
Bab 11
Pada malam hari di suatu tempat yang gelap, ada dua orang pria yang sedang berbicara.
"Sialan, apa yang kau lakukan hingga semua anak anak itu bisa lolos?". Salah satu pria berteriak dengan marah.
"Maaf tuan, aku juga tidak tahu, ada seseorang yang memukulku dari belakang sehingga aku langsung pingsan". Pria yang terlihat seperti bawahan itu berkata.
Pria yang seperti bawahan itu adalah orang yang di ikuti Mateo kemarin malam, dan orang yang satunya lagi adalah Hansen, pangeran kedua kerajaan Fred.
Sungguh tidak terduga, di balik kebaikan dan keramahannya, tersimpan hati yang sangat busuk bersemayam di dalam dirinya.
"Aku ingin kau mencari bajingan yang mengacaukan semua rencanaku itu". Hansen memerintahkan Pria itu.
"Aku ingin kau membawanya ke hadapanku, dan aku akan menhancurkannya menjadi seperti bubur karena sudah berani mengacaukan rencanaku". Tambahnya.
"Baik tuan". Pria itu kemudian pergi.
Setelah pria itu pergi, tiba tiba kabut hitam muncul diruangan itu, setelah kabut hitam itu menghilang, tiba tiba muncul seorang pria yang menggunakan topeng.
Pria bertopeng itu kemudian berkata kepada Hansen."Pangeran kedua, sepertinya rencanamu gagal, kalau seperti ini kami akan menggunakan tubuhmu untuk di jadikan eksperimen".
"A-aku akan mencari orang yang menggagalkan rahasiaku itu dan menyerahkannya kepada kalian". Hansen berkata dengan gugup.
"Baiklah, aku akan mendatangi satu bulan kemudian". Pria bertopeng itu berkata sambil menghilang ke dalam kabut hitam.
"Sialan, aku tidak akan melepaskan bajingan yang mengacaukan rencanaku". Hansen berkata kepada dirinya sendiri dengan kesal.
Mateo mengetahui bahwa orang yang menculik anak anak itu adalah Hansen, Sebelumnya Mateo juga menanamkan kesadarannya kepada bawahan Hansen.
Namun dia tidak tahu bahwa ada seseorang yang menyuruh Hansen untuk melakukan itu, karena pria bertopeng itu datang setelah bawahan Hansen pergi.
Di dalam kamar penginapan Mateo duduk di jendela dan berkata."Pangeran kedua ini adalah orang yang menarik".
"Dia menyembunyikan kebusukannya dengan sangat rapi". Tambahnya.
"Apa yang sedang kau gumamkan?". Milia yang berada di kamar Mateo bertanya.
"Tidak apa apa, hanya sesuatu yang menarik". Mateo berkata sambil tersenyum.
Mereka berdua kemudian tidur dengan nyenyak.
.....
Waktu berlalu dengan cepat, sebulan sudah berlalu sejak dia sampai di Ibu Kota, dia juga tidak menemukan sesuatu yang menarik lagi dari pangeran kedua.
Hari ini dia akan mengikuti ekspedisi melawan naga.
Semua orang berkumpul di alun alun Ibu Kota, ketika Mateo dan Milia datang dia langsung di sambut oleh Alice.
"Ohh Mateo, tidak kusangka kau juga akan ikut dalam ekspedisi ini!". Alice berkata dengan penuh semangat.
"Aku hanya ingin mencoba kekuatanku". Mateo berkata dengan santai.
Alice kemudian memperhatikan Milia."Oh Mateo, setelah datang ke Ibu Kota kau langsung mendapatkan gadis Elf yang cantik". Alice berkata dengan menggoda.
"Kami hanya berteman". Mateo berkata dengan singkat.
__ADS_1
Kemudian datang seorang Ksatria dari kerajaan dengan rombongannya.
"Aku adalah Zen, Kali ini aku yang akan memimpin kalian dalam ekspedisi ini". Zen berkata di depan semua orang.
"Tidak perlu membuang waktu lagi, kita akan berangkat sekarang juga". Tambahnya.
Kelompok orang itu kemudian berjalan menuju hutan naga, orang orang sekitar menyebutnya hutan naga karena di situ ada terdapat naga.
Setelah melakukan perjalanan beberapa jam, mereka akhirnya sampai di hutan naga.
Zen kemudian memerintahkan salah satu bawahannya untuk memeriksa apa yang sedang dilakukan naga itu di tempatnya.
Setelah beberapa saat bawahan itu kembali dan melaporkan kepada Zen.
"Sepertinya naga itu sedang tertidur, jadi ini adalah kesempatan kita untuk mengalahkannya". Zen berkata kepada semua orang.
"Horyyaaa"
Semua orang berteriak dengan penuh semangat, mereka kemudian pergi ke tempat naga itu berada.
Naga itu terbangun karena dia menyadari ada banyak orang yang sedang memancarkan niat membunuh kepadanya.
Naga itu kemudian melihat banyak orang yang sedang menuju ke arahnya sambil mengacungkan pedang mereka kepadanya.
Dia pun menjadi waspada waspada dan bersiap untuk menyerang mereka semua.
Naga itu kemudian mengibaskan sayapnya, dan seketika angin yang sangat kencang menyapu para petualang yang mencoba menyerangnya.
Para petualang yang terkena angin dari kibasan sayap naga itu langsung terpental ke belakang.
