
Mendapatkan pelukan dari kakak perempuannya membuat Darren seketika menangis terisak.
"Hiks... Kakak Saskia," isak Darren.
"Ada apa? Ceritakan sama kakak."
"Om Harley."
Mendengar Darren yang menyebut nama salah satu ayah sahabatnya seketika membuat Saskia, Nuria, Marco dan Afnan berubah panik. Mereka berpikir kalau telah terjadi sesuatu.
"Kenapa dengan om Harley?" tanya Saskia yang makin mengeratkan pelukannya.
"Zidan bilang padaku bahwa perusahaan om Harley hangus terbakar. Sekarang perusahaan itu sudah nggak ada. Hanya tersisa abu dan puing-puing bangunan."
Deg..
Clarissa, Saskia, Nuria, Marco dan Afnan terkejut. Begitu juga dengan Felix, Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya. Walau mereka tidak kenal dekat dengan para anggota keluarga dari sahabat-sahabat Darren, namun hati mereka ikut merasakan kesedihan.
"Kak, temani aku kesana!"
"Baiklah. Kakak akan temani kamu."
***
"Tidak, perusahaanku! Kenapa jadi begini? Apa kesalahanku? Kenapa masalah selalu mendatangiku?" tanya Harley.
Harley menangis ketika matanya menatap kearah perusahaan yang dia bangun dari nol dan sudah berdiri selama puluhan tahun kini tersisa puing-puing bangunan.
"Sayang," lirih Ardila sembari memeluk tubuh bergetar suaminya.
Bagaimana dengan Faza dan ketiga kakak laki-lakinya? Sudah pasti saat ini Faza dan ketiga kakak laki-lakinya menatap dengan tatapan matanya memerah. Merah akan tangisan yang tertahan dan merah akan amarah dan dendam terhadap orang yang sudah membakar perusahaan ayahnya.
"Aku bersumpah akan membunuh orang yang sudah membakar perusahaan ayahku," batin Faza.
Zidan, Chico, Barra, Chello, Briyan dan Kevin menatap dengan berlinang air mata kearah Faza. Mereka secara bergantian memberikan ketenangan dan kesabaran kepada Faza, keempat kakak laki-lakinya dan kedua orang tuanya.
"Za," lirih Zidan, Chico, Barra, Chello, Briyan dan Kevin bersamaan.
__ADS_1
"Faza!"
Terdengar suara seseorang yang memanggil nama Faza sembari berjalan buru-buru menghampiri Faza dan yang lainnya.
Faza dan yang lainnya seketika langsung melihat keasal suara. Dan dapat mereka lihat Darren yang datang bersama ketiga kakaknya yaitu Saskia, Marco dan Afnan.
"Za."
Faza menatap wajah Darren dengan wajah basahnya. Hatinya saat ini benar-benar hancur melihat perusahaan ayahnya ludes tanpa sisa.
Grep..
Darren langsung memeluk tubuh Faza. Dapat Darren rasakan tubuh Faza yang bergetar.
"Kita akan cari tahu apa penyebab kebakaran tersebut. Jika kita sudah mendapatkan buktinya bahwa kebakaran tersebut disengaja, maka kita akan melakukan hal yang sama. Kita cari pelaku sampai dapat. Setelah itu kita akan menghancurkan perusahaannya dengan membakarnya."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Darren membuat Faza seketika menatap ke depan dengan matanya yang tajam. Seperti yang sudah diucapkannya di dalam hati bahwa dia akan membalas orang-orang yang sudah mengusik keluarganya, terutama perusahaan ayahnya.
Setelah puas memeluk tubuh Faza sembari memberikan kata penyemangat. Darren pun melepaskan pelukannya. Darren menatap wajah basah Faza. Begitu juga dengan Faza. Kedua saling memberikan tatapan.
Darren melihat kearah kedua orang tuanya Faza. Hatinya sakit ketika melihat keduanya menangis. Apalagi ayahnya Faza.
Sementara untuk ketiga kakak laki-lakinya Faza yaitu Kathel Oscar, Kevan Oscar dan Faclan Oscar sudah ditemani oleh Marco dan Afnan. Keduanya berusaha memberikan ketenangan terhadap ketiganya.
"Om, Tante!" Darren memanggil kedua orang tuanya Faza.
Mendengar suara panggilan dari salah satu sahabat putra bungsunya, Harley dan Ardila langsung melihat kearah Darren.
"Nak Darren... Hiks." seketika tangis Harley pecah ketika melihat wajah Darren.
Grep..
