REVENGE

REVENGE
Kekalahan Mutlak


__ADS_3

BRAAKK!


Arnold langsung memukul keras meja tersebut. Dirinya benar-benar marah akan sikap dari keluarga Austin.


"Aku tidak peduli. Hubungi putramu itu sekarang juga. Dan suruh dia datang!" bentak Arnold.


"Apa anda sudah merindukanku, tuan Arnold Yoseph Jecolyn!" seru seseorang.


Mendengar suara seseorang dari arah ruang tamu. Mereka semua yang ada di ruang tengah secara bersamaan melihat ke asal suara. Dapat mereka lihat Darren yang berdiri bersandar di dinding dengan kedua tangan dilipat di dada.


Sementara Nasya yang berdiri di belakang dengan menyenderkan dagunya di bahu Darren dan tangannya yang mencolek-colek sembari menekan-nekan pipi gembul Darren sehingga membuat Darren mendengus. Kan jadi hilang sifat cool dan seramnya.


"Aish, Kak Nasya! Apaan sih," kesal Darren.


Felix, Raka, Satya, Vito, Velly, Rafael dan kedua anaknya Dara dan Jerry tersenyum gemas melihat kelakuan Nasya dan wajah kesal Darren.


Darren berlahan melangkahkan kakinya menuju ruang tengah dan diikuti oleh Nasya.


Darren dan Nasya langsung menduduki pantat mereka setelah berada di ruang tengah. Darren menatap tajam dan penuh dendam Arnold.


"Siapa kau!" bentak Arnold.


Mendengar pertanyaan dari Arnold membuat Darren tertawa keras. Begitu juga dengan ayahnya, kelima kakaknya, kedua kakak sepupunya dan pamannya.


"Hahahahaha."


"Hei, tuan. Tadi tuan menyuruh Papaku menghubungiku dan menyuruhku untuk datang kesini. Sekarang saat aku sudah ada disini. Malah tuan bertanya siapa aku? Tuan masih sehatkan?"


Arnold menatap penuh amarah kearah Darren. Dirinya belum tahu siapa Darren.


Darren melihat kearah Andara. "Hei, nyonya Andara. Apa anda tidak memberitahu suami anda itu siapa saya, hum? Kenapa anda hobi sekali menipu orang? Apa itu sudah menjadi kebiasaan anda sejak kecil ya? Jangan-jangan anda juga melakukan hal itu terhadap kedua orang tua anda." ejek Darren dengan tersenyum di sudut bibirnya.


Mendengar ejekan dari Darren membuat Andara menatap marah. "Jaga sikap dan cara bicaramu anak sialan!" bentak Andara.


"Oopps!" Darren langsung mengatup bibirnya rapat. Namun detik kemudian Darren tertawa.


"Hahahaha. Anda lucu sekali jika sedang marah Nyonya."


Felix x Rafael, Raka, Satya, Vito, Velly, Nasya, Dara dan Jerry hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan dan mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut Darren. Mereka tidak habis pikir dengan cara Darren menghadapi musuh-musuhnya.


Sementara Arnold, Andara, Marissa dan suaminya menatap tajam dan juga marah terhadap sifat dan kelakuan Darren.


"Hei, bocah! Beginikah caramu bersikap dengan orang yang lebih tua, hah! Apa kedua orang tuamu tidak pernah mendidikmu cara menghormati orang yang lebih tua darimu?!" bentak Marissa.


Darren melihat kearah Marissa. "Justru kedua orang tuaku mendidikku dengan sangat baik. Mereka mendidikku bagaimana cara menghormati orang yang lebih tua dariku," jawab Darren.


"Jika kedua orang tuamu mendidikmu dengan sangat baik. Kenapa kau tidak bersikap sopan kepada Andara yang berstatus sebagai tantemu?" ucap dan tanya Marissa dengan menatap tajam Darren.


"Karena aku tidak sudi bersikap sopan dan bersikap hormat kepada penjahat seperti kalian. Kalian itu tidak pantas untuk dihormati," jawab Darren.


Mendengar jawaban dari Darren membuat Andara, Arnold, Marissa dan suaminya menggeram marah.


"Dan satu lagi dan anda harus ingat. Nyonya Andara itu bukanlah tanteku. Aku hanya memiliki satu orang tante. Orang itu adalah Tante Amanda."


BRAAKKK!


Arnold tiba-tiba menggebrak meja dengan kerasnya. Dirinya sedari sudah tidak tahan mendengar ocehan dari Darren.

