REVENGE

REVENGE
Kedatangan Clarissa


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Seluruh anggota keluarga telah selesai dari kegiatan mereka masing-masing. Dan sekarang mereka semua sudah berada di rumah Darren. Yah! Mereka semua masih berada di rumah Darren.


Setelah bersih-bersih. Mereka memutuskan untuk berkumpul di ruang tengah termasuk Afnan, Naura, Vito, Velly dan Nasya. Kelima sudah pulang dari Kampus sejam yang lalu. Sementara Darren masih berada di Kampus.


Darren dan kelima kakak-kakaknya itu beda jam kuliahnya. Kadang-kadang Darren yang pulang duluan. Kadang-kadang kelima kakak-kakaknya itu terlebih dahulu pulang.


"Oh iya! Bagaimana dengan rencana penggalian makam Clarissa? Kapan dilakukan?" tanya Robert.


"Besok akan dilakukan Pa. Aku sudah menyiapkan semuanya," sahut Felix.


"Baguslah. Setidaknya penggalian makam Clarissa jadi dilakukan. Sejujurnya Papa juga penasaran dengan apa yang diucapkan Darren kemarin. Darren bertemu dengan perempuan yang mirip Clarissa. Sementara Clarissa tidak memiliki saudari kembar. Dan di dunia ini tidak ada manusia yang benar-benar mirip jika bukan saudari kembar."


Mendengar perkataan dari Robert membuat mereka membenarkan apa yang diucapkannya. Mereka juga sama seperti Robert yang penasaran dengan perempuan yang ditolong oleh Darren.


Ketika mereka tengah memikirkan perkataan Darren sembari membayangkan wajah perempuan yang mirip dengan Clarissa, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan bunyi bell.


TING! TONG!


TING! TONG!


Mendengar bunyi bell. Seorang pelayan berlari membukakan pintu. Namun seketika langsung dihentikan oleh Afnan.


"Bibi. Biarkan saya saja bukakan pintunya!"


"Ach, baiklah tuan muda!"


Pelayan itu langsung kembali ke dapur setelah melihat Afnan yang berdiri dan pergi untuk membukakan pintu.


Afnan sudah di depan pintu. Tangannya kemudian menyentuh knop pintu, kemudian membukanya.


CKLEK!


Pintu utama pun telah terbuka. Afnan berdiri di depan pintu dan dapat Afnan lihat seorang wanita paru baya berdiri membelakanginya.


"Anda siapa? Mau mencari siapa?"


Mendengar suara putranya yang menyapanya. Wanita itu tersenyum bahagia.


"Afnan," batin wanita itu.


Wanita itu berlahan membalikkan badannya untuk menatap wajah tampan Afnan. Sementara Afnan masih terus memperhatikan wanita yang ada di hadapannya.


Wanita itu memakai topi, masker dan kaca mata hitam sehingga Afnan tidak bisa melihat wajahnya.


"Anda mau mencari siapa? Jika anda ingin mencari adik saya. Adik saya belum pulang," ucap Afnan.


"Sayang," ucap wanita itu.


DEG!


Afnan seketika terkejut ketika mendengar suara dari wanita itu. Afnan sangat hafal suara dari wanita itu. Suara yang sangat dirindukan Afnan selama satu tahun lebih ini.


Ya! Suara wanita itu adalah suara ibunya. Wanita yang begitu disayangi dan dihormatinya didalam hidupnya selain kedua kakak perempuannya.


"Mama," lirih Afnan. Seketika air mata Afnan mengalir begitu saja membasahi wajah tampannya.


Melihat Afnan yang sudah menangis membuat wanita itu menjadi tidak tega. Dan akhirnya wanita itu pun membuka topi, kaca mata dan maskernya. Dan terukir senyuman manis di bibir wanita itu.


DEG!


Afnan kembali terkejut ketika melihat wanita yang wajahnya mirip ibunya. Matanya menatap wanita itu tanpa berkedip sedikit pun. Dan air matanya kembali lolos dan membasashi wajah tampannya.


"Ma-mama," ucap Afnan dengan terbata.


"Ini Mama, sayang! Apa kamu nggak mau meluk Mama? Apa kamu tidak merindukan Mama, hum?"


Seketika air mata Afnan kembali lolos membasahi wajah tampannya. Afnan menangis ketika mendengar suara wanita yang berdiri di hadapannya menyebut dirinya Mama.

