REVENGE

REVENGE
Bonus


__ADS_3

Keluarga Parvez sekarang ini berada di rumah sakit menemani Arinda. Sejak Darren, sahabat-sahabatnya dan para anggotanya berhasil menyelamatkan Arinda. Sejak itulah keluarga Parvez selalu setia menemani Arinda. Tidak ada yang absen untuk menemani kesayangannya, kecuali urusan pekerjaannya.


Bagaimana dengan keempat sahabatnya Arinda? Tentu keempat sahabatnya Arinda sama seperti keluarga Parvez. Mereka juga setiap hari datang mengunjungi Arinda. Bahkan mereka ikut menjaga Arinda dengan menginap di rumah sakit. Begitu juga dengan Pingkan dan Robby. Mereka juga ikut menjaga Arinda di rumah sakit.


Hari ini adalah hari ketiga Arinda dirawat di rumah sakit. Dan hari ketiga juga Arinda masih menutup matanya. Anggota keluarganya, keempat sahabatnya dan pengasuhnya juga masih setia menemaninya di rumah sakit.


"Rin, lo kapan bangunnya. Kangen nih," ucap Belinda dengan nada lirihnya.


"Kangen ama mulut lo yang ngomel-ngomel itu, Rin!" ucap Carla.


"Kangen lo yang ribut sama Darren. Kalian berdua itu lucu kalau dilihat," celetuk Cherly.


"Kira-kira Arinda sama Darren, cocok nggak ya? Secara mereka berdua seperti anjing dan kucing kalau setiap bertemu," ucap Delina sembari menatap wajah cantik Arinda.


"Eh, tapi kan sekarang Arinda nggak lagi jutek sama Darren. Bahkan Arinda berulang kali meminta maaf kepada Darren. Tapi selalu gagal. Yang didapat oleh Arinda hanya sikap ketus dan dingin Darren. Kasihan Arinda." Delina berucap sembari mengingat bagaimana perjuangan sahabatnya untuk meminta maaf kepada Darren.


***


Di perusahaan RV'Crton terlihat seorang pria paruh baya yang saat ini tampak marah besar. Bagaimana tidak marah besar. Proyek besar yang dikerjakan oleh dirinya, adik laki-lakinya bersama dengan perusahaan lain seketika mengalami masalah. Proyek itu gagal total sehingga membuat perusahaan miliknya dan perusahaan adik mengalami kerugian besar.


Dan bisa dipastikan juga dirinya dan juga adiknya harus mengeluarkan uang banyak untuk mengganti semua kerugian untuk perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan miliknya dan perusahaan adiknya.


"Kenapa jadi seperti ini? Seharusnya perusahaanku dan perusahaan milik adikku mendapatkan keuntungan besar dalam proyek ini. Apalagi aku dan adikku sudah menyingkirkan CEO perusahaan DRN'CORP."


Ketika pria tersebut sedang dalam keadaan marah dikarenakan proyek kerja samanya gagal, tiba-tiba seseorang masuk begitu saja ke dalam ruang kerjanya.


Brak..


"Kak Rivo!"


Rivo seketika terkejut ketika mendengar pintu yang dibuka secara kasar dan suara panggilan dari adik laki-lakinya.


"Rado, kenapa kau kemari? Dan kenapa dengan wajahmu? Siapa yang memukulimu?"


Pria paruh baya tersebut bernama Rivo Carlton, ayah kandung Cemal Carlton. Dan laki-laki yang masuk ke dalam ruang kerjanya itu adalah Rado Carlton yang tak lain adalah adik laki-laki pertamanya.


"Aku dihajar oleh beberapa anak buah dari CEO perusahaan Helmet Company. Perusahaan yang menggantikan perusahaan DRN'CORP. Mereka sudah merebut perusahaanku, kak Rivo!"


"CEO perusahaan Helmet mengatakan padaku bahwa kita berdua tidak memiliki hak apapun lagi dengan perusahaan kita. Semuanya sudah menjadi milik perusahaan Helmet."


Mendengar perkataan dari Rado sang adik seketika membuat Rivo terkejut dan tak percaya.


"Tidak! Itu tidak akan terjadi!"


"Tapi itulah kenyataannya kak. Aku tidak bisa kembali ke perusahaanku. Disana begitu banyak orang-orang dari perusahaan Helmet yang berjaga. Aku datang kesini dan menemui kakak itu karena CEO perusahaan Helmet mengatakan padaku kalau dia juga akan datang menemui kakak disini dan mengambil alih perusahaan ini."

__ADS_1


Rivo terdiam ketika mendengar ucapan dari adiknya. Dirinya tidak menyangka jika hal ini akan terjadi padanya dan adiknya.


Drtt.. Drtt..