__ADS_1


"Sudah cukup bermainnya bocah. Dan kau Felix. Hubungi putramu sekarang juga. Atau kau akan tahu akibatnya!" bentak Arnold dengan nada mengancamnya.


Felix tersenyum di sudut bibirnya. "Hei, tuan Arnold. Putra yang mana lagi? Semua putra-putraku sudah ada di hadapanmu sekarang. Orang yang barusan kau sebut bocah itu adalah putra bungsuku. Dialah yang kau cari."


Mendengar jawaban dari Felix. Arnold melihat kearah Darren. Setelah itu, Arnold kembali melihat kearah Felix.


"Jangan bohong kau Felix!" bentak Arnold.


"Kenapa anda tidak tanyakan kepada perempuan yang duduk di sebelah anda untuk sekedar memastikan?" sela Velly.


Seketika Arnold mengalihkan pandangannya kearah samping dimana Andara istrinya duduk.


"Andara," ucap Arnold.


"Iya. Bocah yang ada di hadapanmu itu adalah putra bungsunya Felix Austin. Putra dari pernikahan keduanya," jawab Andara.


Mendengar jawaban dari Andara. Arnold menatap wajah Darren. Sementara Darren langsung memperlihatkan senyuman manisnya. Lebih tepatnya senyuman mengejeknya.


Marissa yang mendengar perkataan dari Andara yang mengatakan bahwa pemuda yang barusan menantangnya adalah putra Felix dari istri keduanya. Marissa tidak menyangka jika Felix telah menikah lagi setelah dirinya pergi meninggalkannya.


"Hallo, Tuan Arnold. Perkenalkan namaku Darrendra Smith. Aku..." perkataan Darren seketika terpotong.


"Yak! Darren. Apa-apaan kamu, hah!" kesal Vito.


Vito, Raka dan Satya menatap horor adik mereka. Sementara Darren yang ditatap hanya cuek dan acuh.


"Jangan menatapku seperti itu. Aku tahu dan aku sadar wajahku lebih tampan dari kalian bertiga. Dan akulah yang paling tampan dibandingkan kalian. Dan untuk Kak Velly dan Kak Nasya. Terimalah kodrat kalian jika hanya kalian perempuan di dalam keluarga Austin."


Mendengar perkataan dari Darren membuat Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya mendengus kesal.


"Hei, Ren! Lalu Kak Dara mau dikemanain jika hanya Velly dan Nasya perempuan dalam keluarga Austin?" tanya Jerry.


"Iya... Iya! Terserah kamu saja deh," sahut Jerry.


Sementara Dara hanya bisa tersenyum gemas dan geleng-geleng kepala.


Darren menatap tajam Arnold. "Aku adalah putra dari Felix Austin. Anak yang sedang kau incar tanda tangannya," sahut Darren.


Darren saat ini telah menunjukkan wajah serius dan wajah menantangnya. Sudah selesai bermain-mainnya. Dan kini Darren mulai keinti permasalahannya.


"Aku sarankan kepadamu tuan Arnold agar mengurungkan niatmu untuk tetap mendapatkan tanda tanganku. Sekali pun aku menandatangani berkasmu ini. Semuanya itu tidak ada gunanya. Kau sudah salah mencari lawan." Darren berbicara dengan menatap tajam Arnold dan Andara.


Mendengar ucapan dari Darren membuat Arnold murka. Dirinya benar-benar marah karena sudah dipermainkan sejak tadi.


"Apa kau menantangku, hah?!" bentak Arnold.


"Kalau iya. Anda mau apa?" Darren balik bertanya.


"Aku tidak peduli. Sekarang tanda tangani berkas itu. Atau..."


"Atau kau akan membunuhku dan keluarga Austin, begitu? Kau akan membunuhku dan membunuh seluruh anggota keluarga Austin seperti kau membunuh Nandito Abraham!" Darren berbicara dengan menatap tajam Arnold.


Mendengar perkataan dari Darren membuat Arnold, Andara, Marissa dan suaminya terkejut. Mereka tidak menyangka jika kejahatan mereka diketahui oleh bocah ingusan seperti Darren.


Melihat keterkejutan Arnold, Andara dan Marissa membuat Darren tersenyum menyeringai. Begitu juga dengan keluarga Austin.


"Kenapa? Apakah kalian terkejut saat aku mengetahui kejahatan kalian, hum? Bukan hanya Nandito Abraham saja yang sudah menjadi korban kalian. Clarissa Austin, Amanda Austin dan Victoria Austin. Bahkan istri pertama dari Rafael Austin tak luput dari incaran kalian. Mereka semua adalah korban dari kejahatan kalian!" teriak Darren.

