REVENGE

REVENGE
Keterkejutan Keluarga Parvez


__ADS_3

Afnan, Vito, Velly dan Nasya sedang berada di Kampus. Mereka pergi ke kampus menggunakan kendaraan masing-masing. Afnan dan Vito menggunakan motor sportnya. Sementara Velly dan Nasya menggunakan mobil kesayangan mereka.


Bagaimana dengan adik kesayangan mereka yaitu Darren. Darren sudah pergi sejak pukul 6 pagi. Darren pamit kepada kedua orang tuanya untuk ke kantor DRN'CORP terlebih dahulu. Dari sana barulah Darren akan ke kampus.


Saat ini Afnan dan yang lainya sedang duduk di bangku-bangku yang ada di lapangan. Mereka tengah membahas masalah Arinda.


"Apa rencana kamu sekarang Afnan?" tanya Vito.


"Hei, tunggu dulu! Kalian membicarakan apa?" tanya Radika.


"Kasih tahu dong," sela Devon.


"Masalah Arinda," jawab Afnan dan Vito bersamaan.


"Arinda!" seru mereka semua.


"Kenapa dengan gadis itu, Nan?" tanya Naura.


"Naura. Aku kan pernah bilang ke kamu dan ke saudara yang lainnya kalau tatapan mata Arinda mirip Ataya?" tanya Afnan.


"Iya. Terus?" ucap Naura.


"Kamu kan tahu aku orangnya bagaimana. Setiap bertemu dan bertatap muka dengan Arinda. Seakan-akan aku bertemu dan bertatap muka dengan Ataya. Apa yang ada di Ataya. Semuanya ada di Arinda. Jadi aku pun memutuskan untuk menyelidiki masalah ini." Afnan berbicara sambil menjelaskan semuanya kepada Naura.


"Terus udah dapet hasilnya?" tanya Naura.


"Sudah. Tangan kananku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan," jawab Afnan.


"Apa Afnan? Katakan," ucap Naura.


"Arinda adalah saudari kembarnya Ataya," jawab Afnan.


Mendengar ucapan dari Afnan membuat Naura terkejut. Begitu juga dengan yang lainnya, kecuali Vito, Velly dan Nasya.


"Yang benar? Kau tidak salahkan Afnan?" tanya Naura.


"Seperti itulah yang disampaikan oleh tangan kananku, Ra!"


"Kalau memang benar Arinda adalah saudari kembarnya Ataya. Kita harus kasih tahu keluarga Parvez. Mereka berhak tahu masalah ini," sahut Naura.


"Itu yang sedang kita bahas sekarang Naura," ucap Vito.


"Apa yang kamu pikirkan sekarang?" tanya Naura menatap wajah Afnan.


"Rencananya hari ini pulang dari kampus aku mau ke rumahnya Ataya. Dan aku juga akan menyuruh tangan kananku untuk membawa dua Dokter itu untuk menemui keluarga Parvez. Kedua Dokter itu harus menjelaskan secara jelas didepan kedua orang tuanya Ataya dan kedua kakaknya Ataya." Afnan menjawab pertanyaan dari Naura.


Mendengar perkataan dari Afnan. Mereka semua mengangguk setuju. Mereka ingin masalah tentang status Arinda selesai.


"Eh, tunggu dulu!" seru Nasya. Mereka semua melihat kearah Nasya.


"Ada apa, Sya?" tanya Vito


"Terus dengan Arinda nya, bagaimana? Bukannya dia juga harus tahu!" ucap dan tanya Nasya.


"Masalah itu nanti keluarga Parvez yang akan menyampaikannya langsung. Jika Arinda masih tidak percaya. Dua Dokter itu juga akan kembali menyampaikan yang sebenarnya kepada Arinda." Afnan menjawab pertanyaan dari Nasya.


"Eemmm... Bagus juga. Aku setuju," jawab Nasya.


"Jadi siapa yang akan ikut nanti?" tanya Afnan.


"Ada baiknya kalian saja yang pergi," sela Danar sembari melihat Afnan, Naura, Vito, Velly, dan Nasya.


"Baiklah," jawab Afnan, Naura, Vito, Velly dan Nasya bersamaan.


Ketika mereka tengah asyik membicarakan masalah Arinda. Tanpa mereka sadari bahwa ketujuh sahabat-sahabatnya Darren mendengar pembicaraan tersebut. Mereka terkejut jika Arinda adalah saudari kembarnya Ataya.


