REVENGE

REVENGE
Menceritakan Kejadian Di Kampus


__ADS_3

Sejak kembalinya Clarissa. Felix langsung membawa Clarissa, Darren dan keempat anak-anaknya Clarissa dari pernikahan pertamanya untuk pulang ke rumah keluarga Austin. Felix tidak ingin berpisah lagi dengan istri dan semua anak-anaknya.


Felix ingin menjadi ayah yang lebih baik lagi untuk anak-anaknya. Dan Felix juga ingin menjadi ayah yang adil dan penuh perhatian untuk semua anak-anaknya, terutama keempat anak-anaknya Clarissa.


Selama menikah dengan Clarissa. Clarissa sudah menjadi ibu yang baik untuk kelima anak-anaknya. Dan sudah saatnya kini Felix yang akan menjadi ayah yang baik untuk keempat anak-anaknya Clarissa dan tak lupa juga untuk putra bungsunya Darrendra Austin. Putra dari pernikahannya dengan Clarissa, perempuan yang sangat dicintainya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang. Saat ini Darren sedang duduk santai di ruang tengah. Darren berada di sana ditemani dua toples kripik kentang kesukaannya. Satu toples sudah dalam keadaan kosong tak berbekas. Sementara satu toplesnya lagi sudah tinggal setengah.


Darren memakan kripik kentang itu sembari menatap ke layar ponselnya yang ada di tangannya.


Tanpa Darren sadari. Kedua orang tuanya, kesembilan kakak-kakaknya, pamannya dan ketiga kakak sepupunya menatap horor kearahnya ketika melihat dua toples besar tersusun di atas meja. Yang satu habis tanpa sisa. Sementara yang satunya tinggal setengah.


Felix dari ruang kerjanya. Clarissa baru selesai memasak untuk makan siang. Raka, Satya, Vito, Marco dan Afnan baru selesai bermain basket di lapangan basket yang ada di samping mansion.


Sementara Saskia, Nuria, Velly dan Nasya baru selesai dengan urusan masing-masing di kamar. Mereka baru menyelesaikan beberapa tugas-tugas mereka.


Setelah urusan mereka semua selesai. Mereka pun keluar dari persembunyian masing-masing. Tujuan mereka semua untuk menemui kesayangan mereka yaitu Darrendra Austin.


"Yak! Sayang! Ini kamu makan kripik kentangnya banyak sekali!" teriak Clarissa yang langsung menghampiri putranya itu.


Mendengar teriakan ibunya tubuh Darren terlonjak kaget. Felix dan para kakak-kakaknya tersenyum ketika melihat Darren yang terkejut. Mereka semua telah duduk di sofa ruang tengah.


Darren mengalihkan perhatiannya melihat kearah ibunya. Dirinya menatap ibunya dengan merengut kesal.


Clarissa yang melihat wajah merengut putra bungsunya tersenyum gemas sembari tangannya mengacak-acak rambut putranya.


"Kaget ya?" tanya Clarissa tersenyum melihat wajah merengut putranya.


"Nggak. Aku nggak kaget. Hanya terkejut saja," jawab Darren asal.


"Itu sama saja, bodoh!" Afnan berucap dengan kejamnya.


Darren mendengus kesal mendengar perkataan dari kakak bantetnya. Seketika matanya melotot menatap kakaknya itu.


"Dasar kakak bantet, pendek, kerdil keturunan orang utan." Darren berbicara dengan seenak jidatnya.


Mendengar perkataan dari Darren membuat para kakak-kakaknya tertawa keras.


"Hahahahaha."

__ADS_1


Sementara Afnan mendengus kesal ketika mendengar perkataan dari adiknya. Afnan tak kalah tajam memberikan pelototan kepada adiknya itu. Dirinya tak terima dirinya dikatakan bantet sekaligus pendek oleh adiknya itu.


"Kamu itu belum makan siang sayang. Masa sudah makan kripik kentang sebanyak ini." Clarissa berbicara lembut kepada putra bungsunya.


"Lagi bad mood," jawab Darren dengan memasang wajah kecutnya.


Clarissa melihat suaminya. Begitu juga suaminya. Setelah itu, keduanya kembali menatap putra mereka.


Tak jauh beda dengan Saskia, Nuria, Marco, Raka, Satya dan Vito. Mereka menatap bingung Darren.


"Memang gitu ya jika orang yang moodnya lagi buruk larinya dengan memakan kripik kentang sebanyak itu?" tanya Satya.


"Iya. Nih buktinya adik kakak yang tampan ini," jawab Darren dengan bangganya.


