
Darren dan keempat sahabatnya berada di cafe Cavillia. Setelah selesai urusan mereka di Perusahaan. Darren mengajak keempat sahabatnya itu untuk makan di sebuah cafe yang mewah. Dan dirinya yang akan membayarnya.
Darren memesan beberapa menu makanan dan beberapa minuman segar. Baik yang hangat maupun yang dingin.
Setelah menunggu beberapa menit. Pelayan pun datang membawa pesanan yang sudah dipesan.
"Silagkan, tuan!"
"Terima kasih," jawab Darren, Zidan, Chico, Barra dan Chello bersamaan.
Setelah itu, mereka pun pun memulai makan mereka.
"Ren," panggil Jaehyun.
"Hm." Darren menjawab sembari memasukan makanan ke dalam mulutnya.
"Bagaimana untuk persiapan nanti pukul 3 sore? Apa udah beres?" tanya Chico.
"Sudah kayaknya," jawab Darren.
"Kok gitu?" tanya Chico.
"Tadi pas aku pergi. Aku sudah bicarakan masalah itu kepada kakak-kakakku. Dan aku minta bantuan mereka untuk menyiapkan semuanya."
"Oh gitu! Semoga semuanya sudah siap!" seru Chello.
"Kalian habis ini mau kemana?" tanya Darren.
"Balik," jawab Zidan, Chico, Barra dan Chello bersamaan sembari fokus dengan makanan dan minuman masing-masing.
Mendengar jawaban kompak dari keempat sahabatnya membuat Darren mendengus kesal.
***
Darren saat ini dalam perjalanan untuk menuju lokasi acara yaitu The KIRKETON Hotel. Sementara keempat sahabatnya langsung pulang ke rumah masing-masing.
Darren, Zidan, Chico dan Barra sudah membuat rencana jika malam ini mereka akan menginap di rumah Chello.
Darren mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ketika Darren tengah fokus mengendarai mobilnya. Matanya tak sengaja melihat seorang ibu yang diganggu oleh beberapa preman.
Darren yang melihat hal itu tak tinggal diam langsung menghentikan kendaraannya. Setelah itu, Darren langsung keluar untuk menolong ibu itu.
"Siapa kalian? Lebih baik kalian pergi dari sini. Jangan mengganggu saya. Jika kalian perlu uang. Lebih baik kalian bekerja." ibu itu berucap.
"Tidak usah banyak bicara!" bentak salah satu preman itu dan tangannya melayang ke udara hendak memukul ibu-ibu tersebut.
Ketika tangan preman itu sedikit lagi mengenai wanita tersebut. Tangannya tiba-tiba ditahan oleh seseorang dari belakang. Orang itu adalah Darren. Sementara ibu tersebut sudah ketakutan dengan menutup wajahnya.
Preman yang tangannya dipegang oleh Darren langsung membalikkan badannya. Begitu juga dengan preman lainnya. Ada sekitar tujuh preman. Semuanya menatap tajam kearah Darren.
"Siapa kau!" bentak preman yang tangannya dipegang oleh Darren.
"Kalian tidak perlu tahu siapa aku. Hanya saja aku paling tidak suka jika adalah laki-laki yang mengganggu perempuan. Apalagi perempuan itu seorang ibu. Apa kalian tidak malu memalak seorang ibu." Darren berucap dengan menatap tak suka ketujuh preman-preman itu.
__ADS_1
"Alah. Jangan sok jadi pahlawan kesiangan lo. Lebih baik kau pergi dari sini. Jangan ganggu pekerjaan kami!" bentak preman yang lainnya.
"Aku akan pergi jika kalian sudah pergi dari sini," jawab Darren.
"Brengsek! Berani juga nih bocah. Serang!"
Dan akhirnya terjadilah perkelahian antara Darren dan ketujuh preman-preman itu.
BAAGGHH! BUUGGHH!
DUUAAGGHH!
KREETT! KREETT!
DUUAAGGHH!
BRUUKK!
ketujuh preman-preman itu terkapar tak berdaya di tanah akibat pukulan, tendangan dan pelintiran di kedua tangan mereka masing-masing sehingga membuat tangan mereka terkilir.
Melihat Darren yang berhasil melumpuhkan tujuh preman-preman yang badan yang lumayan besar membuat orang-orang yang melihat menatap takjum dan kagum.
Para orang-orang disana salah satunya adalah sopir pribadinya berusaha untuk menolong ibu yang diganggu oleh ketujuh preman-preman itu. Tapi dua dari ketujuh preman-preman itu berhasil melukai salah satunya yang ada disana. Orang itu adalah sopir dari wanita itu.
Darren melangkahkan kakinya untuk mendekati wanita itu. Dirinya ingin memastikan keadaannya.
"Maaf tante. Apa tante baik-baik saja?"
"Paman tidak apa-apa?"
"Saya tidak apa-apa tuan," jawab pria itu.
Pria itu langsung mengalihkan perhatian melihat kearah majikannya.
