REVENGE

REVENGE
Keterkejutan Faza, Briyan Dan Kevin


__ADS_3

Semua anggota keluarga masih berada di ruang tengah. Mereka semua menunggu kepulangan Darren. Bahkan mereka semua membayangkan wajah terkejut Darren dan wajah ketika Darren menangis saat melihat orang yang begitu dirindukan.


"Lama banget Darren pulangnya. Udah gak sabaran nih," sela Lory.


"Iya. Aku juga. Aku pengen lihat wajah Darren ketika melihat wajah tante Clarissa. Pasti Darren bakal terkejut banget." Merryn berucap sembari membayangkan wajah adiknya itu.


"Tapi ini sudah pukul 6 sore. Kenapa Darren belum sampai juga?" sahut Andry.


Mendengar perkataan dari Andry. Mereka semua menatap kearah jam dinding. Dan benar, waktu sudah menunjukkan pukul 6 lewat.


"Marco, bagaimana ini sayang? Adikmu belum pulang juga. Sejam lebih loh sejak kamu menghubunginya," ucap Clarissa.


Marco melihat kearah ibunya. Terlihat ibunya terlihat khawatir. Bukan ibunya saja. Bahkan seluruh anggota keluarganya juga tampak khawatir.


"Darren, kamu dimana sayang? Jangan buat kami khawatir," batin Marco.


"Darren," batin Saskia, Nuria dan Afnan.


"Darren, sayang! Buruan pulang dong, Nak!" batin Clarissa.


"Darren. Semoga kamu baik-baik saja sayang," batin Robert, Erland, Steffany, Ronald, Safina, Clara, Steven, Rafael dan Julian.


"Darren. Kamu dimana, Nak? Jangan buat Papa khawatir," batin Felix.


"Darren," lirih Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya.


"Darren. Semoga kamu baik-baik saja," batin para sepupu Darren.


Marco kembali menghubungi Darren. Dirinya sangat mengkhawatirkan adiknya itu.


Panggilannya tersambung, namun adiknya itu tidak menjawabnya. Hal itu sukses membuat Junmyeon bertambah khawatir.


"Ach, sial!"


Mereka semua melihat kearah Marco. Mereka dapat melihat bagaimana takutnya Marco terhadap Darren.


"Marco, kenapa sayang?" tanya Felix.


"Darren tidak menjawab panggilan dariku Pa. Padahal panggilannya tersambung," jawab Marco.


Mendengar perkataan dari Marco. Mereka semua bertambah khawatir. Rasa takut seketika menjalar di tubuh mereka, terutama Clarissa, Saskia, Nuria, Afnan dan seluruh anggota keluarga Smith. Mereka tidak ingin terjadi yang tak diinginkan dengan Darren.


Ketika mereka semua tengah memikirkan Darren, tiba-tiba mereka semua mendengar suara klason mobil.


TIN!


TIN!


TIN!


Mereka yang mendengar suara klason mobil dari luar langsung berlari untuk memastikan bahwa kesayangan mereka baik-baik saja.


^^^


Kini mereka semua sudah berada di luar rumah. Lebih tepatnya mereka semua telah berdiri di depan rumah. Mata mereka menatap ke satu titik yaitu tiga mobil mewah Koenigsegg CCXR Trevita, Bugatti La Voiture Noire dan Bugatti Divo yang telah terparkir di halaman rumah Darren.

__ADS_1


Mereka semua menatap bingung tiga mobil itu. Mereka belum pernah melihat mobil itu sebelumnya.


Mereka masih memperhatikan ketiga mobil itu sehingga keluarlah sang pemilik dari mobil mewah itu.


Melihat dua yang telah keluar dari mobil. Beberapa orang dari mereka langsung mengenali orang itu.


"Briyan, Kevin!" seru Saskia, Nuria, Marco dan Afnan.


Briyan dan Kevin melangkah ke mobil yang ada di sampingnya yaitu mobil milik Faza. Briyan membukakan pintu mobil Faza. Dan disusul oleh Faxa yang keluar dari dalam mobilnya. Faza bersama Darren satu mobil. Sementara Briyan dan Kevin sendirian.


"Faza," ucap Alfin.


Seluruh anggota keluarga Darren yang sedari tadi masih memperhatikan Briyan, Faza dan Kevin.


Setelah pintu mobil terbuka, Briyan membantu Darren keluar dari dalam mobil dan dibantu dengan Kevin.


Dan detik kemudian, seluruh anggota keluarga Darren terkejut ketika melihat Briyan dan Kevin yang memapah Darren.


"Astaga, Darren!" teriak mereka semua ketika melihat kondisi Darren.


***


Kini semuanya telah berkumpul di ruang tengah, termasuk Briyan, Faza dan Kevin. Sementara Darren berada di kamarnya. Nuria sudah memeriksa keadaan Darren. Dan saat ini Darren tengah istirahat.


Semuanya menatap Briyan, Faza dan Kevin. Mereka ingin tahu apa yang terjadi terhadap Darren.


"Briyan, Faza, Kevin. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Marco.


"Kami juga tidak tahu kronologinya seperti apa kak Marco. Tapi yang kami dengar dari dua saksi. Mereka mengatakan bahwa ada seorang anak kecil yang tiba-tiba saja berlari ke tengah jalan besar. Pas kebetulan mobil yang melintas itu mobil Darren. Melihat ada anak kecil yang berlari di tengah jalan. Darren langsung membanting stir ke kiri sehingga mobil Darren menghantam tiang listrik." Faza menjelaskan kejadian naas itu.


