Return Great Magician(Dropped)

Return Great Magician(Dropped)
Akhir Pertarungan


__ADS_3

Bab 101


"Cih, dasar sialan". Captosius mengutuk dengan kesal.


'Mana ku sudah hampir habis karena terlalu banyak menggunakan Sihir dan juga Balisarda'. Pikir Captosius


"Huh, Aku akan mengingat semua ini". Captosius mendengus dan berbalik menghampiri Bell.


'Untung dia tidak melawan'. Pikir salah satu tetua dengan lega.


Kemudian mereka pergi meninggalkan Mansion air hujan dengan cepat, Mereka langsung menyusul Dix dan juga Iratus.


.....


Bell saat ini sudah dirawat oleh Liliana agar darahnya berhenti keluar. Captosius menghampirinya dan bertanya dengan khawatir. "Bagaimana keadaanmu?".


Bell menoleh ke arah Captosius dan menjawab dengan lemah. "Kepala Akademi? aku sudah tidak apa apa".


"Ayo kita pergi ke Akademi unt-".


"Tidak perlu".


Sebelum Captosius bisa menyelesaikan perkataannya, tiba tiba seseorang menghentikannya.


Captosius memandang orang itu dan berkata dengan marah. "Siapa kau? apakah kau salah satu dari mereka?".


Orang itu menghilang dari tempatnya dan muncul di depan Captosius sambil berkata dengan senyum diwajahnya. "Siapa aku? aku adalah orang yang akan membantai mereka semua".


"Siapa kau cep-".


"Ayah".


Captosius ingin bertanya kepada orang itu lagi, Namun perkataannya terhenti ketika mendengar Vivi menyebut orang itu ayah.


Tentu saja orang itu adalah Mateo, dia sudah melihat kekuatan milik Captosius dan cukup puas. Terutama pedang yang dikeluarkannnya tadi, itu adalah senjata yang sangat hebat.


Vivi berlari ke arah Mateo dan memeluknya dengan gembira. "Ayah... Ini benar benar ayah".


Mateo mengelus kepalanya dan berkata. "Kamu tidak pernah berubah ya, Vivi".


"J.. jadi kau adalah ayah mereka?". Captosius bertanya dengan terbata bata.

__ADS_1


"Menurutmu?". Mateo tersenyum.


Kemudian dia berbalik dan menghampiri Bell, Lalu dia berkata. "Sepertinya kekuatanmu sudah meningkat".


"Ayah". Bell berkata dengan bahagia.


Mateo mengangguk dan berkata. "Sebaiknya kita pulang dulu".


Mateo kemudian berjalan menuju keluar Mansion, Namun dia berbalik lagi dan bertanya. "Dimana kalian tinggal?".


"Biarkan aku mengantarkanmu Ayah". Vivi berkata dengan gembira, lalu dia membawa Mateo menuju Mansion yang mereka diami di Wilayah Tengah.


Sebelum itu Tyr juga dibawa oleh Lorent, Sedangkan Bell dibawa oleh Merlin. Alice dan Melissa juga mengikuti mereka dari belakang.


Captosius mengakhiri pesta penyambutan dan pergi ikut dengan Mateo.


Tidak butuh waktu lama, mereka tiba di Mansion yang cukup besar, Vivi langsung saja membawa Mateo masuk dan mengenalkan bagian Mansion padanya dengan gembira.


Scarlet yang sedang berada di rumah terkejut melihat Mateo. Dia langsung menyapanya dengan gembira. "Guru".


"Oh Scarlet, sudah lama tidak berjumpa". Mateo tersenyum dengan manis.


"Baiklah, nanti aku akan menemui kalian, sekarang aku ingin membahas sesuatu dulu". Mateo berkata dengan santai, lalu dia duduk di sofa.


Semua orang berkumpul, kecuali Bell dan Tyr. Mereka berdua perlu istirahat yang cukup agar lukanya tidak memburuk.