"Jadi Arinda saudari kembarnya Ataya," sahut Barra.


"Seperti itulah yang kita dengar apa yang dibicarakan oleh mereka," ucap Zidan.


"Aku benar-benar tidak menyangka jika Ataya memiliki saudari kembar," ujar Chello.


"Bahkan aku lebih tidak menyangka jika kedua Dokter itu tega melakukan hal itu kepada keluarga Parvez," sahut Chico.


"Ya, sudah! Lebih baik kita pergi dari sini. Sebentar lagi kelas kita dimulai!" seru Zidan.


Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan lapangan untuk menuju kelas.


***


Darren masih berada di Perusahaan DRN'CORP. Kini dirinya berada di ruang kerja.


Darren saat ini sedang mengecek berkas kerja samanya dengan Perusahaan LILAX COMPANY. Perusahaan terbesar dan terkenal setelah keluarga Alberto.


Kerja sama kali ini akan memberikan keuntungan sangat besar. Baik untuk Perusahaan Darren maupun untuk Perusahaan LILAX.

__ADS_1


Ketika Darren sedang fokus dengan berkas kerja samanya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Darren melihat ke samping terlihat nama 'Faza' di layar ponselnya. Tangannya langsung menggulir ke atas tombol hijau. Dan tak lupa juga Darren menekan loudspeaker. Seketika terdengar suara yang amat memekakan telinga.


"Woi, anak kelinci kurap! Ngapain aja lo di Perusahaan, hah?! Nggak ngampus lo."


Mendengar teriakan dan perkataan dari Faza membuat Darren mendengus kesal.


"Apa lo pengen gue balikin beneran ke Amerika, kurus sialan?!"


Mendengar jawaban dari Darren membuat Faza langsung kicep.


"Hahahahaha."


Terdengar suara yang sangat keras di seberang telepon.


"Hehehehe. Bercanda sobat."


"Bercanda lo garing. Ada apa? Kalau nggak penting-penting amat. Gue tutup nih."


"Oke... Oke! Lo nggak ngampus? Ini sudah pukul 11. Sebentar lagi materi kuliah pertama segera dimulai."


Mendengar perkataan dari Faza. Darren melihat jam yang ada di tangan kirinya. "Sudah pukul setengah sepuluh," batin Darren.


"Ach, iya! Aku akan ke Kampus sekarang."


"Baiklah. Hati-hati di jalan."


"Baiklah sayangku.. Cintaku.. Pujaan hatiku.. Kekasih hatiku."


Darren menjawab dengan suara yang dibuat semanja mungkin sehingga Faza yang mendengarnya menjadi kesal.


"Yak! Siluman kelinci setan!" teriak Faza.


"Hahahahaha."


Darren tertawa keras mendengar umpatan dan teriakan kekesalan dari Faza. Setelah itu, Darren pun mematikan panggilannya.


***


Ketujuh sahabat-sahabatnya Darren sudah berada di kelas. Mereka memutuskan untuk menunggu Darren di dalam kelas.


Setelah berbicara dengan Darren di telepon. Faza tampak masih sedikit kesal akan perkataan Darren.


"Kesambet setan apa tuh anak sampai ngomong gitu sama lo, Za?" tanya Briyan meledek.


"Mana kutahu. Tanyakan saja sama orangnya," jawab Faza sewot.


"Yak! Briyan, gue ini laki bukan cewek, sialan!"


Faza berdiri dari duduknya hendak mengejar Briyan. Melihat Faza berniat mengejarnya. Briyan pun dengan gesitnya sudah terlebih dahulu berlari.


BUGH!


"Aakkhhh!"


"Darren!" teriak Zidan, Chello, Briyan, Chico, Barra dan Kevin ketika melihat Darren yang kena timpuk oleh Faza.


Sementara Faza terdiam di tempat ketika mendengar teriakan dari kelima sahabat-sahabatnya. Bagaimana dengan Briyan? Briyan sudah tertawa dengan sangat keras.


"Hahahahahaha."


"Aku turut berduka cita atas nyawamu Faza!" seru Briyan.


Faza ingin melempar Briyan dengan menggunakan penghapus papan tulis. Namun sayangnya, lemparannya salah sasaran. Lemparannya tersebut mengenai tepat di kening Darren sehingga membuat Darren meringis.