__ADS_1


Sementara wanita itu tersenyum ketika melihat reaksi dari putra keempatnya. Berlahan wanita itu menyentuh wajah Afnan dan mengusap lembut air matanya.


"Afnan Abraham. Apa kamu tidak merindukan Mama?"


Seketika tangis Afnan pecah ketika wanita itu menyebut namanya lengkap dengan marganya.


"Ma-mama... Hiks... Mama... Hiks... Hiks," isak tangis Afnan.


Clarissa menangis ketika mendengar isakan dari putranya. Clarissa kemudian langsung menarik tubuh putranya ke dalam pelukannya. Dan berakhir tangisan Afnan kembali pecah.


"Mama... Mama... Hiks... Mama... Hiks," isak Afnan.


"Mama merindukanmu sayang." Clarissa berucap sambil mengecup pucuk kepala putranya.


"Aku juga merindukan Mama."


Afnan melepaskan pelukannya, kemudian Afnan menatap wajah cantik ibunya. Dan detik kemudian, Afnan memberikan ciuman sayang di kedua pipi dan kening ibunya.


Setelah itu, Afnan membawa masuk ibunya ke dalam rumah. Begitu juga dengan seorang yang ikut bersama Clarissa. Orang itu adalah Dokter yang merawat Clarissa selama satu tahun ini.


"Mama tunggu disini. Aku akan bawa mereka kesini untuk menemui Mama. Aku yakin mereka juga bakal terkejut dan bahagia melihat Mama," ucap Afnan.


Clarissa tersenyum. "Baiklah sayang. Jangan terlalu lama. Mama sudah terlalu lama merindukan mereka semua."


"Baik, Ma!"


Setelah itu, Afnan pun kembali ke ruang tengah. Afnan tidak sabar melihat reaksi dari ketiga kakaknya dan juga anggota keluarganya ketika melihat ibunya kembali.


Para anggota keluarga yang melihat Afnan seketika berubah panik. Mereka melihat Afnan yang habis menangis.


Saskia, Nuria dan Marco langsung berdiri dan menghampiri adiknya itu.


"Afnan. Kamu kenapa sayang? Kenapa kamu nangis?" tanya Saskia.


"Afnan. Katakan pada kakak. Ada apa?" tanya Nuria.


Seketika Afnan kembali menangis. Melihat Afnan yang menangis membuat mereka semua menatap khawatir Afnan.


Clara berdiri dari duduknya dan diikuti oleh semuanya. Baik Clara maupun anggota keluarga lainnya benar-benar khawatir akan Afnan.


"Afnan. Tante mohon sayang. Jawab pertanyaan ketiga kakakmu. Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Clara.


Tiba-tiba Afnan mengangkat tangan kanannya, lalu mengarahkan tangannya kearah ruang tamu. Dan jangan lupakan air matanya masih menetes membasahi wajah tampannya.


Melihat arah tunjuk Afnan yang mengarah ke ruang tamu membuat mereka makin khawatir.


Saskia, Nuria dan Marco langsung melangkahkan kakinya buru-buru ke ruang tamu. Dan diikuti oleh anggota keluarga lainnya. Mereka semua melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.


Mereka semua sudah berada di ruang tamu. Dan mereka semua terkejut dan juga syok ketika melihat wanita yang mirip dengan Clarissa tengah duduk di salah satu kursi yang ada di ruang tamu. Wanita itu langsung berdiri ketika semua orang menatapnya.


"Ma-mama," lirih Saskia, Nuria dan Marco.


"Mama," ucap Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya.


"Clarissa," lirih Robert, Erland, Steffany, Ronald dan Safina.


"Kak Clarissa," lirih Clara, Steven, Rafael dan Julian.


Mereka mengucapkan nama Clarissa secara bersamaan dengan suara bergetar.


"Tante Clarissa," ucap para keponakannya.


Saskia berlahan melangkahkan kakinya menghampiri Clarissa dan diikuti oleh Nuria dan Marco.


"Mama... Hiks! Ini... Ini benaran Mama. Aku tidak bermimpi kan? Ini Mama. Perempuan yang sudah melahirkanku... Hiks," sahut Saskia disela isakannya.


Clarissa tersenyum sembari tangannya mengusap lembut air mata putri sulungnya.

__ADS_1


"Ini benaran Mama sayang. Mama masih hidup." Clarissa mengecup kening putri sulungnya.


