REVENGE

REVENGE
Rasa Bersalah Arinda


__ADS_3

Felix, Clarissa dan semua anak-anaknya sudah berkumpul di meja makan. Mereka akan sarapan pagi bersama sebelum pergi ke tempat kerja atau ke kampus.


Mereka sarapan pagi dengan penuh kebahagiaan. Kebahagiaan mereka adalah kembalinya Clarissa.


Untuk Felix dan kelima anak-anaknya merasakan kebahagiaan yang berlipat-lipat. Mereka bahagia karena Darren sudah sepenuhnya kembali kepada mereka dan mereka sudah kembali tinggal bersama lagi di keluarga Austin


Untuk Rafael dan ketiga anak-anaknya yaitu Dara, Jerry dan Michel. Mereka saat ini sedang pergi liburan. Rafael membawa ketiga anak-anaknya berlibur ke Amerika untuk satu bulan. Untuk urusan Perusahaan milik Rafael dan kedua anak-anaknya yaitu Dara dan Jerry akan diawasi oleh Felix, Raka, Satya dan juga Darren. Rafael memberikan kepercayaan kepada mereka berempat, terutama Darren.


"Darren sayang," panggil Clarissa.


"Hm," jawab Darren dengan mulut yang menggembung.


Clarissa tersenyum melihat wajah lucu putranya. Begitu juga dengan ayah dan kakak-kakaknya. Mereka semua tersenyum melihat pipi bakpao Darren.


"Mama boleh nanya nggak?" tanya Clarissa sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


Darren menelan makanannya, lalu melihat kearah ibunya. "Mama mau nanya apa? Tanya aja."


"Benar nih? Boleh?" tanya Clarissa.


"Hm." Darren mengangguk.


"Mau nggak kamu cerita sama Mama masalah kamu dengan gadis itu," tanya Clarissa dengan menatap was-was wajah putranya.


Baik Clarissa, Felix dan para kakak-kakaknya memperhatikan mimik wajah Darren yang tiba-tiba tidak mengenakkan.


"Kalau ka...," perkataan Clarissa terpotong karena Darren sudah terlebih dahulu bersuara.


"Gadis gila itu yang terlebih dahulu mencari masalah denganku. Dia jalan buru-buru seperti dikejar setan. Bahkan dia jalannya hanya fokus menatap ponsel tanpa memperhatikan jalan. Dia yang nubruk aku malah justru dia yang marah-marah. Seharusnya aku yang marah. Kemarin di kampus. Ntah setan jenis apa yang masuk ke dalam tubuhnya. Datang-datang langsung main banting laptop aku. Jelas aku marahlah. Secara itu laptop kesayangan aku. Dan di dalam laptop itu banyak data-data penting. Semua data-data itu bernilai miliaran dolar jika aku jual. Dengan wajah marah, aku tampar dan aku dorong tuh gadis gila hingga tersungkur." Darren berbicara tanpa beban sama sekali.


Mereka yang mendengar jawaban dari Darren menjadi tidak tega, terutama Clarissa.


Baik Clarissa dan keempat anak-anaknya yaitu Saskia, Nuria, Marco dan Afnan sangat tahu bagaimana kerja keras dan perjuangan Darren selama ini. Mereka juga marah atas apa yang dilakukan oleh gadis yang bernama Arinda terhadap kesayangannya.


Sementara untuk Felix dan kelima anak-anaknya yaitu Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya. Mereka selama ini tidak tahu jika Darren sudah menjadi CEO. Mereka tidak tahu jika Darren menjadi CEO sejak masih duduk di kelas 1 SMP.


Felix dan kelima anak-anaknya mengira selama ini Darren hanyalah seorang pelajar dan anak yang manja. Selama ini mereka tahunya Darren bekerja keras dalam sekolahnya. Darren selalu mendapatkan nilai-nilai yang bagus.


"Apa kamu sudah tahu alasan gadis itu melakukan itu sayang?" tanya Felix.


"Iya, Pa! Aku sudah tahu. Mungkin informasi dan bukti dia dapatkan salah. Makanya dia marah padaku dan menuduhku telah membantai habis keluarganya dan juga telah merebut Perusahaan ayahnya." Darren berucap.


