
Bab 86
Pemimpin kelompok itu akhirnya memerintahkan bawahannya untuk kembali menyerang Bell.
"Minum ramuan yang di berikan oleh Tuan pada kita untuk membunuhnya"
Pria itu beserta bawahannya mengeluarkan sebuah botol kaca kecil yang berisi sebuah cairan berwarna merah.
Mereka membuka penutup botol kaca itu dan meminum cairan yang ada didalamnya.
Setelah mereka meminumnya, tiba tiba mereka menjerit kesakitan.
"Arrggghh"
Setelah beberapa saat tubuh mereka langsung sedikit membesar dan urat urat di tubuh mereka menonjol keluar.
"Kukuku, sekarang kami sudah menjadi lebih kuat, bersiaplah untuk kematianmu". Pria itu tertawa kejam.
*Swosh*
Pria itu menghilang dari tempatnya dan menebaskan pedangnya ke arah Bell. Bawahannya juga menyerang Bell secara bersamaan.
*Sret*
Bell mencoba untuk menghindar, Namun dia terlambat selangkah hingga mengakibatkan dia mengalami sedikit goresan di bagian perutnya.
'Uhh, tidak kusangka kecepatan mereka bertambah menjadi sangat cepat'.Pikir Bell
Tidak sampai di situ saja, para pembunuh itu terus menyerang Bell dengan kecepatan penuh mereka.
"SERANGAN GABUNGAN, TEBASAN EMPAT SISI"
Pembunuh itu menyerang Bell dari empat arah yang berbeda sehingga membuat Bell kesusahan untuk menahan semuanya sekaligus.
*Tak* *Tak* *Sret* *Sret*
Bell berhasil menanangkis dua dari mereka, Namun dia gagal untuk menangkis serangan dari dua yang lainnya hingga membuatnya terluka.
Bell akhirnya mundur untuk memikirkan rencana selanjutnya. 'Apakah aku harus menarik pedangku disini'.
"Hahaha, bagaimana? kau sudah tau kan bagaimana kekuatan kami?". Pria itu tertawa dengan sangat bahagia.
"MAKA DARI ITU MATILAH"
Pria itu kembali menyerang Bell secara bersama dengan anak buahnya.
*Tak*
Namun Bell berhasil menahan satu serangan dari mereka dan mengambil pedangnya.
__ADS_1
Karena mereka menyerang dari arah yang sama, itu memudahkan Bell untuk melakukan serangan balik.
*Slash* *Slash* *Slash* *Slash*
Bell menebas mereka berempat secara berurutan dengan pedang yang diambilnya dari salah satu bawahan pria itu hingga membuat mereka terluka sangat parah.
Mereka memegangi luka mereka dan menatap Bell dengan tatapan tajam.
Pemimpin kelompok itu kemudian menyuruh bawahannya untuk mengorbankan diri mereka.
"Semuanya, korbankan diri kalian untuk melakukan penggabungan"
Ketiga bawahan pria itu mengangguk dan membaca sebuah mantra, lalu mereka menusuk jantung mereka hingga tewas.
Kemudian kekuatan mereka bertiga langsung terserap ke tubuh pria itu hingga membuatnya menjadi lebih kuat.
"Berbahagialah bocah, karena kau sudah membuatku mengorbankan ketiga bawahanku untuk membunuhmu"
Aura yang dikeluarkan oleh pria itu langsung berubah menjadi sangat kuat, dia kemudian menyerang Bell dengan kecepatan tercepatnya.
*Sling*
Pria itu menghilang dan langsung muncul di depan Bell dan langsung menghantamnya dengan keras.
"TINJU MEMATIKAN"
Tinjunya langsung menghantam wajah Bell yang masih belum siap dan membuatnya terpental ke belakang.
*Gubrak*
Tubuh Bell menghantam pohon dengan sangat keras.
