
Darren berada di markas BLACK WOLF bersama keempat sahabatnya. Zidan, Chico, Barra dan Chello sudah berhasil mendapatkan identitas dari keluarga Jecolyn dan keluarga Cassandra. Dua keluarga itu adalah keluarga dari Andara dan Arnold Yoseph.
Zidan, Chico, Barra dan Chello juga sudah mendapatkan kelemahan dari kedua keluarga tersebut. Kelemahan itulah yang akan digunakan Darren dan keempat sahabatnya untuk menghancurkan dua keluarga tersebut sehingga seorang Arnold Yoseph keluar dari persembunyiannya.
Zidan Chico, Barra dan Chello juga mengetahui jumlah kelompok mafia SINALOA. Jumlah kelompok mafia itu sekitar 8000 mafioso termasuk para wakil dan para tangan kanan.
Darren dan keempat sahabatnya, para tangan kanannya yaitu Vicky, Alex, Satria, Justin, Maxi dan Reno berada di Aula. Mereka sedang merencanakan untuk menyerang markas mafia SINALOA dan menghancurkan keluarga Jecolyn dan keluarga Cassandra.
"Malam ini kita akan mulai permainan kita. Kita bagi 4 kelompok," ucap Darren.
"Kelompok pertama dipimpin oleh Zidan. Alex sebagai wakilnya. Kalian bawa sekitar 10.000 mafioso untuk menghancurkan kelompok mafia SINALOA."
"SIAP," jawab Zidan dan Alex.
"Kelompok kedua dipimpin oleh Barra. Dan Satria sebagai wakilnya. Kalian bawa sekitar 500 mafioso untuk menghancurkan keluarga dari Arnold Yoseph Jecolyn. Bunuh mereka semua. Kita tidak butuh sandera."
"SIAP," jawab Barra dan Satria.
"Kelompok ketiga dipimpin oleh Chico. Dan Justin sebagai wakilnya. Kalian bawa sekitar 500 mafioso untuk menghancurkan keluarga Cassandra. Sama seperti keluarga Jecolyn. Bunuh mereka semua keluarga Cassandra."
"SIAP," jawab Chico dan Justin.
"Dan untuk kelompok keempat dipimpin oleh Chello. Dan Maxi sebagai wakilnya. Kalian bawa sekitar 1000 mafioso. Tugas kalian adalah hancurkan para pendukung dari dua keluarga itu. Keluarga itu memiliki masing-masing dua kelompok pendukung. Kelompok pendukung keluarga itu adalah The Refour, Death Bed, Tiger Fang dan Demon Blood."
"SIAP," jawab Chello dan Maxi.
"Kalian persiapkan semuanya. Ingat! Jangan ada yang terluka. Berhati-hatilah ketika kalian bertarung. Jangan lengah. Kalian semua harus kembali dengan selamat."
"Pasti, Ren!" Zidan, Chico, Barra dan Chello menjawab bersamaan.
"Baik, King!" Alex, Satria, Justin dan Maxi menjawabnya bersamaan.
"Sementara aku, Vicky dan Reno akan bermain-main dengan Perusahaan AYJ CROP."
Setelah selesai membahas penyerangan yang akan dilakukan nanti malam. Darren pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Darren akan memberitahu rencananya kepada anggota keluarganya sekaligus meminta kelompok mafia dari kedua kakaknya yaitu Marco dan Afnan. Serta kelompok mafia para kakak-kakak sepupunya untuk membantu kelompok mafianya.
Di dalam perjalanan pulang ke rumah. Darren menghubungi semua anggota keluarganya baik keluarga Smith, keluarga Austin maupun keluarga Julian. Darren meminta mereka untuk datang ke rumahnya.
***
Semua anggota keluarganya sudah berada di rumah Darren. Baik itu keluarga Austin, keluarga Smith dan keluarga Julian. Mereka semua sudah berada di ruang tengah.
Saat ini mereka semua tampak bingung. Mereka semua tidak tahu alasan apa yang membuat Darren meminta mereka untuk datang ke rumahnya.
"Sebenarnya apa yang ingin Darren sampaikan pada kita?" tanya Merryn.
"Pasti ini ada hubungannya dengan kejadian di Kampus!" seru Afnan.