"Kerahkan semua kekuatan kalian dan serang naga itu". Teriak Zen memberi perintah.
Semua petualang kemudian menyerang dengan kekuatan penuh mereka, mereka berhasil melukai sedikit naga itu.
Namun naga itu menyemburkan api dari mulutnya, dan mengenai para petualang yang ada di dekatnya, para petualang yang terkena semburan api itu pun langsung hangus dan mati seketika.
Mateo kemudian juga ikut menyerang menggunakan pedangnya.
Mateo menarik pedangnya dan menebaskannya ke arah naga itu dengan cepat.
Tiba tiba Mateo langsung muncul di hadapan naga itu dan tebasan Mateo langsung melukai dada naga tersebut.
*Aaaggghhh*
Naga itu menjerit kesakitan akibat tebasan dari Mateo.
Kemudian naga itu menyerang dengan membabi buta dan mengenai semua petualang yang ada di sana, mereka semua langsung tidak sadarkan diri.
Dan sekarang hanya tersisa Mateo dan naga itu yang saling berhadapan.
"Manusia, aku tidak berniat untuk menyerang kalian, kenapa kalian semua menyerangku?". Naga itu bertanya.
" Aku tidak tau apa yang mereka inginkan, Tapi aku hanya ingin mencoba sampai sejauh mana kekuatanku kali ini". Mateo menjawab dengan santai.
Mateo kemudian terus menyerang naga itu itu, naga itu terpojok dan dia akhirnya terbang untuk melarikan diri.
Mateo yang melihat itu langsung mengeluarkan sayap hitamnya dan mengejar naga itu.
__ADS_1
"Manusia, siapa sebenarnya kau ini? kenapa kau memiliki sayap?". Naga itu bertanya dengan panik.
Mateo kemudian menjawab dengan singkat."Aku adalah Mateo".
Setelah mengatakan itu Mateo langsung mennyerang naga itu menggunakan pedangnya.
*Slash*
Pedang Mateo berhasil mengenainya dan naga itu langsung terjatuh.
Mateo mengahmpiri naga itu untuk mengakhiri hidupnya, namun naga itu tiba tiba berbicara.
"Manusia, tolong biarkan aku hidup, aku akan menjadi budakmu jika kau membiarkanku hidup". Naga itu memohon dengan sedih.
"Hmmm, sepertinya aku mendapatkan budak yang kuat secara gratis". Mateo berkata pada dirinya sendiri.
"Baiklah, aku akan menjadikanmu budakku". Mateo berkata kepada naga itu.
Mateo kemudian menanamkan segel budak kepadanya, dan tiba tiba sebuah segel dengan lambang api berwarna hitam muncul di tubuh dada naga itu.
Tiba tiba cahaya menyelimuti tubuh naga itu, setelah beberapa saat cahaya itu menghilang dan muncul seorang loli kecil yang sangat imut dari cahaya itu.
"Tuan, aku sekarang menjadi budakmu". Kata Loli kecil itu dengan suara yang imut.
"Apakah kau naga itu". Mateo bertanya dengan heran.
"Ya tuan". Loli kecil itu menjawab dengan singkat.
"Siapa namamu?". Mateo bertanya.
"Aku tidak memiliki nama, jadi tuan bisa memberikan aku nama". Loli kecil itu berkata dengan semangat.
Mateo kemudian berpikir sejenak dan berkata."Hmmm, baiklah aku akan memberimu nama Aura".
"Baik tuan, mulai sekarang nama budak ini adalah Aura". Aura berkata dengan suara imutnya.
"Baiklah Aura, ceritakan padaku kenapa kau bisa muncul di sini?". Mateo bertanya.
Aura kemudian menceritakan bahwa dia adalah Putri dari suku naga yang ingin melihat dunia luar, nama orang tuanya melarangnya karena dia masih terlalu muda, dia masih berumur 100 tahun dan itu masih sangat muda dalam suku naga.
Akhirnya dia kabur dari rumah dan dalam perjalanan dia di serang oleh orang orang, akhirnya dia sedikit terluka dan singgah di hutan ini untuk beristirahat, namun siapa sangka disini dia diserang oleh para petualang.
"Begitulah ceritanya tuan". Aura berkata setelah selesai bercerita.
Beberapa saat kemudian orang orang yang pingsan tadi terbangun dan mereka tidak melihat naga tadi, tetapi mereka hanya melihat Mateo dan seorang Loli kecil yang imut sedang duduk.
Zen kemudian bertanya kepada Mateo."Kemana perginya naga itu?".
Mateo kemudian menjawab."Maaf kapten, aku tidak bisa menhentikan naga itu, dan akhirnya dia berhasil kabur".
"Haish tidak apa apa, syukurlah hanya sedikit dari kita yang mati." Zen berkata.
"Kamu sudah melakukannya dengan baik anak muda, dan siapa namamu?". Tambah Zen.
"Aku hanya beruntung, dan namaku adalah Mateo". Mateo menjawab dengan sopan.
"Baiklah, Mateo aku akan melaporkan pencapaianmu kepada Yang Mulia nanti". Zen berkata kepada Mateo.
__ADS_1
Kemudian Zen berkata kepada semua orang."Baiklah, karena semua orang sudah tersadar, maka kita akan langaung kembali".
Mereka kemudian langsung kembali ke Ibu Kota karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan di sini.