REVENGE

REVENGE
Keusilan Darren


__ADS_3

Di kediaman keluarga Smith dimana seluruh anggota keluarga tengah berkumpul di ruang tengah. Mereka berkumpul untuk sekedar melepaskan rasa lelah dan juga mengobrol bersama anggota keluarga lainnya.


Semenjak kembalinya Clarissa. Semenjak itulah keluarga Smith merasakan kebahagiaannya. Bahkan kebahagiaan mereka bertambah berkali-kali lipat. Dan masalah pun sudah tidak pernah lagi menghampiri mereka. Begitu juga dengan keluarga mereka yang lainnya.


"Kangen Darren," ucap Tamara.


"Iya, nih! Kangen sama anak kelinci itu," celetuk Cavitta.


"Biasanya jam segini aku selalu dengar suara manjanya dia minta dibuatkan nasi goreng kesukaannya. Dan sekarang pakar nasi gorengnya sudah kembali. Jasa aku sudah nggak dibutuhkan lagi. Huuffftt!!"


Lory berbicara sembari mengingat ketika dirinya tinggal bersama adik manisnya itu. Selama tinggal bersama adiknya itu. Lory sama sekali tidak merasa keberatan untuk memenuhi semua keinginannya. Selama adiknya itu bahagia. Apapun akan Lory lakukan.


Anggota keluarga yang mendengar ucapan dari Lory tersenyum. Mereka semua tahu bagaimana besarnya rasa sayang Ory terhadap Darren. Bukan hanya Lory. Mereka semua juga sangat menyayangi Darren. Bahkan mereka semua begitu sangat menjaga dan melindungi Darren, walau Darren bisa melindungi dirinya sendiri.


Darren beda dengan mereka semua. Darren terlahir dalam kondisi lemah. Salah satunya adalah kesehatannya. Tubuhnya sangat sensitif dan gampang sekali jatuh sakit.


Bahkan ketika Darren dilahirkan Dokter menyatakan bahwa Darren telah meninggal. Dikarenakan rasa sayang yang begitu besar dan juga isak tangis dari Clarissa yang begitu kencang sehingga membuat Darren kembali bernafas dan mengeluarkan tangis yang begitu kencang.


"Oh iya! Bagaimana kalau kita semuanya pergi mengunjungi keluarga Austin!" usul Steffany istri dari Erland.


Mendengar usulan dari Steffany. Seketika terukir senyuman manis di bibir mereka masing-masing. Di dalam pikiran mereka masing-masing 'kenapa tidak kepikiran dari kemarin-kemarin'.


"Waaahh... Ide yang bagus itu tante! lagian aku sudah sangat merindukan anak kelinci itu!" seru Garvin.


"Iya. Apalagi aku. Semenjak kak Saskia, kak Nuria, kak Marco, Afnan dan Darren diangkut oleh om Felix untuk kembali ke keluarga Austin. Semenjak itulah kita jarang bertemu." Tamara berbicara sambil memanyun bibirnya.


"Iya. Rumah ini serasa sepi banget tanpa adanya kak Saskia, kak Nuria dan kak Marco. Kan mereka bertiga memang tinggal disini, kecuali Afnan dan Naura." Alfin ikut bersuara.


Mereka semua tersenyum mendengar keluhan dari Tamara dan Alfin. Sama halnya dengan keduanya. Mereka juga sama seperti Tamara dan Alfin.


"Walau kita jarang bertemu dengan kak Saskia, kak Nuria, kak Marco, Afnan dan Darren. Bukankah kita sering berkomunikasi dengan mereka!" seru Naura.


"Iya. Memang kita sering berkomunikasi dengan mereka terutama sama anak kelinci itu. Tapi kan tetap aja kangen. Gak bisa meluk dan nyium tuh anak kelinci," sahut Devano.


"Kamu enak ngomongnya. Kamu kan satu Kampus sama anak kelinci itu. Setiap hari ketemu terus," ucap Lory.


"Iya. Benar tuh," ucap Cavitta. membenarkan perkataan Lory.


Mendengar perkataan dan melihat wajah kesal Cavitta dan Lory membuat mereka semua tersenyum.

__ADS_1


Sementara Nuria memperlihatkan wajah bahagianya di hadapan Lory dan Cavitta. Naura sengaja menjahili dan memanas-manasi Lory dan Cavitta.


"Kalian tidak tahu aja. Selama di kampus. Anak kelinci itu berubah menjadi adik yang manis dan juga baik loh. Aku, Afnan dan sahabat-sahabat kami semua ditraktir makan. Hampir setiap hari kami ditraktir makan sama anak kelinci itu," sahut Naura.


Mendengar perkataan dari Naura membuat Cavitta dan Lory membelalakkan matanya. Bahkan para saudara-saudaranya yang lainnya juga ikut membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan Naura.


"Bahkan bukan di kampus aja. Darren ngajakin aku dan Afnan ke cafe dan makan enak disana." Naura berucap sembari menahan tawa dan membatin di dalam hatinya. "Maafkan kakak bawa-bawa nama kamu, Ren!"


"Apa Darren lagi yang bayarin?" tanya Cavitta, Lory dan Tamara.


"Ya, iyalah! Kan Darren yang ngajakin," jawab Naura.


"Wah. Gak bisa dibiarin nih. Masa hanya Afnan dan Naura saja ditraktir sama si anak kelinci itu. Sementara kita-kita tidak," ujar Qenan yang mulai terpancing akan perkataan Naura.