Mendengar perkataan dari Afnan. Mereka semua melihat kearah Afnan. Mereka menatap Afnan dengan tatapan selidik.
"Kejadian apa Afnan? Katakan pada Kakak." Saskia menatap wajah adiknya itu.
__ADS_1
"Pelaku yang menabrak Darren setahun yang lalu sudah tertangkap. Sekarang ada di markasku," jawab Afnan.
Mendengar jawaban dari Afnan membuat mereka terkejut dan juga bahagia.
"Bagaimana ceritanya?" tanya Marco.
"Namanya Sakti Fadlan, sepupunya dari Sakti. Dia kuliah juga di Kampus yang sama dengan kami. Tapi baru kali ini kami melihatnya. Selama kami kuliah, kami tidak pernah melihatnya. Dia menggantikan Arya memimpin kelompok Almoz." Vito berbicara sambil menatap wajah orang-orang yang ada di hadapannya.
"Sakti dan kelompok Almoz mencari masalah dengan Darren sehingga berakhir kami semua bertarung di Kantin melawan kelompok Almoz. Bahkan bajingan itu membawa sepuluh teman-temannya. Kami semua menang dan tersisa Darren dan Sakti. Keduanya sama-sama kuat dan sama-sama kena pukulan dan tendangan. Ketika bajingan itu ingin menyerang Darren untuk yang terakhir kalinya karena bajingan itu berpikir kalau Darren sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkannya. Bajingan itu mengatakan sesuatu yang membuat Darren mengingat akan kecelakaan itu." Naura juga ikut menjelaskan kejadian di Kampus.
"Apa sayang? Apa yang dikatakan bajingan itu ketika hendak menyerang Darren?" tanya Steven kepada putrinya.
"Pembunuh sepertimu tidak seharusnya ada di dunia ini! Itulah yang diucapkan bajingan itu kepada Darren, Pa!" jawab Naura.
"Brengsek! Berani sekali bajingan itu berbicara seperti itu kepada keponakanku!" Erland benar-benar marah jika ada yang menghina keponakannya.
"Darren bilang kalau Darren sempat dengar ucapan itu sebelum kesadaran mengambil alih tubuhnya ketika kecelakaan itu," sahut Afnan.
Ketika mereka sedang membahas masalah Darren, tiba-tiba mereka mendengar bunyi bell rumah.
"Itu pasti Darren!" seru Alfin.
Terlihat seorang pelayan yang berlari menuju ruang tamu untuk membukakan pintu. Beberapa detik kemudian, pelayan itu kembali.
"Bi. Darren ya?" tanya Saskia.
"Iya, Non!"
"Sekarang Darren nya dimana, Bi?" tanya Nuria.
Mendengar perkataan dari pelayan itu membuat mereka semua khawatir. Marco Afnan sudah berlari menuju ruang tamu dan disusul oleh yang lainnya.
^^^
Kini mereka semua sudah berada di ruang tamu. Mereka semua melihat Darren yang saat ini sedang menyandarkan tubuhnya dengan mata terpejam.
"Mama, aku merindukanmu! Aku lelah. Aku benar-benar lelah. Aku ingin segera mengakhiri semuanya. Ma, doakan aku agar aku dan yang lainnya berhasil menghancurkan orang-orang yang telah menyakiti Mama, Tante Amanda dan Nenek."
Seketika air mata Darren jatuh membasahi wajah. Darren menangis. Saat ini Darren sangat merindukan ibunya dan gadisnya.
"Mama, Ataya. Boleh gak aku ikut kalian?"
Mereka semua terkejut ketika mendengar ucapan demi ucapan dari mulut Darren. Mereka tidak menyangka jika Darren akan mengucapkan kata itu. Hati mereka benar-benar sesak kala melihat Darren yang dalam keadaan rapuh. Seperti saat ini. Mereka semua menangis.
Saskia, Nuria, Marco dan Afnan ingin mendekati adiknya. Namun ditahan oleh Ronald. Kemudian keempat kakak adik ini melihat kearah Ronald. Sementara Ronald langsung menunjuk kearah Felix yang saat ini melangkah mendekati Darren.
Melihat Felix yang menghampiri Darren. Saskia, Nuria, Marco dan Afnan pun paham.
