REVENGE

REVENGE
Gadis Tak Tahu Malu


__ADS_3

[KAMPUS]


Arinda berada duduk di sebuah bangku yang ada di lapangan. Di depan kelasnya. Arinda menatap ke depan tepatnya ke arah lapangan basket.


Di kampus tersebut ada dua lapangan basket. Satu yang berada di luar. Dan yang satunya lagi berada di dalam gedung. Bisa disebut lapangan basket yang utama.


Arinda menatap kearah lapangan basket dimana Darren dan ketujuh sahabatnya sedang bermain basket. Matanya fokus pada satu sosok yang sudah membuat dunianya jungkir balik.


Ya! Sosok itu adalah Darren. Sosok tampan yang selalu berperang mulut dengannya setiap kali bertemu dan berpapasan. Tidak ada yang mau mengalah diantara mereka berdua.


Arinda terus memperhatikan Darren yang bermain basket dengan ketujuh sahabat-sahabatnya. Saat ini Darren tengah melakukan Shooting jarak jauh. Arinda tersenyum ketika melihat cara bermain basket Darren. Arinda mengakui cara bermain basket Darren sangat bagus dan nyaris sempurna.


Darren melakukan shoot dari jarak yang lumayan jauh dan bola pun berhasil masuk ke dalam ke ring. Semua orang bersorak ketika Darren berhasil memasukkan bola itu ke dalam ring.


Setelah Darren berhasil memasukkan bola itu ke dalam ring. Permainan mereka pun selesai. Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya memutuskan untuk mengakhiri permainan basket mereka.


Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya menduduki pantatnya di sebuah bangku yang ada di tepi lapangan basket tersebut. Mereka beristirahat sejenak untuk menghilangkan rasa lelahnya sebelum kembali ke kelas.


Ketika Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya sedang beristirahat, tiba-tiba datang seorang gadis menghampiri mereka. Lebih tepatnya gadis itu menghampiri Darren.


Arinda yang masih duduk di depan kelasnya melihat seorang gadis dengan tangannya membawa sebuah air mineral kearah Arinda. Arinda berpikir bahwa gadis itu adalah kekasihnya Darren. Arinda terus menatap kearah gadis itu.


Bukan hanya Arinda saja yang sedang memperhatikan Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya serta seorang gadis yang menghampiri Darren. Bahkan ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang berada di sana juga memperhatikan seorang gadis menghampiri Darren.


"Hallo, Darren! Ini minum untuk kamu," ucap gadis itu setelah berada di hadapan Darren. Dan tangannya menyodorkan air mineral kearah Darren.


Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya langsung menolehkan wajahnya menatap kearah gadis itu. Setelah itu, Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya kembali fokus pada ponsel mereka masing-masing.


"Darren. Terimalah minuman ini. Aku sengaja belikan buat kamu. Aku tahu kamu pasti haus," ucap gadis itu.


Sementara Darren sama sekali tidak mempedulikan gadis itu. Darren masih tetap dengan kegiatannya yaitu mengotak-atik keyboard di layar ponselnya.


Melihat Darren yang sama sekali tidak mempedulikan dirinya. Bahkan Darren mengacuhkannya. Gadis itu mendengus kesal akan sikap Darren yang dingin dan acuh padanya.


Gadis itu terus memaksa Darren untuk mau menerima minuman darinya. Melihat apa yang dilakukan oleh gadis itu membuat beberapa mahasiswa dan mahasiswi menatapnya jijik.


"Ayolah, Ren! Tidak baik menolak kebaikan dari orang," ucap gadis itu.


"Lebih baik kau pergi dari sini. Jangan menggangguku," sahut Darren tanpa menatap wajah gadis itu.


"Aku akan pergi jika kamu mau menerima minuman dariku. Aku tahu kamu haus. Tinggal ambil aja. Apa susahnya sih," jawab gadis itu.


Darren menggeram marah ketika mendengar jawaban dari gadis yang saat ini masih berdiri di hadapannya.


"Gadis tak tahu malu," batin Darren.


Darren berdiri dari duduknya dan matanya menatap tajam gadis itu. Dan setelah itu, Darren pergi meninggalkan gadis itu dan diikuti ketujuh sahabat-sahabatnya di belakang.


Melihat kepergian Darren membuat gadis itu tak tinggal diam. Gadis itu sudah bertekad untuk menjadikan Darren kekasihnya.


Yah! Gadis itu telah tergila-gila dengan Darren. Gadis itu sangat menyukai Darren dan terobsesi ingin memiliki Darren.


Gadis itu sudah sejak lama memendam perasaannya terhadap Darren. Dulu orang-orang mengejeknya gadis culun dan ada juga yang mengejeknya dengan gadis berkaca mata besar. Namun sejak itu, gadis itu merubah penampilannya.


Melihat penampilannya yang sudah berubah sangat jauh membuat semua mahasiswa dan mahasiswi menatap kagum gadis itu, terutama para mahasiswa.


