
Bab 63
Beberapa saat kemudian Mateo tiba di ruang tamu Istana, disana dia melihat seorang wanita dewasa berumur 40-an yang cantik.
Dia memiliki rambut hitam bergelombang, pupil mata coklat, dada yang terlihat sedikit kendur, pantat yang cukup besar.
Ketika wanita itu melihat Mateo tiba, dia langsung berdiri dan menyapa dengan sopan. "Salam Yang Mulia".
Mateo mengangguk dan mempersilakannya duduk. "Duduklah".
Wanita itu menunggu Mateo untuk duduk terlebih dahulu, setelah Mateo duduk, dia kemudian duduk.
Mateo kemudian berbicara lebih dulu. "Aku dengar kamu ingin meminta izin untuk membuka usaha di sini?".
"Benar Yang Mulia". Wanita itu mengangguk.
"Katakanlah". Mateo berkata dengan santai.
Wanita itu mengangguk, lalu berkata. "Saya ingin meminta izin dari Yang Mulia untuk membuka rumah Bordil di Kerajaan ini".
"Rumah Bordil?". Mateo bertanya.
Wanita itu mengangguk. "Ya, saya melihat di sini banyak petualang, namun tidak ada rumah Bordil. Jadi saya ingin membuka rumah Bordil untuk membuat para petualang bisa menikmati kesenangan setelah melakukan misi".
"Hmm". Mateo berpikir sejenak.
Melihat Mateo sedang berpikir, wanita itu berkata. "Saya akan memberikan pajak 30% per tahun".
__ADS_1
Mateo menggelengkan kepalanya. "Tidak, 40%".
Mendengar 40%, wanita itu mencoba melakukan penawaran kembali. "Bukankah itu terlalu tinggi Yang Mulia?".
"Lalu katakan berapa yang kamu bisa?". Mateo berkata dengan santai.
Wanita itu berkata. "Bagaimana dengan 35%?".
Mendengar itu Mateo kembali berpikir sejenak, setelah beberapa saat akhirnya dia berkata. "Baiklah, tapi aku ingin kamu menemaniku di tempat tidur".
Ketika wanita itu mendengar perkataan Mateo, dia menjawab dengan lemah. "Saya minta maaf Yang Mulia, saya sudah lama pensiun. Tapi saya bisa menyuruh pekerja saya yang lebih muda untuk bisa memuaskan Yang Mulia".
Mateo menggelengkan kepalanya. "Wanita muda memang menggoda. Tapi Wanita dewasa lebih menggoda, Tidak ada yang bisa mengalahkan pesona wanita dewasa".
"T... tapi-". wanita itu ingin menjelaskan.
Wanita itu kemudian berpikir sejenak, Setelah beberapa saat berpikir akhirnya dia mengangguk. "Baiklah, saya akan menemani Yang Mulia".
"Kemarilah, puaskan adik kecilku dengan mulutmu dulu". Mateo berkata.
"Sekarang?". Wanita itu bertanya.
"Ya". Mateo berkata dengan singkat.
T.. tapi bukankah saat ini Yang Mulia sedang bersama putri anda?". Wanita itu bertanya kembali.
"Tidak apa apa, dia masih kecil dan tidak mengerti apa apa". Mateo berkata dengan santai.
__ADS_1
"Wa wa". Diana bergerak gerak seakan mengiyakan perkataan Mateo.
"Lihat, Diana saja memperbolehkannya". Mateo berkata kepada wanita itu.
Akhirnya wanita itu mendekati Mateo dan melepaskan celana Mateo. Ketika dia melihat adik kecil Mateo, Wanita itu berkata dengan takjub. "Begitu besar!, ini adalah pertama kalinya aku melihat yang sebesar ini".
Wanita itu kemudian menjilat adik kecil Mateo dengan lidahnya, Ketika Mateo merasakan lidah wanita itu, dia mengangguk. "Seperti yang diharapkan dari seorang profesional".
Mateo kemudian bertanya. "Siapa namamu?".
Wanita itu berhenti menjilat adik kecil Mateo, dan berkata. "Nama saya Dorothea Yang Mulia".
Mateo mengangguk. "Baiklah Dorothea, sekarang lepaskan semua pakaianmu".
Dorothea kemudian melepaskan semua pakaiannya, ketika pakaiannya sudah terlepas.
Mateo melihat sesuatu yang hanya bisa dimiliki oleh wanita dewasa. Yaitu Dada yang sedikit kendur, perut yang sedikit kendur, dan juga goanya yang berambut hitam lebat.
Melihat itu Mateo mengangguk. "Seperti yang di harapkan dari wanita dewasa".
Mateo kemudian memalingkan Diana untuk melihat tubuh Dorothea dan berkata. "Lihatlah dia Diana, coba kamu hisap cerinya itu".
Kemudian Mateo mendekatkan Diana ke melon Dorothea, lalu dia menghisapnya dengan keras.
"Hohoho, seperti yang diharapkan dari putriku". Mateo tertawa.
Kemudian dia menghisap ceri di sebelah Diana, ketika Dorothea merasakan itu, dia langsung mengerang kesenangan.
__ADS_1
Mateo dan Diana terus menghisap ceri milik Dorothea dengan rakus, Tangan Mateo yang lain juga bergerak membelai pantat Dorothea.