"Ughh"
Bell merasakan sakit yang luar biasa di wajahnya. 'Sial, tidak kusangka dia akan sekuat ini jika menyerap kekuatan bawahannya'.
"Oh, ternyata kau masih hidup setelah menerima serangkanku". Pria itu berkata dengan sedikit terkejut.
"KALAU BEGITU AKU AKAN MENGHAJARMU DENGAN LEBIH KERAS LAGI"
Pria itu langsung bergerak menyerang Bell dan memberikan pukulan beruntun dengan sangat keras.
"SERATUS PUKULAN MEMATIKAN"
Bell kembali menerima serangan dari pria itu, bahkan kali ini serangannya lebih kuat dari serangan sebelumnya.
Bell dibuat tak berdaya oleh pria itu dan dia kembali terpental kebelakang sangat jauh dan menabrak sebuah bukit.
*Gubrak*
__ADS_1
Bell kemudian berdiri dengan lemah dan mengarahkan pandangannya pada pria itu dengan lemah.
'Sepertinya aki harus menarik pedangku kali ini'. pikirnya
(Note : Saya akan membuat Bell menyebut Katananya adalah Pedang)
"Hahaha, karena kau masih bisa bertahan, maka aku akan membuatmu merasakan tinjuku lagi"
Pria itu tertawa terbahak bahak dan bergerak dengan kecepatan penuh ke arah Bell.
Bell menutup matanya dan berkonsentrasi penuh dan tangannya menggenggam gagang pedangnya dengan erat.
"Huuf huuf". Bell menarik napasnya dalam dalam.
Gideon yang dari tadi melihat dari kejauhan ingin membantu Bell. Namun sebelum dia bisa bergerak, dia melihat sesuatu yang luar biasa.
Bell membuka matanya dan menarik pedangnya dengan sangat cepat dan menebaskannya ke depan.
"TEBASAN PEMUSNAH"
*Slash*
Bell memasukkan kembali pedangnya dengan sangat cepat. Sehingga orang yang tidak terlalu kuat melihat Bell hanya berdiri disana tanpa melakukan apa apa.
Namun Gideon melihat sekilas gerakan dari tangan Bell yang menarik pedangnya. Itu pun jika dia tidak fokus, maka dia tidak akan bisa melihatnya juga.
Setelah Bell memasukkan pedangnya kembali, tiba tiba di depan nya muncul Pembunuh itu dan berkata dengan lemah. "A.. apa?".
Tubuhnya tiba tiba terbelah menjadi dua bagian dan melepuh menjadi abu.
"Huff, tidak kusangka aku akan membunuh dengan pedang ini di sini". Bell bernapas dengan lega.
"Walaupun Ayah memberi kami banyak sumber daya, tapi itu terbatas dan kami tidak bisa menjadi sangat kuat kecuali kami terus berlatih dengan keras dan juga dengan sumber daya yang diberikan Akademi". Tambahnya.
Bell beristirahat sejenak untuk memulihkan lukanya. Setelah beberapa saat akhirnya dia kembali ke Asramanya.
Setelah Bell pergi, Gideon akhirnya muncul dan mencek mayat bawahan pria yang dibunuh oleh Bell.
"Sepertinya orang orang ini dari Keluarga Green, aku harus memberitahukan ini pada Kepala Akademi". Gideon bergumam setelah melihat mayat mayat itu.
Kemudian dia membersihkan tempat pertarungan dan kembali ke ruang Kepala Akademi untuk melaporkan apa yang terjadi.
Di ruang Kepala Akademi, Captiosus mengangguk setelah mendengar penjelasan Gideon.
Dia kemudian memberikan perintah. "Kirim pesan ke Keluarga Green bahwa jika mereka kembali melakukan ini, aku tidak akan tinggal diam saja".
"Baik Tuan". Gideon menghilang dari ruangan itu.
"Sepertinya dia melebihi ekspektasiku". Captiosus bergumam dengan senyum di wajahnya.
__ADS_1