Return Great Magician(Dropped)

Return Great Magician(Dropped)
Insiden di Kantin


__ADS_3

Bab 81


Wilayah Tengah, Akademi Bintang.


Di ruang Kelas F, saat ini guru pelajaran baru saja keluar dari kelas. Dan sekarang adalah waktunya untuk istirahat.


Thales kemudian mengajak Bell untuk ke kantin bersama sama.


"Namamu Bell kan? bagaimana kalau kita pergi ke kantin bersama?"


Bell melihat ke arah Thales dan berkata dengan malas. "Baiklah, tapi kau yang membayarnya".


"Semua makanan di kantin diberikan secara gratis". Thales berkata dengan senyum di wajahnya.


Mereka berdua berjalan ke kantin bersama dengan murid yang lain.


Setelah beberapa saat mereka akhirnya tiba kantin Akademi. Disana banyak sekali murid Akademi yang berkumpul.


Mulai dari tahun pertama hingga tahun ketiga, pria dan wanita bercampur baur.


"Sial, aku terlalu malas jika harus mengantri begini". Bell bergumam dengan kesal.


"Memang begini suasana di kantin jika sedang jam istirahat". Thales menanggapinya dengan senyum diwajahnya.


Mereka berdua mengantri untuk mengambil makanan dari penjaga kantin. Walaupun Bell sangat malas untuk mengantri, dia tetap berbaris karena perutnya juga sudah lapar.


Beberapa saat kemudian sekarang saatnya giliran Bell untuk mengambil makanannya. Namun saat dia mengambilnya, seseorang juga mengambil berbarengan dengan Bell.


Orang itu adalah pria yang cukup tampan, namun dibandingkan dengan Bell masih seperti langit dan bumi.


Pria itu kemudian berteriak kepada Bell. "Hey, ini adalah makananku, beraninya kau mengambilnya".


"Aku mengantri disini sudah lama, dan kau yang menerobos antrian bilang kalau ini makananmu?". Bell berkata dengan santai.


Pria itu berkata kembali dengan marah. "Beraninya kau berkata seperti itu? apakah kau tidak tau siapa aku?".


"Aku tidak peduli". Bell berkata dengan malas.


"Aku adalah putra kedua dari keluarga Bangsawan Green, Carlos Green". Pria itu memperkenalkan dirinya dengan sombong.


"Lalu?". Bell bertanya dengan tidak peduli.


"Jika kau tidak memberikan makanan ini padaku, maka aku akan membuatmu sengsara di Akademi ini". Carlos berkata dengan mengancam.

__ADS_1


"Aku tidak peduli dengan itu". Bell berkata dengan malas.


"Beraninya mengabaikanku, rasakan ini". Carlos dengan marah menarik pedangnya dan menyerang Bell.


*Slash*


Carlos menebaakan pedangnya dari atas, Namun Bell dengan santai mengangkat Katananya.


*Cling*


Pedang Carlos ditepis dengan mudah oleh Bell menggunakan Sarung Katananya.


*Tak*


Bell menusuk perut Carlos dengan sarung Katananya hingga dia terpental dan membentur tembok.


*Gubrak*


Para siswa dikejutkan dengan itu, mereka kemudian berkerumun dan melihat Carlos yang tersandar lemah di tembok.


"Bukankah itu Carlos? Orang yang sering mengganggu dengan menggunakan status Bangsawannya"


"Ya kau benar, tapi kali ini sepertinya dia bertemu dengan lawan yang tidak takut dengan ancamannya"


Anak buah Carlos yang melihat itu tidak tinggal diam, Mereka menyerang Bell secara bersamaan.


Namun Bell mengalahkan mereka dengan mudah, lalu dia mengambil makanannya dan pergi duduk di bangku yang kosong bersama dengan Thales.


"Sialan, lihat saja nanti, aku akan membuatmu menderita". Carlos bergumam sambil memegangi perutnya.


Dia kemudian pergi bersama anak buahnya dengan malu dibawah tatapan semua murid.


Setelah Bell dan Thales di sebuah kursi, Thales akhirnya memberi peringatan kepada Bell. "Kamu sebaiknya berhati hati, karena keluarganya salah satu yang terkuat di Kerajaan ini".


"Aku tidak peduli dengan itu, jika mereka berani menggangguku, maka aku tidak akan ragu untuk menyingkirkan mereka". Bell berkata dengan santai.


'Sekuat apa dia? apakah kekuatannya mampu untuk meratakan Keluarga Green? kurasa itu mustahil'. Pikir Thales.


Mereka berdua akhirnya memakan makanab mereka hingga habis.


Setelah selesai mereka kembali ke ruang kelas untuk pelajaran berikutnya.


Namun sebelum mereka kembali ke kelas, mereka mendengar kerumunan berbicara tentang pertarungan Daftar Bintang.

__ADS_1


"Hey, apa kau tau kalau ada yang menantang peringkat 50 daftar Bintang?"


"Benarkah? siapa itu?"


"Kudengar namanya adalah Tyr"


"Tyr? siapa dia? aku baru pertama kali mendengar namanya"


"Dia adalah murid baru, dan kudengar murid baru tahun ini lebih kuat dari tahun sebelumnya"


"Apakah begitu? bagaimana kalau kita pergi menontonnya di lapangan?"


"Ayo"


Bell dan Thalea yang mendengar itu menjadi tertarik, Thales kemudian mengajak Bell untuk menonton.


"Bagaimana kalai kita menontonnya?"


Bell mengangguk. "Baiklah, aku juga ingin melihat seberapa kuat orang orang di Akademi ini".


Mereka berdua kemudian berjalan menuju ke lapangan tempat pertarungan akan dilakukan.


Begitu mereka tiba di lapangan, mereka melihat banyak sekali orang yang berkumpul.


Terutama murid baru yang berpotensi, mereka semua ingin melihat kekuatan dari teman seangkatan mereka.


Bell dan Thales berdiri di kejauhan untuk melihat pertarungan antara Tyr dan seorang pria yang berada di peringkat ke-50 Daftar Bintang.


Di tengah panggung pertarungan, Tyr berdiri berhadapan dengan seorang pria berotot kekar.


Wajahnya mempunyai bekas luka cakaran, dengan luka itu dia dipanggil Scarface.


Wasit kemudian memandang mereka dan bertanya kepada Scarface. "Apakah kamu menerima tantangannya?".


"Ya, aku akan mengajarkan kepada anak baru untuk tidak terlalu tinggi menilai dirinya sendiri". Scarface mengangguk dengan senyum kejam diwajahnya.


Wasit kemudian bertanya kepada Tyr. "Apakah kamu yakin ingin bertarung dengannya?".


"Tentu saja, aku akan menjadi yang pertama di antara murid baru yang menduduki Daftar Bintang". Tyr berkata dengan percaya diri.


"Baiklah, maka aku akan nyatakan pertarungan dimulai"


*Dung*

__ADS_1


__ADS_2