
Baik Darren maupun ketiga kakaknya sudah berada di Kampus. Darren berada di ruang Rektor. Sementara Vito, Velly dan Nasya berkumpul bersama para sahabat mereka.
Untuk keempat sahabatnya Darren tidak masuk Kampus selama 4 hari. Keempat sahabatnya itu juga sudah meminta izin kepada Rektor dan Dosen pembimbingnya.
Alasan keempat sahabatnya tidak masuk Kampus selama 4 hari adalah untuk menyelidiki dalang pembunuhan Clarissa, Amanda dan Victoria. Serta kecelakaan yang menimpa Darren setahun yang lalu dan juga penculikan Felix Austin.
Untuk dalang pertama mereka sudah mengetahuinya. Namun mereka tidak ingin buru-buru untuk berurusan denga dalang tersebut. Mereka sepakat untuk bermain cantik dan mengawasi pergerakan dari dalang tersebut. Dalang pertama itu adalah Andara.
Vito, Velly dan Nasya berkumpul dengan sahabatnya. Sahabatnya Velly juga sahabatnya Nasya. Mereka semua saat ini berada di Kantin.
"Vit. Bagaimana hubunganmu dengan adik bungsumu?" tanya Danar.
"Baik. Hubunganku dengan Darren sudah jauh lebih baik. Sikap Darren sudah kembali seperti dulu. Ya, walau masih ada sedikit canggung dalam diri Darren." Vito menjawab pertanyaan dari Danar.
Mendengar jawaban dari Vito membuat Danar, Daniyal, Radika dan Novan tersenyum bahagia. Mereka turut merasakan kebahagiaan mendengar hubungan kakak adik itu membaik.
"Bahkan kami bertiga diizinkan tinggal di rumah Darren," sahut Velly.
Mendengar ucapan dari Velly. Mereka semua melihat kearah Velly. Mereka semua terkejut dan tak percaya.
"Apa itu benar, Vel?" tanya Farrah.
"Iya. Kalau kalian gak percaya. Tanyakan saja kepada Nasya dan kak Vito."
Mereka semua pun mengalihkan perhatiannya melihat kearah Vito dan Nasya.
"Vito, Nasya." mereka semua dengan kompak memanggil keduanya.
"Iya. Itu benar. Bahkan kami sudah dari kemarin berada di rumah Darren," jawab Vito.
"Rumah Darren besar dan mewah. Dan katanya rumah itu adalah hadiah ulang tahun yang ke 20 dari Mama Clarissa untuk Darren," ucap Nasya.
"Bukan rumah aja. Perusahaan yang dulu dipimpin oleh Mama Clarissa itu sebenarnya memang untuk Darren. Dikarenakan saat itu Darren masih kecil, makanya Mama Clarissa yang memimpinnya dulu. Perusahaan itu akan diberikan kepada Darren ketika ulang tahun Darren yang ke 20 tahun." Velly berucap sambil menatap wajah sahabat-sahabatnya.
"Makanya kenapa Mama Clarissa memberikan nama Perusahaan itu dengan nama Darren karena Perusahaan itu memang untuk Darren," ujar Nasya.
"Mama Clarissa memilik lima orang anak. Empat anak dari pernikahan pertamanya yang tak lain adalah kakak-kakaknya Darren. Dan satu anak dari pernikahan keduanya yaitu Darren. Dan keempat kakak-kakaknya itu begitu sangat menyayangi dan memanjakan Darren." Vito berbicara sambil menatap satu persatu wajah sahabatnya.
"Apa hanya Darren saja yang dihadiahkan rumah dan Perusahaan oleh Tante Clarissa?" tanya Gisella.
"Tentu tidaklah. Keempat kakak-kakaknya itu sudah mendapatkan rumah mewah dan Perusahaan dari ibu mereka ketika Darren berusia 8 tahun. Jadi saat itu hanya Darreb yang belum mendapatkan itu." Vito menjawabnya.
"Kalian tahu semua ini dari mana?" tanya Radika.
"Kak Lory yang menceritakannya pada kami," jawab Velly.
Ketika mereka tengah mengobrol tentang Darren, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan keempat sahabatnya Kiran minus Kiran.
"Apa kami mengganggu?" tanya Sania.
"Tidak," jawab mereka secara bersamaan.
Baik Sania dan yang lainnya pun duduk di bangku yang kosong. Radika melihat sekitarnya untuk mencari keberadaan adik perempuannya. Namun nihil. Dirinya tidak menemukan keberadaan adiknya bersama keempat sahabatnya.
