
Bab 75
Ujian untuk masuk Akademi Bintang di hentikan untuk sementara waktu. Tim penyelenggara memperbaiki Panggung yang hancur akibat bentrokkan Lorent dan Lucas.
Di bawah panggung Diana menggotong Lorent untuk beristirahat. "Bagaimana keadaanmu?".
"Aku baik baik saja". Lorent menjawab dengan lemah.
Martin tersenyum mengingat semua pertarungan yang terjadi hari ini. 'Sepertinya peserta tahun ini lebih hebat dari tahun tahun sebelumnya'.
'Apalagi pengguna sihir hitam itu, Sihir hitam sangat jarang dimiliki orang orang'.
Beberapa saat kemudian panggung berhasil diperbaiki, dan Martin melanjutkan ujian masuk Akademi Bintang.
Namun pertarungan pertarungan yang terlihat biasa saja, tidak seperti pertarungan sebelumnya yang sangat luar biasa.
Akhirnya ujian masuk Akademi Bintang berakhir, Martin kemudian membubarkan semua peserta.
"Sekarang kalian boleh kembali ke rumah atau penginapan kalian, Nanti ada petugas dari Akademi yang akan mengirimkan Baju untuk peserta yang lulus"
Kerumunan akhirnya bubar dan menuju tempat tinggal mereka masing masing.
Diana dan yang lainnya juga pulang ke Mansion yang sudah disiapkan oleh Scarlet untuk mereka di Wilayah tengah.
Setelah beberapa saat mereka akhirnya tiba di Mansion yang besar, Mansion itu terlihat sangat mewah.
Ketika mereka masuk ke dalam Mansion, mereka disambut oleh Scarlet yang sedang duduk sambil membaca berita.
"Selamat datang kembali, Yang Mulia"
"Tidak perlu terlalu formal dengan kami, santai saja". Diana berkata dengan santai.
"Saya tidak bisa melakukan itu, Yang Mulia adalah Yang Mulia". Scarlet tetap bersikeras.
"Baiklah, terserahmu saja". Diana berkata dengan santai.
Mereka kemudian istirahat di kamar mereka masing masing.
.....
Mansion Keluarga Blaze, Ruang Tamu.
__ADS_1
Saat ini ada seorang pria bertubuh besar dan kekar duduk di sofa, dia memiliki rambut merah, kumis tebal merah, dan wajah sangar.
Orang itu adalah Darwin Blaze, Kepala keluarga Blaze saat ini dan juga ayah Leo.
Leo duduk di sofa yang berseberangan dengan Darwin.
"Bagaimana Ujian Masuk Akademi Bintang? apakah kamu bertemu dengan orang yang menarik bagimu?". Darwin bertanya kepada Leo.
Leo mengangguk dan menjawab dengan santai. "Ya, banyak sekali orang yang kuat di sana, sayang sekali aku hanya bisa menghadapi salah satu dari mereka".
Mendegar itu alis Darwin sedikit terangkat dan bertanya kembali. "Oh, apakah mereka memang sekuat itu?".
"Ya, itu pun aku masih belum tau seberapa hebat kekuatan asli mereka, dan yang sangat kuat adalah sekelompok orang berambut hitam, mereka semua bersaudara dan masing masing dari mereka sangat kuat". Leo menjawab pertanyaan Darwin sambil memuji Diana dan adik adiknya.
"Oh, apakah ada keluarga seperti itu di Wilayah Tengah? aku tidak pernah mendengarnya". Darwin berkata sambil mengingat sesuatu.
Leo menggelengkan kepalanya. "Aku rasa mereka bukan berasal dari Wilayah Tengah".
"Tapi kita akan mengetahuinya cepat atau lambat"
.....
Sama seperti apa yang terjadi di Keluarga Blaze, Saat ini Kepala Keluarga Magna juga menanyai Thales tentang Ujian Masuk Akademi Bintang.
