Return Great Magician(Dropped)

Return Great Magician(Dropped)
Cinta Pada Pandangan Pertama


__ADS_3

Bab 89


Wilayah Tengah, Akademi Bintang.


Saat ini para murid di kelas A sangat fokus mendengarkan penjelasan dari guru pengajar mereka.


Guru itu menjelaskan tentang Mana.


"Siapa yang tau apa itu Mana?".


"Saya guru". seorang murid mengangkat tangannya.


Guru itu memandangnya dan berkata. "Tolong jelaskan".


Murid itu mengangguk dan menjelaskan. "Mana adalah bentuk energi yang ada di alam dan di dalam manusia. Ini adalah sumber dari semua mantra sihir".


"Ya, benar sekali apa yang dikatakan teman sekelas ini". Guru itu memberi penghargaan.


Kemudian dia menjelaskan lagi. "Mana adalah aspek penting dari setiap penyihir yang hidup karena itu adalah sumber kekuatan sihir mereka, yang digunakan untuk mengaktifkan berbagai mantra sihir"


"Energi ini secara alami ada dan mengalir di lingkungan dan di dalam setiap orang. Karena ini, sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap orang dapat menggunakan sihir sampai batas tertentu"


" Pada saat yang sama, orang-orang yang tidak memiliki Mana dan tidak dapat menggunakan sihir adalah kejadian yang sangat langka"


" Lebih jauh lagi, ketika seseorang menggunakan semua Mana mereka, itu bisa menyebabkan mereka kelelahan parah dan akhirnya membuat mereka pingsan".


Setelah guru itu selesai menjelaskan pengertian Mana, lonceng tanda pembelajaran telah selesai berbunyi.


"Baiklah, cukup sampai di sini dulu pembelajaran kita, sampai jumpa minggu depan"


Guru itu kemudian pergi meninggalkan kelas.


Setelah guru keluar dari kelas, baru murid kembali ke Asrama mereka masing masing untuk beristirahat.


Tyr ingin langsung pergi ke tempat pelatihan, Namun dia di hentikkan oleh Leo.


"Tyr, apakah kau ada sesuatu yang ingin dilakukan setelah ini?". Leo bertanya.


"Tidak ada, aku hanya berlatih untuk meningkatkan kekuatanku". Tyr menjawab dengan santai.


"Benarkah? Bagaimana kalau kita latihan bersama?". Ajak Leo


"Dengan senang hati aku akan menerimanya, saudaraku yang lain juga akan senang jika mereka mendengarnya". Tyr menerima ajakan Leo.


"Tidak, aku mengajakmu untuk berlatih bersama di rumahku". Leo menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Di rumahmu?". Tyr bertanya dengan bingung.


Leo mengangguk. "Ya, sekaligus aku ingin memperkenalkanmu kepada ayahmu".


"Hmm". Tyr merenung sejenak, kemudian dia mengangguk. "Baiklah, ayo kita ke rumahmu".


Tyr kemudian berkata kepada Diana yang duduk di dekat jendela. "Kakak, sepertinya aku tidak akan ikut latihan kali ini. Aku akan pergi ke rumah Leo untuk berlatih bersama".


"Baiklah, kembalilah sebelum tengah malam". Diana mengangguk.


"Ya". Tyr dan Leo kemudian pergi meninggalkan kelas dan berjalan menuju ke Mansion Keluarga Blaze.


Dalam perjalanan menuju Mansion Keluarga Blaze, Leo bertanya kepada Tyr dengan penasaran. "Tyr, apakah Diana itu Kakakmu?".


"Ya". Tyr mengangguk.


"Tidak kusangka Kakakmu juga sangat kuat, bahkan dia sangat cantik". Leo memujinya.


"Apa kau suka dengannya?". Tyr bertanya.


"Siapa yang tidak suka padanya? aku yakin banyak pria di Akademi jatuh cinta padanya". Leo berkata.


"Heh, aku yakin kau akan langsung di hajar olehnya jika dia mendengar perkataanmu". Tyr tersenyum.


"Tentu saja tidak, dulu ada pria yang menyatakan cinta padanya. Dan orang itu langsung dihajar habis habisan olehnya". Tyr menjelaskan.


"Tapi kalau aku belum mencobanya, aku tidak akan tau". Leo berkata sambil tersenyum.


"Jika saat itu tiba, kuharap kau tidak akan depresi". Tyr mengingatkan.


.....


Diana saat ini baru saja meninggalkan kelas A bersama dengan Lorent.


"Lorent, kita akan menjemput Vivi dan Liliana dulu"


"Baik". Lorent menjawab dengan singkat.


Dalam perjalanan ke kelas B untuk menjemput Vivi dan Liliana, Diana bertanya kepada Lorent.


"Lorent, apakah Ayah sering menemanimu ketika kau masih kecil? dan apakah dia juga melatihmu?"


Mendengar itu Lorent menjawab dengan santai. "Ayah biasanya mengunjungi aku dan Ibu seminggu sekali, dan Ayah juga melatihku dengan sihir hitamnya".


"Syukurlah jika begitu, aku takut kalau kamu akan marah dengan Ayah karena kurang memberikan perhatian padamu". Diana bernapas dengan lega.

__ADS_1


Ketika mereka sedang mengobrol, mereka berpapasan dengan Marvin dan bawahannya.


Diana dan Lorent menyapanya dengan sopan. "Halo Ketua"


Ketika Marvin melihat Diana, dia langsung terpana dengan kecantikannya yang luar biasa.


Kemudian dia kembali tersadar dan membalasnya. "Oh, halo".


Diana dan Lorent melanjutkan perjalanan mereka dan meninggalkan Marvin yang sedang linglung.


"Yang Mulia". Salah satu bawahan menyadarkannya.


Marvin tersadar kembali dan bertanya kepada bawahannya. "Siapa itu? aku belum pernah melihatnya".


"Dia adalah murid baru, Yang Mulia. apakah ada yang perlu kami lakukan padanya Yang Mulia?". Bawahan itu bertanya.


"Matamu, dikelas mana dia?". Marvin berkata dengan marah.


"Dia berada di kelas S Yang Mulia". Bawahan itu menjawab.


"Seorang dengan kecantikan yang luar biasa sepertinya hanya cocok denganku yang luar biasa tampan ini". Marvin berkata dengan narsisnya.


"Singkirkan setiap pria yang dekat dengannya, aku tidak ingin wanitaku didekati oleh pria lain". Marvin memberikan perintah.


"Oh dan satu lagi, siapa pria yang bersama dengannya tadi?". Marvin bertanya dengan marah.


"Dia sepertinya adalah adiknya Yang Mulia". Bawahan itu menjawab.


"Jadi begitu, dia adalah adik iparku ternyata". Marvin mengangguk.


"Biarkan saja jika dia adalah saudaranya, tapi jika itu pria lain, aku ingin kalian untuk menyingkirkan mereka". Marvin berkata dengan dingin.


"Baik, Yang Mulia". Para bawahannya mengangguk.


Mereka kemudian pergi menuju ke tempat tujuan mereka.


.....


Diana dan Lorent saat ini sudah ada di depan kelas B, mereka sedang menunggu Vivi dan Liliana keluar dari kelas.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya mereka keluar dan menyapa Diana dan Lorent.


"Halo Kakak, adik". Vivi menyapa mereka dengan gembira.


Liliana hanya mengangguk dengan santai, Kemudian mereka berempat pergi ke tempat pelatihan.

__ADS_1


__ADS_2