
Keesokan paginya semua anggota keluarga telah berkumpul di ruang tengah termasuk Darren.
Semuanya tampak bahagia dikarenakan ketiga orang yang mereka sayangi pulang dalam keadaan baik-baik saja.
"Bagaimana dengan tiga orang yang menjadi rival Papa, om Ronald dan om Steven?" tanya Qenan.
"Papa dan kedua om mu sepakat membawa mereka ke Markas," jawab Erland.
"Berarti mereka belum tahu bahwa Papa, om Erland dan om Ronald yang sudah menyerang kediaman mereka?" tanya Andry.
"Belum. Dan nanti di markas akan menjadi kejutan untuk mereka bertiga," jawab Steven. Dan diangguki oleh Erland dan Ronald.
Mendengar jawaban dari Steven membuat mereka semua terutama para anak dan keponakannya tersenyum.
"Kapan om Erland, om Ronald dan om Steven memberikan hukuman kepada mereka bertiga?" tanya Darren.
Mendengar pertanyaan dari Darren. Erland, Ronald dan Steven langsung melihat kearah Darren.
"Kalau menurut kamu. Bagusnya kapan untuk memulai pemberian hukuman kepada para bajingan itu?" tanya Ronald.
Mendengar pertanyaan dari Ronald membuat Darren seketika mendengus kesal. Bukan ini yang dirinya butuhkan.
"Kebiasaan. Giliran yang lainnya pada nanya langsung dijawab. Giliran aku yang nanya, malah pertanyaan yang diberikan," omel Darren.
Mereka seketika tersenyum ketika mendengar omelan dari Darren membuat mereka semua tersenyum. Apalagi ketika melihat wajah manyun Darren.
"Keponakan manisnya om marah ya? Maaf deh," ucap Ronald sembari melipat tangan di hadapan Darren.
"Nggak." Darren langsung menolak untuk memberikan maaf untuk om kesayangannya itu.
"Hahahahaha."
Semua kakak-kakaknya langsung tertawa ketika mendengar jawaban dari Darren yang menolak untuk memberikan maaf untuk sang Paman/ayah.
"Kasihan sekali om Ronald," ejek Naura.
"Apa yang bakal terjadi pada om Ronald ya jika si keponakan kelincinya ini tidak mau memberikan maaf?" tanya Lory tersenyum sembari menatap secara bergantian Ronald dan Darren.
"Yang jelas om Ronald bakal kayak orang gila karena dicuekin dan diacuhin sama Darren," sahut Cavitta.
"Hahahaha."
Cavitta, Naura dan Lory tertawa kencang. Sementara Ronald menatap kesal ketiga keponakan perempuannya itu.
Drtt... Drtt...
__ADS_1
Ponsel milik Darren berbunyi di atas meja. Darren yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya itu.
Darren melihat nama kontak 'Maminya Ataya' di layar ponselnya. Darren seketika mengerutkan keningnya bingung.
Setelah itu, Darren pun menjawab panggilan dari Maminya Ataya. Sementara anggota keluarganya memasang telinga masing-masing untuk mendengar pembicaraan Darren dengan si penelpon.
"Hallo, Darren! Tolong Mami, Nak!"
Seketika Darren membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan dan nada lirih dari Maminya Ataya.
"Mami, kenapa? Ada apa?"
"Arinda! Tolong Arinda, nak!"
"Arinda? Kenapa dengan Arinda, Mi?"
Mendengar perkataan dari Darren membuat anggota keluarga menjadi khawatir, terutama Saskia, Nuria, Marco, Afnan, Vito, Velly dan Nasya.
"Beberapa menit yang lalu, sepasang suami istri yang menjadi pengasuh Arinda sejak kecil datang ke rumah. Mereka mengatakan bahwa Arinda tidak pulang selama dua hari. Awalnya mereka berpikir Arinda menginap disini, makanya mereka datang kesini."
"Apa?!"
Darren seketika berteriak sembari berdiri dari duduknya ketika mendengar penuturan dari Maminya Ataya.
"Ren," panggil semua kakak-kakaknya.
"Darren," panggil Julian dan Rafael.
Mereka semua berdiri dari duduknya dengan menatap khawatir kearah Darren.
"Tunggu dulu! Bukannya Arinda tinggal di kediaman Parvez untuk dua bulan? Seharusnya kedua pengasuh Arinda tahu dong masalah itu? Tapi kenapa tadi Mami bilang Arinda menginap?"
