REVENGE

REVENGE
Kekalahan Sakti Dan Kelompok Almoz


__ADS_3

Perkelahian tak terhindar di Kantin sehingga membuat para penghuni kantin menyelamatkan diri mereka masing-masing termasuk Kiran dan sahabat-sahabatnya serta sahabatnya Velly dan Nasya.


Sementara yang lainnya ikut dalam perkelahian itu termasuk Daniel. Daniel juga ikut membantu Darren Mereka bertarung seperti orang kerasukan.


Vito dan keempat sahabatnya memukul dan menendang teman-teman yang dibawa oleh Sakti.


BUGH! DUUAAGGHH!


BAGH! GEDEBUG!


BRUUKK! PRAAKK!


Keenam temannya Sakti jatuh terkapar dengan tidak elitnya. Ada yang perut yang terlebih dahulu menghantam lantai, ada yang punggung yang membentur dinding dengan kerasnya. Bahkan ada yang terlempar dan jatuh di atas meja.


Afnan, Naura, Velly, Nasya beserta sahabat-sahabatnya Afnan dan Naura melawan para kelompok Almoz. Sementara Darren melawan Sakti.


BAGH! BUGH!


DUAGH!


BUGH! SREEKK!


GEDEBAG! BRUUKK!


PRAAKK!


Para kelompok Almoz tersungkur di lantai dengan keadaan sangat mengenaskan.


Baik Afnan, Naura maupun Vito, Velly, Nasya, Daniel dan sahabat-sahabatnya berhasil mengalahkan kelompok ALMOZ dan kesepuluh teman-teman yang dibawa oleh Sakti.


Sementara Darren masih bertarung dengan Sakti. Keduanya sama-sama kuat, sama-sama hebat dan sama-sama mendapatkan pukulan satu sama lain. Dan keduanya juga terlihat sama-sama lelah.


"Ternyata aku telah salah menilaimu, Darren. Kau benar-benar hebat." Sakti berbicara sembari tersenyum di sudut bibirnya.


Sementara Darren hanya menatap datar dan dingin Sakti.


Sakti kembali menyerang Darren. Dirinya berharap kali ini serangan bisa melumpuhkan Darren.


Melihat Sakti yang kembali menyerang. Darren pun berusaha hati-hati. Dirinya tidak ingin terjadi sesuatu pada tubuhnya. Jujur, saat ini tubuh Darren sedikit tidak fit.


Darren membalas setiap pukulan dan tendangan dari Sakti. Baik Darren maupun Sakti sama-sama mendapatkan pukulan dan tendangan. Dan keduanya juga sama-sama merasakan sakit di seluruh tubuhnya.


Melihat pertarungan antara Darren dan Sakti membuat Afnan, Naura, Vito, Velly dan Nasya khawatir. Mereka khawatir akan Darren. Mereka tahu jika saat ini tubuh Darren belum benar-benar fit. Darren belum sepenuhnya pulih dari sakitnya.


"Kak Vito. Aku takut terjadi sesuatu terhadap Darren," ucap Nasya.


"Darren, kamu harus baik-baik saja." Afnan dan Vito membatin.


"Pembunuh sepertimu tidak seharusnya ada di dunia ini!" teriak Sakti.


Mendengar ucapan dari Sakti membuat Afnan, Naura, Vito, Velly dan Nasya marah. Mereka menatap Sakti tajam.


Sementara Darren seketika tubuhnya terhuyung ke belakang ketika mendengar perkataan dari Sakti.


"Darren!" teriak Afnan, Naura, Vito, Velly dan Nasya ketika melihat keadaan Darren saat ini.


Darren pernah mendengar kata itu. Dan Darren saat ini berusaha untuk mengingat ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Sakti.

__ADS_1


"Pembunuh sepertimu tidak seharusnya ada di dunia ini!"


Darren masih terus mengingat dimana dirinya mendengar kata yang barusan dilontarkan oleh Sakti untuknya.


"Aakkhh!" Darren berteriak merasakan sakit di kepalanya sembari tangannya meremat kuat rambutnya.


BRUUKK!


Tubuh Darren seketika jatuh terduduk di lantai dengan tangannya meremat kuat rambutnya.


"Darren!" teriak Afnan, Naura, Vito, Velly dan Nasya ketika melihat Darren yang tiba-tiba jatuh terduduk di lantai dengan tangan meremat kuat rambutnya.


"Darren, kamu kenapa? Apa kepala kamu sakit lagi?" tanya Afnan dengan sedikit berteriak.


"Darren, kamu baik-baik saja kan? Kamu harus hati-hati!" teriak Naura.


Sakti yang melihat keadaan yang memihak padanya tanpa membuang waktu lagi. Dirinya kembali menyerang Darren.


"Pembunuh sepertimu tidak seharusnya ada di dunia ini!" Sakti berucap dengan lantangnya.


"Darren!" teriak mereka semua.


BUUGGHH!


Darren seketika langsung memberikan pukulan yang sangat kuat tepat di perut Sakti sehingga membuat Sakti merasakan sakit yang begitu menyakitkan dan disertai dengan darah yang keluar dari mulutnya.


