
Zidan, Chico, Barra, Chello, Faza, Briyan dan Kevin saat ini berada di lapangan kampus. Mereka tengah menunggu kedatangan Darren.
"Kenapa Darren lama sekali datangnya?" tanya Briyan sembari fokus pada layar ponselnya dan sesekali melirik kearah keenam sahabatnya secara bergantian.
Mendengar pertanyaan dari Briyan membuat Zidan, Chico, Barra, Chello, Faza dan Kevin secara kompak melihat kearah Briyan.
Setelah itu, mereka kembali menatap ke layar ponsel dan laptopnya masing-masing sembari berkata.
"Mungkin terlambat!"
Mendengar jawaban kompak dari keenam sahabatnya membuat Briyan membelalakkan matanya lalu kembali fokus kepada layar ponselnya.
Ketika Zidan, Chico, Barra, Chello, Faza, Briyan dan Kevin tengah sibuk dengan dunianya masing-masing, tiba-tiba datang beberapa orang mengganggu ketenangan dan kenyamanan mereka.
"Hallo Briyan, Faza, Kevin!"
Mendengar sapaan dari tiga gadis membuat Briyan, Faza dan Kevin langsung melihat keasal suara tersebut. Begitu juga dengan Zidan, Chico, Barra dan Chello.
Mereka melihat tiga gadis yang sejak dulu selalu mengejar Briyan, Faza dan Kevin.
Ketiga gadis itu adalah Hena, Kalya dan Lola.
Setelah puas menatap Hena, Kalya dan Lola. Zidan, Chico, Barra, Chello, Faza, Briyan dan Kevin kembali menatap layar ponselnya dan laptopnya.
Jika Zidan, Chico, Barra dan Chello tengah berkutat dengan laptop masing-masing. Sementara Faza, Briyan dan Kevin menatap layar ponselnya.
"Ada apa?" tanya Briyan.
"Jika ada yang ingin disampaikan. Katakan sekarang juga," ucap Faza.
"Jika tidak ada. Silahkan pergi," ucap Kevin.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Briyan, Faza dan Kevin yang begitu ketus. Bahkan tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponselnya masing-masing membuat hati Hena, Kalya dan Lola sedih.
"Tidak bisakah kau melihatku dengan sedikit cinta darimu, Briyan?" tanya Hena.
"Vin, gue cinta sama lo!" ucap Kalya.
"Gue ingin lo buka hati lo buat gue, Za!" ucap Lola.
Baik Hena maupun Kalya dan Lola menangis ketika melihat laki-laki yang begitu dicintainya bersikap ketus dan dingin.
Briyan berdiri dari duduknya lalu kemudian menatap wajah Hena. Dapat Briyan lihat bahwa Hena memang sangat mencintainya.
Namun kembali lagi kepada Briyan. Ini masalah hati. Ditambah lagi hati Briyan sudah terisi gadis lain. Briyan sudah terlanjur jatuh hati terhadap gadis tersebut.
"Terima kasih atas cinta lo buat gue. Tapi gue minta maaf sama lo. Gue tidak mencintai lo. Jangan paksa gue buat nerima lo yang ujung-ujungnya nanti lo sendiri bakal sakit hati."
Setelah mengatakan itu, Briyan langsung pergi meninggalkan Hena yang sudah menangis. Diikuti oleh Zidan dan Chico.
"Gue juga minta maaf sama lo, Kayla! Gue hanya anggap lo sebagai teman. Nggak lebih. Jadi tolong bersikap biasa saja. Jangan berlebihan. Lo cantik. Carilah laki-laki yang benar-benar mencintai lo. Hati gue sudah buat orang lain," ucap Kevin.
Setelah mengatakan itu kepada Kayla. Kevin pergi menyusul Briyan. Dan diikuti oleh Chello.
__ADS_1
"Gue juga minta maaf sama lo, Lola! Hati gue juga sudah berisi gadis lain. Jadi gue nggak bisa menerima cinta lo," ucap Faza.
Kemudian Faza pergi meninggalkan Lola dan diikuti oleh Barra.
Sementara Hena, Kayla dan Lola menangis menatap punggung Briyan, Faza dan Kevin. Hati mereka benar-benar hancur saat ini.
***
Darren saat ini berada di ruang kerjanya. Beberapa menit yang lalu Darren bersama timnya selesai melakukan rapat dengan beberapa rekan kerjanya yang berasal dari beberapa negara dan beberapa kota.
Darren saat ini benar-benar bahagia karena semua rekan-rekan kerjanya itu begitu menyukai cara kerjanya dan juga cara kerja para karyawannya.
Tok.. Tok.. Tok..
Terdengar suara ketukan pintu tiga kali dari luar sehingga membuat Darren sedikit terkejut.
"Masuk!" teriak Darren dari dalam ruangan kerjanya.
Cklek..
Pintu dibuka oleh seseorang. Setelah itu, orang itu pun langsung melangkah masuk ke dalam ruangan kerja Darren.
"Bagaimana Ramoz? Apa kau sudah menyelesaikan apa yang aku minta ketika menghubungimu beberapa jam yang lalu?" tanya Darren.
"Sudah, Bos! Ini yang Bos minta," jawab Ramoz sembari memberikan dua map kepada Darren.
