
Darren berada di ruang tengah. Dirinya kini tengah berkutat dengan laptop miliknya. Darren tengah sibuk menerima beberapa file yang dikirim ke emailnya dari Perusahaan miliknya di Amerika.
File yang diterima oleh Darren membahas masalah kerja sama dari tiga Perusahaan besar yang terkenal nomor 2 di Amerika. Ketiga Perusahaan itu ingin bekerja sama dengan Perusahaan Darren di Amerika dan juga Perusahaan Darren yang ada di Australia.
Nama ketiga Perusahaan itu adalah SINOPEC GROUP, ROYAL DUTCH SHELL dan CHEVRON CORP. Ketiga Perusahaan itu ingin sekali bekerja sama dengan Perusahaan milik Darren karena sangat menyukai cara kerja Darren dan para karyawannya. Apalagi para orang-orang kepercayaannya termasuk tiga sahabatnya.
Ditambah lagi, ketiga Perusahaan itu juga telah mengetahui bahwa kedua Perusahaan milik Darren yaitu DRN'CORP dan DRN'Smith adalah dua Perusahaan dari sepuluh Perusahaan milik keluarga Smith yang terkenal nomor 1 di dunia dan di Australia.
Dengan mereka bekerja sama dengan salah satunya, maka Perusahaan milik ketiga akan makin berjaya dan berkembang lebih besar lagi. Itupun jika ketiga Perusahaan itu benar-benar berniat bekerja sama dan tidak berniat buruk.
Ketika Darren sedang sibuk dan tengah fokus menatap layar laptop miliknya. Tanpa Darren sadari sang ayah, kelima kakaknya, Rafael dan ketiga anak-anaknya minus keluarga Smith dan keluarga Fernandez kini tengah memperhatikan dirinya. Mereka tersenyum bangga akan Darren.
Mereka bangga akan kesuksesan yang diraih oleh Darren. Mereka bangga akan kepintaran dan kejeniusan Darren. Bukan hanya pintar dalam pendidikannya. Darren juga pintar dalam mengurus Perusahaannya.
Perusahaan yang dimiliki Darren tak hanya dua. Melainkan ada 7 Perusahaan yang dipimpinnya saat ini. Ditambah 1 Perusahaan yang ada di Amerika.
Setelah mereka puas memperhatikan Darren dan menatap kagum dan juga bangga Darren. Akhirnya, Felix, Rafael beserta anak-anaknya memutuskan menghampiri Darren.
"Darren," panggil Felix dan kelima anak-anaknya bersamaan.
Mendengar panggilan dari ayah dan kelima kakak-kakaknya. Darren langsung mengalihkan perhatiannya melihat kearah ayah dan kelima kakak-kakaknya itu. Dapat dilihat oleh Darren. Ayah dan kelima kakak-kakaknya tersenyum hangat dan tulus kepadanya. Begitu juga dengan Pamannya dan ketiga anak-anaknya.
"Papa, Om, kakak!" Darren membalas senyuman dari ayah, kelima kakak-kakaknya, sang paman dan ketiga kakak sepupunya itu.
"Sibuk, hum?" tanya Felix yang sudah duduk di samping putranya sembari mengelus kepala belakangnya lembut.
"Tidak, Pa! Aku hanya mengecek beberapa file yang dikirim oleh tiga sahabatku yang ada di Amerika." Darren menjawab pertanyaan dari ayahnya itu.
Mendengar perkataan dari Darren membuat Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya menatap Darren bingung. Begitu juga dengan Dara, Jerry dan Michel.
"Darren," panggi Vito.
"Iya, Kak!" Darren melihat wajah Vito.
"Barusan kamu bilang tiga sahabat? Di Amerika? Bukannya sahabat kamu itu empat. Dan semuanya ada di negara ini. Emangnya mereka pergi ke Amerika ya?"
Mendengar perkataan dan pertanyaan dari Vito membuat Darren tersenyum. Darren dapat melihat kebingungan di wajah kakaknya itu dan juga di wajah kakaknya yang lainnya.
"Sahabat aku itu ada tujuh Kak Vito. Empatnya disini. Dan tiganya ada di Amerika. Ketiga sahabat aku di Amerika itu bertugas memimpin Perusahaan aku disana."
Mendengar jawaban dan mendengar penjelasan dari Darren. Raka, Satya Vito, Velly dan Nasya mengangguk mengerti.
"Apa ketiga sahabat kamu itu juga bersahabat dengan Zidan, Chico, Barra dan Chello ?" tanya Nasya.
"Iya, Kak! Kami bersahabat ketika duduk di bangku Sekolah Dasar sampai sekarang," jawab Darren.
Mereka semua tersenyum mendengar jawaban dari Darren yang mengatakan bahwa persahabatan mereka terjalin ketika duduk di bangku Sekolah Dasar.
"Saat aku mengalami kecelakaan. Mereka membagi tugas. Jadi tiga dari sahabatku memutuskan untuk pergi ke Amerika dan mengawasi Perusahaanku disana. Dari situlah aku memberikan kepercayaan kepada mereka untuk memimpin Perusahaan itu."
Setelah selesai memeriksa dan membaca semua file yang dikirim oleh ketiga sahabatnya yang ada di Amerika. Darren pun mematikan laptopnya.
__ADS_1
Darren menatap wajah Ayahnya. Felix yang melihat putranya yang menatap dirinya seketika langsung paham. Felix mengusap lembut kepala putranya itu.
"Ada apa, hum? Apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan ke Papa?"
"Iya, Pa! Ini masalah Mama. Saat Mama meninggal. Hanya Papa, kak Raka, kak Satya, kak Vito, kak Velly, kak Nasya dan keluarga Austin lainnya yang melihat wajah Mama. Sementara aku...," Darren menghentikan perkataannya. Dirinya tidak sanggup untuk melanjutkan.