Bella yang peka melihat Radika yang sedang mencari keberadaan Kiran langsung bersuara.
"Kak Radika mencari Kiran?" tanya Bella.
__ADS_1
"Iya. Mana Kiran? Kenapa tidak ikut bersama kalian?" tanya Radika.
"Kiran lagi mojok sama pacarnya," jawab Erlina asal.
Mendengar jawaban dari Erlina. Rara yang kebetulan duduk di samping Erlina langsung memberikan jitakan maut di kening Erlina.
TAK!
"Aww!" Erlina mengelus-ngelus keningnya. "Yak! Rara, kenapa kau menjitakku?"
"Kenapa juga tuh mulut asal jiplak ngomong Kiran lagi mojok sama pacarnya?" tanya Rara balik.
Sementara yang lainnya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat keduanya.
"Lah kan memang benar. Kiran lagi berduaan sama pacarnya," sahut Erlina dengan menatap horor Rara.
"Yaelah, Erlina! Jadi menurut kamu jika ada cewek sama cowok lagi ngobrol berdua. Lalu kamu langsung nyimpulin mereka itu sedang mojok atau pacaran, gitu?" ucap dan tanya Bella.
"Iya," jawab Erlina singkat.
"Hah!" Sania, Bella dan Rara hanya bisa menghela nafas pasrahnya sambil menepuk jidat mereka masing-masing.
"Memangnya siapa sih orang yang sedang berbicara dengan Kiran sehingga Erlina bilang gitu?" tanya Radika.
"Daniel," jawab Sania.
"Daniel Ferdinand!" seru Novan, Danar, Daniyal, Radika dan Vito bersamaan.
"Iya," jawab Sania, Bella, Erlina dan Rara.
"Loh. Bukannya Daniel di Belanda ya," sahut Hanna.
"Nah, itu mereka!" seru Bella sambil menunjuk kearah Kiran yang datang bersama Daniel.
Kiran dan Daniel berjalan menghampiri meja dimana kakaknya dan para sahabatnya duduk.
"Apa kabar Kak Radika?" sapa Daniel.
"Baik. Kamu bagaimana kabarnya? Kapan balik dari Belanda?" tanya Radika balik.
"Aku balik dua hari yang lalu. Sebelum balik aku sudah meminta Mami untuk mengurus kepindahanku ke Kampus ini," jawab Daniel.
^^^
Darren sudah selesai urusannya dengan Rektor. Matanya melirik kearah jam tangannya yang melingkar di tangan kirinya. Jarum pendek menunjukkan di angka setengah sebelas.
"Sudah waktu makan siang," ucap Darren.
Setelah itu, Darren pun melangkahkan kakinya untuk menuju Kantin. Darren memutuskan untuk mengisi perutnya terlebih dahulu. Selesai dengan urusan perutnya, Darren akan langsung pergi menuju ruang Komputer untuk melakukan sesuatu di sana.
Kini Darren sudah berada di Kantin. Ketika kakinya melangkah masuk, suasana Kantin tampak ramai. Setelah mendapatkan menu makan siangnya lengkap dengan minuman kesukaan yaitu teh botol sosro. Darren pun melangkah untuk mencari tempat duduk. Darren memesan Bakso dan sebotol air mineral.
Saat kakinya melangkah untuk mencari tempat duduk, tiba-tiba beberapa orang datang menghadang jalannya. Bahkan salah satu dari orang itu dengan sengaja meludahi makanan Bakso milik Darren.
Mereka adalah kelompok ALMOZ. Dulu kelompok itu dipimpin oleh Arya. Sekarang dipimpin sementara oleh sepupunya Arya yaitu Sakti Fadlan.
Sakti membawa sepuluh teman-temannya dan memasukkannya ke dalam kelompok ALMOZ. Jika sepupunya sudah sembuh total dan kembali masuk kuliah. Kelompok ALMOZ akan kembali dipegang oleh Arya. Baik Sakti maupun Arya sudah sepakat untuk membentuk satu kelompok yang akan dipimpin oleh mereka berdua.
__ADS_1
Melihat apa yang dilakukan oleh salah satu dari kelompok ALMOZ membuat Darren menatap tajam kearah orang yang ada di hadapannya itu. Orang itu adalah Mikky.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau ingin memukulku, hah?!" bentak Mikky sambil tangannya memukul-mukul wajah Darren.
"Hahahaha." kelompok ALMOZ tertawa mengejek menatap Darren.