"Fazaaaa!" teriak Darren dengan menatap tajam kearah Faza.


Sementara Faza seketika menelan air ludahnya kasar ketika mendengar teriakan dari Darren.


"Mampus. Habislah gue," batin Faza.


***


Seperti yang sudah disepakati oleh Afnan dan yang lainnya. Kini Afnan, Naura, Vito, Velly dan Nasya sudah berada di rumah keluarga Parvez.


Dan kebetulan ketika mereka datang ke rumah keluarga Parvez. Kedua orang tuanya Ataya dan kedua kakaknya sedang berada di rumah.


"Tumben sekali kalian datang kemari. Ada apa? Oh iya! Kenapa Darren nya nggak ikut bersama kalian?" ucap dan tanya Claudia.


"Darren tidak tahu jika kami mau kesini tante," jawab Naura.


"Oh begitu. Tapi Darren baik-baik sajakan? Darren nggak sakit-sakit lagi kan?" kini Zaidan bertanya.


Mendengar pertanyaan dari Papinya Ataya membuat hati Afnan, Naura, Vito, Velly dan Nasya menghangat. Mereka sangat bahagia keluarga Ataya masih ingat dengan Darren, walau Ataya sudah tidak ada lagi.


"Darren baik-baik saja om. Bahkan jauh dari sebelumnya. Hanya saja Darren terlalu memforsir tenaganya jika sudah berurusan dengan Perusahaannya." Afnan menjawabnya.

__ADS_1


"Begitulah Darren," sahut Zaidan yang memang sudah tahu kebiasaan Darren jika sudah bekerja.


Sementara mereka tersenyum mendengar perkataan dari Papinya Ataya.


TING!


Terdengar notifikasi yang masuk ke ponsel milik Afnan. Afnan yang mendengarnya langsung mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Afnan langsung membuka satu pesan yang masuk ke ponselnya.


FROM : Deon


Bos! Aku dan Luiz sudah bersama dua Dokter itu. Sekarang kami ada di depan rumah keluarga Parvez.


Selesai membaca pesan dari salah satu tangan kanannya. Adnan langsung berdiri dari duduknya.


"Permisi sebentar om, tante, kak!"


Setelah itu, Afnan pergi meninggalkan semuanya untuk menemui kedua tangan kanannya itu.


Beberapa menit kemudian, Afnan pun masuk kembali ke dalam rumah bersama dua Dokter tersebut.


Kini Agnan dan kedua Dokter itu sudah berada di ruang tengah. Kedua Dokter itu sedikit takut menatap wajah kedua orang tuanya Ataya.


"Tante," panggil Afnan.


Maminya Ataya langsung melihat kearah Afnan. "Ada apa sayang?"


"Apa tante masih ingat dengan salah satu pria yang ada di hadapan tante ini?" tanya Afnan.


Maminya Ataya langsung melihat kearah dua pria yang ada di hadapannya. Dan detik kemudian, Maminya Ataya pun mengangguk.


"Dia Dokter yang menangani saat tante melahirkan Ataya," jawab Claudia.


"Iya. Tante benar. Dia adalah Dokter yang telah membantu proses kelahiran Ataya saat itu. Apa tante dan om tahu apa yang terjadi saat tante melahirkan Ataya?" tanya Afnan.


"Tidak," jawab kedua orang tuanya Ataya.


Afnan melihat kearah pria yang selaku menjadi Dokter Maminya Ataya dulu.


"Jelaskan kepada mereka apa yang sudah anda lakukan dulu ketika membantu proses kelahiran Ataya." Afnan berbicara dengan suara dingin dan juga wajah yang datar.


Pria itu memberanikan diri untuk melihat kedua orang tuanya Ataya dan juga kedua kakaknya Ataya.


"Maafkan saya nyonya. Be-begini saya mau mengaku akan kesalahan dan kebohongan saya selama ini. Se-sebenarnya saat itu nyonya melahirkan putri kembar."


DEG!


Mendengar penuturan dari mantan Dokternya itu membuat kedua orang tuanya Ataya dan kedua kakaknya Ataya terkejut.


"A-apa? Apa yang kau katakan barusan? A-aku... Aku melahirkan putri kembar?" Claudia seketika menangis saat mengetahui satu fakta tentang putrinya.