__ADS_1


Tubuh Rafael, Dara dan Jerry seketika menegang ketika Darren mengatakan bahwa istrinya/ibunya juga ikut menjadi korban dari Arnold dan Andara.


"Kau benar-benar wanita iblis Andara. Kau dengan kejamnya membunuh istriku agar bisa menikah denganku!" bentak Rafael.


Rafael hendak menampar Andara. Namun dihentikan oleh Darren.


"Om, jangan!"


"Tapi, Ren..."


"Om sabar saja. Akan ada waktunya nanti. Setelah waktunya tiba. Om bebas melakukan apa saja terhadap mereka. Bahkan jika om ingin membunuh perempuan itu. Hal itu akan om dapatkan."


Mendengar perkataan dari Darren. Rafael pun mengurungkan niatnya. Dirinya benar-benar berharap jika perempuan yang sudah menipunya selama ini mati ditangannya.


"Om akan tunggu waktu itu tiba," sahut Rafael.


"Jika waktu itu tiba. Aku mau om Rafael benar-benar melakukannya. Aku mau om membalaskan kematian Nenek, kematian tante Amanda dan kematian istri om. Jangan sampai om lemah. Jika om tidak sanggup atau tidak kuat. Maka aku yang akan membunuh perempuan itu."


"Kamu tidak perlu khawatir. Om akan melakukan tugas om sebagai kakak, sebagai anak dan sebagai suami."


"Bagus," jawab Darren.


Darren menatap tajam kearah Marissa. "Dan untuk anda Nyonya Marissa... Eemm... Maksudku Martina Harvey."


Mendengar ucapan dari Darren membuat Marissa terkejut. Dirinya dan juga suaminya tidak menyangka jika putra dari mantan suaminya mengetahui nama aslinya.


"Apa maksudmu, hah?! Kenapa kau memanggilku dengan sebutan Martina Harvey? Namaku adalah Marissa!" bentak Marissa.


"Maaf Nyonya. Kau bisa membohongi keluarga Austin. Tapi kau tidak bisa membohongiku. Nama aslimu itu adalah Martina Harvey. Kau sengaja merubah namamu karena untuk menutupi jati dirimu dan anggota keluargamu yang sebenarnya. Jadi dengan kata lain. Jika niat jahatmu gagal dan ketahuan. Maka anggota keluargamu selamat."


Mendengar perkataan dari Darren lagi-lagi membuat Marissa terkejut. Di dalam hatinya berkata dari mana Darren mengetahui semuanya ini.


"Kau menikah dengan ayahku hanya untuk membalaskan rasa sakitmu karena cintamu bertepuk sebelah tangan. Ayahku ternyata mencintai sahabatnya sendiri yang tak lain adalah ibu kandungku."


"Ja-jadi kau putra dari Clarissa?"


"Anda benar sekali Nyonya Martina," jawab Darren dengan senyuman manisnya.


Darren menatap tajam kearah para musuh-musuhnya. "Sekarang aku katakan pada kalian. Perusahaan AUSTIN dan rumah ini adalah milikku. Dan tidak akan ada yang bisa merebutnya dariku. Baik aku hidup maupun aku mati ditangan kalian. Kalian tidak akanĀ  pernah bisa untuk merebutnya."


Darren tersenyum menatap wajah Arnold, Andara, Marissa dan suaminya. "Kalian semua sudah kalah. Kalian sudah tidak memiliki apapun saat ini."


"Aku tidak akan pernah kalah dengan bocah sepertimu!" bentak Arnold.


"Benarkah?" tanya Darren meremehkan. "Bagaimana kalau aku memperlihat sesuatu padamu, pada istrimu dan pada sekutumu itu, hum?" Darren tersenyum menyeringai.


"Dengan anda diam. Berarti anda mengiyakan perkataanku barusan," sahut Darren.


Darren melihat kearah Vito, lalu meminta Vito untuk membantunya.


"Kak Vito. Mau tidak membantuku?"


"Dengan senang hati. Kamu butuh apa?"


"Tolong putar VCD ini," ucap Darren memberikan VCD itu kepada Vito.


"Baiklah," jawab Vito lalu mengambil VCD dari tangan Darren.

__ADS_1


Vito memutar VCD itu di VCD player. Setelah beberapa menit, terlihat beberapa adegan di dalam VCD itu.


__ADS_2