Namun tatapan kagum itu berubah tatapan mengejek dimana para mahasiswa dan mahasiswi tahu bahwa perubahan gadis itu semata-mata untuk mendapatkan perhatian Darren.


Semua mahasiswa dan mahasiswi tahu bagaimana sifat dingin, kejam dan tak tersentuh Darren terhadap orang-orang yang tak dikenalnya.


Gadis itu berlari mengejar Darren. Dan seketika gadis itu langsung berdiri menghadang jalannya Darren.


Melihat apa yang dilakukan oleh gadis itu membuat Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya terkejut. Begitu juga dengan Arinda, keempat sahabat-sahabatnya, beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang sedari tadi masih terus memperhatikan kelakuan gadis itu.

__ADS_1


"Nekat juga nih cewek," batin Faza.


"Wah! Cari mati nih cewek," batin Kevin.


Sementara Zidan, Chico, Barra, Chello dan Briyan menatap kasihan gadis itu. Mungkin sebentar lagi nasib buruk akan menimpanya. Itulah yang saat dipikirkan oleh kelimanya.


"Minggir!" bentak Darren.


"Tidak," jawab gadis itu.


"Aku bilang minggir!" bentak Darren dengan menatap nyalang gadis itu.


"Aku akan minggir asal kamu mau menerima minuman dariku." gadis itu berbicara sambil menyodorkan botol minuman ke hadapan Darren.


Darren menatap botol minuman itu. Detik kemudian tangannya mengarah kearah botol minuman tersebut.


Melihat tangan Darren yang mengarah ingin menyentuh botol minuman itu membuat senyuman gadis itu mengembang.


Namun detik kemudian...


Darren langsung menepis kuat botol minuman tersebut dari tangan gadis itu sehingga botol minuman itu jatuh dan tumpah.


Melihat apa yang dilakukan Darren membuat gadis itu terkejut dan syok. Dirinya tidak menyangka jika Darren akan melakukan hal itu padanya.


Sementara orang-orang yang melihat pertunjukan itu tersenyum. Lebih tepatnya tersenyum mengejek kearah gadis itu.


Darren menatap menyeringai gadis itu. Setelah itu, Darren kembali melangkahkan kakinya meninggalkan lapangan basket untuk ke ruang ganti dan disusul oleh ketujuh sahabat-sahabatnya.


Chico yang melihat gadis itu masih nekat mengejar Darren. Akhirnya turun tangan. Chico menghalangi gadis itu dan memberikan tatapan tajam padanya.


"Aku tahu kau menyukai Darren sejak dulu. Bahkan kau merubah penampilanmu demi Darren. Kau melakukan semua itu untuk membuat Darren menjadi kekasihmu. Aku beri saran padamu. Menjauhlah dari Darren. Jangan ganggu dia. Tapi jika kau masih nekat dan terus mengganggu Darren. Maka jangan salahkan Darren jika Darren berbuat hal buruk padamu. Bisa saja nyawamu sebagai taruhannya."


Setelah mengatakan itu, Chico pun pergi menyusul sahabat-sahabatnya dan meninggalkan gadis itu sendirian.


***


[Kediaman Parvez]


Kedua orang tua Ataya dan kedua kakaknya Ataya saat ini tengah bersiap-siap untuk ke kampus. Mereka semua tidak sabaran untuk bertemu dan melihat seperti apa wajah Arinda, putri/adik kembarnya itu.


"Nathan, Azka. Buruan sayang. Jangan lama-lama dandanannya!" teriak Claudia Maminya Ataya.


Nathan dan Azka yang mendengar teriakan ibunya di lantai bawah hanya menghela nafasnya. Mereka sangat tahu bagaimana sifat ibunya itu ketika sudah tidak sabaran.


"Iya, Mami! Sebentar!" teriak Nathan dan Azka bersamaan.


Sementara sang kepala keluarga hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar teriakan istri dan kedua putranya.


Pria paruh baya itu menghampiri istrinya yang sudah berpakaian rapi. Dirinya tersenyum ketika menatap wajah cantik istrinya itu.


"Kamu sangat cantik sayang. Terima kasih sudah setia menemaniku selama ini," ucap Zaidan lembut.


Mendengar perkataan dari suaminya. Wanita itu tersenyum tulus. "Sama-sama sayang. Aku mencintaimu. Selamanya. Maafkan aku yang gagal menjadi ibu untuk Ataya."


"Disini aku juga salah. Aku ayah yang buruk untuk Ataya. Kita gagal melindunginya. Dari kegagalan itu kita sudah banyak belajar. Salah satunya adalah kebersamaan dengan keluarga. Tuhan sudah memberikan kebahagiaan untuk kita dengan memberikan kita kabar gembira yaitu bahwa kita memiliki putri kembar. Dan ini adalah kesempatan kita untuk menjadi orang tua yang lebih baik lagi untuk putri kita."