Kepala Keluarga Magna berpenampilan seperti seorang ahli strategi, dia memiliki rambut panjang berwarna kuning tipis, janggut panjang dan menggunakan kacamata di sebelah matanya.
Dia adalah Charless Magna, Ayah dari Thales Magna.
"Kudengar kau menyerah saat Ujian Masuk Akademi Bintang?". Charless bertanya kepada Thales.
"Ya". Thales mengangguk.
"Berikan alasanmu". Charless berkata dengan santai.
Thales kemudian menjelaskannya. "Sederhana saja, lawanku kali ini adalah orang yang sama sepertiku".
"Aku tidak ingin membuang banyak tenaga hanya untuk menghadapi diri sendiri, aku yakin orang itu juga mempunyai pikiran yang sama denganku"
Charless mengangguk. "Jadi begitu, Ternyata ada seorang yang juga hebat dalam strategi".
Charless kemudian bertanya. "Apakah kau tau dari keluarga mana dia berasal?".
__ADS_1
Thales menggelengkan kepalanya. "Tidak, tapi yang pasti mereka bukan berasal dari Wilayah Tengah".
"Tidak kusangka ada bakat yang hebat dari Wilayah lain selain Wilayah Tengah". Charless bergumam.
Charless kemudian bertanya kembali. "Menurutmu jika kita membawanya ke keluarga kita, apakah dia mau?".
Thales menggelengkan kepalanya. "Aku rasa bukannya tidak bisa, namun kurasa itu sangat sulit, karena aku melihat dia juga mendaftar bersama saudaranya".
"Dan mereka semua sangat hebat dalam bertarung, jadi kemungkinan itu akan sulit kecuali dengan pernikahan"
"Pernikahan ya?". Charless merenung.
"Bagaimana kalau dia dijodohkan dengan Kakakmu?". Charless bertanya lagi.
"Tapi kakakmu adalah orang yang tidak bisa melihat, jadi aku tidak yakin"
"Jika begitu kita akan mengundangnya ke rumah kita untuk mempertemukan mereka, siapa tau nanti mereka akan mengembangkan perasaan". Thales memberikan pendapat.
"Hmmm, sepertinya itu adalah ide yang bagus". Charless mengangguk.
"Jika dia masuk ke keluarga kita, maka kekuatan keluarga kita akan meningkat secara signifikan"
"Dan jika kita terus mengembangkannya, mungkin dia akan menjadi orang yang hebat seperti ahli strategi Istana"
"Apakah Ayah ingin melakukan pemberontakkan?". Thales bertanya.
Charless menggelengkan kepalanya. "Tidak, Namun jika Raja masih bertindak sewenang wenang, aku akan mengajak keluarga lain untuk menjatuhkannya dari Tahtanya".
Thales mengangguk. "Memang benar Raja saat ini tidak sebagus Raja sebelumnya, dia adalah seorang yang tidak paham dengan urusan Kerajaan sama sekali"
"Namun karena dia adalah pewaris tunggal, semua bangsawan sepakat untuk menjadikannya Raja. Namun ternyata dia menggunakan kekuasaannya hanya untuk menindas yang kecil"
"Ya, jika terus seperti ini, Kerajaan pasti akan runtuh. Sebelum itu terjadi, lebih baik diganti dengan yang lain". Charless juga sepakat.
"Namun siapa yang cocok menjadi penggantinya?". Thales bertanya.
"Aku rasa itu adalah Devon, sepupu Raja saat ini, Dia adalah orang yang bijak dan sangat peduli dengan Kerajaan. Namun karena dia bukan keturunan Raja terdahulu, jadi dia tidak bisa menjadi Raja berikutnya".
"Tapi jika terjadi pemberontakkan, aku akan mencalonkan dia untuk menduduki Tahta"
Thales mengangguk, Kemudian Charless menyuruhnya untuk kembali ke kamarnya dan dia juga pergi meninggalkan ruang tamu.
__ADS_1