Mobil Faza, mobil Briyan dan mobil Kevin berjalan melaju di jalan raya dengan kecepatan sedang. Setelah bertemu dengan Darren dan membuat Darren kesal. Mereka bertiga memutuskan untuk menemui keempat sahabatnya yaitu Zidan, Chico, Barra dan Chello.


Baik Faza maupun Briyan dan Kevin. Mereka juga merindukan keempat sahabatnya itu. Mereka sudah menghubungi keempat dan mengajak mereka ketemuan di rumah Darren. Jadi mereka semua akan berkumpul di rumah Darren. Untuk saat ini, ketiganya ingin menghabiskan waktu jalan-jalan mengelilingi kota Australia.


Ketika mereka fokus menyetir, tiba-tiba mereka menghentikan mobil karena mereka melihat ada kecelakaan di depan mereka.


Mata Briyan menatap intens kearah kerumunan tersebut. Dan Briyan melihat sedikit sebuah mobil yang bagian depannya hancur.


Dan beberapa detik kemudian. Briyan membelalakkan matanya ketika menyadari bahwa mobil tersebut adalah mobil milik Darren.


Briyan langsung menginjak rem mobilnya. Setelah mobilnya berhenti, Briyan pun langsung keluar dari mobilnya dan berlari kearah kerumunan tersebut.


Faza dan Kevin yang melihat Briyan yang berlari menuju kerumunan tersebut. Keduanya juga memutuskan keluar dari mobilnya dan menyusul Briyan.


"Minggir!" teriak Briyan.


Terpaksa orang-orang yang ada disana memberikan jalan untuk Briyan. Dan orang-orang disana juga dapat melihat jika Briyan tidak sendirian melainkan bersama dua pemuda lainnya. Dan orang-orang disana bisa melihat Briyan, Faza dan Kevin menuju kearah mobil yang mereka kenal.


Disana sudah ada beberapa polisi yang membantu Darren untuk keluar dari dalam mobil. Dan untungnya mobil Farren tidak mengeluarkan asap ketika bagian depan sudah sangat hancur.


"Kalian siapa?" tanya pimpinan polisi itu.


"Kami sahabat dari korban kecelakaan itu," jawab Briyan.


"Apa yang terjadi, pak?" tanya Kevin.

__ADS_1


"Ada seorang anak kecil yang tiba-tiba berlari ke tengah jalan. Dan pemilik mobil menghindari anak kecil itu dengan membanting stir ke kiri," jawab pimpinan polisi itu.


Setelah mendapatkan jawaban dari pihak kepolisian. Briyan, Faza dan Kevin mengeluarkan Darren dari dalam mobil yang saat ini dalam keadaan tak sadarkan diri dengan luka di bagian pelipis kanannya.


Beberapa menit kemudian, ketiganya berhasil. Mereka langsung membawa tubuh Darren ke rumah sakit.


"Kalian buruan bawa Darren ke rumah sakit. Aku akan tetap disini untuk mengurus tentang kecelakaan ini dan juga mobil Darren," ucap Kevin.


"Baiklah," jawab Faza dan Briyan bersamaan.


"Langsung ke rumah sakit jika telah selesai urusan disini," ujar Briyan.


"Hm." Kevin mengangguk.


Setelah itu, Briyan dan Faza membawa Darren ke rumah sakit dengan menggunakan mobil Briyan. Sementara Faza sendirian dan mengikuti dari belakang.


FLASHBACK OFF


Mendengar cerita dari Briyan membuat mereka semua khawatir akan kondisi Darren.


Hening...


Beberapa detik kemudian, Faza yang menyadari dan menatap sosok seseorang seketika bersuara.


"Tan-te Clarissa!" seru Faza.


Mendengar seruan dari Faza. Briyan dan Kevin langsung melihat kearah Clarissa. Mereka benar-benar terkejut ketika melihat Clarissa.


Mereka semua tersenyum melihat Briyan, Faza dan Kevin yang terkejut ketika melihat Clarissa.


"Ya, ini tante sayang!" Clarissa tersenyum menatap wajah tampan ketiga sahabat putra bungsunya.


"Tan-te masih hidup?" tanya Kevin dengan suara bergetarnya.


"Seperti yang kalian lihat. Tante masih hidup. Tante kembali," jawab Clarissa.


"Apa Darren sudah tahu?" tanya Briyan dengan berurai air mata.


"Belum, "jawab semua anggota keluarga Darren.


"Darren pasti senang banget kalau mengetahui ibunya masih hidup. Selama satu tahun ini. Darren sangat amat merindukan tante. Setiap detik, setiap menit, setiap hari Darren selalu menyebut nama tante. Hidupnya Darren berubah draris setelah kepergian tante." Kevin berbicara sambil mengingat hari-hari buruk yang dilalui oleh Darren selama di Amerika.


Mendengar perkataan dari Faza, Briyan dan Kevin membuat dada Clarissa sesak dan sakit. Dirinya tidak menyangka jika kepergiannya membuat hidup putra bungsunya seketika berubah.


"Tapi aku masih penasaran. Bagaimana tante bisa hidup kembali. Bukankah Dokter...," perkataan Faza terpotong.


"Kalau masalah itu. Bukan kalian saja yang penasaran. Kami semua disini juga penasaran. Clarissa belum menceritakan tentang kematiannya dan bagaimana dia bisa selamat." Robert menjawab pertanyaan dari Faza.


"Tante akan cerita disaat bersama Darren nanti. Disini Darren yang belum tahu."


Mendengar perkataan dari Clarissa membuat Briyan, Faza dan Kevin mengangguk setuju.


"Mumpung kalian sudah ada disini. Kalian menginap disini saja. Sekalian kalian hubungi Zidan, Chico, Barra dan Chello!" seru Erland.


"Baiklah, om!"

__ADS_1


__ADS_2