"Berarti kamu sudah tahu pelakunya, Ren?" tanya Nuria.


"Iya, Kak! Aku sudah tahu," jawab Darren.


"Siapa?"


Semua kakak-kakaknya bertanya secara bersamaan kepada dirinya.


"Arnold Yohanes Jecolyn," jawab Darren.


"Apa? Bajingan itu yang telah membantai habis keluarga Bernard!" Marco benar-benar terkejut.


"Dasar manusia iblis," ucap Afnan.


"Tapi syukurlah bajingan itu sudah mampus," ucap Vito.


Darren menatap wajah Afnan, Vito, Velly dan Nasya. "Ketika di kampus. Jika kakak bertemu dan berpapasan dengan gadis itu. Jangan beritahu dia. Biarkan dia dan tangan kanan ayahnya mencari tahu informasi yang sebenarnya. Aku ingin membuat gadis itu menyesal dan mohon ampun padaku ketika dia tahu bahwa bukan aku pelakunya."


"Baiklah, Darrendra Austin yang terhormat!" seru Afnan, Vito, Velly dan Nasya.


"Aish," ucap Darren dengan wajah merengutnya.


"Hahahahaha." mereka semua tertawa.


Darren menatap satu persatu wajah anggota keluarganya dan berakhir menatap wajah keempat kakaknya yaitu Saskia, Nuria, Marco dan Afnan.


"Apa kalian tidak ingin tahu nama perusahaan milik ayah dari gadis gila itu? Dan apa kalian tidak curiga dengan perusahaan AYJ CORP?" tanya Darren dengan tatapan matanya menatap secara bergantian keempat kakak-kakaknya itu.


Saskia, Nuria, Marco dan Afnan saling lirik. Kemudian setelah itu, mereka kembali melihat kearah adiknya.


"Kalau begitu. Katakan pada kakak dan kita semua. Apa nama perusahaan ayah dari gadis itu?" tanya Marco.


"Katakan pada kami apa terjadi sesuatu?" tanya Afnan.


Darren tersenyum, lalu memasukkan sepotong nugget ke mulutnya.


Darren mengunyah nugget yang ada di dalam mulutnya dan setelah itu, Darren menelannya.


"Perusahaan AYJ CORP bukan perusahaan milik Papa Nandito." Darren berbicara dengan menatap wajah keempat kakak-kakaknya.


Mendengar penuturan dari Darren membuat Saskia, Nuria, Marco dan Afnan terkejut. Mereka menatap intens Darren.


"Kamu sedang bercandakan, Ren?" tanya Nuria.

__ADS_1


"Apa aku terlihat sedang bercanda saat ini?" Darren balik bertanya kepada kakaknya itu.


"Kalau perusahaan AYJ CORP itu bukan perusahaan milik Papa. Berarti kita belum berhasil merebut perusahaan milik Papa?' ucap dan tanya Saskia dengan sendu.


"Dan dengan kata lain, perusahaan Papa masih berada di tangan orang lain," sela Nuria.


Darren menatap iba kedua kakak perempuannya. Keempat kakak-kakaknya itu bahagia karena perusahaan milik ayah mereka telah kembali dan dipimpin oleh dirinya.


Namun sekarang keempat kakak-kakaknya itu kembali bersedih ketika mengetahui fakta bahwa perusahaan yang berhasil direbut itu bukanlah perusahaan ayah mereka.


Darren menatap adiknya tepat di manik coklatnya. "Jangan bilang jika perusahaan AYJ CORP itu adalah perusahaan milik keluarga Bernard. Dengan kata lain perusahaan AYJ CORP itu adalah perusahaan milik ayahnya gadis itu?"


Darren menatap wajah kakak keduanya itu. "Iya, itu benar. Perusahaan AYJ CROP itu adalah perusahaan milik ayah dari gadis gila itu," jawab Darren.


"Brengsek!" Marco benar-benar marah. "Kita telah ditipu mentah-mentah oleh bajingan itu," ucap Marco dengan penuh amarahnya.


