REVENGE

REVENGE
Kebersamaan


__ADS_3

Darren sudah berada di Perusahaan DRN'Smith. Ketika Darren tiba di Perusahaannya, Darren langsung disambut oleh para karyawan dan asistennya.


Kini Darren tengah sibuk dengan beberapa berkas yang menumpuk di atas meja. Ada sekitar 10 berkas warna warni yang tersusun.


"Huffftt!"


Darren hanya bisa menghembuskan nafasnya kasarnya ketika menatap berkas-berkas itu. Darren baru menyelesaikan lima berkas. Tersisa lima berkas lagi.


Ketika Darren tengah sibuk berkutat dengan berkas-berkasnya. Darren dikejutkan dengan suara ponselnya. Suara ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk.


Darren langsung mengambil ponselnya di saku celananya. Ketika ponselnya sudah berada di tangannya. Darren melihat nama salah satu sahabatnya yaitu Chello.


Tanpa pikir panjang lagi. Darren pun menjawab panggilan dari sahabatnya itu.


"Hallo, Chello."


"Hallo, Ren! Kau ada dimana? Apa kau tidak masuk kuliah hari ini?"


"Sepertinya tidak Chello. Aku sekarang ada Perusahaan DRN'Smith. Sibuk banget hari ini. Nanti pukul 3 sore aku akan mengadakan pergantian nama Perusahaan yang berhasil aku rebut itu."


Chello yang mendengar perkataan dari Darren menjadi tidak tega.


"Apa perlu bantuanku?"


"Apa tidak merepotkan? Bukankah kau juga seorang pemilik 4 Perusahaan. Kau kan sibuk juga."


Chello tersenyum kala mendengar perkataan dari Darren.


"Tak masalah. Kalau perlu aku akan ajak pasukan ke Perusahaanmu."


Darren tersenyum ketika mendengar ucapan dari Chello. Darren mengerti maksud dari kata 'pasukan' yang diucapkan oleh Chello.


"Eemm. Boleh!"


"Baiklah. Aku dan yang lainnya akan ke Perusahaan."


"Eh, tunggu dulu."


"Ada apa, Ren?"


"Kau dan yang lainnya ada dimana sekarang?"


"Aku sedang bermalas-malasan di rumah. Nggak tahu kalau Zidan, Chico dan Barra.


Ketika Darren sedang asyik berbicara dengan Chello, tiba-tiba terdengar teriakan seorang perempuan dari seberang.


"Chello, kamu udah bangun sayang!"


"Sudah, Mam!"


Darren yang mendengar suara dari ibunya Chello seketika raut wajahnya berubah sedih. Tiba-tiba Darren merindukan ibunya.


"Mami masuk ya!"


"Ya, Mi! Masuk aja!"


Darren masih setia mendengar percakapan Chello dengan ibunya.


"Kamu sedang berbicara dengan siapa? Asyik banget."


"Sama Darren."


"Darren! Bagaimana kabar Darren? Sudah lama Darren tidak main kesini?"


"Mami tanya aja sendiri sama orangnya."

__ADS_1


Chello langsung memberikan ponselnya kepada ibunya. Dan dengan senang hati ibunya Chello menerima ponsel dari putra bungsunya itu dan langsung bicara dengan Darren.


"Hallo, Darren sayang! Bagaimana kabarmu, Nak?"


"Tante Helena. Kabar baik Tante. Tante sendiri bagaimana kabarnya?"


"Tante baik sayang. Kenapa kamu gak pernah lagi main kesini. Bahkan menginap pun gak pernah lagi. Begitu juga Chico, Zidan dan Barra. Apa kalian sudah gak sayang sama tante lagi ya."


Keluarga Smith, keluarga dari Darren. Keluarga Radmilo, keluarga dari Chello. Keluarga Sheehan, keluarga Zidan. Keluarga Emilio, keluarga Chico. Keluarga Mourella, keluarga Barra. Begitu juga dengan Keluarga Oscar, keluarga Teodorico dan keluarga Jarvas.