Seketika ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk. Rivo langsung menjawab panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang menghubunginya.


"Hallo tuan Rivo."


Deg..


Rivo terkejut ketika mendengar lawan bicaranya tahu namanya. Rivo kemudian melihat si penelepon di layar ponselnya. Tertera nomor ponsel yang tak dikenal oleh Rivo di layar ponselnya itu.


"Siapa dia?" batin Rivo.


"Apa kabar tuan Rivo? Semoga tuan Rivo baik-baik saja ya. Begitu juga dengan adik tuan Rivo yaitu tuan Rado."


"Siapa kau?!" bentak Rivo.


"Siapa aku itu tidak penting tuan Rivo. Yang jelas aku tahu siapa tuan Rivo dan tuan Rado."


"Apa tujuanmu menghubungiku, hah?!"


"Hanya satu. Merebut apa yang sudah anda dan adik anda rebut dariku."


Setelah orang itu mengatakan itu, orang tersebut langsung mematikan panggilannya secara sepihak sehingga membuat Rivo terdiam ditempatnya.


***


Darren saat ini berada di ruang kerja di perusahaan DRN'CORP. Dirinya duduk di kursi kebesaran miliknya sembari tersenyum membayangkan wajah marah, wajah syok dan wajah penuh penasaran dari orang yang sudah bermain licik dengannya. Siapa lagi kalau bukan Rivo Carlton pemilik perusahaan RV'Crton.


Beberapa jam yang lalu Darren mendapatkan informasi dari orang yang dipercayai untuk memimpin perusahaan Hermet. Dia adalah Tonny Pereira.


Tonny memberikan kabar bahwa rencana untuk membuat perusahaan milik Rivo dan Rado berjalan sempurna. Kedua perusahaan itu mengalami kerugian besar-besaran akibat proyek yang mereka kerjakan gagal ditengah jalan.


"Sebentar lagi perusahaanmu dan perusahaan adik laki-lakimu akan menjadi milikku. Kau sudah salah mencari lawan. Dan kau sudah salah bermain api denganku. Tunggu kedatanganku," ucap Darren sambil tersenyum manis.


Tok.. Tok.. Tok..


"Masuk!"


Cklek..


"Bos!"


Darren langsung melihat keasal suara dan seketika Darren tersenyum lebar kala melihat Tonny Pereira yang datang.

__ADS_1


"Tonny, kemarilah!"


Tonny melangkah memasuki ruang kerja Darren lalu kemudian dirinya menduduki pantatnya di kursi yang ada di hadapan meja kerja Bos nya.


"Mana berkasnya Tonny?"


"Ini Bos!"


Tonny langsung memberikan apa yang diminta oleh Bos nya itu dengan mendorong dua berkas tersebut ke hadapan sang Bos.


Darren membuka berkas tersebut lalu membaca secara teliti mulai dari atas sampai bawah. Darren tersenyum ketika membaca setiap isi dalam berkas yang dibawa oleh Tonny.


"Ini benar-benar sangat memuaskan Tonny. Aku suka seperti ini," ucap Darren.


Mendengar perkataan serta pujian dari Bos nya membuat Tonny merasakan kebahagiaan. Dirinya juga ikut bahagia jika melihat Bos nya bahagia.


"Jadi kapan kita akan menemui mereka Bos?"


Mendengar pertanyaan dari Tonny. Darren langsung menutup map tersebut. Kemudian Darren menatap wajah Tonny.


"Tidak perlu buru-buru. Biarkan saja mereka menikmati hari-hari terakhir bersama di perusahaan mereka. Setelah itu, barulah kita temui mereka!"


"Baiklah Bos."


"Kau cukup awasi saja mereka. Jangan sampai kau dan yang lainnya kecolongan," ucap Darren.


"Siap Bos!"


Darren mengeluarkan sesuatu dari dalam lacinya. Sebuah amplop berwarna coklat berisi sejumlah uang.


Setelah mendapatkan amplop coklat itu, Darren memberikannya kepala Tonny.


"Ini ambillah."


"Apa ini Bos!"


"Itu uang untukmu dan juga anggota-anggotamu. Aku memberikan waktu liburmu selama dua hari. Kau bisa menikmati waktumu itu untuk bersenang-senang. Ajak juga anggota-anggotamu. "


"Tapi Bos...."


"Kau berhak menerimanya Tonny. Itu bonus dariku. Kau dan anggota-anggotamu sudah bekerja keras beberapa bulan ini. Dan waktunya untuk bersantai dan memanjakan diri."


"Bos."


"Terimalah."

__ADS_1


"Terima kasih Bos."


Darren tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Hatinya merasakan nyaman dan bahagia ketika bisa memberikan hadiah atau bonus untuk orang-orang yang bekerja padanya.


__ADS_2