REVENGE

REVENGE
Berhasil Menyelamatkan Arinda


__ADS_3

Kini Darren, Chello, Briyan dan Kevin sudah berada di kota Manly. Ketika tiba disana, mereka disambut dengan kedua tangan kanan mereka dan para anggota mafianya.


"Bagaimana?" tanya Darren.


"Nona Arinda ada di dalam gedung sana, King!" seru salah satu anggota mafianya sembari menunjuk kearah gedung yang sedikit tak berbentuk jika dilihat dari luar.


"Itu hanya terlihat dari luarnya saja King!" seru anggota mafianya yang lain.


"Maksudnya?" tanya Briyan.


"Sebenarnya di bagian dalam berbeda dengan bagian luar. Di bagian dalam gedung itu seperti sebuah rumah yang ada ruang tamu, ruang tengah dan dua buah kamar."


"Apa kalian sudah memeriksa bagian dalamnya?" tanya Chello.


"Sudah, Prince! Kami meyakini bahwa nona Arinda berada di salah satu kamar itu karena satu kamar itu terkunci."


"Kami bisa masuk kesana setelah seseorang keluar meninggalkan gedung itu."


"Apa kau melihat wajahnya?" tanya Darren.


"Tidak King. Orang itu berpakaian hitam dan memakai topeng."


"Dikarenakan semuanya aman. Kami pun langsung memberitahu Bos Reno."


"Baiklah. Mari kita masuk. Dan sisanya berjaga-jaga diluar. Pastikan jangan ada yang masuk ke dalam."


"Baik King!"


Setelah itu, Darren masuk ke dalam gedung itu. Dan diikuti oleh Chello, Briyan dan Kevin di belakang serta satu tangan kanannya yaitu Reno dan beberapa anggota mafianya.


Sementara Maxi dan beberapa anggotanya berjaga-jaga di luar dengan mengelilingi gedung tersebut.


^^^


Darren, Chello, Briyan dan Kevin bersama dengan Reno dan beberapa anggota mafianya sudah berada di dalam gedung. Dan benar apa yang dikatakan oleh tiga anggota mafianya bahwa hanya bagian luar gedung saja yang tidak kumuh dan lusuh.


Namun ketika berada di dalamnya, terlihat rumah pada umumnya. Baik Darren maupun Chello, Briyan dan Kevin terkejut ketika melihat fakta di dalam gedung.


"King!"


Darren langsung melihat kearah tangan kanannya yaitu Reno. Begitu juga dengan Chello, Briyan dan Kevin. Mereka melihat kearah tunjuk Reno.


"Di ruangan itu nona Arinda berada!"


Darren langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan yang ditunjuk oleh Reno. Begitu juga dengan Chello, Briyan dan Kevin.


"Dobrak." Darren memberikan perintah kepada anggota mafianya.


Dua anggota mafianya langsung mendobrak pintu tersebut dengan kuat.


Dengan tiga kali dobrakan. Pintu tersebut berhasil terbuka. Pintu tersebut dalam keadaan rusak parah.


Darren dan yang lainnya melangkah masuk ke dalam. Setibanya di dalam mereka melihat seorang gadis duduk di kursi dalam keadaan terikat. Begitu juga dengan kedua matanya.


Seketika raut wajah Darren berubah sedih sekaligus marah atas apa yang dilihatnya. Begitu juga dengan Chello, Briyan dan Kevin.


Berlahan Darren berjalan menghampiri Arinda yang saat ini bergerak gelisah dan ketakutan. Begitu juga dengan Chello, Briyan dan Kevin.


"Si-siapa kamu!"

__ADS_1


Kini Darren sudah berdiri di depan Arinda. Tatapan matanya menatap seksama tubuh Arinda. Dan tatapan matanya itu berhenti di sekitar tubuh Arinda yang terekspos bagian atas.


Seketika Darren mengepalkan kuat tangannya ketika melihat kondisi Arinda yang tak baik-baik saja. Darren bisa menyimpulkan bahwa laki-laki tersebut telah melecehkan Arinda.


Chello melepaskan semua ikatan yang mengikat tubuh Arinda. Begitu juga dengan penutup matanya. Sedangkan Arinda masih menutup matanya karena takut.


Darren kemudian membuka jaket yang dikenakannya. Setelah itu, jaket itu dipakaikan ke tubuh Arinda.


"Jangan takut. Ini aku, Darren!" Darren berbicara lembut sembari memakaikan jaketnya ke tubuh Arinda. Tatapan matanya menatap wajah Arinda yang terlihat ketakutan.


Mendengar suara lembut dari seseorang. Ditambah lagi orang tersebut menyebutkan namanya. Berlahan Arinda membuka kedua matanya.


"Da-darren," lirih Arinda ketika melihat wajah Darren dari dekat.


Setelah memakaikan jaketnya ke tubuh Arinda. Darren menjauhkan tubuhnya dari Arinda.


"King!" tiba-tiba Reno berseru.


"Ada apa, Reno?"


"Kita harus segera pergi dari sini. Maxi mengirimkan pesan kepadaku. Dia mengatakan bahwa laki-laki itu dalam perjalanan kesini."


"Brengsek!" Darren mengumpat penuh amarah. Begitu juga dengan Chello, Briyan dan Kevin.


