri Kerajaan.
Setelah beberapa saat, orang orang di Istana berbondong bondong datang untuk melihat Tuan Putri mereka.
Mira mendekati Mia dan mengelus wajah Diana sambil berkata."Adikku terlihat sangat cantik".
Nana juga ada disana, dia berkata dengan gembira."Wow, adikku telah lahir, aku akan mengajaknya bermain nanti".
Aura juga menghampiri dan berkata."Jadi seperti ini manusia baru lahir".
__ADS_1
Malam itu mereka merayakan Kelahiran Sang Putri, Diana yang masih menyusu sedikit tersenyum seakan dia mengerti apa yang dilakukan orang orang.