"Seharusnya aku sadar dari awal. Bajingan itu marah besar ketika menyaksikan bagaimana keluarganya mati dengan sangat mengerikan. Bajingan itu juga marah ketika menyaksikan markas miliknya beserta para mafiosonya mati dan hangus tanpa sisa. Bahkan bajingan itu marah ketika melihat beberapa kelompok mafia yang dikenal kejam yang ikut andil dalam menghancurkan keluarga dan markasnya. Nah! Sementara ketika bajingan itu menyaksikan bagaimana perusahaan AYJ CORP miliknya berhasil aku rebut. Bajingan itu hanya bersikap biasa saja."


Darren berbicara sembari teringat ketika dirinya berhadapan dengan Arnold di kediaman Austin saat itu.


Mendengar penuturan dari Darren membuat Felix, Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya seketika mengingat kejadian saat itu. Dalam ingatan mereka semua. Mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh Darren bahwa Arnold memang bersikap biasa saja ketika melihat dan mengetahui perusahaannya telah direbut.


"Ya. Kamu benar, Ren! Kakak juga sempat memperhatikan wajah Arnold saat itu," sahut Raka.


"Kalau perusahaan AYJ CORP itu milik gadis itu. Bagaimana dengan perusahaan Papa?" tanya Saskia.


"Kakak tidak perlu khawatir. Kita akan merebutnya," ucap Darren.


Mendengar penuturan dari Darren. Mereka semua menatap Darren. Darren yang ditatap hanya tersenyum.


"Aku tahu siapa yang mengendalikan perusahaan Papa Nandito sekarang ini." Darren berbicara dengan tatapan matanya menatap kearah Marco dan Afnan.


Marco dan Afnan yang ditatap oleh adiknya langsung mengerti.


"Sekarang katakan pada kakak. Dari keluarga mana orang yang memimpin perusahaan Papa?" tanya Marco.


Seketika terukir senyuman manis di bibir Darren. Darren tersenyum bangga akan kakaknya itu yang langsung mengetahui arti dari tatapan matanya.


"Mereka berasal dari keluarga terkaya nomor 12 di dunia dan di Australia. Dan perusahaan dari keluarga itu berada di urutan ke 9 di dunia dan di Australia," jawab Darren.


Mendengar jawaban dari adiknya membuat Marco dan Afnan tersenyum. Lebih tepatnya senyuman menyeringai.


"Kalau masalah itu. Serahkan pada kakak," sahut Marco.


"Aku percaya. Aku serahkan tugas ini kepada kak Marco dan kak Afnan," ucap Darren.


"Hm." Marco dan Afnan berdehem disertai anggukkan kepala.


***


Di kediaman Bernard terlihat seorang gadis yang tengah duduk di sofa ruang tengah. Gadis itu adalah Arinda Bernard.


Arinda saat ini tengah memikirkan kejadian beberapa jam yang lalu di kampus dimana dirinya yang langsung menyerang orang yang selalu ribut dengannya dengan cara merebut laptop milik orang itu dan membantingnya hingga hancur.


Disatu sisi, Arinda tidak ingin melakukannya. Namun disisi lain, Arinda melakukannya demi rasa sakit dan dendamnya akan kematian kedua orang tuanya.


Arinda mendapatkan informasi dari tangan kanan ayahnya. Tangan kanan ayahnya itu mengatakan bahwa Darren lah yang menjadi pelaku pembantaian keluarga Bernard dan orang yang sudah merebut Perusahaan ayahnya.


Ketika Arinda sedang memikirkan kejadian itu, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang menyapanya.


"Maaf, nona Arinda!"


Arinda langsung menolehkan wajahnya melihat ke asal suara itu. Dan Arinda melihat seorang pria paruh baya yang tak lain adalah tangan kanan ayahnya.


"Ach, Paman! Silahkan duduk Paman," ucap Arinda.


Pria paruh baya itu pun kemudian menduduki pantatnya di sofa.


"Ada apa, Paman?"


