REVENGE

REVENGE
Kejahilan Darren


__ADS_3

Di sebuah Cafe dimana tiga orang pemuda sedang membahas sesuatu. Pemuda pertama meminta kepada pemuda kedua dan ketiga untuk melakukan sesuatu.


"Apa yang harus kami lakukan Bos?" tanya pemuda itu yang tak lain tangan kanannya.


"Aku mau kau menyelidiki latar belakang gadis ini yang sebenarnya," ucap pemuda itu dengan memberikan sebuah foto gadis kepada tangan kanannya.


Pemuda itu mengambil foto tersebut dan melihatnya.


"Aku mau kau mencari tahu semua tentang gadis itu dan juga keluarganya. Yang paling penting dalam penyelidikan ini adalah cari tahu di rumah sakit mana gadis itu dilahirkan."


"Baik, Bos!"


"Dan untukmu," ucap pemuda itu sembari menatap pemuda yang di sebelahnya. "Kau juga cari tahu di rumah sakit mana dan Dokter siapa yang menangani proses kelahiran dari putri keluarga Parvez."


"Baik, Bos!"


Setelah selesai membahas masalah itu, kedua tangan kanannya pun pergi untuk menjalankan tugas masing-masing.


***


Darren dan ketujuh sahabatnya sedang berada di kantin. Dua jam yang lalu mereka baru saja kelar mengikuti kelas. Di atas meja telah tersedia beberapa makanan dan minuman. Baik Darren maupun ketujuh sahabat-sahabatnya begitu menikmati makan siangnya.


"Kalian kapan balik lagi ke Amerika?" tanya Darren disela-sela makannya.


Mendengar pertanyaan dari Darren membuat Briyan, Faza dan Kevin saling lirik. Setelah itu, ketiganya melihat kearah Darren.


"Aku butuh jawaban. Bukan tatapan," sahut Darren sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Zidan, Chico, Barra dan Chello tersenyum geli ketika melihat wajah kesal Briyan, Faza dan Kevin. Ketiganya tidak tahu jika Darren hanya bercanda. Dengan kata lain, Darren hanya sedang menjahili ketiga sahabatnya itu


Baik Zidan, Chico, Barra dan Chello sesungguhnya mereka tahu bahwa Darren ingin sekali Briyan, Faza dan Kevin tetap di Australia.


"Yak, Ren!" teriak Kevin.


TAK!


Zidan dan Chello secara bersamaan memberikan jitakan di kening Kevin. Mendapatkan jitakan dari Zidan dan Chello membuat Kevin mengumpat kesal.


"Dasar kampret, sialan, brengsek, baji... Mmpptthh!!"


Faza dan Briyan secara bersamaan memasukkan masing-masing dua potong nugget ke dalam mulutnya Kevin.


Melihat apa yang dilakukan oleh Faza dan Briyan terhadap Kevin membuat Darren, Zidan, Chico, Barra dan Chello tertawa keras. Begitu juga dengan Faza dan Briyan.


"Hahahahaha."

__ADS_1


Mendengar tawa kencang dari Darren dan para sahabatnya. Para penghuni kantin melihat kearah dimana Darren dan para sahabatnya duduk. Begitu juga dengan para kakak-kakaknya dan para sahabat-sahabatnya.


Afnan, Naura, Vito, Velly dan Nasya tersenyum bahagia ketika melihat kebahagiaan adiknya.


"Bagaimana? Kapan balik ke Amerika?" tanya Darren lagi.


"Yak, Ren! Niat banget nyuruh kita balik ke Amerika," protes Briyan sembari menatap kesal Darren.


"Apa kalian nggak senang jika kita disini dan kumpul setiap hari bersama kalian?" tanya Kevin.


"Tidak." Darren, Zidan, Chico, Barra dan Chello menjawab bersamaan.


Briyan, Faza dan Kevin sontak membelalakkan kedua matanya ketika mendengar jawaban kompak dari kelima sahabatnya.


"Kalian benar-benar menyebalkan ya!" teriak kompak Briyan, Faza dan Kevin.


"Hahahahaha."


Darren, Zidan, Chico, Barra dan Chello kembali tertawa. Mereka benar-benar bahagia karena sudah membuat Briyan, Faza dan Kevin super duper kesal.


"Ach, kenyang!" seru Darren.


Darren melihat kearah Briyan, Faza dan Kevin. "Jika kalian ingin tetap di Australia. Maka kalian harus bayar semua makanan dan minuman ini. Dan jadilah kacungku selama satu minggu di Perusahaan DRN'Smith. Satu minggu ke depan aku sangat sibuk."


Setelah mengatakan itu, Darren langsung berdiri dari duduknya dan langsung pergi meninggalkan para sahabat-sahabatnya.