"Begini sayang. Memang Arinda akan tinggal selama dua bulan di kediaman Parvez. Namun ketika hari ketiga Arinda tinggal di kediaman Parvez. Tantenya Arinda yaitu Pingkan menghubungi Arinda. Katanya kalau suaminya Robby pergi keluar kota. Ada urusan pekerjaan katanya. Mendengar itu, Arinda memutuskan untuk pulang agar bisa menemani tantenya."
"Kapan Arinda nya tidak ada kabar?"
"Hari kedua Arinda berada di kediaman Bernard. Dikarenakan tidak mendapatkan kabar dari Arinda. Pingkan langsung menghubungi suaminya dan meminta suaminya segera pulang. Dan setelah suaminya pulang, Pingkan dan Robby datang kesini. Mereka hanya ingin memastikan bahwa Arinda ada disini."
"Apa Tante dan om nya Arinda sudah memberitahu para tangan kanan dari tuan Fazio, ayah angkatnya Arinda?"
"Sudah sayang. Mereka sudah bergerak untuk mencari keberadaan Arinda. Mami menghubungi kamu karena Mami benar-benar mengkhawatirkan Arinda. Mami tidak ingin kehilangan lagi sayang. Mami tidak ingin gagal untuk yang kedua kalinya dalam menjaga putri Mami."
Seketika air mata Darren jatuh membasahi wajah tampannya ketika mendengar ucapan dari Maminya Ataya. Apalagi ketika mendengar nada lirih dan bergetar dari Mami Ataya.
"Papi kamu dan kedua kakak laki-laki kamu juga sudah meminta bantuan kepada semua orang-orangnya untuk mencari Arinda. Darren... Hiks... Mami takut."
__ADS_1
"Mami tenang ya. Aku jamin kalau Arinda akan baik-baik saja. Tidak akan terjadi sesuatu terhadap Arinda. Dan aku pastikan Mami tidak akan gagal untuk yang kedua kalinya dalam melindungi anak perempuan Mami. Dan aku juga menjamin kalau Mami tidak akan kehilangan anak perempuan lagi. Percayalah padaku!"
Seketika tangis Claudia pecah di seberang telepon ketika mendengar ucapan dan janji dari Darren.
"Mami percaya padamu sayang. Jika nanti kamu dan sahabat-sahabat kamu tengah mencari Arinda. Mami minta, tolong hati-hati. Jangan sampai terluka."
"Aku janji. Ya, sudah! Mami lebih baik istirahat. Dan tenangkan pikiran Mami. Masalah Arinda. Biarkan aku dan ketujuh sahabat-sahabatku yang menjadi urusan. Katakan juga pada Papi, kak Nathan dan kak Azka."
"Baiklah sayang."
Setelah selesai berbicara dengan Maminya Ataya, Darren langsung mematikan panggilannya.
"Siapa lagi kali ini?" gumam Darren.
Darren kembali menghubungi seseorang untuk menyelidiki hilangnya Arinda.
Darren menekan nomor ponsel tangan kanannya yaitu Reno. Setelah nomor itu terasa benar. Darren pun langsung meredial nomor tersebut.
"Hallo, Bos!"
"Reno, ada tugas untukmu."
"Apa Bos!"
"Aku mau kau mencari keberadaan Arinda, teman kampusku! Dia menghilang."
"Baik, Bos! Apa boleh aku melihat fotonya?"
"Baiklah. Aku akan kirimkan foto setelah ini."
"Siap, Bos!"
Setelah mengatakan itu, Darren langsung mematikan panggilannya. Dan Darren pun tak lupa mengirimkan foto Arinda kepada Reno.
Setelah mengirim foto Arinda kepada Reno. Kini Darren mencari nama kontak tangan kanannya yang lain. Darren memilih mencari nama tangan kanannya yaitu Maxi.
Setelah beberapa detik menunggu, terdengar suara seseorang di seberang telepon.
"Hallo, Bos!"
"Maxi, aku mau kau kerahkan semua anggotamu untuk memantau pergerakan musuh. Selidiki siapa saja yang menjadi rekan kerja dari keluarga Parvez. Dan cari tahu juga siapa saja yang pernah berhubungan dengan keluarga itu."
"Baik, Bos!"
"Jangan lupakan keluarga Bernard. Cari tahu siapa saja yang dekat dengan mereka. Baik itu rekan kerja, sahaba maupun kerabat."
__ADS_1
"Baik, Bos!"