"Begini nona Arinda. Sebelumnya saya minta maaf. Mengenai informasi yang saya dapatkan beberapa hari yang lalu yang mana saya mengatakan bahwa Darrendra Austin sebagai pelaku pembantaian keluarga Bernard dan juga orang yang sudah merebut Perusahaan tuan Fazio. Bahkan saya juga menunjukkan foto pelakunya kepada nona Arinda. Sebenarnya...,"


Melihat wajah bingung dan menyesalnya membuat Arinda menjadi tidak tega.


"Ada apa, Paman? Katakan saja."


"Informasi yang kemarin salah, Nona!"


"Apa?"


Arinda terkejut ketika mendengar pengakuan dari tangan kanan ayahnya itu.


"Ja-jadi...," ucapan Arinda terpotong.


"Iya, nona! Pelaku pembantaian keluarga Bernard dan orang yang sudah merebut Perusahaan tuan Fazio bukan Darrendra Austin. Dan informasi kali ini benar-benar yakin dan tidak akan salah lagi."

__ADS_1


"Katakan!"


"Pelaku yang sebenarnya adalah Arnold Yoseph Jecolyn. Pria itu berasal dari keluarga Jecolyn. Setelah berhasil merebut Perusahaan tuan Fazio. Arnold merubah nama Perusahaan menjadi AYJ. Dan berakhir Perusahaan itu direbut oleh Darrendra Austin."


Mendengar kabar dari tangan kanan ayahnya membuat Arinda benar-benar terkejut. Seketika rasa bersalahnya terhadap Darren menyerang seluruh tubuhnya.


"Apa Paman yakin?"


"Untuk kali ini Paman benar-benar yakin nona! Bahkan untuk informasi kedua ini. Paman menyelidikinya sampai sepuluh kali. Hasil tetap sama."


"Berarti Paman juga tahu alasan Perusahaan itu berada ditangan Darren?"


"Iya, Nona! Paman sudah tahu semuanya. Apa yang dilakukan Arnold terhadap keluarga Bernard. Itu juga yang dilakukan oleh Arnold terhadap keluarga Austin dan keluarga Smith. Bahkan keluarga Fernandez."


"Maksud Paman kalau Arnold...,"


"Iya, nona! Arnold membunuh ibu dan tante dari Darrendra Austin. Ibunya berasal dari keluarga Smith. Nona sudah pasti tahu siapa itu keluarga Smith dan juga keluarga Austin?"


"Aku hanya tahu jika keluarga Smith keluarga yang terpandang, terkaya dan paling berpengaruh nomor satu di dunia dan di Australia. Bahkan keluarga itu bisa disebut sebagai iblis jika sudah berurusan dengan musuh-musuhnya. Tapi untuk keluarga Austin. Aku belum mengenal mereka."


Arinda seketika teringat akan cerita ayahnya mengenai tentang keluarga Smith. Ayahnya mengatakan bahwa keluarga Smith keluarga yang paling ditakuti di seluruh dunia. Tidak ada yang berani melawan keluarga tersebut.


"Untuk keluarga Austin. Hampir sama dengan keluarga Smith. Jika keluarga Smith berada diurutan satu. Maka keluarga Austin berada diurutan nomor dua. Yang membedakan kedua keluarga itu adalah dari kekejamannya. Keluarga Austin tidak sekejam keluarga Smith. Jika mereka ingin membalas musuh-musuhnya. Mereka akan langsung menyerahkan ke polisi. Jadi pihak pengadilan yang akan memberikan hukuman seumur hidup di penjara atau hukuman mati. Sementara keluarga Smith akan langsung membunuh para musuh-musuhnya dengan tangan mereka sendiri."


Mendengar perkataan dari tangan kanan ayahnya membuat Arinda terkejut.


"Jadi Darren berasal dari keluarga Smith dan keluarga Austin," batin Arinda.


Pria paruh baya itu menatap wajah terkejut anak majikannya dengan tatapan iba.


"Nona pasti akan lebih terkejut lagi jika mendengar ini!" seru pria itu.


Arinda menatap wajah pria itu. "Katakan Paman. Katakan semuanya. Jangan ada informasi apapun yang tidak saya ketahui."