Darren berdiri dan menatap tajam Sakti. Kemudian Darren berjalan berlahan mendekati Sakti.


Lalu...


GEDEBUG!


BRUUKK!


Darren memberikan tendangan keras di perut Sakti sehingga tubuh Sakti terlempar dan membentur dinding.


Darren mendekat tubuh Sakti yang kini sudah tak berdaya. Kakinya kemudian membalikkan tubuh Sakti hingga terlentang.


Afnan, Naura, Vito, Velly dan Nasya. Serta yang lainnya menghampiri Darren. Mereka semua menatap jijik Sakti.


Darren kemudian menginjakkan kakinya ke leher Sakti disertai senyuman menyeringainya.


"Akhirnya aku berhasil menemukanmu. Lebih tepatnya kau sendiri yang datang kepadaku," ucap Darren.


Mendengar perkataan dari Darren membuat Afnan, Naura, Vito, Velly dan Nasya bingung. Mereka semua tidak mengerti akan perkataan Darren.


Afnan membelai kepala belakang Darren. Darren yang merasakan belaian di kepalanya langsung mengalihkan perhatiannya melihat kearah orang yang berdiri di sampingnya.


"Kakak Afnan," ucap Darren.


Afnan tersenyum mendengar sapaan dari adiknya. "Siapa dia? Apa maksud dari perkataan kamu barusan?" tanya Afnan.


Darren kembali menatap kearah Sakti. "Dia orang yang sudah menabrakku satu tahun yang lalu, Kak!"


Mendengar perkataan Darren membuat mereka semua terkejut, terutama Afnan, Naura, Vito, Velly dan Nasya.


"Dari mana kamu tahu jika bajingan ini yang telah menabrak kamu, Ren?" tanya Naura.

__ADS_1


"Bajingan ini barusan mengatakan 'Pembunuh sepertimu tidak seharusnya ada di dunia ini'. Apa yang dikatakan oleh bajingan ini sama dengan ketika aku ditabrak setahun yang lalu. Saat itu aku masih dalam keadaan sadar. Dan aku mendengar orang itu mengatakan kata itu."


Mendengar jawaban dari Darren. Mereka semua terkejut dan menatap tajam Sakti.


"Dan sepertinya musuh kita bertambah Kak Afnan," sahut Darren dengan melirik kakaknya.


"Siapa?" tanya Afnan.


"Keluarga Fadlan," jawab Darren.


"Bukankah keluarga Fadlan adalah keluarga dari Arya, Kookie?" tanya Vito.


"Iya, Kak Vito benar. Bajingan ini adalah sepupunya Arya. Namanya adalah Sakti Fadlan."


"Apa?!"


Mereka semua terkejut ketika mendengar perkataan dari Darren.


"Baiklah kalau benar begitu. Untuk keluarga Fadlan, biarkan Kakak yang urus." Afnan berbicara dengan menatap tajam Sakti.


Afnan kemudian melihat kearah dua sahabatnya yaitu Duta dan Radit.


"Duta, Radit. Bawa bajingan ini ke markas. Setibanya di markas. Masukkan bajingan ini ke penjara bawah tanah."


"Baiklah," jawab keduanya.


Duta dan Radit langsung mengangkat paksa tubuh Sakti Dan kemudian, menyeretnya untuk menuju parkiran.


Sementara untuk merusak isi kantin sudah diurus oleh Naura, Velly dan Nasya. Ketiganya memberikan sejumlah uang kepada pemilik kantin. Pemilik kantin tersebut terkejut dengan jumlah uang yang diberikan oleh Naura, Velly dan Nasya.


Ketika pemilik kantin tersebut ingin mengembalikan setengahnya. Naura, Velly dan Nasya menolaknya.


Setelah semua urusan selesai. Mereka pun pergi meninggalkan kantin. Sesekali Afnan, Naura, Vito, Velly dan Nasya melirik kearah Darren. Mereka masih mengkhawatirkan Darren.


"Ren, kamu yakin gak apa-apa?" tanya Nasya.


"Aku gak apa-apa, Kak!"


"Yakin?" tanya Naura.


"Iya, Kak Naura."


"Kita ke ruangan kesehatan ya buat mastiin aja," sahut Vito.


Darren seketika berhenti, lalu menatap horor para kakak-kakaknya. "Aish! Kalian ini kenapa sih? Aku udah bilangkan aku baik-baik aja. Tadi itu kepalaku sakit karena aku berusaha untuk mengingat kata yang diucapkan oleh bajingan itu. Aku seperti pernah dengar kata itu."


Mendengar perkataan dan melihat wajah kesal Darren membuat mereka semua tersenyum.


Sementara Darren yang melihat semuanya tengah menantapnya makin bertambah kesal.


"Ach, terserah! Lebih baik aku ke ruangan komputer. Dari pada aku disini bersama kalian bisa-bisa aku stress beneran!"


Setelah itu, Darren pun langsung pergi meninggalkan para kakak-kakaknya dan para sahabat dari kakak-kakaknya.


Mereka yang melihat kekesalan Darren seketika tertawa, termasuk Kiran dan Daniel.


"Hahahaha."

__ADS_1


__ADS_2