Begitu semuanya duduk, Mateo kemudian memulai pembicaraan. "Mungkin kalian semua bertanya tanya kenapa aku tidak langsung muncul ketika melihat kalian bertarung".


Diana dan yang lainnya mengangguk, Tentu saja mereka bingung. Kenapa ayah mereka hanya diam saja ketika anak anaknya bertarung mati matian.


Mateo kembali melajutkan. "Sederhana saja, Aku ingin melihat kekuatan kalian semua. Lagipula kalian tidak mungkin mati dengan itu, Sebelum itu terjadi... Aku akan menghalanginya".


"L.. lalu kenapa ayah membiarkan Bell kehilangan tangannya?". Diana memberanikan diri untuk bertanya.


"Aku hanya ingin membuatnya tahan dengan rasa sakit". Mateo menjawa dengan santai.


Kemudian dia memandang Captosius dan bertanya. "Lagipula di sini ada ramuan untuk mengembalikan bagian tubuh yang hilang bukan?".


Captosius mengangguk. "Itu memang ada, Namun ramuan itu hanya di milik oleh Keluarga Blood, Carmilla Blood".


"Jadi begitu, aku akan mendapatkannya darinya". Mateo mengangguk.

__ADS_1


"Aku ragu kau bisa mendapatkannya, dia tidak pernah memberikan itu pada siapapun, bahkan Raja sekalipun tidak bisa mendapatkan itu". Captosius berkata dengan wajah tertekan.


"Tenang saja, lagipula dia adalah wanita". Mateo berkata sambil tersenyum.


Kemudian dia bertanya kembali. "Lalu dimana kediaman orang yang menyerang anak anakku tadi?".


"Apa yang ingin kau lakukan dengan mengetahui kediaman mereka?". Captosius bertanya dengan penasaran.


"Itu adalah Rahasia". Mateo tersenyum misterius.


"Jika kau ingin membunuhnya, aku ragu itu bisa dilakukan, karena Mansion mereka memiliki pelindung sihir yang kuat". Captosius menggelengkan kepalanya.


"Bukankah kau memiliki pedang yang bisa untuk melakukan itu?". Mateo berkata sambil tersenyum.


"Maksudmu kau mau aku menggunakan pedangku untuk membukakan sihir pelindung milik mereka?". Captosius berkata dengan terkejut.


"Mana bisa aku melakukannya, pedang ini memerlukan banyak Mana agar bisa digunakan". Captosius menggelengkan kepalanya.


"Tentu saja tidak". Mateo menggelengkan kepalanya. Kemudian dia melanjutkan. "Maksudku biarkan aku meminjam pedangmu untuk sementara".


"Apa? bagaimana bisa, aku tidak bisa memberikan pedang ini pada orang lain". Captosius langsung membantahnya.


"Bagaimana jika kau menggunakannya untuk sesuatu yang dapat membahayakan orang lain?". Captosius bertanya dengan serius.


"Jika aku ingin mengambilnya darimu itu akan sangat mudah, tapi aku tidak melakukannya karena menghormatimu". Mateo berkata dengan santai.


"Kepala Akademi, tidak apa apa... Ayah pasti tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya bagi orang lain". Diana berkata meyakinkannya.


"T... tapi-".


"Kami semua bisa menjamin itu".


Sebelum Captosius bisa berkata, perkataannya di potong oleh Merlin dan yang lainnya.


"Hah, baiklah... kuharap kau tidak berbuat sesuatu yang dapat membahayakan orang lain". Captosius menyerah dan memberikan pedangnya pada Mateo.


Mateo langsung menerimanya dengan senang hati, Lalu dia mengamati pedang itu dan berkata dengan kagum. "Sungguh pedang yang sangat indah".


#***Saya minta maaf karena sebelumnya ada bug dan jadinya kemarin ada bab yang spam.


#Bab yang Carmilla 1&2 gk ada hubungannya sama cerita, tapi anggap aja bab smut***

__ADS_1


__ADS_2