
Seluruh anggota keluarga Smith kini tengah berada di ruang tengah. Sementara keluarga Austin dan keluarga Fernandez berada di luar.
Baik keluarga Austin, keluarga Smith maupun keluarga Fernandez memiliki perasaan tak enak. Perasaan mereka semua saat ini campur aduk. Perasaan mereka semua saat ini adalah antara keberhasilan dan kegagalan.
Ketika mereka tengah memikirkan tentang rencana yang sudah mereka buat, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara pintu dibuka paksa oleh Jerry.
BRAAKK!
Setelah pintu terbuka. Jerry berlari masuk ke dalam rumah. Anggota keluarga Smith yang berada di dalam rumah terkejut ketika melihat Jerry yang tiba-tiba masuk denga wajah tegangnya.
"Gawat Pa, om, tante, opa!"
"Ada apa Jerry?" tanya Erland.
"Darren ada di luar bersama perempuan itu!"
Mendengar jawaban dari Jerry. Erland dan yang lainnya seketika langsung berdiri. Mereka semua terkejut.
"Bagaimana bisa? Bukankah Darren...," perkataan Safina terhenti.
Afnan berlari menuju kamar adiknya di lantai dua. Dirinya ingin memastikan bahwa adiknya ada di kamar.
BRAAKK!
Afnan membuka pintu kamar adiknya. Kemudian Afnan masuk ke dalam kamar adiknya dan benar adiknya tidak ada di kamarnya. Dikarenakan tidak menemukan adiknya. Afnan pergi meninggalkan kamar adiknya untuk menuju kamar dimana Chello istirahat.
Setelah tiba di depan kamar dimana Chello berada. Afnan langsung membuka pintu kamar itu. Afnan masuk dan mengecek keberadaan adiknya.
Tetap sama...
Adiknya tidak ada di kamar tersebut. Yang ada hanya Chello yang sedang istirahat.
Dikarenakan tidak menemukan sang adik, Afnan kembali ke bawah dan bergabung dengan yang lainnya. Ketika tiba di bawah. Saskia langsung bertanya kepada adiknya.
"Bagaimana Afnan? Apa Darren ada di kamarnya atau di kamarnya Chello?"
"Tidak ada Kak. Darren tidak ada di kamarnya atau pun di kamar Chello," jawab Afnan.
Mendengar jawaban dari Afnan. Saskia langsung berlari keluar. Kemudian disusul oleh Jerry dan anggota keluarga Smith lainnya.
"Akhirnya kita bertemu, Nyonya MR alias Merry Romero!" seru Darren dengan menatap tajam Merry.
Mendengar perkataan dari Darren membuat Merry terkejut. Merry tidak menyangka jika putra dari perempuan yang begitu dia benci sudah mengetahui namanya.
"Begitu besarkah dendam anda pada ibuku sehingga membuat anda berambisi ingin membunuhku putra kesayangannya," ucap Darren.
"Anda mendatangi kediaman saya karena anda tidak mengetahui dimana kediaman utama keluarga besar Smith. Tujuan kedatangan anda adalah ingin memfitnah saya didepan anggota keluarga Smith. Jika anda berhasil, saya akan pergi meninggalkan mereka semua. Dan dari situlah anda akan membunuh saya. Bukan begitu, Nyonya Merry?"
__ADS_1
Darren berbicara dengan menatap tajam Salsa. Dan jangan lupa senyuman di sudut bibirnya.
Sementara Merry kembali terkejut ketika mendengar perkataan demi perkataan yang dilontarkan oleh Darren. Merry benar-benar tidak menyangka jika rencananya diketahui oleh putra dari mantan sahabatnya.
"Kenapa nyonya? Apa anda kaget karena saya telah mengetahui semua rencana anda, hum? Bukan itu saja. Saya juga tahu jika anda telah mengeluarkan Andara dari penjara. Anda dan Andara membuat sebuah rencana besar. Rencana itu adalah anda dan Andara ingin membunuh semua karyawan dan juga membakar lima Perusahaan besar dan terkenal. Kelima Perusahaan itu adalah milikku dan milik keluargaku. Yang akan melakukan pekerjaan itu adalah Andara dan 1000 anggota anda. Sedangkan anda bertugas untuk memfitnah saya."
Merry menatap tajam kearah Darren. Dirinya benar-benar kagum akan kepintaran dan kecerdikan yang dimiliki oleh Darren.
"Hahahaha." Merry tertawa keras.
"Aku salut padamu Darrendra Smith. Tapi satu hal yang tidak kau ketahui ketika aku datang kemari," sahut Merry menatap remeh Darren.
Darren hanya tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar perkataan dari Salsa.