Felix sudah duduk di samping Darren. Tangannya pun berlahan membelai lembut rambut putranya dan kemudian Felix memberikan kecupan sayang di kening putranya itu.
Felix kemudian menarik pelan tubuh putranya itu dan membawanya ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Ini Papa sayang. Papa disini untuk kamu, Nak!" Felix seketika menangis disaat melihat kondisi putranya.
Mendengar suara dan merasakan pelukan hangat dari ayahnya seketika tangis Darren pun pecah. Darren meluapkan kesedihan, kekecewaan dan kerinduannya selama ini.
"Hiks... Hiks... Papa... Papa... Hiks," isak Darren.
Mendengar isak tangis Darren membuat mereka semua merasakan sesak di dada mereka masing-masing.
"Menangislah sayang. Menangislah. Keluarkan semua apa yang kamu rasakan selama ini. Setelah itu, Papa tidak mau melihat kamu menangis lagi. Kamu harus bahagia sayang." Felix makin mengeratkan pelukannya pada putranya. Dirinya benar-benar hancur ketika mendengar isakan dari putranya.
"Aku lelah, Papa! Aku benar-benar lelah. Aku ingin segera menyelesaikan semua masalah ini secepatnya. Bagaimana aku bisa bahagia disaat para pembunuh itu masih berkeliaran. Selama pembunuh Mama, Tante Amanda dan Nenek masih hidup. Selama itulah aku tidak akan pernah merasakan yang namanya kebahagiaan."
"Aku akan benar-benar bahagia jika para pembunuh itu mati."
"Kalau begitu kita selesaikan secepatnya. Jangan menundanya lagi," sahut Felix.
"Lalu bagaimana dengan om Rafael?" tanya Darren.
"Om Rafael akan menjadi urusan Papa. Kalau perlu Papa akan melawannya jika Om kamu itu masih keras kepala," jawab Felix.
Darren melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah ayahnya itu. Felix yang melihat wajah putranya tersenyum gemas. Bagaimana tidak gemas? Wajah putranya saat ini benar-benar menggemaskan bak anak kecil yang berusia 6 tahun. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka juga tersenyum ketika melihat wajah Darren yang saat ini.
"Benarkah Papa akan melawan adik kesayangan Papa itu? Aku justru gak percaya," ucap dan tanya Darren dengan ekspresi mengejeknya.
"Nantangin Papa, hum?"
"Bukan nantangin. Tapi aku tahu bagaimana wataknya Papa. Papa itu terlalu lembek jika berurusan dengan kedua adik-adiknya Papa itu. Dulu saja ketika tante Amanda masih hidup. Papa kalah terus sama Tante Amanda saat adu mulut. Dulu juga pernah ketika Om Rafael bolos sekolah. Papa bilang mau marahin Om Rafael. Tapi ketika Om Rafael udah di rumah. Papa malah gak berani marahin Om Rafael."
Mendengar perkataan dari Darren. Seketika Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya tertawa keras.
"Hahahahaha."
"Papa, sudahlah! Ngaku saja jika Papa memang gak akan bisa melawan atau pun memarahi Om Rafael." Raka berucap dengan kerasnya.
Felix menatap horor putra sulungnya itu. Raka yang mendapatkan tatapan maut dari ayahnya langsung membekab mulutnya sendiri.
"Ooppss!!"
Setelah itu, Felix kembali menatap wajah putra bungsunya. "Saat kejadian itu kamu masih belum ada di dunia ini. Siapa yang ngasih tahu kamu, hum?"
"Kenapa? Apa Papa akan memarahi orang itu? Jika iya, wah... Papa akan sangat berdosa sekali!"
"Memangnya Darren tahu dari siapa masalah itu?" tanya Satya.
"Nenek," jawab Darren.
Mendengar jawaban dari Darren membuat Felix diam. Namun tatapan matanya menatap wajah putranya itu.
Dan detik kemudian, Felix kembali memeluk putranya. "Papa bahagia melihat kamu seperti ini sayang. Inilah yang Papa inginkan."
"Aku menyayangi Papa."
__ADS_1
"Papa juga menyayangimu sayang. Sehatlah terus."
"Papa juga."