REVENGE

REVENGE
Terungkap Status Arinda


__ADS_3

Afnan dan Vito sudah berada di rumah. Begitu juga para kakak-kakaknya. Sementara Darren, Velly dan Nasya masih di kampus.


Afnan bersama saudaranya yang lain sedang bersantai di ruang tengah. Mereka hanya sekedar menghabiskan waktu melepaskan rasa lelah karena habis beraktifitas diluar rumah sembari berkumpul bersama keluarga.


"Afnan," panggil Marco.


"Iya, Kak!"


"Kakak lihat kamu pulang bawa sesuatu. Apa itu?"


"Laptop," jawab Afnan.


"Laptop? Bukannya kamu sudah punya tiga? Beli lagi?" tanya Nuria.


"Bukan punyaku. Tapi punya anak kelinci itu," jawab Afnan seenaknya.


"Lah. Dua hari yang lalu kakak habis beliin laptop baru untuk Darren. Bahkan Darren minta dibelikan laptop sama kakak sambil merengek-rengek kayak anak kecil gitu," sela Saskia.


"Itu laptop dari Arinda, Kak Saskia!" seru Vito.


"Bahkan Arinda memberanikan diri menemui Darren untuk minta maaf dan membelikan laptop baru untuk Darren," ucap Vito lagi.


"Terus bagaimana? Apa Darren...," perkataan Nuria terpotong.


"Tidak. Justru Darren bersikap kasar terhadap Arinda dengan mendorong tubuh Arinda hingga terjatuh. Setelah itu, Darren pergi gitu aja." Afnan menjelaskan kepada kakaknya.


"Aish! Tuh anak keras kepala sekali. Apa susahnya sih kasih maaf untuk Arinda. Kan kasihan juga Arinda nya. Gak tega kakak," ucap Saskia.


"Kakak aja gak liat kejadiannya merasa kasihan apalagi aku dan Vito yang melihat langsung. Dan kami tidak bisa berbuat apa-apa. Jika kami ikut campur. Bisa-bisa Darren pasti akan salah paham. Kakak tahu sendiri bagaimana sifatnya Darren." Afnan berbicara sembari mengingat sifat adiknya itu.


Baik Saskia, Nuria dan Marco maupun Raka, Satya dan Vito sangat tahu sifat Darren. Darren memiliki sifat sensitif dan rasa cemburu. Darren paling tidak suka jika kakak-kakaknya terlalu dekat dengan orang lain apalagi membela orang lain dan menasehatinya.


"Darren itu paling nggak suka jika ada yang menasehati dia jika posisi dia tidak bersalah. Dan meminta dia untuk memaafkan kesalahan orang lain." Raka berbicara sambil mengingat ketika dirinya pernah menasehati adiknya itu.


"Raka benar. Darren paling nggak suka dinasehati dan disuruh memberikan maaf untuk orang yang sudah nyakitin dia," kata Nuria.


"Darren akan memaafkan kesalahan orang itu jika orang itu benar-benar tulus dalam hati kecilnya meminta maaf kepadanya," sela Satya.


"Hm!" Saskia, Nuria, Marco Afnan, Raka dan Vito mengangguk setuju.


Ketika mereka tengah membahas masalah Darren dengan teman kampusnya bernama Arinda. Ponsel Afnan tiba-tiba berbunyi.


Afnan yang mendengar ponselnya berbunyi langsung mengambil ponselnya di saku celananya.


Ponsel sudah di tangannya. Dapat Afnan lihat nama tangan kanannya di layar ponselnya. Tanpa pikir panjang lagi. Afnan langsung menjawab panggilan tersebut.


"Hallo."


"Hallo, Bos! Aku sudah mendapatkan apa yang Bos minta"


Mendengar jawaban dari tangan kanannya. Terukir senyuman manis di bibir Afnan.


Sementara para kakak-kakaknya dan Vito menatapa bingung Afnan ketika melihat Afnan tersenyum.


"Katakan."


"Kabar pertama adalah bahwa ibu dari nona Ataya dulu melahirkan bayi kembar perempuan. Dan bertepatan dengan ibunya nona Ataya melahirkan. Ternyata ada sepasang suami istri yang mana istrinya juga mau melahirkan."


"Apa yang terjadi?"


"Di rumah sakit yang sama. Dan tempat yang berbeda. Ibunya nona Ataya melahirkan bayi kembar perempuan dengan selamat. Namun di tempat lain seorang ibu yang melahirkan bayi perempuan. Bayinya itu dinyatakan meninggal. Sementara kondisi ibunya dalam keadaan buruk dimana rahim istrinya harus diangkat karena ada tumor. Mendengar kabar itu membuat suaminya sedih dan syok. Suaminya itu begitu mencintai istrinya. Apapun akan dilakukan untuk kesembuhan istrinya itu."