Harley langsung memeluk tubuh Darren dan menangis di pelukan tubuh sahabat putra bungsunya.
"Hilang semua yang om bangun selama ini. Hilang sudah Ren!"
Tes..
__ADS_1
Air mata Darren mengalir membasahi wajahnya ketika mendengar ucapan dari Harley.
"Perusahaan itu begitu banyak kenangannya, Ren!"
Darren mengeratkan pelukannya di tubuh Harley. Dirinya benar-benar sedih jika melihat Harley seperti ini. Darren sangat tahu bagaimana kerasnya Harley berjuang untuk memajukan perusahaan. Bahkan Darren tahu bahwa Harley adalah atasan yang baik, lembut, rendah hati, bijaksana dan suka membuat para karyawan dan karyawati yang dilanda kesusahan.
Darren berlahan melepaskan pelukan Harley. Setelah pelukan terlepas. Darren menatap wajah basah Harley. Kemudian tangannya menghapus air mata Harley.
"Dengarkan aku, om!. Aku bersumpah untuk mencari tahu apa penyebab perusahaan om terbakar. Jika aku sudah mendapatkan buktinya. Dan dari bukti itu menunjukkan bahwa kebakaran tersebut disengaja. Aku dan sahabat-sahabatku termasuk putra bungsu om akan membalas orang itu. Apa yang mereka lakukan terhadap perusahaan om. Itu juga yang akan aku, Faza, Zidan, Chico, Barra, Chello, Briyan dan Kevin lakukan."
"Itu benar, Pi! Aku dan ketujuh sahabat-sahabatku akan membalas orang-orang yang sudah mengusik Papi," ucap Faza yang kini berjalan mendekati kedua orang tuanya dan Darren. Diikuti oleh Zidan, Chico, Barra, Chello, Briyan dan Kevin.
"Om kehilangan perusahaan, orang itu juga harus kehilangan perusahaannya. Om kehilangan anggota keluarga, orang itu juga harus kehilangan anggota keluarga." Chello berucap dengan matanya menatap sedih Harley.
"Aku, Darren, Faza, Chico, Barra, Chello, Briyan dan Kevin juga akan mencari dimana keberadaan dua pengkhianat itu. Setelah kami berhasil mendapatkan keduanya, kami akan membawanya ke hadapan om!" Zidan berbicara sambil menatap wajah basah Harley.
"Om percayakan semuanya kepada kami. Om tidak perlu memikirkan apapun. Kami tidak ingin om jatuh sakit hanya karena memikirkan masalah ini. Jika om sakit bagaimana dengan tante Ardila, kak Kathel, kak Kevan, kak Faclan dan Faza. Mereka pasti sedih melihat om." Barra berbicara sembari tatapan matanya menatap satu persatu keluarga Faza.
Harley menangis ketika mendengar ucapan demi ucapan dari para sahabat-sahabat putra bungsunya. Dirinya benar-benar terharu akan perhatian dan kepedulian dari ketujuh sahabat-sahabat dari putra bungsunya itu.
Bukan hanya Harley yang merasa terharu dan kagum akan kepedulian dan perhatian yang diberikan oleh ketujuh sahabat-sahabat dari putra bungsunya. Ardila dan ketiga kakak laki-lakinya Faza juga merasakan hal yang sama seperti Harley. Mereka menangis haru ketika mendengar ucapan dan janji dari ketujuh sahabat-sahabat putra bungsunya/adik bungsunya.
"Terima kasih sayang," ucap Harley.
"Kita adalah keluarga om! Tidak ada kata terima kasih jika menyangkut keluarga," sahut Chico.
"Kami akan melakukan apa saja terhadap orang-orang yang mengusik keluarga kami," sahut Briyan.
Darren mengalihkan perhatiannya menatap kearah puing-puing bangunan perusahaan Harley. Begitu juga dengan Faza, Zidan, Chico, Barra, Chello, Briyan dan Kevin. Termasuk ketiga kakak laki-lakinya Faza.
Baik Darren, Faza, Zidan, Chico, Barra, Chello, Briyan dan Kevin mengepalkan kuat kedua tangannya di samping dengan tatapan penuh amarah dan dendam.
"Siapa pun kau. Tunggu saja pembalasan dariku. Apa yang telah kau perbuat. Itu juga yang akan kau rasakan," batin Darren.
"Tunggu pembalasanku," batin Faza dan ketiga kakak laki-lakinya.
"Tunggu kejutan dari kami," batin Zidan, Chico, Barra, Chello, Briyan dan Kevin.
__ADS_1