"Oh iya," Darren menatap meremehkan Merry. "Apa yang tidak aku ketahui tentangmu, hum? Semua rencana yang telah kau susun selama ini telah aku ketahui. Andara telah mati ditangan sahabatku dan kakak sepupuku. Bahkan keluargamu. Seribu anggotamu telah dibantai habis oleh kelompok mafia kakak-kakakku. Dan dua markas milikmu telah hangus dilalap api."
Merry terkejut ketika mengetahui semua rencananya telah gagal. Ditambah lagi ketika mendengar bahwa keluarganya telah tewas.
"Brengsek kau Darren!" teriak Merry lalu mengarahkan senjatanya tepat kearah kepala Darren.
"Darren, tidak!" teriak anggota keluarga Smith, keluarga Austin dan keluarga Fernandez ketika melihat Merry yang mengarahkan senjata kearah kepala Darren.
Darren hanya bersikap tenang dan tidak ada rasa takut sama sekali ketika Merry mengarahkan senjata kearah kepalanya.
"Beraninya kau membunuh keluargaku, brengsek!" teriak Merry.
"Jadi apa yang kau lakukan dulu. Itulah yang aku lakukan sekarang. Nyawa dibayar nyawa." Darren menatap penuh amarah Merry.
"Baiklah, Darren! Aku akui kau memang sangat pintar. Tapi sekarang ini aku yang pegang kendali. Kau tidak tahu jika aku membawa sekitar 100 orang untuk menghancurkanmu dan seluruh anggota keluargamu."
Mendengar perkataan dari Merry. Darren hanya tersenyum. Darren menatap remeh Merry.
"Kau sudah kalah Merry! Orang-orang yang kau bawa semuanya sudah mati. Jadi menyerahlah!"
"Hahahaha." Merry tertawa. "Apa kau bilang? Menyerah? Aku harus menyerah dengan anak tak tahu diri sepertimu!" bentak Merry.
"Aku tidak akan pernah menyerah!" teriak Merry. "Sekarang... Ucapkan selamat tinggal kepada seluruh anggota keluargamu."
Merry menarik pelatuknya dan kemudian menekan pematiknya. Mendengar dan melihat Merry yang hendak menembak Darren membuat seluruh anggota keluarganya berteriak. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu pada Darren.
"Darren... Tidaakkkk!"
Detik kemudian...
DOR! DOR! DOR!
DOR! DOR! DOR!
__ADS_1
Tubuh Merry jatuh terkapar bersimbah darah di tanah dengan luka tembakan di seluruh tubuhnya termasuk di bagian kepalanya.
Melihat tubuh Merry yang tiba-tiba tergeletak di tanah membuat seluruh anggota keluarganya terkejut dan juga bingung.
Namun detik kemudian, keterkejutan dan rasa bingung mereka terjawab sudah. Seketika 150 anggota mafia Darren beserta dua tangan kanannya yaitu Vicky dan Satria keluar dari persembunyian mereka.
Melihat hal itu, mereka semua tersenyum bahagia dan juga berucap syukur. Setelah itu, mereka semua berlari menghampiri Darren.
"Bos, anda tidak apa-apa?" tanya Vicky.
"Aku baik-baik saja. Terima kasih. Bagaimana dengan kalian?"
"Kami semua juga baik-baik saja. Dan tidak ada yang terluka," jawab Satria.
"Ach, syukurlah. Bagaimana dengan 100 anggota dari perempuan itu?"
"Sesuai perintah Bos. Kami semua telah membunuhnya," jawab Vicky.
"Bagus."
"Bos," panggil Satria.
"Ada apa?"
"Bagaimana keadaan Bos Chello? Bos Chello baik-baik saja kan Bos?" tanya Satria.
"Iya. Chello baik-baik saja. Dia sedang istirahat di dalam."
"Ach, syukurlah." Vicky dan Satria berucap bersamaan.
"Apa perempuan itu yang melakukannya, Bos?" tanya Vicky.
"Iya. Perempuan itu ingin menyingkirkan Chello karena Chello sudah mengetahui sebagian rencananya."
"Ya, sudah! Kalian urus mayat perempuan sialan itu. Kubur dia."
"Baik, Bos."
Setelah itu, empat anggota dari Vicky dan Satria mengangkat tubuh Merry dan membawanya pergi meninggalkan kediaman Darren.
Setelah kepergian anggotanya. Darren menolehkan wajahnya melihat kearah anggota keluarganya. Dan dapat dilihat olehnya. Seluruh anggota keluarganya tersenyum hangat menatap dirinya.
Ketika mereka ingin mendekatinya. Darren dengan seenaknya dan tanpa perasaan pergi begitu saja meninggalkan seluruh anggota keluarganya yang ingin memeluknya.
"Yak! Darren!" teriak mereka secara bersamaan.
Mereka mengejar Darren yang kini sudah masuk ke dalam rumah.
__ADS_1