"Nyonya. Jangan takut. Preman-preman itu sudah tidak akan menyakiti Nyonya lagi. Pemuda ini sudah menghajar ketujuh preman-preman itu."
Mendengar perkataan dari sopirnya. Seketika wanita itu berlahan menjauhkan tangannya dari wajahnya. Dan setelah itu, wanita itu melihat kearah Darren.
DEG!
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Kini seluruh anggota keluarga telah berkumpul di rumah Darren.
Bagaimana dengan acara yang akan diadakan oleh Darren di The KIRKETON Hotel. Acara tersebut gagal diadakan, karena sipemilik acara tak kunjung datang hingga waktu pukul 5 sore. Bahkan para kakak-kakaknya dan anggota keluarga lainnya secara bergantian menghubungi ponselnya, namun ponselnya tidak aktif sama sekali.
Marco menghubungi Zidan dan Chello untuk menanyakan keberadaan Darren. Namun keduanya tidak mengetahui dimana Darren. Zidan dan Chello mengatakan terakhir mereka habis makan di cafe setelah mengerjakan tugas di Perusahaan DRN'Smith. Begitu juga dengan Afnan.
Afnan menghubungi Chico dan Barra dan menanyakan keberadaan Darren. Namun hasilnya tetap sama. Chico dan Barra juga tidak tahu dimana Darren. Jawaban Chico dan Barra sama dengan jawaban Zidan dan Chello.
Kini anggota keluarga dalam puncak kekhawatiran yang teramat besar. Mereka saat ini benar-benar mengkhawatirkan Darren. Darren pergi sekitar pukul 8 pagi sampai sekarang. Dan mereka sama sekali tidak mengetahui keberadaan Darren.
"Papa. Bagaimana ini? Darren belum pulang. Bahkan kita berulang kali menghubungi ponselnya tapi ponselnya gak aktif." Nasya berucap dengan nada lirih dan wajah khawatirnya.
__ADS_1
"Darren, kamu dimana sayang?" batin Felix.
"Darren, kamu dimana? Kenapa belum pulang juga?" batin Saskia, Nuria, Marco dan Afnan.
"Darren sayang," batin anggota keluarga lainnya.
Ketika mereka semua tengah memikirkan Darren, tiba-tiba mereka mendengar suara mobil dari luar.
Mendengar itu, para kakaknya langsung berlari menuju pintu utama dan membukakan pintu.
Ketika pintu sudah dibuka. Mereka semua keluar dan berdiri di depan pintu dengan mata menatap kearah sebuah mobil yang telah terparkir di halaman rumah. Mereka tahu pemilik mobil itu.
Darren membuka pintu mobilnya. Dan langsung keluar dari dalam mobilnya. Setelah itu, Darren menutup kembali pintu mobilnya kembali.
Darren melangkahkan kakinya menuju pintu utama dan mengabaikan tatapan para kakaknya yang tengah menatapnya khawatir.
"Darren," panggil mereka bersamaan.
Darren tidak menghiraukan panggilan dari para kakak-kakaknya. Kakinya tetap melangkah memasuki rumahnya.
"Darren," panggil mereka bersamaan sembari mengikuti Darren dari belakang. Mereka semua benar-benar khawatir.
Darren telah sampai di ruang tengah. Kakinya terus melangkah menuju lantai dua dan mengabaikan panggilan dari anggota keluarganya seperti om, tante dan kakeknya.
Melihat Darren yang mengabaikan mereka semua membuat mereka khawatir.
"Ada apa dengan Darren?" batin para orang tua.
"Darren."
Marco berlari dan setelah itu langsung mencekal tangan adiknya ketika telah berada di belakang adiknya.
Marco berlahan menarik pelan tangan adiknya agar dirinya bisa menatap wajahnya.
Kini Marco bisa melihat dengan jelas wajah adiknya. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya. Sementara Darren sama sekali tidak menatap mereka semua dengan kata lain pikiran Darren saat ini tertuju pada sosok wanita yang telah di tolongnya.
"Darren," panggil Marco sembari mengguncang-guncang tubuh adiknya.
"Darren, kamu kenapa sayang? Ada apa? Katakan pada Kakak," ucap dan tanya Saskia.
"Darren. Ayolah sayang. Jangan diam saja," sela Nuria.
"Darren," lirih Velly dan Nasya. Mereka menangis melihat kondisi adiknya.
"Aku lelah. Aku mau istirahat." Darren langsung menarik kuat tangannya dari pegangan Marco. Setelah itu, Darren melangkahkan kakinya menuju lantai dua.
Namun baru beberapa langkah kakinya melangkah menuju anak tangga. Seketika tubuh Darren jatuh tak sadarkan diri.
"Darren!" teriak mereka semua ketika melihat Darren yang tiba-tiba jatuh dan tak sadarkan diri.
Qenan yang memang kebetulan terlebih dahulu berlari langsung menggendong tubuh Darren dan membawanya ke kamar yang ada di lantai dua.
Mereka semua pun ikut menuju kamarnya Darren. Mereka semua benar-benar khawatir akan kondisi Darren.
__ADS_1