REVENGE

REVENGE
Kejahilan Para Kakak Sepupu


__ADS_3

Disinilah Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya berada. Di sebuah ruangan yang hanya ada mereka saja.


Yah! Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya berada di sebuah cafe terkenal dan dimahal di kota Sidney, Australia.


Kenapa mereka semua berada di cafe ini? Itu dikarenakan Darren yang kesal akan ulah Faza yang seenaknya nimpuk keningnya dengan penghapus papan tulis. Dan yang menjadi korban keluar duit adalah Faza sang pelaku. Dan otomatis sahabat-sahabatnya yang lain ikut kebahagian makan gratis.


"Makanan enak banget," kata Chello.


"Jelas enaklah. Gratis," sindir Faza dengan memperlihatkan wajah kusutnya.


"Jadi lo gak ikhlas nih." Chello berbicara sambil melirik kearah Faza. "Nggak jadi deh gue makan." lanjut Chello sambil pura-pura ambekan.


"Aish! Apaan sih Chel. Nggak usah lebay ya. Makan tinggal makan. Apa susahnya sih," kesal Faza.


Mendengar perkataan dari Faza membuat mereka semua tersenyum. Mereka berhasil membuat Faza kesal. Di dalam hati mereka masing-masing 'sesekali membuat Faza kesal nggak ada salahnya kan?'


"Faza, Briyan, Kevin." Darren memanggil. Ketiganya pun langsung melihat kearah Darren.


"Ada apa?"


"Hm."


"Iya."


Itulah jawaban dari Faza, Briyan dan Kevin. Dan ketiganya menjawab dengan bersamaan.


"Aku butuh bantuan kalian," sahut Darren.


"Bantuan apa?" tanya Briyan.


"Apa yang harus kami lakukan?" tanya Kevin.


"Perusahaan siapa lagi yang ingin kau rebut kali ini?" tanya Faza asal.


Mendengar pertanyaan dari Faza membuat Darren mendengus kesal. Tangannya mengambil sepuluh potong daging, lalu memasukkan nya ke piring Faza.


Faza yang melihat sepuluh potong daging yang ukurannya lumayan gede membelalakkan matanya.


Faza menatap horor Darren. Sementara Darren hanya memperlihatkan cengiran khasnya.


Ketika Faza ingin membuka mulutnya bermaksud ingin mengomelinya. Darren sudah terlebih dahulu bersuara.


"Aku tidak ingin berdebat denganmu apalagi mendengar ceramah jelekmu itu untuk saat ini," sahut Darren.


Mendengar perkataan dari Darren. Faza hanya bisa pasrah. Tangannya kemudian mengambil daging yang ada di piringnya berniat untuk memindahkannya. Namun lagi-lagi Darren membuatnya kesal.


"Jika kau berani memindahkan daging-daging itu, maka kau bukan lagi sahabatku."


"UHUUKK!"

__ADS_1


Faza tersendak, lalu menatap dengan mata melebar kearah Darren. Sementara Darren lagi-lagi hanya memperlihatkan cengiran khasnya.


"Sialan lo, Ren!" ucap kesal Faza. Darren tersenyum kemenangan.


"Hahahahaha."


Zidan, Chico, Barra, Chello, Briyan dan Kevin tertawa nista melihat penderitaan Faza.


DRTT!


DRTT!


Ponsel milik Darren berbunyi. Darren yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya itu.


Ketika ponselnya sudah di tangannya. Darren melihat nama 'Kak Saskia' di layar ponselnya. Darren pun langsung menjawabnya.


"Hallo, Kakak Saskia!"


"Hallo, sayang! Kamu dimana? Kenapa belum pulang? Ini sudah pukul 4 sore loh."


"Aku sama sahabat-sahabat aku lagi ada di cafe. Hab...," perkataan Darren terpotong karena sudah dipotong terlebih dahulu oleh kakak-kakak sepupunya di seberang telepon.


"Darren. Kamu kalau pulang jangan lupa belikan Pizza enam kotak!" teriak Alfin.


"Belikan juga jus untuk kita semua. Semua anggota keluarga Smith ada di rumah keluarga Austin!" teriak Garvin.


"Dan jangan lupa belikan juga buah-buahan yang banyak!" teriak Qenan.


Mendengar permintaan dari para kakak-kakak sepupunya seketika Darren membulatkan matanya.


"Yak! Kalian semua kompak dan berniat merampokku!" teriak Darren.


"Iya!" seru para kakak-kakak sepupunya." Darren kembali membelalakkan matanya mendengar jawaban kompak dari para kakak-kakak sepupunya.


"Nggak," jawab Darren.


"Kalau kamu nggak mau belikan. Kamu nggak boleh pulang ke keluarga Austin," sahut Theo.


"Bodo. Aku bisa pulang ke rumah aku sendiri," jawab Darren.


"Rumah itu sudah disita sama tante Clarissa. Jadi rumah itu bukan milik kamu lagi," jawab Willy.