"Mama... Hiks," isak Nuria dan Marco.


"Nuria, Marco. Mama rindu kalian." Clarissa membelai wajah Marco dan Nuria bersamaan.


"Mamaaa!" teriak Saskia, Nuria dan Marco kencang.


GREP!


Saskia, Nuria dan Marco langsung memeluk tubuh ibunya. Tangisan mereka pun langsung pecah di pelukan ibunya.


"Mama... Hiks... Mama."


Bukan hanya Saskia, Nuria dan Marco saja yang menangis. Seluruh anggota keluarga juga ikut menangis melihat momen dimana pertemuan ibu dan anak yang saling melepaskan rasa rindu selama ini.


Dan siapa sangka jika orang yang begitu sangat mereka sayangi dan selama ini dinyatakan telah meninggal dunia. Bahkan telah dimakamkan ternyata masih hidup. Dan sekarang berdiri di hadapan mereka semua.


Setelah puas saling berpelukan. Saskia, Nuria dan Marco melepaskan pelukannya. Ketiganya menatap wajah cantik ibunya. Secara bergantian, mereka memberikan ciuman di kedua pipi dan kening ibunya. Begitu juga dengan Clarissa. Clarissa memberikan beberapa ciuman di seluruh wajah anak-anaknya secara bergantian.


"Clarissa," lirih Robert.


Clarissa melihat kearah ayahnya. Dapat Clarissa lihat bahwa ayahnya menangis. Clarissa berlahan melangkahkan kakinya menghampiri ayahnya itu.


"Papa," lirih Clarissa dan langsung memeluk tubuh ayahnya itu.


"Clarissa putriku... Hiks," isak Robert.


"Hiks... Papa." Clarissa juga menangis ketika memeluk tubuh ayahnya.


"Clarissa/Kak Clarissa," panggil Erland, Ronald dan Clara.


Clarissa melepaskan pelukannya dari ayahnya dan langsung menolehkan wajahnya melihat kearah kedua kakak laki-lakinya dan adik perempuannya.


"Kak Erland, kak Ronald, Clara!"


Ketiganya merentangkan tangan. Clarissa yang paham langsung berlari kearah ketiga saudaranya itu. Dan berakhir keempat Smith bersaudara berpelukan.


"Kakak, Clara!"


"Kami merindukanmu Clarissa/kak Clarissa. Selamat datang kembali di keluarga Smith!" seru Erland, Ronald dan Clara bersamaan.


"Clarissa. Apa kau tidak merindukan suamimu ini?" Felix sudah tidak bisa lagi menahan kesedihan dan kerinduannya terhadap Clarissa.


Clarissa yang mendengar pertanyaan dari Felix langsung melepaskan pelukannya. Clarissa melihat kearah Felix, suaminya. Seketika Clarissa tersenyum menatap wajah suaminya. Suaminya masih terlihat tampan.


"Felix," lirih Clarissa.


Felix membuka kedua tangannya dengan lebar. Melihat itu, Clarissa langsung menghambur ke dalam pelukan Felix. Dan seketika terdengar isak tangis keduanya.


"Clarissa, aku merindukanmu. Sangat!"


"Aku juga merindukanmu, Felix!"


"Mama," ucap Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya bersamaan.


Clarissa melepaskan pelukannya dan melihat kearah kelima anak-anak tirinya. Clarissa sangat menyayangi kelimanya.


Clarissa merentangkan kedua tangannya. Tanpa membuang kesempatan. Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya langsung berlari untuk memeluk tubuh ibu mereka. Walau bukan ibu kandung. Tapi mereka begitu sangat menyayangi Clarissa.


Setelah acara peluk-pelukan yang dilakukan oleh ayah, kakak, adik, anak, keponakan, adi ipar, kakak ipar kepada Clarissa. Mereka pun memutuskan untuk berpindah ke ruang tengah.


Di ruang tengah itu mereka kembali melepaskan rasa rindu mereka terhadap Clarissa. Begitu juga dengan Clarissa.


Clarissa juga menceritakan tentang wanita yang ikut bersamanya. Clarissa memberitahu anggota keluarganya kalau wanita itu adalah seorang Dokter.


Clarissa juga menjelaskan bahwa Dokter itu yang telah merawatnya selama satu tahun ini.

__ADS_1


__ADS_2