
Darren berlahan melangkahkan kakinya mendekati Arinda. Melihat Darren yang ingin mendekati Arinda membuat Barra, Faza dan Chico langsung menahannya.
"Ren," ucap mereka bertiga bersamaan.
Mereka semua khawatir dan takut. Begitu juga dengan Kevin, Zidan, Chello dan Briyan.
Darren menatap wajah ketiga sahabatnya yang kini menatap khawatir dirinya. Seketika Darren tersenyum.
"Kalian tenang saja. Tidak akan terjadi apa-apa. Percayalah!"
Mendengar perkataan dari Darren membuat mereka sedikit lega. Begitu juga dengan para kakak-kakaknya yang saat ini masih terus memperhatikan Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya dari posisi mereka saat ini.
Darren kembali melangkah mendekati Arinda. Setelah berada di hadapan Arinda. Darren tersenyum di sudut bibirnya.
"Arinda Bernard! Bukankah itu namamu, hum?" Darren menatap tajam Arinda.
Mendengar nama Arinda Bernard dari mulut Darren membuat Zidan, Chico, Barra, dan Chello terkejut. Mereka menatap wajah Arinda.
"Jadi dia anak perempuan dari Fazio Bernard?" tanya Chello.
"Sepertinya," sahut Zidan.
Sementara Briyan, Faza dan Kevin hanya diam dengan mata menatap kearah Arinsa. Mereka bertiga tidak tahu apa yang sudah terjadi.
"Siapa itu Fazio Bernard?" tanya Briyan.
"Dan apa hubungannya dengan gadis itu?" tanya Kevin.
Zidan, Chico, Barra dan Chello melihat kearah Briyan, Faza dan Kevin. Dan detik kemudian, mereka kembali menatap Darren dan Arinda.
"Kalian masih kecil. Jadi diam saja," ucap Zidan.
"Sekali pun dijelaskan. Kalian juga gak bakal ngerti," ucap Chello menambahkan.
Mendengar jawaban dari Zidan dan Chello membuat Briyan, Faza dan Kevin mendengus kesal.
"Sialan," umpat Kevin.
"Brengsek lo pada," umpat Briyan.
"Dasar sahabat setan," umpat Faza.
Mendengar umpatan yang begitu lembut dari Briyan, Faza dan Kevin membuat Zidan, Chico, Barra dan Chello tersenyum kemenangan.
__ADS_1
Darren dan Arinda saling menatap tajam. Tersirat amarah yang membuncah dari tatapan keduanya, terutama Arinda.
"Kau tidak perlu menjelaskan apapun padaku apa alasanmu menyerangku dan berani menghancurkan sumber penghasilanku. Aku sudah tahu semuanya." Darren menatap wajah Arinda dengan senyuman menyeringai.
"Kau mengira bahwa aku adalah dalang dari pembantaian seluruh anggota keluargamu. Dan juga dalang yang sudah merebut Perusahaan ayahmu yaitu Fazio Bernard. Bukan begitu, nona Arinda Bernard?"
Mendengar perkataan dari pemuda yang ada di hadapannya membuat Arinda terkejut. Arinda tidak menyangka jika pemuda itu sudah mengetahui maksud kedatangannya.
"Kau sudah salah menuduh orang, nona! Aku sarankan lebih baik kau selidiki lagi masalah pembantaian keluargamu itu secara detail agar kau tidak menyesal dikemudian hari. Jika kau masih bersikeras menuduhku yang telah membantai habis seluruh anggota keluargamu dan menuduhku yang telah merebut Perusahaan ayahmu. Maka jangan salahkan aku jika aku akan membalas perbuatanmu jika terbukti aku tidak bersalah. Dan jangan harap akan ada kata maaf atau pun kata perdamaian." Darren menatap Arinda dengan senyuman di sudut bibirnya.
"Aku Darrendra Austin. Seorang Darren tidak pernah mencari masalah dengan siapa pun kecuali orang-orang diluar sana yang selalu mencari masalah denganku dan keluarga besarku. Kau pikir aku ini laki-laki yang tidak memiliki apapun, laki-laki bodoh dan laki-laki miskin sehingga dengan akal bulusnya merebut perusahaan ayahmu. Jika anda memiliki pikiran seperti itu. Aku sarankan buang jauh-jauh pikiran itu. Laki-laki yang berdiri di hadapanmu ini adalah Darrendra Austin atau bisa juga disebut dengan Darrendra Smith! Keluarga Austin adalah keluarga dari pihak ayahku. Sementara keluarga Smith adalah dari pihak ibuku. Jadi jika aku menginginkan sesuatu. Aku tinggal memintanya dengan keluargaku. Tidak dengan merebut milik orang lain. Itu bukanlah tipeku."
Mendengar mendengar perkataan dari Darren membuat ketujuh sahabat-sahabatnya meledeknya.
"Uuuuu..."
"Huueekk!"
"Oh iya!"
"Benarkah begitu?"
"Masa sih?"
"Seorang Darren tidak pernah melakukan itu. Masa....."
Mendengar ledekan dari ketujuh sahabat-sahabatnya membuat Darren mendengus kesal. Darren menolehkan wajahnya menatap tajam ketujuh sahabat-sahabatnya yang super super menyebalkan. Dan jangan lupa perkataan mematikannya.
"Apa kalian sudah bosan hidup," sahut Darren.
"Oooppss!"
Zidan, Chico, Barra, Chello, Briyan, Faza dan Kevin dengan kompak langsung mengatup bibir mereka masing-masing. Serta membuang wajah mereka kearah lain. Mereka berusaha untuk tidak melihat wajah kesal Darren.