"Yak! Bagaimana bisa begitu? Rumah itu kan hadiah ulang tahun aku dari Mama. Mana ada istilah disita segala. Emangnya Mama seorang Debt collector. Jika Mama memang menyita rumah aku. Mama juga harus menyita rumahnya kak Saskia, kak Nuria, kak Marco dan kak Afnan," jawab Darren.


Mendengar jawaban-jawaban dari Darren, mereka semua tersenyum. Mereka semua sedari tadi menahan tawa mendengar semua jawaban dari Darren yang berusaha untuk menolak membelikan pesanan mereka semua.


"Tapi seperti itulah kenyataannya. Tante Clarissa sudah menyita rumah itu," jawab Devano.


"Bodo. Ambil aja. Nggak butuh juga. Kalau nggak boleh pulang ke rumah keluarga Austin dan nggak boleh pulang ke rumah aku. Aku akan nginap di rumah sahabat-sahabat aku."

__ADS_1


Mendengar perkataan dari Darren. Zidan, Chico, Barra, Chello, Faza, Briyan dan Kevin saling lirik dan memberikan kode. Serta tersenyum evil.


Setelah itu, mereka semua melihat kearah Darren. Dan dengan kompaknya berucap.


"Tidak!"


Darren membelalakkan matanya ketika mendengar jawaban penolakan dari ketujuh sahabat-sahabatnya. Darren mendengus kesal menatap wajah sahabat-sahabatnya itu.


"Kalau kamu nggak mau belikan pesanan kami semua. Maka kami tidak akan sayang dan peduli lagi sama kamu," ucap Andry.


Mendengar perkataan dari kakak sepupunya itu membuat Darren mendengus.


"Kalian benar-benar menyebalkan!" teriak Darren.


Setelah itu, Darren mematikan panggilan tersebut dengan wajah yang super kusut. Sementara di seberang telepon, para anggota keluarganya tertawa puas karena telah berhasil membuatnya kesal.


Zidan, Chico, Barra, Chello, Faza, Briyan dan Kevin melihat wajah kusut Darren tersenyum. Mereka tahu jika Darren sedang kesal akan ulah kakak-kakak sepupunya. Mereka pun dengan isengnya menambah kekesalan Darren dengan cara menolak keinginan Darren untuk nginap di rumahnya.


***


Di kediaman keluarga Austin tampak ramai dimana seluruh anggota keluarga Smith tengah datang berkunjung. Mereka saat ini berkumpul di ruang tengah yang dibilang cukup besar.


"Hahahahaha."


Mereka semua tertawa ketika mendengar nada kesal dari Darren.


Mereka sebenarnya tidak benar-benar meminta Darren untuk membelikan semua makanan dan minuman itu. Mereka hanya sekedar bercanda dan menguji Darren saja.


"Pasti saat ini wajah Darren benar-benar lucu ketika sedang kesal," ucap Lory.


"Sudah pastilah. Secara kita semua mengerjai dia habis-habisan. Sampai bawa nama tante Clarissa dan bilang kalau tante Clarissa menyita rumahnya," sahut Tamara.


"Bahkan kita dengar sendiri jawaban dari Darren soal rumahnya yang disita oleh tante Clarissa sehingga membawa-bawa rumahnya kak Saskia, kak Nuria, kak Marco dan Afnan." ucap Vito berucap.


"Wajar saja Darren bicara seperti itu. Darren tahu jika Mama selalu bersikap adil sama semua anak-anaknya. Darren sangat tahu tipikal Mama bagaimana. Mama nggak akan ngelakuin hal buruk sama anak-anaknya sekali pun anak-anaknya melakukan kesalahan."


Saskia berbicara sambil memikirkan adik bungsunya dan juga sikap ibunya selama ini. Ibunya itu memiliki sifat penyayang, perhatian, kepedulian dan selalu bersikap adil kepada kelima anak-anaknya. Ibunya selalu menjadi ibu yang baik untuknya dan untuk keempat adik-adiknya. Baik Saskia maupun keempat adik-adiknya sangat menyayangi dan menghormati ibunya, terutama Darren. Darren yang paling mengerti dan sangat patuh pada ibunya.


"Benar kata kak Saskia. Darren nggak bakal percaya gitu aja ketika mendengar bahwa rumahnya sudah disita oleh Mama," ucap Afnan.


"Jika itu benar terjadi. Mama akan melakukan hal itu juga kepadaku, kak Saskia, kak Nuria dan Afnan. Jika Mama tidak melakukan itu, maka Darren akan benar-benar kecewa sama Mama." Marco ikut berbicara.


"Sudah... Sudah! Sekarang kalian pikirkan bagaimana nasib Darren atas ulah kalian itu! Pasti saat ini Darren tengah membelikan semua pesanan kalian itu, walau dirinya sedang kesal terhadap kalian!" seru Robert dengan menatap cucu-cucunya.


"Pulang Darren nanti. Kalian minta maaflah sama Darren. Kasihan Darren kalian ngerjain tadi," ucap Erland.


"Baik, Pa!"


"Baik, Om!"

__ADS_1


__ADS_2