__ADS_1


"Apa yang dilakukan oleh suaminya itu?"


"Suaminya itu meminta Dokter tersebut untuk mengambil bayi orang lain yang baru lahir dan menggantikan dengan bayinya yang sudah tak bernyawa lagi. Dan ketika Dokter itu keluar meninggalkan sepasang suami istri itu. Dokter itu melihat seorang Dokter kandungan yang lain baru keluarga dari ruang operasi. Dokter itu menghampiri Dokter tersebut. Ketika mengetahui bahwa pasien dari Dokter itu melahirkan bayi kembar perempuan. Dokter tersebut meminta Dokter itu untuk memberikan satu bayi perempuan itu padanya."


"Apa Dokter itu mau melakukannya?"


"Awalnya tidak Bos. Karena desakan dan juga sedikit cerita dari Dokter itu mengenai kondisi dari pasiennya. Terpaksa Dokter itu pun menyetujuinya. Sementara untuk ibunya nona Ataya tidak tahu jika melahirkan bayi kembar perempuan."


"Brengsek!"


Afnan benar-benar marah atas apa yang dilakukan oleh kedua Dokter tersebut.


"Apa kau sudah mendapatkan data diri dari dua Dokter itu?"


"Sudah, Bos! Bahkan saya juga sudah mengetahui alamat rumahnya."


"Bagus."


"Oh iya! Keluarga mana yang membawa bayi itu?"


"Keluar Bernard, Bos!"


"Baiklah. Awasi pergerakan dari dua Dokter brengsek itu. Kerahkan beberapa orang untuk mengawasi rumah mereka."


"Baik, Bos!"


Setelah mengatakan itu. Afnan langsung mematikan panggilannya. Afnan tersenyum penuh kemenangan.


"Akhirnya," ucap Afnan.


"Afnan," panggil Saskia.


Afnan langsung mengalihkan perhatiannya melihat kearah kakak perempuannya.


"Iya, Afnan! Ada apa?" ucap dan tanya Raka.


Afnan melihat satu persatu wajah saudara-saudaranya. Dapat dilihat oleh Afnan tatapan memohon.


"Kalian semua pasti tidak akan percaya apa yang akan aku sampaikan. Sejak awal aku sudah curiga." Afnan berucap.


"Apa Afnan? Katakan," ucap Vito.


"Arinda adalah saudari kembarnya Ataya," tutur Afnan.


Mendengar perkataan dari Afnan membuat mereka semua terkejut.


"Apa? A-arinda saudari kembarnya Ataya?" tanya Saskia dan Nuria bersamaan.


"Iya, kak! Ataya dan Arinda adalah saudari kembar. Tapi mereka kembar tidak identik."


"Apa keluarga Parvez tahu?" tanya Marco.


"Tidak Kak Marco. Keluarga Parvez tidak tahu hal ini. Kedua Dokter itu sudah menutupi masalah ini dari keluarga Parvez," jawab Afnan.


"Apa alasan Dokter itu melakukan hal itu?" tanya Satya.


"Tangan kananku mengatakan bahwa pasiennya baru kehilangan bayinya ketika dilahirkan. Ditambah lagi pasien itu dalam kondisi buruk. Pasienya itu punya tumor di rahim sehingga rahimnya harus diangkat. Sementara untuk sang suami sangat terpukul akan kabar yang didapatkannya. Dua kabar sekaligus."


"Suaminya itu sangat tahu jika istrinya sangat menginginkan kehadiran seorang anak dalam rumah tangganya. Jika istrinya tahu bahwa bayinya telah meninggal dan juga dirinya yang tidak akan bisa punya anak lagi. Itu akan membuat istrinya akan tertekan dan berujung mengakhiri hidupnya. Suaminya tidak ingin kehilangan lagi. Makanya suaminya itu meminta dan memohon kepada Dokter itu untuk mencari bayi lain dan ditukarkan dengan bayinya."


Mendengar cerita dari Afnan membuat mereka semua terkejut dan juga merasakan kesedihan.

__ADS_1


"Terus apa yang akan kamu lakukan Afnan?" tanya Vito.


"Aku akan membawa kedua Dokter itu menemui keluarga Parvez dan meminta Dokter itu menjelaskan semuanya kepada keluarga Parvez," jawab Ataya.


"Kakak setuju itu. Keluarga Parvez berhak tahu jika mereka memiliki putri kembar. Setidaknya itu bisa membuat mereka melepaskan rasa rindu dan rasa bersalah mereka kepada Ataya. Jadi dengan begitu, mereka bisa melakukan tugas mereka kembali menjadi orang tua dan juga kakak untuk Arinsa. Mereka bisa belajar dari kesalahan." Nuria berbicara sembari mengingat Ataya.