"Iya, nyonya! Saat itu anda melahirkan putri kembar," jawab pria itu.


"Jika benar istriku melahirkan putri kembar. Kenapa anda tidak memberitahu kami? Kenapa anda tidak memberikan kedua-duanya pada kami?!" bentak Zaidan.


"Maafkan saya tuan, nyonya!" pria itu menunduk takut.


"Sekarang dimana putriku? Apa yang kau lakukan pada putriku?!" teriak Claudia dengan berlinang air mata.


"Mami." Aksa mengusap punggung ibunya.


Pria itu melirik ke sebelahnya agar orang yang ada di sampingnya ikut membantu menjelaskan semuanya.


"Kau!" bentak Vito. "Jawab pertanyaan dari orang yang ada di hadapanmu itu. Bukankah kau yang penyebab utamanya," ucap Vito menatap pria yang ada di samping mantan Dokter yang menangani Maminya Ataya.


"Pu-putri kembar anda berada di keluarga Bernard. Keluarga itu begitu sangat menyayangi putri anda," jawab pria itu.


"Apa alasan anda melakukan hal itu pada kami?" tanya Nathan yang matanya menatap tajam pria tersebut.


"Maafkan saya tuan. Sebenarnya saya juga tidak ingin melakukannya. Tapi ini semua saya lakukan hanya untuk menolong seseorang."


"Apa maksud anda?" tanya Aksa.


"Disaat saya menolong persalinan dari nyonya Bernard. Di ruangan lainnya nyonya juga sedang melahirkan dan dibantu oleh dokter yang ada di samping saya ini. Ketika saya menolong persalinan nyonya Bernard. Bayi dari nyonya Bernard meninggal dunia. Dan untuk nyonya Bernard sendiri mengidap tumor rahim dan harus di operasi. Dalam operasi itu nyonya Bernard akan kehilangan rahimnya. Jadi nyonya Bernard tidak akan bisa punya anak lagi. Mendengar kabar tersebut membuat tuan Bernard sedih, syok dan terpukul. Nyonya Bernard sangat menginginkan bayi itu. Sementara bayinya sudah meninggal. Jika nyonya Bernard tahu bahwa bayinya telah meninggal dan dirinya juga sudah kehilangan rahim. Maka nyonya Bernard tidak akan ada semangat hidup lagi. Nyonya Bernard pasti akan mengakhiri hidupnya karena berpikir dirinya sudah gagal menjadi ibu dan juga istri."


"Tuan Bernard begitu sangat mencintai istrinya dan tidak ingin kehilangan istrinya. Maka dari itulah kenapa tuan Bernard meminta saya untuk mencari bayi lain dan menggantikan dengan bayinya yang sudah meninggal. Dan kebetulan nyonya saat itu melahirkan bayi kembar perempuan. Saya meminta kepada Dokter yang ada di samping saya ini untuk memberikan satu bayinya nyonya untuk dijadikan putri dari keluarga Bernard. Awalnya saya gagal membujuknya. Ketika saya menceritakan alasannya. Dia pun memberikannya."


Mendengar cerita dari Dokter tersebut membuat kedua orang tuanya Ataya dan kedua kakaknya Ataya yang awalnya begitu marah karena telah memisahkan mereka dengan putri kembar/adik kembarnya menjadi tidak tega. Mereka pun memahami situasi tersebut


"Aku akan memaafkan kesalahan kalian berdua dan aku juga tidak akan menuntut kalian ke polisi. Asal dengan satu syarat." Zaidan berucap dengan penuh penekanan.


"Apa itu tuan?" tanya kedua Dokter itu.


"Kalian harus menceritakan semuanya didepan putriku yang saat ini tinggal di keluarga Bernard. Apa yang kalian ceritakan pada kami seperti itulah kalian ceritakan juga kepada putri kami?" Zaidan berucap dengan penuh ancaman.


"Baik, tuan!" jawab kedua dokter itu.

__ADS_1


"Kami akan menceritakan semuanya pada putri tuan. Kami tidak menambah dan tidak juga mengurangi," jawab mantan dokter persalinan Maminya Ataya.


"Bagus. Awas saja kalau sampai keluar jalur," ucap Afnan sembari memberikan ancaman kepada kedua dokter tersebut.


__ADS_2