"Iya, benar tuh kak Qenan! Kita jangan mau ngalah. Masa Naura dan Afnan saja yang ditraktir. Masa kita nggak. Kita harus minta sama anak kelinci itu untuk traktir kita juga," sahut Theo.


"Hm! Benar tuh!" seru saudara-saudara yang lainnya.


Sementara para orang-orang tua dan sang kakek hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar pembicaraan cucu dan anak-anaknya.


"Fix! Nanti sekitar pukul 3 sore kita akan mengunjungi keluarga Austin. Sampai disana kita akan meminta anak kelinci itu buat traktir kita semua!" seru Willy.


"Setuju!" seru semua saudara-saudaranya.


Mereka terlihat bersemangat untuk meminta traktir dari kesayangan mereka. Sesekali kali minta traktir dari si bontot, tak masalahkan?


***


Clarissa dan Felix berada di ruang tengah. Keduanya mengobrol banyak hal. Baik Clarissa yang menceritakan selama dirawat oleh Dokter Fanya maupun Felix yang menceritakan selama ditinggal pergi oleh Clarissa. Bahkan Felix juga menceritakan tentang perlakuan buruknya dan kelima anak-anaknya terhadap Darren.


"Clarissa, aku benar-benar minta maaf atas sikap burukku selama ini terhadap putra bungsu kita."


"Felix. Jika aku boleh jujur. Aku memang sangat marah sama kamu. Tapi setelah apa yang sudah kamu dan anak-anak lakukan untuk mendapatkan maaf dari Darren itu sudah cukup membuatku memaafkan kesalahanmu dan anak-anak. Cukup satu kali kamu melakukan kesalahan itu. Jangan ulangi lagi. Baik itu sama Darren, anak-anak kita yang lain maupun kepada keluarga kita. Kepercayaan itu penting Felix. Sekali pun salah satu dari kita dinyatakan bersalah. Jangan sesekali mengatakan kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan apalagi sampai mengusir."


Clarissa berbicara lembut sembari menatap teduh suaminya. Dan tangannya mengusap-ngusap punggung tangan suaminya itu.


"Terima kasih sayang. Terima kasih. Aku berjanji padamu dan berjanji pada diriku sendiri. Aku akan akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk semua anak-anakku, terutama Darren. Aku sudah banyak belajar dari kesalahanku itu."


Felix berbicara sambil mengusap lembut pipi Clarissa. Dan setelah itu, Felix memberikan ciuman di pipi kiri dan juga di keningnya Clarissa.

__ADS_1


Tanpa disadari oleh Clarissa dan Felix. Semua anak-anaknya minus Darren tengah mengintip dan menguping pembicaraan kedua orang tuanya. Mereka semua tersenyum bahagia ketika melihat dan mendengar permintaan maaf ayahnya dan pemberian maaf dari ibunya.


Ketika sedang asyik mengintip dan menguping pembicaraan kedua orang tuanya. Darren yang kini sudah sampai di bawah dengan pakaian santainya tak sengaja melihat semua kakak-kakaknya berdiri berkumpul di sudut dinding. Dengan rasa penasarannya. Darren diam-diam berjalan secara berlahan menghampiri kakak-kakaknya itu.


Setelah berada di dekat kakak-kakaknya. Sedangkan kakak-kakaknya masih asyik dengan kegiatannya. Darren melihat kearah pandangan kakak-kakaknya. Dan dapat dilihat olehnya kedua orang tuanya sedang mengobrol. Bahkan kedua orang tuanya menyebut namanya.


Namun seketika terukir senyuman manis di bibir Darren. Setelah itu, tanpa berperiperasaan Darren melangkahkan kakinya menghampiri kedua orang tuanya yang ada di ruang tengah sembari berteriak kencang.


"Papa, Mama! Anak-anakmu yang lebih tua dariku sedari tadi mengintip dan menguping pembicaraan kalian berdua!"


Mendengar teriakan yang begitu kencang dari Darren membuat mereka menutup telinganya. Dan bukan itu saja. Para kakak-kakaknya menatap tak percaya kearah Darren yang mengadukan kepada kedua orang tuanya tentang apa yang dilakukan mereka.


Baik Saskia dan adik-adiknya maupun Raka dan adik-adiknya menatap horor adik bungsu mereka.


"Dasa adik laknat," umpat mereka semua.


Setelah itu, mereka semua memutuskan untuk bergabung dengan kedua orang tuanya di ruang tengah. Sementara Darren sudah berpelukan manja dengan ibunya.


"Mama," panggil Velly.


Clarissa langsung melihat kearah putrinya Velly. Dan jangan lupa senyuman manisnya.


"Ada apa sayang?" tanya Clarissa.


"Mama pasti sudah tahukan dari Papa," ucap Velly.


Clarissa tersenyum. "Iya, sayang! Mama sudah tahu."


"Maafkan Velly, Ma!"


Disaat Clarissa ingin menjawab. Darren sudah terlebih dahulu bersuara.


"Jangan mau Ma. Palingan kak Velly itu pura-pura minta maaf. Begitu juga dengan kak Raka, kak Satya, kak Vito dan kak Nasya. Marahin aja mereka. Mereka udah tega nyakitin anak Mama yang tampan ini."


Mendengar perkataan dari Darren membuat Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya melotot. Mereka tidak menyangka jika Darren berbicara seperti itu sembari membanggakan ketampanannya.


"Dasar adik laknat," ucap Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya bersamaan.


Sementara Felix, Clarissa dan keempat kakak-kakaknya yaitu Saskia, Nuria, Marco dan Afnan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2