"Kakak jadi kangen Ataya," ucap Saskia lirih.


Mereka semua terdiam. Saskia, Nuria, Marco dan Afnan sangat merindukan Ataya. Mereka merindukan semua dari Ataya. Senyuman Atata, nada bicara Ataya yang lembut, sifat manja Ataya ketika bersama Darren dan sifat sopan Ataya ketika sedang berinteraksi dengan keluarga Smith.


Sementara untuk Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya belum terlalu mengenal dan belum terlalu dekat dengan Ataya. Apalagi lagi Raka dan Satya. Mereka sama sekali belum mengenal dan belum bertemu dengan Ataya.


Untuk Vito, Velly dan Nasya. Walau mereka hanya sebentar bertemu dan berbicara dengan Ataya. Namun ketiganya sudah langsung jatuh hati, suka dan kagum dengan Ataya. Apalagi ketika Ataya yang sedang berusaha membujuk dan merayu Darren yang sedang marah.


"Ataya," batin mereka semua.


***


Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya dalam perjalanan pulang ke rumah masing-masing. Mereka saat ini menggunakan motor sport mewahnya.


Baik Darren maupun ketujuh sahabat-sahabatnya itu melanjukan motor sportnya dengan kecepatan sedang.


Ketika sedang fokus dalam berkendara. Chello tak sengaja melihat sebuah mobil bermerek Honda Civic berwarna green gelap tengah dihadang dengan lima motor.


Seketika mata Chello membelalak ketika melihat siapa pemilik mobil tersebut.


Kebetulan posisi Chello berada di depan. Chello langsung mengangkat kedua tangannya ke udara.


Melihat Chello yang mengangkat tangannya ke udara. Darren, Zidan, Chico, Barra, Briyan, Faza dan Kevin langsung menghentikan motornya.


"Ada apa, Chel?" tanya Darren.


"Itu Arinda." Chello menjawab pertanyaan dari Darren sambil menunjuk kearah mobil Arinda dan juga posisi Arinda yang sudah keluar dari dalam mobilnya.


Darren, Zidan, Chico, Barra, Briyan, Faza dan Kevin langsung melihat kearah tunjuk Chello. Dan dapat mereka lihat ada beberapa motor yang menghadang mobil Arinda. Dan seorang cowok yang berdiri di hadapan Arinda dengan memegang kuat tangan Arinda. Sementara Arinda berusaha untuk melepaskan tangannya.


"Biarkan saja. Siapa tahu itu pacarnya. Aku tidak mau ikut campur," sahut Darren.


"Yak, Ren! Sejak kapan kamu berubah jadi kayak gini. Kita semua tahu permasalahan kamu sama Arinda. Tapi nggak kayak gini juga Ren," ucap Barra.


"Kesampingkan dululah masalah kamu dengan Arinda. Dan saat ini gunakan akal sehat kamu dan rasa kemanusiaan kamu itu," sela Chico.


"Lepaskan tanganku, Cemal!" bentak Arinda.


"Tidak. Aku tidak akan melepaskan tangan kamu sebelum kamu menerima aku jadi pacar kamu. Sudah cukup aku menunggu lama, Arinda!" jawab Cemal.


"Ini namanya pemaksaan. Dan kamu nggak bisa memaksakan kehendak kamu sama aku. Aku tidak mencintai kamu. Dan hati aku masih tertutup untuk laki-laki manapun." Arinda berbicara dengan menatap jijik Cemal.


"Aku tidak peduli. Kamu ikut denganku sekarang. Kamu harus jadi milikku. Dan aku tidak akan melepaskan kamu! Aku sudah cukup sabar selama ini dan melihatmu berbahagia dengan laki-laki brengsek itu. Dan sekarang laki-laki brengsek itu sudah mati. Jadi tidak ada alasan kamu buat menolakku lagi!" bentak Cemal.


"Nggak! Lepaskan tanganku, brengsek!" bentak Arinda.


Mendengar kata brengsek dari mulut Arinda membuat Cemal menjadi murka. Seketika tangannya terangkat hendak menampar wajah Arinda. Arinsa langsung memejamkan matanya karena takut.


Namun, tangan Cemal tiba-tiba ditahan oleh seseorang dari samping. Cemal melihat ke samping. Dapat dilihat olehnya seorang laki-laki yang menatap tajam dan dingin padanya.


"Siapa kau?!" bentak Cemal.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Lebih baik kau pergi dari sini dan bawa para orang-orang bodohmu itu," jawab orang itu.


Arinda yang mendengar suara orang yang sangat familir di telinganya langsung membuka kedua matanya. Setelah itu, Arinda melihat kearah laki-laki itu.

__ADS_1


DEG!


"Da-darren," ucap Arinda gugup.


__ADS_2