Mendengar jawaban dari adiknya itu, Satya hanya bisa menghela nafasnya dan geleng-geleng kepala. Begitu juga dengan Felix, Clarissa dan kakak-kakaknya yang lainnya.


"Kalau Papa boleh tahu. Apa penyebab putra Papa yang tampan ini lagi bad mood, hum?" tanya Felix lembut dan juga tersenyum.


Mendengar pertanyaan dari ayahnya. Seketika kejadian di Kampus beberapa jam yang lalu berputar di kepalanya. Kejadian dimana teman kampusnya berani merusak laptop kesayangannya. Bahkan Darren mengetahui alasan teman kampusnya itu berani melakukan hal itu.


Setelah mengingat kejadian itu, tiba-tiba ekspresi wajah Darren berubah. Darren benar-benar marah dan membenci gadis itu.


"Maaf Pa, Ma! Aku mau ke kamar. Aku lupa jika ada banyak tugas yang belum aku selesaikan."


Melihat kepergian Darren dengan ekspresi marah membuat Clarissa dan Felix menjadi khawatir.


"Afnan!"


"Vito, Velly, Nasya!"


Saskia, Nuria, Marco, Raka dan Satya berseru sembari menatap wajah adik-adik mereka.


"Ada sedikit kejadian di kampus, Kak!" Vito bersuara.


"Ceritakan," sahut Raka.


"Jangan ada yang terlewatkan," sahut Saskia.


"Kalian masih ingatkan dengan mahasiswi yang selalu berperang mulut dengan Darren?" tanya Afnan.

__ADS_1


"Iya," jawab Saskia, Nuria, Marco, Raka dan Satya bersamaan.


"Kenapa dengan gadis itu?" tanya Raka.


"Gadis itu telah membanting laptop kesayangannya Darren," jawab Nasya.


"Jangan bilang kalau laptop itu laptop yang selalu Darren bawa untuk kuliah," ucap dan tanya Nuria.


"Iya, Kak! Memang laptop itu," jawab Afnan.


"Kok bisa? Kenapa gadis itu melakukan hal itu?" tanya Felix.


"Dari yang kita dengar dari Darren. Gadis itu marah dan mengira bahwa Darren yang sudah membantai habis seluruh keluarga Bernard. Dan juga sudah merebut Perusahaan ayahnya." Velly menjawab pertanyaan ayahnya.


"Kenapa gadis itu tega sekali menuduh Darren! Darren tidak seperti itu. Putra bungsu Mama tidak seperti itu. Sekali pun Darren menjadi pembunuh. Itupun untuk melindungi orang-orang yang disayanginya. Darren tidak akan membunuh orang yang tak bersalah." Clarissa berbicara dengan wajah yang marah ketika ada seseorang yang menuduh putranya.


Felix langsung memeluk tubuh istrinya. Dan berusaha untuk menenangkannya. "Sayang. Sabar ya," ucap Felix lembut.


"Tapi aku tidak terima dengan perlakuan gadis itu terhadap Darren, sayang! Aku tidak terima siapa pun menyakiti, menghina dan menuduh putra bungsuku."


"Iya, sayang! Aku mengerti!"


"Mama," panggil Afnan.


Clarissa melepaskan pelukan suaminya dan matanya langsung melihat kearah putra keempatnya.


"Gadis itu bernama Arinda Bernard. Dia hanya salah paham saja terhadap Darren. Arinda seperti itu karena tangan kanan dari ayahnya mendapatkan bukti tentang pelaku pembantaian keluarganya dan juga pelaku yang telah merebut Perusahaan ayahnya. Ketika mengetahui hal itu, dia langsung menyerang Darren tanpa bertanya dulu. Ditambah lagi hubungan dia dengan Darren yang tidak terlalu baik. Mereka selalu beradu mulut setiap mereka berpapasan." Afnan menjelaskan alasan Arinda melakukan hal itu kepada Darren.


"Iya, Ma! Mama jangan salah paham dulu terhadap Arinda," sela Nasya.


"Dan aku rasa Darren sudah tahu siapa pelaku pembantaian keluarga Arinda," sahut Vito.


"Makanya kenapa Darren meminta Arinda untuk mencari bukti yang lebih kuat lagi sebelum menuduhnya," ujar Velly.


"Sudah... Sudah! Kita hentikan pembicaraan sampai disini. Ini sudah waktunya kita makan siang," sela Felix.


"Baik, Pa!"


"Kalian panggil Darren. Jangan sampai Darren melewatkan makan siangnya," ucap Clarissa.

__ADS_1


"Baik, Ma!"


Mereka semua pun berlari menuju kamarnya Darren yang ada di lantai dua.


__ADS_2