Hubungan ketujuh keluarga itu sangat dekat. Para orang tua begitu menyayangi anak-anaknya dan juga menyayangi sahabat-sahabat dari anak-anak mereka.


Bagaimana kasih sayang dan perhatian mereka terhadap anak-anaknya seperti itulah kasih sayang dan perhatian mereka terhadap sahabat dari anak-anaknya.


Bukan itu saja. Pihak keluarga juga sudah sangat tahu dan sangat memahami pekerjaan dan sepak terjang dari anak-anaknya dan sahabat anak-anaknya. Mereka sebagai orang tua dan juga sebagai kakak akan selalu mendukung dan memberikan support kepada anak-anaknya/adik-adiknya dan juga para sahabatnya dari anak-anaknya/adik-adiknya.


"Maafkan aku tante karena jarang main ke rumah tante. Tapi aku janji sama tante. Jika ada waktu luang. Aku akan nginap di rumah tante bersama dengan yang lain."


Mendengar jawaban dari Darren membuat Helena tersenyum bahagia.


"Benarkah? Tante akan tunggu kedatangan kamu, Zidan, Chico dan Barra. Awas kalau sampai gak datang. Tante akan ngambek bertahun-tahun sama kamu dan antek-antek kamu."


"Mami," kesal Chello yang mendengar ucapan dan ancaman dari ibunya.


"Kamu diam saja. Jangan ikut campur. Kamu bukan anak Mami untuk saat ini."


Mendengar perkataan dari ibunya membuat Chello membelalakkan matanya. Sementara Darren tersenyum mendengar perkataan dari ibunya Chello.


"Iya, tante! Aku usahain."


"Oh iya. Bagaimana kabar ketiga kacung kamu yang saat ini berada di Amerika, hum?" tanya Helena.


Mendengar pertanyaan yang begitu kejam dari Helena membuat Chello hanya menepuk jidatnya. Sementara Darren seketika tersenyum.


"Yeeeyy! Suka-suka Mami dong. Kenapa kamu yang sewot," jawab Helena dengan menatap putranya dengan senyuman evilnya.


"Iya, iya! Suka-suka Mami aja deh," jawab Chello pasrah.


"Nah, gitu dong. Itu baru putranya Mami," balas Helena.


Sementara Darren sedari tadi senyam senyum mendengar perdebatan Chello dan ibunya.


"Ya, sudah kalau begitu! Kamu yang sehat ya. Jangan terlalu memaksakan diri untuk semua tugas-tugas kamu. Baik di Kantor maupun di Kampus. Tante sering mendengar cerita dari Chello."


"Iya, tante! Terima kasih atas perhatian tante padaku."


"Sama-sama sayang. Kamu dan yang lainnya udah tante anggap sebagai putra-putra tante sendiri. Jadi kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk mengadu sama tante."


"Pasti tante. Terima kasih tante."


"Iya, sayang! Ya, sudah kalau begitu! Ini tante kembaliin ponselnya sama Chello. Bicaralah sama anak curut ini."


Setelah itu, Helena mengembalikan ponsel tersebut kepada putra bungsunya sembari tersenyum puas karena berhasil membuat putra bungsunya kesal.


Sementara Chello menatap ibunya dengan mempoutkan bibirnya kesal atas perkataan ibunya.


"Hallo, Ren!"


"Ya, Chello!"


"Kamu gak usah dengerin Mami yang memintamu menginap di rumahku. Nggak usah dipaksain jika kamu nggak bisa."


"Udah nggak apa-apa Chello. Ibu kamu ibu aku juga. Aku akan usahakan untuk nginap di rumah kamu bersama dengan Zidan, Chico dan Barra."


"Terima kasih, Ren!"

__ADS_1


"Sama-sama."


"Ya, sudah! Aku tutup teleponnya. Aku akan siap-siap. Setelah ini aku akan menghubungi Zidan, Chico dan Barra.


"Eemm. Baiklah!"


Baik Chello maupun Darren sama-sama mematikan panggilannya.


Seketika terukir senyuman manis di bibir Darren setelah berbicara dengan Chello dan ibunya.


