
Bab 20
Beberapa hari setelah Hansen datang meminta bantuan dari Mateo, hari ini Mateo akan mengunjungi Hansen untuk memberitahunya bahwa dia tidak bisa menemukan jejak pelaku.
Hansen berjalan sendiri menuju ke istana, setelah beberapa saat dia sampai di depan gerbang istana.
Penjaga menghentikannya dan bertanya."Apa yang kamu cari di sini?".
Mateo dengan santai menjawab."Saya ingin bertermu dengan pangeran kedua, katakan padanya bahwa Mateo ingin bertemu".
Penjaga itu mengangguk dan berkata."Baiklah, tunggu di sini, aku akan menyampaikannya kepada pangeran kedua dulu".
Penjaga itu kemudian berlari kedalam istana untuk memberi tahu Hansen bahwa Mateo datang mengunjunginya.
Setelah beberapa saat, penjaga itu datang kembali dan berkata."pangeran kedua memperbolehkanmu masuk".
"Ikuti aku". Tambahnya.
Mateo mengakuti penjaga itu ke ruangan pangeran kedua, setelah mereka tiba, penjaga itu langsung melapor."Pangeran kedua, saya sudah membawa Tuan Mateo ke sini".
Lalu terdengar suara dari dalam."Biarkan dia masuk".
Penjaga kemudian mempersilahkan Mateo masuk ke dalam ruang kerja Hansen.
Mateo kemudian masuk, dia melihat banyak sekali barang barang mewah di dalam sana.
"Mateo, selamat datang di ruang kerjaku, maaf aku tidak bisa menyambutmu di luar". Hansen berkata dengan ramah.
"Tidak apa apa, Yang Mulia Pangeran pasti sangat sibuk". Mateo berkata sambil tersenyum.
"Silahkan duduk". Hansen berkata.
Mateo kemudian duduk, dan dia berkata."Saya akan langsung saja ke inti dari kedatangan saya kali ini".
"Pangeran, saya minta maaf karena tidak berhasil menemukan jejak pelaku yang membunuh bawahan anda". Tambahnya.
__ADS_1
Mendengar itu Hansen merenung sejenak dan berkata."Hmm, begitu ya, tidak apa apa kalau kamu tidak bisa".
Mateo kemudian bertanya dengan sopan."Maaf, sebenarnya orang itu mengganggu pangeran bagaimana?".
"Hmmm, sebenarnya ini adalah rahasia terbesarku, tapi aku akan memberitahumu". Hansen merenung sejenak.
"Sebenarnya beberapa tahun lalu, ada orang yang menggunakan topeng datang kepadaku, dan dia bilang akan memberikanku kekuatan jika aku bisa membantunya". Tambahnya.
"Orang bertopeng?". Mateo bertanya dengan bingung.
Hansen kemudian menjelaskan kembali."Ya, pertama aku berhasil melakukan permintaannya dan aku diberikan kekuatan yang besar".
"Namun aku masih merasa kekuatan itu kurang, aku pun menemui orang itu dan memohon padanya untuk memberikanku kekuatan". Tambahnya.
"Orang itu setuju asalkan aku bisa mengumpulkan ribuan anak anak untuknya, namun jika aku gagal maka dia akan mengambil nyawaku". Lanjutnya.
Mateo kemudian bertanya."mengambil nyawa pangeran?"
Hansen mengangguk."Ya".
"Bukankah itu harus di laporkan ke kerajaan? Jadi kerajaan bisa menangkapnya?". Lanjut Mateo.
Mateo kemudian menjadi bingung lagi."Seven Deadly Sins?".
Hansen mengangguk dan menjawab."Ya, itu adalah Organisasi yang terdiri dari tujuh orang yang sangat kuat".
"Tidak ada yang tahu dimana lokasi masing masing dari mereka, bahkan kudengar sesama anggotanya pun tidak pernah melihat wajah asli masing masing".
"Hmmm, bukankah mereka organisasi yang berbahaya bagi kerajaan?"Mateo merenung dan bertanya.
Hansen mengangguk dan menjawab."Ya, tapi mereka tidak bisa menyerang kerajaan, karena jika mereka menyerang salah satu kerajaan, maka semua kerajaan di seluruh Benua akan bersatu melawan mereka".
Mateo mengangguk."Oh jadi seperti itu ceritanya".
Merek kemudian berbincang tentang masalah yang lain hingga akhirnya Mateo meminta undur diri.
__ADS_1
"Baiklah pangeran, terima kasih karena telah menyambut saya". Mateo berkata dengan sopan.
Hansen kemudian membalasnya."Tidak apa apa, sudah seharusnya aku menjamumu".
Hansen kemudian memanggil pelayan untuk mengantarkan Mateo keluar.
Beberapa saat kemudian pelayan datang dan membawa Mateo keluar dari ruang kerja Hansen.
Ketika Mateo sedang berjalan menuju keluar dari istana, dia tiba tiba bertemu dengan Ratu Silia.
Ratu Silia yang melihat Mateo langsung menyapanya."Oh my, Mateo, apa yang sedang kamu lakukan di sini?".
"Yang Mulia Ratu". Mateo membungkuk dengan hormat.
Pelayan itu juga membungku dan menyapa. "Yang Mulia Ratu".
Mateo kemudian menambahkan."Saya di sini untuk bertemu dengan pangeran kedua".
Ratu Silia kemudian berkata."Oh, apakah kalian sudah selesai bertemu?".
"Ya, sudah Yang Mulia". Mateo menjawab dengan hormat.
Ratu Silia tertawa dengan menutupi mulutnya dan berkata."Fufu, kalau begitu, maukah kau berbicara denganku sebentar?".
"Saya tidak keberatan Yang Mulia". Mateo dengan hormat menjawab.
Ratu mengarahkan pandangannya ke arah pelayan dan berkata."Kamu boleh pergi, aku akan berbicara dengan Mateo tentang masalah pribadi".
"Baik Yang Mulia". Pelayan itu menjawab dengan hormat dan berbalik pergi.
Setelah pelayan itu pergi, Ratu Silia berkata pada Mateo."Fufu, sekarang hanya kita berdua, jadi tidak perlu formal lagi".
"Baik Ratuku yang cantik". Mateo berkata sambil mencium tangan Ratu Silia.
Ratu Silia tertawa dan berkata."Fufu, baiklah bagaimana kalau kita berbicara di kamarku?".
__ADS_1
Mateo mengangguk dan menjawab."Baiklah".
Ratu Silia kemudian membawa Mateo ke kamarnya dengan hati hati agar tidak ada yang melihat mereka.