Melihat ketediaman Darren dan mendengar perkataan Darren membuat hati mereka kembali sakit. Hati mereka kembali sakit kala mengingat kejadian tersebut.
"Maafkan Papa sayang," lirih Felix.
Darren seketika langsung menatap wajah ayahnya. Dan dapat dilihat olehnya ayahnya yang telah menangis.
"Papa," lirih Darren.
Darren langsung menghapus air mata ayahnya itu. "Maafkan aku, Pa! Aku tidak bermaksud untuk mengungkit kejadian itu."
"Tidak sayang. Kamu tidak salah. Papa yang salah karena tidak mengizinkanmu untuk melihat wajah Mamamu untuk yang terakhir kalinya."
"Apa Papa, kak Raka, kak Satya, kak Vito, kak Velly dan kak Nasya melihat wajah Mama sebelum dimakamkan?" tanya Darren.
"Iya, Ren! Kita melihat wajah Mama," jawab Velly.
"Apa kak Velly yakin?" tanya Darren.
"Yakin, Ren! Bukan Kakak saja. Bahkan kita semua termasuk om Rafael, om Julian dan anak-anaknya juga melihat wajah Mama," sahut Vito.
"Iya. Itu benar, Ren! Aku juga melihatnya," ucap Michel.
FLASHBACK ON
"Nyonya. Jangan takut. Preman-preman itu sudah tidak akan menyakiti Nyonya lagi. Pemuda ini sudah menghajar ketujuh preman-preman itu."
Mendengar perkataan dari sopirnya. Seketika wanita itu berlahan menjauhkan tangannya dari wajahnya. Dan setelah itu, wanita itu melihat kearah Darren.
DEG!
Seketika tubuh Darren terhuyung ke belakang saat melihat wajah wanita yang ditolongnya itu. Darren benar-benar terkejut melihat wajah wanita itu.
"Ma-mama," lirih Darren.
FLASHBACK OFF
Darren menatap wajah ayahnya. Felix yang melihat putranya yang menatap sendu padanya menjadi tidak tega. Detik kemudian, Felix menarik pelan tubuh putranya itu ke dalam pelukannya.
Mendapatkan pelukan hangat dari ayahnya. Seketika tangis Darren pun pecah.
"Hiks... Papa... Hiks," isak Darren.
Baik Felix, Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya merasakan sesak di dada mereka ketika mendengar isakan dari Darren.
"Papa... Hiks," isak Darren.
__ADS_1
"Ada apa sayang? Katakanlah," lirih Felix sembari mengecup pucuk kepala putranya.
"Aku mau besok kita gali kuburan Mama. Aku... Aku hanya ingin memastikan semua ini Pa."
Felix menatap wajah putra dan putrinya yang lainnya. Melihat hal itu Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya langsung menganggukkan kepala mereka masing-masing.
"Baiklah, sayang! Besok Papa dan kakak-kakakmu yang akan mengurus semuanya."
"Aku ikut," sahut Darren.
"Baiklah, sayang!"
"Apa kami mengganggu!" seru Ronald yang datang bersama dengan anggota keluarga lainnya.
Mendengar seruan dari Ronald. Felix, Rafael dan anak-anaknya melihat kearah anggota keluarga yang baru pulang dari kegiatan masing-masing.
"Darren kenapa, Pa?" tanya Afnan ketika melihat adiknya dipeluk oleh Felix.
"Darren tidak apa-apa sayang. Darren hanya teringat dengan Mama kalian," jawab Felix.
"Kakak Saskia," panggil Darren.
"Ya, sayang! Ada apa, hum?"
"Besok aku, Papa, kak Raka, kak Satya, kak Vito, kak Velly dan kak Nasya akan menggali makam Mama."
Mendengar perkataan dari Darren membuat Saskia dan anggota keluarga lainnya terkejut.
"Kenapa Ren? Apa alasan kamu ingin menggali kuburan Mama?" tanya Marco.
Darren melepaskan pelukan ayahnya. Dan matanya menatap satu persatu wajah anggota keluarganya, terutama anggota keluarga Smith.
"Aku... Aku hanya ingin memastikan jika wanita yang aku tolong kemarin bukan Mama. Wanita yang aku tolong kemarin itu benar-benar mirip Mama. Di dunia ini gak ada orang yang seratus persen mirip. Jika pun ada kemiripan. Itu hanya mirip sedikit. Jadi aku mohon sama Kakak dan kalian semua untuk memberikan izin untuk menggali kuburan Mama."
Mendengar permintaan dan melihat wajah memohon Darren membuat hati mereka semua menjadi iba dan tidak tega.
"Opa izinkan makam Mama kamu digali. Opa juga penasaran masalah ini dan juga perempuan yang mirip Mama kamu itu. Setahu opa, Mama kalian tidak memiliki saudari kembar. Dan seperti yang kamu katakan barusan. Di dunia ini tidak seseorang yang memiliki seratus persen kemiripan."
Mendapatkan izin dari sang kakek membuat Darren tersenyum bahagia. Darren benar-benar bahagia kakeknya itu orang kedua setelah sang kakak tertuanya yang akan mengabulkan keinginannya.
"Terima kasih Opa."
"Sama-sama sayang."
"Bagaimana dengan kak Saskia, kak Nuria, kak Marco dan kak Afnan?"
"Baiklah. Besok kita akan menggali kuburan Mama," jawab Saskia, Nuria, Marco dan Afnan bersamaan.
Mendengar jawaban kompak dari keempat kakak kesayangannya membuat Darren tersenyum.
"Sebentar lagi akan terjawab siapa wanita itu?" batin Darren.
__ADS_1