"Ini sudah menjadi derita kalian jika kalian bersama Darren. Jadi, terima saja nasib kalian." Zidan berbicara sambil tersenyum meledek kearah Briyan, Faza dan Kevin.


Setelah itu, Zidan pergi menyusul Darren.


"Yang sabar kawan," sahut Chello.


"Ini ujian dari sang maha kuasa," sela Chico.


Ketika Barra ingin mengeluarkan kata-kata indahnya. Briyan, Faza dan Kevin sudah terlebih bersuara.


"Diam atau kena timpuk lo!"


"Opps!" Barra menutup mulutnya.


Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan Briyan, Faza dan Kevin. Melihat kepergian kelima sahabatnya membuat Briyan, Faza dan Kevin menghela nafas pasrahnya. Di dalam hati mereka 'Begini amat punya sahabat'.


Briyan, Faza dan Kevin saling melempar pandangan. Kemudian mereka sama-sama mengangkat bahunya.


Setelah itu, mereka pun bangkit dari duduknya dan menuju kasir untuk membayar semua pesanan yang mereka makan.

__ADS_1


Melihat kelakuan Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya membuat Afnan, Naura, Vito, Velly, Nasya dan para sahabat-sahabatnya hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala. Apalagi saat melihat Darren yang habis-habisan mengerjai ketiga sahabatnya yaitu Briyan, Faza dan Kevin.


"Darren tuh benar-benar ya," sahut Daniyal tersenyum.


"Iya, nih! Segitu niatnya Darren mengerjai ketiga sahabatnya itu," ucap Arianna.


"Siapa dulu abangnya," ledek Devon dan Valeo bersamaan sambil melihat kearah Afnan.


Afnan yang ditatap oleh Devon dan Valeo kembali menatap keduanya. "Kenapa melihatku?"


"Ach, nggak!" jawab Devon dan Valeo bersamaan.


"Aish," kesal Afnan.


***


Arinda saat ini berada di lobi depan kampus bersama keempat sahabat-sahabatnya. Setelah selesai mengikuti materi kuliah beberapa jam yang lalu. Arinda memutuskan untuk duduk di lobi depan kampus. Di lobi depan kampus itu sudah layaknya seperti tempat penginapan bagi para mahasiswa dan mahasiswi.


Arinda sudah menceritakan tentang alasannya sampai menyerang Darren kemarin kepada keempat sahabat-sahabatnya. Bahkan Arinda juga sudah menceritakan kepada keempat sahabat-sahabatnya tentang pembicaraan dengan Paman Sam, tangan kanan ayahnya.


Mendengar cerita dari Arinda membuat Belinda, Carla, Cherly dan Delina menjadi iba. Mereka juga ikut sedih melihat kesedihan dan rasa bersalah Arinda terhadap Darren


"Kamu yang sabar ya," ucap Carla sambil memeluk tubuh Arinda.


Baik Belinda, Carla maupun Cherly dan Delina. Mereka tidak mengetahui kejadian yang menimpa keluarga Arinda. Tangan kanan ayahnya sengaja menutup rapat tentang kejadian pembantaian tersebut. Alasannya adalah untuk melindungi Arinda. Dan juga melindungi Robby dan Pingkan selaku keluarga Arinda sekarang.


Tangan kanan ayahnya memiliki firasat bahwa nyawa Arinda dalam bahaya. Dan bisa juga akan berimbas kepada Robby dan Pingkan.


"Kenapa kamu gak cerita sama kita, Arinsa?" tanya Delina.


"Ya, Rin! Jika kamu cerita. Setidaknya itu akan membuat kamu sedikit rilex dan tidak tertekan," ucap Cherly.


"Aku bukan gak mau cerita. Kejadian itu sengaja disembunyikan dan ditutup rapat semata-mata hanya untuk melindungiku dan keluargaku yang sekarang."


"Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Yang aku punya sekarang ini adalah om Robby dan tante Pingkan. Mereka yang merawatku dan menjagaku setelah pembantaian itu terjadi. Mereka menyayangiku layaknya putri mereka sendiri."


Mendengar ucapan dari Arinsa membuat Belinda, Carla, Cherly dan Delina menangis.


Belinda, Cherly dan Delina secara bersamaan memeluk tubuh Arinda yang kini sudah di peluk oleh Carla. Mereka semua menangis.


"Apapun yang terjadi kita akan selalu bersama-sama," ucap Delina.


"Ya. Kita akan selalu bersama-sama," sahut Belinda, Cherly dan Carla bersamaan.


"Terima kasih," ucap Arinda.

__ADS_1


"Sama-sama," jawab Belinda, Carla, Cherly dan Delina.


__ADS_2