"Apa kau bisa berdiri?" tanya Darren menatap wajah Arinda.


Arinda menangis ketika mendengar pertanyaan dari Darren. Seketika tubuhnya bergetar ketakutan.


"Ada apa? Kenapa kau menangis?" tanya Darren lagi. Dirinya benar-benar bingung ketika melihat Arinda yang tiba-tiba menangis ketika ditanya apakah dia bisa berdiri.


"Aku... Aku tidak bisa menggerakkan anggota tubuhku," ucap Arinda dengan suara bergetarnya.


Deg..


"Apa yang dilakukan oleh bajingan itu padamu?" tanya Chello.


"Aku tidak tahu. Ketika aku sadar, aku sudah berada disini. Dan ketika aku hendak berdiri. Kakiku sama sekali tidak bisa bergerak. Begitu juga dengan anggota tubuhku yang lainnya."


Mendengar jawaban dan penjelasan dari Arinda membuat Darren, Chello, Briyan dan Kevin terkejut dan juga marah. Mereka tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh laki-laki itu.


"Apa kau tahu orang yang melakukan hal ini kepadamu?" tanya Briyan.


Arinda kembali menangis ketika mendengar pertanyaan dari Briyan. Tubuhnya kembali bergetar karena ketakutan mengingat apa yang terjadi beberapa jam yang lalu dimana laki-laki yang tak lain adalah sahabat dari mendiang calon tunangan menyentuh tubuhnya.


"Ya, aku tahu. Bahkan dia terang-terangan menampakkan wajahnya di depanku," jawab Arinda.


"Siapa?" tanya Kevin.


"Cemal."


"Benar akan kecurigaan Zidan. Ternyata memang bajingan itu yang telah menculik Arinda," batin Darren.


"King, Prince! Kita harus segera pergi!"


Tanpa berpikir dua kali. Darren langsung mengangkat tubuh Arinda dan menggendongnya.


Setelah itu, Darren pun pergi meninggalkan ruangan itu untuk membawa Arinda ke rumah sakit milik orang tua dari salah satu sahabatnya.


Di rumah sakit itu tidak bisa sembarang orang masuk ke dalam ruangan rawat inap pasien kecuali anggota keluarga. Jika ada yang mengaku sebagai salah satu anggota keluarga dari pasien, maka orang itu harus memperlihatkan wajahnya jika orang itu memakai masker. Orang itu juga harus menyebutkan kedua orang tua dari pasien.

__ADS_1


***


Di kediaman Austin terlihat semua anggota keluarga telah berkumpul termasuk keluarga Smith, keluarga Fernandez.


Saat ini mereka semua tengah memikirkan Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya dan para anggota mafianya. Mereka semua tampak khawatir terhadap Darren, Chello, Briyan, Kevin dan para anggota mafianya.


"Apa Darren, Chello, Briyan dan Kevin berhasil sampai di lokasi tempat Arinda disekap?" tanya Tamara.


"Semoga saja Darren dan yang lainnya berhasil sampai disana. Dan berhasil membawa Arinda keluar dari tempat itu," ucap Cavitta.


"Semoga saja. Kita semua mengharapkan hal itu," sahut Erland.


"Aku akan coba menghubungi Darren. Siapa tahu Darren menjawab panggilan dariku," sahut Marco.


"Jangan lupa diloudspeaker panggilan Marco!" seru Robert.


"Baik, opa!"


Marco mengambil ponselnya lalu menekan nomor adik kesayangannya. Setelah itu, Marco meredial nomor tersebut.


"Hallo, kak!"


"Hallo, Ren! Kamu dan yang lainnya dimana? Apa berhasil menemukan Arinda?"


"Aku berhasil menemukan keberadaan Arinda. Dan sekarang aku berada di rumah sakit milik ibunya Kevin."


Mendengar jawaban dari Darren semua anggota keluarga merasakan kebahagiaan. Namun seketika kebahagiaan mereka berubah menjadi sedih ketika mendengar perkataan dari Darren yang mengatakan bahwa dirinya berada di rumah sakit.


"Apa yang terjadi sayang?" tanya Clarissa.


"Dari pengakuan Arinda. Anggota tubuhnya tidak bisa digerakkan. Laki-laki brengsek itu telah melakukan sesuatu terhadap tubuh Arinda."


Deg..


Mendengar perkataan dari Darren mengenai kondisi Arinda membuat mereka semua menangis.


"Kamu dan yang lainnya baik-baik saja kan sayang?" tanya Clara.


"Iya, Tante. Aku dan juga yang lainnya baik-baik saja."


"Ach, syukurlah!"


"Kak Marco. Aku minta tolong sama kakak."


"Apa itu Ren?"


"Beritahu keluarga Parvez mengenai Arinda."


"Baiklah. Kakak akan beritahu keluarga Parvez."


"Terima kasih kak."


"Sama-sama. Oh iya! Ren, apa perlu kita ke rumah sakit?"


"Tidak usah kak. Kalau mau ke rumah sakit, besok saja!"


"Ach, baiklah!"


"Ya, sudah kak! Kalau begitu aku tutup teleponnya."

__ADS_1


"Baiklah, Ren!"


Setelah mengatakan itu, Darren di seberang telepon langsung mematikan panggilannya.


__ADS_2