REVENGE

REVENGE
Telepon Dari Faza


__ADS_3

Di kediaman Austin tampak ramai dimana semua anggota sedang berkumpul di ruang tengah. Mereka mengobrol kecil disana sembari menunggu sarapan pagi dihidangkan di atas meja.


"Bagaimana pekerjaan kami di kantor sayang?" tanya Felix kepada putra sulungnya dari Clarissa.


"Semuanya berjalan lancar, Pa!" Darren menjawab pertanyaan dari ayahnya itu sembari tatapan matanya fokus menatap kearah layar ponselnya.


Melihat kelakuan putranya itu membuat Felix hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.. Begitu juga dengan Clarissa dan para kakak-kakaknya.


"Ach, selesai juga!" tiba-tiba Darren berseru.


"Sebenarnya kamu sedang apa sih? Asyik banget dari tadi sampai kita diangguri." ucap dan tanya Saksia.


Mendengar pertanyaan dari kakak sulung satu ibu dengannya membuat Darren langsung melihat kearah kakaknya itu.


"Aku sedang memposting perusahaan baru milik Om Harley di media sosialku."


"Jadi Om Harley sudah mendirikan perusahaan baru?" tanya Marco.


"Belum seratus persen. Kemungkinan hari ini Om Harley akan memulainya itu pun memulai mencari gedung baru," jawab Darren.


"Lalu tadi kamu bilang sedang memposting perusahaan baru milik Om Harley itu maksudnya apa?" tanya Nasya.


Nasya menatap adiknya itu dengan tatapan bingung. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka benar-benar tidak mengerti dari perkataan adiknya itu.


Darren seketika tersenyum ketika melihat wajah dan tatapan bingung para kakak-kakaknya, baik kakak-kakak kandungnya maupun kakak-kakak sepupunya.


"Perusahaan baru Om Harley yang aku maksud itu adalah gedung yang akan digunakan oleh Om Harley untuk perusahaan barunya. Gedung tersebut adalah milikku. Aku memberikannya untuk Om Harley agar Om Harley dan para karyawannya bisa langsung bekerja. Dan disamping itu juga aku dan ketujuh sahabat-sahabatku tengah memancing pelaku pembakaran perusahaan Om Harley keluar."


Mendengar ucapan sekaligus penjelasan dari Darren membuat mereka tersenyum sekaligus terkejut. Tersenyum karena bangga akan kebaikan hati Darren. Terkejut ketika mendengar ucapan Darren yang terakhir yang mana Darren menyebut memancing pelaku pembakaran perusahaan milik Harley.


"Jadi perusahaan Om Harley terbakar karena ada seseorang yang membakarnya?" tanya Afnan.


"Iya, kak."


"Siapa? Apa sudah ketahuan pelakunya?" tanya Raka."


"Pelakunya belum ketahuan. Tapi dia adalah saingan bisnisnya Om Harley."


"Sekarang apa rencana kamu dengan ketujuh sahabat-sahabat kamu?" tanya Satya.


"Hari ini aku dan ketujuh sahabat-sahabatku akan bermain-main dengan anggota keluarga dua orang yang sudah mengkhianati Om Harley."


"Sudah berhasil menemukan keberadaan mereka?" tanya Nuria.


"Sudah. Mereka Benny Adler berasal dari keluarga Adler dan Elgar Bader berasal keluarga Bader."


"Apa yang akan kamu lakukan terhadap mereka sayang?" tanya Rafael.

__ADS_1


"Eemm.. Aku dan ketujuh sahabat-sahabat aku akan membuat keluarga Adler kehilangan empat perusahaannya sekaligus dengan cara menjalin hubungan kerjasama dengan memberikan berkas palsu. Aku mengutus empat anggota mafiaku."


"Dan untuk keluarga Bader. Aku dan ketujuh sahabat-sahabatku akan menggunakan cara yang digunakan oleh Elgar ketika menipu Om Harley yaitu saling mengadu domba keluarga Bader dengan cara memfitnah salah satunya."


Mendengar ide-ide licik dari Darren membuat keempat kakaknya yaitu Saskia, Nuria, Marco dan Afnan tersenyum bangga dengan Darren. Begitu juga dengan Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya. Termasuk juga dengan ketiga kakak sepupunya, kedua orang tuanya dan Pamannya.


Ketika mereka sedang membahas rencana Darren untuk menghancurkan orang-orang yang sudah mengusik keluarga salah satu sahabatnya, tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering. Ponsel tersebut milik Darren.


Darren yang mendengar ponselnya berdering langsung mengambil yang terletak di atas meja. Tatapan matanya melihat ke layar ponsel. Disana tertera nama Faza.


Darren tersenyum kemudian langsung menjawab panggilan dari salah satu sahabatnya itu. Sedangkan anggota keluarganya memasang telinganya masing-masing untuk mendengarkan pembicaraan Darren dengan seseorang di telepon.


"Hallo, Za!"


"Ren, itu postingan kamu di Instagram. Itu....,"


"Iya. Om Harley sudah bisa bekerja hari ini. Katakan pada Om Harley untuk berhenti mencari gedung."


"Ren, lo?"


"Sudahlah Faza. Lo jangan merasa tidak enak seperti itu. Lo sudah berapa lama kenal gue? Kita sudah berapa lama bersahabat?"


"Tidak bisa dihitung pake jari sudah berapa lama kita bersahabat. Jatuhnya kita menjalin persahabatan sejak kita memasuki dunia sekolah."


"Jika selama itu hubungan persahabatan kita. Seharusnya lo tahu siapa gue dan siapa sahabat-sahabat lo yang lainnya."