Darren menerima dua map yang diberikan oleh Ramoz kepadanya. Setelah itu, Darren membuka map tersebut secara bergantian.
Darren melihat dan membaca secara teliti isi dari map tersebut. Seketika terukir senyuman manis di bibirnya.
"Ini benar-benar memuaskan Ramoz. Aku suka cara kerjamu," sahut Darren.
Mendengar perkataan serta pujian dari atasannya membuat hati Ramoz senang. Dirinya benar-benar bahagia ketika mendengar pujian dari atasannya. Ditambah lagi senyuman kebahagiaan yang terpancar di wajah atasannya itu.
"Terima kasih Bos. Saya senang jika Bos senang," sahut Ramoz.
Darren menutup map itu dan menggabungkannya menjadi satu. Setelah itu, Darren menatap wajah Ramoz.
"Untuk berkas kerja sama dengan perusahaan AR'Mrta Company tolong kamu berikan kepada Marinka. Katakan padanya untuk menyelesaikan detail kerja sama tersebut. Saya tunggu besok pukul 12 siang."
"Baik, Bos!"
"Oh ya! Satu lagi. Katakan kepada Judika untuk membuat laporan nama-nama karyawan yang mengalami kecelakaan saat bekerja di bagian pabrik. Saya tunggu laporan tersebut besok pukul 10 pagi."
"Baik, Bos! Apa ada lagi Bos?"
"Tidak. Hanya itu saja."
"Baiklah, Bos! Kalau begitu saya kembali ke ruangan saya."
"Iya."
Setelah itu mengatakan, Ramoz pun pergi meninggalkan ruang kerja Darren untuk kembali ke ruangan kerjanya.
__ADS_1
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang. Zidan, Chico, Barra, Chello, Briyan, Kevin dan Faza saat ini berada di kantin. Begitu juga dengan para kakak-kakak Darren serta para sahabatnya.
"Kak Vito, sebenarnya Darren kemana? Kenapa jam pertama dan kedua Darren tidak masuk?" tanya Chello.
Mendapatkan pertanyaan dari salah satu sahabat adiknya membuat Vito seketika tersadar akan kesalahannya. Begitu juga dengan Velly dan Nasya.
Vito, Velly dan Nasya dengan kompak menatap satu persatu wajah ketujuh sahabat-sahabat adiknya itu. Lalu detik kemudian, ketiga memperlihatkan cengirannya masing-masing.
"Hehehe. Maafkan kita yang lupa ngasih tahu kalian bahwa Darren tidak masuk jam pertama dan jam kedua," sahut Vito.
"Darren akan masuk di jam ketiga sampai selesai," sela Velly.
"Maaf kita baru ingat hari ini dan di kantin ini," ucap Nasya menambahkan.
Mendengar ucapan dari Vito, Velly dan Nasya membuat Zidan, Chico, Barra, Chello, Faza, Briyan dan Kevin hanya bisa menghela nafas masing-masing.
Sementara untuk Naura, Afnan serta yang lainnya dengan kompak menepuk jidatnya masing-masing akan sikap lupa Vito, Velly dan Nasya.
"Jadi kalian tidak izinkan Darren sama Dosen pertama dan Dosen kedua?" tanya Afnan dengan memberikan pelototan mautnya kepada Vito, Velly dan Nasya.
Mendengar tuduhan dari Afnan seketika membuat Vito, Velly dan Nasya langsung menatap wajah Afnan sembari menggelengkan kepalanya.
"Disini kita hanya lupa ngasih tahu sahabat-sahabatnya Darren kalau Darren masuk di jam ketiga," sahut Nasya langsung.
"Kita udah izinin Darren sama Dosen yang mengajar di jam pertama dan di jam kedua," sahut Velly.
"Iya, itu benar! Jadi jangan menuduh kami dengan tuduhan yang tak beralaskan," ucap Vito.
Mendengar perkataan terakhir dari Vito membuat mereka semua cengo.
"Beralaskan?" tanya mereka bersamaan.
"Iya? Kenapa?" jawab dan tanya Vito yang belum menyadari kesalahannya.
Dan detik kemudian...
Tak..
"Aakkkhhh!" Vito meringis sambil mengusap-usap keningnya akibat jitakan dari Danar.
Yah! Danar memberikan jitakan gratis di kening Vito.
"Anak kuliahan bukannya pintar. Ini justru makin bodoh," ucap Danar.
"Mana ada orang mengatakan 'Jangan menuduh kami dengan tuduhan yang tak beralaskan'. Dimana-mana yang benar itu adalah beralasan." Danar berucap dengan menatap kesal Vito.
"Memangnya tadi aku bilang gitu ya?" tanya Vito dengan wajah blengnya.
"Iya!" jawab mereka semua dengan kompak dan tatapan matanya menatap kearah Vito seakan-akan ingin memakan Vito hidup-hidup.
Vito seketika membelalakkan matanya ketika mendengar jawaban kompak dari orang-orang yang ada di hadapannya dan di sampingnya. Dan melihat tatapan semua mata menatap dirinya.
__ADS_1
Dan detik kemudian...
"Hehehehe." Vito terkekeh.