"Baik, nona! Untuk keluarga Smith. Rata-rata mereka semua adalah seorang mafia. Mereka memiliki kelompok mafia yang sudah terkenal di seluruh dunia. Mereka dikenal kejam dan tidak mengenal kata ampun jika keluarga mereka diusik. Baik keluarga mereka maupun orang-orang yang dekat dengan mereka.


"Apa Darren juga termasuk?"


"Iya, nona! Tuan Darren juga termasuk. Tuan Darren adalah ketua mafia dari BLACK WOLF dan BLACK LION. Kedua kelompok mafia itu sangat ditakuti di seluruh dunia. Baik kelompok mafia tuan Darren dan kelompok mafia para kakak-kakaknya. Mereka itu satu komunitas dan satu tim."


"Arnold sebagai pelaku pembantaian keluarga Bernard sudah mati ditangan tuan Darren. Untuk istrinya yang bernama Andara mati ditangan sahabatnya yang bernama Zidan dan kakak sepupunya tuan Darren yaitu tuan Garvin."


"Jadi bajingan itu sudah mati?"


"Iya, nona! Arnold sudah mati ditangan tuan Darren. Arnold berniat ingin membunuh tuan Darren setelah mendapatkan tanda tangan tuan Darren. Namun semua rencana dan niatnya berhasil digagalkan oleh keempat sahabat-sahabatnya."


"Tanda tangan? Maksud Paman?"


"Arnold mengincar Perusahaan milik keluarga Austin dimana semua kekayaan keluarga Austin sudah diwariskan kepada tuan Darren."


Mendengar semua informasi mengenai Darren dan keluarganya membuat Arinda benar-benar merutuki kebodohannya. Seharusnya saat itu Arinda bertanya terlebih dulu kepada Darren apakah dia pelakunya? Dan jika itu benar, seharusnya dirinya menanyakan alasan Darren melakukannya. Tapi Arinda malah langsung menyerang Darren.


"Sepertinya hanya itu informasi yang Paman ketahui. Jika ada informasi lain. Paman akan memberitahu nona."


"Ach, iya! Baiklah Paman."


"Kalau begitu Paman permisi dulu. Jaga diri nona. Oh iya! Diluar sudah ada beberapa orang-orang nya Paman. Mereka akan menjaga nona dan juga menjaga rumah ini."


"Terima kasih, Paman!"


"Tidak perlu berterima kasih pada Paman. Ini sudah tanggung jawab Paman. Tuan Fazio dan Nyonya Patrizia sudah meminta Paman untuk menjaga nona. Saya akan pergi jika nona sudah memiliki kekasih dan kekasih nona itu sangat mencintai nona dan juga melindungi nona."


"Paman bicara apa. Paman tidak akan pergi keman-mana." Arinda menatap sendu pria paruh itu.


"Saya akan berusaha untuk selalu bersama nona. Kalau begitu Paman permisi dulu."


"Hati-hati Paman!"


"Baik, nona!"


Sepuluh menit kepergian tangan kanannya. Pengasuhnya pun datang dengan membawa nampan.


"Sayang. Sudah pulang Paman Sam nya?"


Arinda menatap dengan mempoutkan bibirnya. Tantenya itu selalu seperti itu datang ketika tamu sudah pergi.


"Tante Pingkan ngapain aja di dapur. Perang lagi sama om. Kalau mau perang di dalam kamar aja. Jangan di dapur," ucap Arinda dengan nada meledeknya.


"Apaan sih kamu."


Pingkan adalah pengasuh Arinda dari lahir. Sementara yang disebut oleh Arinda sebagai om adalah suami dari Pinkan yaitu Robby.


Pinkan dan Robby memutuskan menikah agar bisa merawat Arinda bersama-sama. Mereka merawat Arinda dan menganggap Arinda sebagai putri kandung mereka sendiri.


Baik Pinkan maupun Robby sudah lama bekerja dengan Fazio dan Patrizia  Mereka bekerja sebelum Arinda lahir.

__ADS_1


__ADS_2