Mendengar perkataan dari suaminya membuat hati wanita itu menghangat. Benar apa kata suaminya. Ini adalah kesempatan kedua yang diberikan oleh Tuhan untuknya, untuk suaminya dan untuk kedua putranya agar menjadi orang tua dan kakak yang baik dan bertanggung jawab untuk putri/adik kembarnya. Mereka telah gagal menjaga dan melindungi Ataya. Dan mereka tidak ingin gagal untuk yang kedua kalinya ketika menjaga dan melindungi Arinsa.


Nathan dan Azka tersenyum ketika mendengar perkataan kedua orang tuanya. Baik Nathan maupun Azka juga berjanji akan menjadi kakak yang baik dan penuh perhatian untuk adik kembarnya yaitu Arinda. Dan mereka tidak ingin mengalami kegagalan menjadi kakak untuk yang kedua kalinya.


Setelah puas memperhatikan dan mendengar pembicaraan kedua orang tuanya. Nathan dan Azka pun memutuskan untuk menghampiri kedua orang tuanya itu.


"Papi, Mami! Kita sudah siap. Bisa kita pergi sekarang!" seru Nathan.

__ADS_1


"Aku sungguh tidak sabaran untuk melihat adik kembarku," sahut Azka.


Mendengar perkataan dari kedua putranya. Sepasang suami istri ini tersenyum menatap wajah tampan kedua putranya itu.


"Kalian tampan sekali," puji keduanya.


"Papi dan Mami juga tampan dan cantik," balas Nathan dan Azka bersamaan.


Setelah mengatakan itu, mereka semua pun pergi meninggalkan kediaman Parvez untuk menuju kampus.


***


[Kampus]


Arinda dan keempat sahabat-sahabatnya kini berasa di kelas. Sejam yang lalu mereka baru saja selesai mengikuti mata kuliah kedua mereka.


"Arinda," panggil Belinda.


"Hm!" Arinda hanya berdehem.


"Kamu percaya akan perkataan dari ketujuh sahabat-sahabatnya Darren yang mengatakan bahwa kamu punya saudari kembar?" tanya Belinda.


"Aku nggak tahu, Belinda." Arinda menjawab pertanyaan dari Belinda.


"Apa kamu nggak nanya masalah ini sama tante kamu yang tak lain adalah pengasuh kamu dari bayi. Bisa saja dia tahu yang sebenarnya," sela Cherly.


"Biar kamu gak penasaran. Mending kamu nanya langsung aja sama tante kamu," usul Carla.


"Ide bagus tuh," sahut Delina.


"Baiklah. Aku akan nanya sama tante Pingkan," ucap Arinda.


Arinda dan keempat sahabat-sahabatnya sudah tahu masalah tentang Arinda yang memiliki saudari kembar. Arinda dan keempat sahabat-sahabatnya mengetahui hal itu karena tak sengaja mendengar pembicaraan ketujuh sahabat-sahabatnya Arinda saat berada di kelas.


Saat itu, Arinda memang berniat untuk menemui Darren. Dan ditemani dengan keempat sahabat-sahabatnya. Ketika tiba di depan kelasnya Darren. Arinda dan keempat sahabat-sahabatnya tak sengaja mendengar pembicaraan ketujuh sahabat-sahabatnya Darren yang menyebut bahwa Ataya memiliki saudari kembar. Dan saudari kembarnya itu bernama Arinda Bernard. Mendengar perkataan dari ketujuh sahabat-sahabatnya Darren membuat Arinda terkejut dan juga syok.


Ketika Arinda dan keempat sahabat-sahabatnya tengah membahas masalah kembaranya Arinda. Seseorang masuk dan mengagetkan mereka.


"Arinda," panggil orang itu.


Baik Arinda maupun keempat sahabat-sahabatnya langsung menolehkan wajahnya melihat ke asal suara.


"Sofi. Ada apa?" tanya Arinda. Sofi adalah teman sekelas Arinda.


"Itu di lapangan kampus ada yang nyariin kamu. Bahkan disana ada Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya," jawab Sofi.


"Memang siapa yang nyariin Arinda?" tanya Carla.


"Kamu tahu siapa yang nyariin Arinda?" tanya Cherly.


"Tahu. Mereka dari keluarga Parvez," jawab Sofi.


"Keluarga Parvez!" seru Arinda dan keempat sahabat-sahabatnya.


"Iya. Keluarga Parvez itu adalah keluarga dari Ataya. Dan Ataya itu kekasih sekaligus tunangan Darren." Sofi menjelaskan kepada Arinda dan keempat sahabat-sahabatnya.


Mendengar perkataan dari Sofi membuat Arinda dan keempat sahabat-sahabatnya terkejut.


Keempat sahabat-sahabatnya melihat kearah Arinda. Begitu juga Arinda.


"Arinda. Jangan-jangan mereka kelu...," perkataan Delina terpotong karena Arinda sudah terlebih dahulu berlari keluar meninggalkan kelas.


"Arinda!" teriak keempat sahabat-sahabatnya, lalu mereka pun menyusul Arinda.

__ADS_1


__ADS_2