"Kenapa diam saja? Apa kau takut sekarang, hah?!" Judith juga melakukan hal yang sama seperti Mikky dengan memukul-mukul wajah Darren.
Darren masih diam ditempat dengan mata yang menatap tajam keenam manusia yang saat ini tengah membullynya.
Sementara Afnan, Naura, Vito, Velly, Nasya dan para sahabatnya mengepal kuat tangan mereka ketika melihat adiknya dikeroyok. Mereka sengaja untuk tidak turun tangan dulu. Mereka ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh kelompok ALMOZ dan apa yang akan dilakukan oleh Darren untuk membalas kelompok itu. Mereka sangat yakin jika Darren tidak akan diam begitu saja jika ada orang yang mengusiknya. Hanya saja mereka tahu kebiasaan Darren yang memberikan kesempatan kepada musuh-musuhnya.
"Hei, lihatlah anak pembunuh ini. Ternyata keberaniannya hanya ketika bersama sahabat-sahabatnya saja. Dan coba lihat sekarang. Keempat sahabatnya tidak bersamanya. Dan anak pembunuh ini ketakutan sekarang!" Marta berbicara dengan sangat kejamnya dengan menatap remeh Darren.
Mendengar kata pembunuh yang ditujukan kepada adiknya membuat Afnan, Naura, Vito, Velly dan Nasya marah.
"Kalian sudah salah mencari lawan," ucap Vito.
"Kalian sudah membangunkan sisi iblis adikku. Bersiaplah kalian," ucap Afnan.
Sakti menatap tajam wajah Darren. "Aku ingin membalas perbuatanmu terhadap sepupuku Arya. Kau sudah berani melukainya sehingga sepupuku itu harus istirahat total di rumah."
"Aku tidak punya urusan denganmu. Jika bajingan itu ingin membalasku. Kenapa bukan bajingan itu saja yang datang menghadapku dan menyerangku? Kenapa bajingan itu mengirim banci sepertimu." Darren berbicara dengan menatap mengejek.
Mendengar ucapan dari Darren membuat para kakak-kakaknya dan juga sahabat para kakak-kakaknya tersenyum.
"Brengsek!" Sakti langsung melayang pukulannya kearah wajah Darren. Dan dengan gesitnya Darren langsung menghindar.
Darren meletakkan nampan yang sedari di pegang olehnya dan meletakkannya di atas meja. Tanpa Darren ketahui, Korry menyerangnya dari belakang.
"Darren, di belakangmu!" teriak Velly.
Darren melirik sekilas kearah belakang.
Lalu...
BYUURR!
Darren langsung menyirami wajah orang yang ingin menyerangnya itu dengan kuah Baksonya itu.
Bayangkan saja bagaimana bentuk warna kuah bakso milik Darren tersebut. Kuah Bakso yang warna merah dengan banyak cabe yang dimasukkan oleh Darren ketika memesan tadi.
"Aakkkhhh!" teriak Korry merasakan perih dan panas di wajah dan kedua matanya.
Para penghuni kantin yang melihat kejadian itu dan mendengar suara teriakan dari Korry langsung merinding. Tapi tidak dengan para kakak-kakaknya dan para sahabat dari kakak-kakaknya. Mereka justru tertawa puas.
"Hahahah. Rasain. Makanya jangan mencari masalah!" teriak salah satu sahabat Afnan.
Sakti yang melihat Korry yang berteriak merasakan sakit, perih dan panas di wajah dan di kedua matanya seketika amarahnya meledak. Sakti menatap penuh amarah Darren.
Lalu detik kemudian..
"Kalian. Serang bajingan itu!" teriak Sakti.
Mendengar teriakan dan perintah dari Sakti. Kesepuluh teman-teman Sakti langsung berdiri darii duduknya dan langsung menyerang Darren yang hanya sendiri.
Melihat kesepuluh teman-teman Sakti menyerang Darren yang hanya sendirian. Afnan, Naura, Vito, Velly, Nasya dan para sahabat-sahabat mereka langsung beranjak dari duduknya dan ikut serta dalan perkelahian tersebut. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu pada Darren.
__ADS_1
Kalau hanya enam orang. Mereka tidak akan ikut dalam perkelahian tersebut karena mereka sangat yakin jika Darren bisa mengalahkan keenam. Nah, ini berjumlah delapan belas orang. Ditambah lagi mereka berkelahinya dengan cara licik dan curang. Mereka menyerang disaat musuh lengah. Dan dengan begitu bisa saja Darren terluka. Dan para kakak-kakaknya tidak ingin hal itu terjadi.