"Ya, Ren! Maafin gue. Tapi izinkan gue mengucapkan kata terima kasih sama lo atas bantuan lo dengan memberikan gedung buat Papi."


"Baiklah. Ya, sudah kalau begitu. Gue tutup teleponnya. Gue nelpon lo hanya nanya masalah gedung itu."


"Eh tunggu dulu!"


"Ada apa, Ren?"


"Jangan lupa rencana kita untuk menghancurkan kedua pengkhianat itu melalui keluarganya pukul 1 siang!"


"Aku ingat hal itu. Berkas untuk aku ajukan ke perusahaan yang mana perusahaan itu juga akan didatangi oleh salah satu keluarga Bader sudah aku siapkan. Aku bahkan sudah mendapatkan bocoran tentang isi berkas yang akan diajukan oleh salah satu anggota keluarga Bader tersebut."


"Benarkah?"


"Hm."


"Bagaimana caranya?"


"Aku memerintahkan dua anggota mafia kita untuk bisa masuk ke perusahaan milik keluarga Bader dan juga bisa masuk ke kediaman keluarga Bader, lalu kemudian aku menyuruh anggota kita itu memasang alat penyadap. Jadi dengan begitu aku bisa mendengar semua obrolan orang-orang yang ada di perusahaan dan di rumah keluarga Bader."


Mendengar ucapan demi ucapan sekaligus penjelasan dari Faza membuat Darren tersenyum bangga. Dia tidak menyangka jika Faza memiliki ide sebagus itu.

__ADS_1


"Rencana yang bagus, Faza!"


"Terima kasih. Oh iya, Ren! Aku tutup teleponnya biar aku bisa langsung memberitahu Papi masalah gedung dari kamu itu."


"Baiklah."


Tuttt..


Tuttt..


"Sebentar lagi kalian akan segera hancur," ucap Darren.


***


Di kediaman Parvez terlihat seorang gadis cantik tengah duduk di sofa ruang tengah. Gadis itu adalah Arinda Bernard Parvez.


Kenapa Arinda menggunakan dua marga di belakang namanya. Pertama, Arinda ingin melupakan keluarga Bernard yang mana keluarga itu yang merawat dan menjaganya sejak dia masih bayi. Kedua, Arinda ingin selalu menjadi bagian dari keluarga Bernard. Ditambah lagi keluarga besar Bernard begitu tulus menyayanginya, walau mereka tahu kalau Arinda bukan putri kandung Fazio Bernard dan Patricia Bernard. Ketiga marga Parvez adalah marga keluarga kandungnya.


Jadi, Arinda memutuskan untuk memakai kedua marga tersebut di belakang namanya.


Arinda saat ini sedang mengerjakan beberapa tugas kuliahnya di laptop miliknya. Tugas-tugas tersebut dia dapatkan dari keempat sahabatnya.


Sejak penculikan yang dia alami sehingga membuat Arinda tidak masuk kuliah selama satu bulan sehingga Arinda banyak ketinggalan materi kuliahnya.


Ketika Arinda tengah fokus dengan tugas-tugas kampusnya, tiba-tiba kedua orang tuanya dan kedua kakaknya datang. Mereka tersenyum ketika melihat Arinda yang begitu semangat dan fokus mengerjakan tugas Kampusnya.


Claudia duduk didekat putri kembarnya itu dengan tersenyum menatap putrinya. Tangannya kemudian mengusap lembut kepala putranya sehingga membuat putrinya langsung melihat kearah dirinya.


"Mi." Arinda menyapa ibunya itu.


"Apa tugasnya belum selesai?"


"Sedikit lagi Mi. Tinggal beberapa materi lagi," jawab Arinda.


"Jika tidak sanggup menyelesaikannya hari ini. Istirahat dulu sayang. Jangan dipaksakan. Papi tidak ingin kamu jatuh sakit. Seminggu yang lalu kamu baru keluar dari rumah sakit. Papi tidak sanggup melihat kamu masuk rumah sakit lagi."


Mendengar ucapan dan melihat wajah khawatir ayahnya itu membuat Arinda memberikan senyuman termanisnya di hadapan ayahnya itu. Siapa tahu jika melihat senyuman manisnya, kekhawatiran ayahnya akan segera hilang.


"Papi tenang, oke! Aku janji sama Papi kalau aku akan baik-baik saja."


Mendengar ucapan sekaligus janji yang diucapkan oleh putrinya membuat hati Zaidan menghangat. Begitu juga dengan Claudia, Nathan dan Aksa.


"Oh iya, Rin! Apa kamu sudah menghubungi Darren dan mengucapkan terima kasih padanya. Darren yang sudah menolong kamu dan membawa kamu ke rumah sakit?" tanya Nathan.


"Aku... Aku sebenarnya ingin sekali menghubungi Darren. Tapi aku nggak berani. Kakak tahu sendiri kan bagaimana sikap Darren padaku. Darren belum mau memaafkan aku karena sudah menuduh dia yang telah membunuh Mommy dan Daddy. Dan aku juga yang sudah merusak laptop kesayangannya."


"Mungkin itu hanya perasaan kamu saja sayang. Kamu kan belum mencobanya. Siapa tahu ketika kamu menghubungi Darren. Darren bicara biasa saja dan melupakan masalahnya dengan kamu," ucap Claudia lembut sembari mengusap kepala putrinya.

__ADS_1


"Baiklah. Setelah selesai tugas kampus aku. Aku akan coba menghubungi Darren."


Claudia, Zaidan, Nathan dan Aksa seketika tersenyum ketika mendengar jawaban dari Arinda. Mereka berharap Darren tidak berbicara ketus ketika Arinda menghubunginya.


__ADS_2