Sementara para kakak-kakaknya dan para sahabat-sahabatnya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
Darren kembali menatap wajah Arinda. "Aku katakan sekali lagi. Carilah bukti lebih banyak lagi. Jangan hanya satu bukti saja. Dan ingat! Dua minggu kau sudah harus menyelesaikan semua tugas-tugasku yang ada di laptop itu. Jika tidak! Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu. Kau memiliki om dan tante bukan. Ach, lebih tepatnya! Orang yang selama ini menjagamu setelah kematian kedua orang tuamu. Jangan sampai mereka menjadi korban akan sikap burukmu padaku."
Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan lapangan. Melihat kepergian Darren. Ketujuh sahabat-sahabatnya menyusulnya.
Setelah kepergian Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Afnan, Naura, Vito, Velly dan Nasya. Serta sahabat-sahabatnya menghampiri Arinda dan keempat sahabatnya.
PUK!
__ADS_1
Naura menepuk pelan pundak Arinda sehingga membuat Arinda terkejut. Baik Naura maupun yang lainnya menatap Arinda dengan tatapan iba. Mereka dapat melihat kesedihan, kerinduan dan juga dendam di mata Arinda. Bahkan mereka tidak marah kepada Arinda atas apa yang telah dilakukan oleh Arinda barusan.
"Kakak mengerti perasaan kamu. Tapi apa yang dikatakan oleh Darren itu benar. Kami keluarga Austin maupun keluarga Smith tidak pernah mencari masalah dengan siapa pun. Kami tidak pernah mengusik kehidupan orang lain." Naura berbicara lembut kepada Arinsa.
"Jika pun kami menyakiti orang lain. Jika pun kami mengusik kehidupan orang lain. Itu dikarenakan merekalah yang terlebih dahulu mengusik kehidupan kami. Merekalah yang terlebih dahulu menyakiti salah satu anggota keluarga kami. Melihat salah satu anggota keluarga kami disakiti. Maka kami pun membalasnya." Afnan ikut berbicara.
"Dan masalah pembantaian seluruh anggota keluargamu. Pelakunya bukanlah Darren. Adikku tidak pernah melakukan hal itu. Seperti yang dikatakan oleh Darren padamu. Baik Darren maupun kita semua tidak kenal dengan keluarga Bernard yang tak lain adalah keluargamu. Kami tidak memiliki masalah dengan keluargamu. Mengetahui nama Bernard saja baru hari ini." Vito berbicara dengan menatap iba Arinda.
"Seperti yang sudah dikatakan Darren padamu. Lebih baik kau cari bukti lagi. Carilah bukti itu sedetil-detilnya dan jangan ada kesalahan apapun. Aku berbicara seperti ini agar kau tidak menyesal karena sudah menuduh seseorang yang sama sekali tak ada hubungan dengan pembantaian keluargamu. Percayalah! Orang yang kau tuduh itu sama sekali tak bersalah." Afnan berbicara lembut sembari matanya menatap manik Arinda.
"Tatapan matanya mirip Ataya. Siapa dia sebenarnya? Apa dia benar-benar putri dari keluarga Bernard. Aku harus menyelidiki latar belakang gadis ini," batin Afnan.
Setelah mengatakan itu, Afnan pergi meninggalkan lapangan dan diikuti oleh yang lainnya.
***
Di dalam ruangan latihan taekwondo dimana Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya tengah berkumpul.
Dan saat ini Darren sedang SmackDown dengan Briyan. Darren berhasil dibuat kesal akan Briyan yang selalu meledeknya.
Darren duduk di atas punggung Briyan yang saat itu sedang tertidur tengkurap sehingga membuat Briyan berteriak.
"Yak! Siluman kelinci sialan. Bangsat! Apa lo benar-benar berniat ingin membunuh gue, hah?!" teriak Briyan yang pergerakannya telah terkunci.
"Iya. Gue pengen bunuh lo. Setelah itu, tubuh lo gue potong-potong jadi seribu bagian. Dan setelah itu, potongan tubuh lo itu gue berikan kepada empat hewan peliharaan gue." Darren menjawab pertanyaan dari Briyan dengan wajah santainya.
Sementara Zidan, Chico, Barra, Chello, Faza dan Kevin mendengar jawaban santai dari Darren seketika menelan ludahnya kasar. Tubuh mereka seketika merinding ketika Darren dengan gampangnya mengatakan akan memotong-motong tubuh Briyan menjadi seribu bagian.
Lalu bagaimana dengan Briyan? Sudah jelas Briyan lebih merinding dari pada keenam sahabatnya itu.
"Yak! Gila lo. Lo pikir tubuh gue ini sapi dan kambing yang seenaknya main potong-potong aja," jawab Briyan.
"Gue nggak peduli. Mau lo sapi, mau lo kambing atau sekali pun lo manusia. Jika sudah dipotong-potong hasilnya bakal tetap sama. Hasilnya tetap menjadi setumpuk daging. Setidaknya itu bisa membuat mengenyangkan perut keempat hewan peliharaan gue."
"Yak! Darren, lepaskan gue!" teriak Briyan.
Darren pun langsung melepaskan kunciannya di tubuh Briyan dan menyingkir dari punggung Briyan.
Briyan bangun dari posisi tengkurapnya. Dan seketika nafasnya yang tak teratur akibat terlalu lama dihimpit oleh Darren, walau Darren tidak terlalu nekan kuat punggung Briyan. Tapi Briyan juga butuh untuk bernafas. Dengan posisi seperti itu membuat Briyan sulit untuk bernafas.
"Sialan lo setan," umpat sarkas Briyan.
Mendengar umpatan kekesalan dari Briyan. Darren tersenyum melihatnya. Begitu juga dengan sahabatnya yang lain. Mereka tersenyum ketika melihat wajah sepet Briyan.
__ADS_1