Setelah itu, Darren kembali berkutat dengan berkas-berkasnya di atas meja.


***


Di sebuah hotel mewah dan juga besar terlihat semua para kakak-kakaknya Darren tengah mempersiapkan semua yang dibutuhkan untuk acara pergantian nama Perusahaan milik Darren.


Para kakak-kakaknya tampak sibuk mempersiapkan semuanya. Mereka semua ingin memberikan yang terbaik untuk adik kesayangan mereka. Mereka semua tidak ingin membuat adiknya kecewa.


Mereka membagi kelompok dalam menyiapkan untuk acara pergantian nama Perusahaan milik sang adik. Ada yang bertugas mengecek tamu undangan, ada yang bertugas mengecek menu makanan dan minuman, ada yang bertugas mengecek keamanan ketika acara berlangsung dan terakhir yang mengecek proposal acara.


Setelah memakan waktu sekitar 3 jam. Akhirnya pekerjaan mereka pun selesai. Semuanya tampak sempurna. Dan mereka sangat yakin jika kesayangan mereka akan senang melihat hasil kerja mereka semua.


"Akhirnya kelar juga!" seru Tamara.


"Iya, nih! Kelar juga kerjaan kita," sela Nasya.


"Aku gak sabar lihat ekspresi Darren ketika melihat ini semua!" seru Naura.


"Sama. Kami juga," sahut Velly, Nasya dan Merryn bersamaan.


Mereka semua secara kompak membayangkan ekspresi wajah Darren ketika melihat hasil kerja mereka semua.


"Pasti wajah Darren akan berubah 100% seperti anak kecil yang berusia 4 tahun," ucap Cavitta.


"Wajahnya Darren pasti akan bertambah imut dan menggemaskan," ucap Lory.


"Ketika merajuk saja. Wajahnya sudah super menggemaskan. Apalagi ketika sedang bahagia," ujar Michel.


"Darren itu tampan, cantik, manis, imut dan menggemaskan lagi. Perpaduan! Tambah lagi kulitnya yang sangat putih bersih. Aku aja yang cewek kalah putihnya dari Darren. Padahal Darren itu cowok." Merryn berbicara sambil membandingkan warna kulitnya dengan warna kulit Darren.


Mendengar perkataan dari Merryn. Mereka semua melihat kearah Merryn. Mereka semua tersenyum ketika melihat wajah lucu Merryn.


"Masih mending kulit kamu. Ini coba lihat kulit kakak. Lebih hitam dibandingkan kamu," ucap Dara.


"Ih, Kak Dara! Kakak ngejek aku ya. Jelas-jelas kulit kakak lebih putih dan bersih dari aku," Merryn berbicara dengan mempoutkan bibirnya.


Mendengar pembicaraan antar Dara dan Merryn yang membahas warna kulit membuat mereka semua hanya geleng-geleng kepala. Di dalam hati mereka berkata 'di sini kan sedang membahas Darren kenapa malah membahas warna kulit?'.


"Hei, kalian! Kita disini lagi membahas Darren. Kenapa kalian berdua justru membahas warna kulit sih?" tanya Qenan sebagai saudara tertua di keluarga Smith.


"Iya, nih! Kalian aneh," sahut Garvin.


"Ngapain juga warna kulit. Syukurin aja warna kulit kita masing-masing. Apapun itu. Yang terpenting kita semua dalam keadaan sehat," sela Theo.


"Nah, benar tu kata Kak Theo! Syukuri aja warna kulit kita masing-masing. Gak usah banding-bandingkan dengan warna kulit saudara kita yang lainnya." Vito berbicara sok bijak.


"Benar tuh," jawab mereka kompak.


"Tapi benar juga. Warna kulitnya Merryn dan warna kulitnya kak Dara paling jelek. Hahahaha." Vito berucap begitu kejam kepada dua saudara sepupunya disertai tawa khasnya.


Mendengar perkataan dari Vito membuat Dara dan Merryn menatap tajam Vito.


"Vito." Dara dan Merryn menggeram marah.


Sementara yang lainnya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat ketiganya.

__ADS_1


__ADS_2