REVENGE

REVENGE
Kerinduan Keluarga Parvez


__ADS_3

Masih dengan Darren dan para kakak-kakaknya di ruang tengah. Afnan, Vito, Velly dan Nasya sudah menceritakan tentang Arinda yang merupakan saudari kembarnya Ataya.


Ketika mengetahui fakta bahwa Arinda adalah saudari kembar dari kekasihnya yang telah meninggal membuat Darren benar-benar terkejut. Dirinya benar-benar tidak menyangka jika Ataya memiliki saudari kembar.


"Ataya. Jika kau masih hidup sampai detik ini. Aku sangat yakin kau pasti akan sangat-sangat bahagia mendengar kabar ini. Setidaknya kau tidak akan kesepian lagi di rumah. Tapi... Hiks...," ucap Darren terisak.


GREP!


Saskia memeluk tubuh adiknya. Dirinya sangat mengerti perasaan adiknya saat ini. Tangannya mengusap-ngusap lembut punggung adiknya.


"Kakak," lirih Darren.


Mendengar isakan dan lirihan dari adiknya membuat hati Saskia sesak. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Darren.


"Kenapa kabar bahagia ini terungkapnya ketika Ataya sudah pergi, kak? Jika kabar bahagia ini terungkap ketika Ataya masih ada. Ataya pasti bahagia. Ataya pasti punya teman di rumah," ucap Darren.


"Kakak mengerti perasaan kamu. Tapi setidaknya dengan kejadian dimana Ataya dibunuh. Kita semua bisa ambil hikmahnya. Jika misalnya kebenaran tentang Arinda adalah saudari kembarnya Ataya terungkap begitu cepat. Dan mereka berkumpul lagi setelah sekian lama terpisah. Dan setelah itu, terjadilah kejadian itu dimana keluarga Parvez diserang dan dibantai habis. Bukan hanya Ataya saja yang meninggal melainkan Arinda, kedua orang tua mereka dan kedua kakak laki-laki mereka juga ikut meninggal." Saskia berbicara lembut kepada adiknya.


"Iya, Ren! Apa yang dikatakan Kak Saskia benar. Jika kebenaran itu terungkap lebih awal. Maka kita tidak akan bertemu dengan Arinda. Dan kamu juga tidak akan bisa lagi mengunjungi keluarga Parvez hanya untuk sekedar merindukan Ataya, karena mereka semua telah meninggal." Raja juga ikut menghibur adiknya.


Darren terdiam ketika mendengar perkataan dari dua kakak tertuanya. Di dalam hatinya. Darren membenarkan apa yang dikatakan oleh kedua kakaknya itu.


Setelah melihat adiknya sedikit tenang. Saskia pun melepaskan pelukannya. Dan menatap wajah tampan adiknya itu. Tangannya menghapus jejak air mata yang membasahi wajahnya.


"Sudah. Jangan nangis lagi, oke! Jelek tahu," ucap Saskia.


"Eemm... Darren!" Marco memanggil adiknya lembut.


Darren langsung melihat kearah kakak keduanya yang satu ibu dengannya.


"Iya, kak!"


"Boleh kakak nanya?" tanya Marco hati-hati. Marco tahu jika mood adiknya itu belum membaik sepenuhnya.


"Kakak mau nanya apa?" tanya Darren balik.


"Kemarin kamu berteriak di kamar sembari kamu membanting ponsel kamu. Sebenarnya ada apa? Katakan pada kakak. Jangan memendam sendiri," sahut Marco.


"Dan kamu juga mengatakan bahwa semenjak bertemu dengan gadis itu hidup kamu menjadi sial. Dan gadis itu pasti Arinda," ucap Satya.


Darren tidak langsung menjawab pertanyaan dari kedua kakaknya itu. Tapi matanya menatap satu persatu wajah kesembilan kakak-kakaknya.


Darren menarik nafasnya dalam, lalu membuangnya secara pelan. Sementara para kakak-kakaknya yang mendengar hembusan nafas adiknya merasakan bahwa adiknya itu menghadapi masalah yang rumit.


"Ada yang ingin bermain curang dengan Perusahaanku, kak Marco!" ucap Darren.


Mendengar perkataan dari Darren membuat mereka semua terkejut. Mereka menggeram marah ketika ada yang berani mengusik milik adiknya.


"Perusahaan yang mana? Dan siapa pelakunya?" tanya Marco.


"Perusahaan DRN'CORP. Pelakunya dari Perusahaan FORD COMPANY dan Perusahaan JP INVERTISING," jawab Darren.

__ADS_1


"Oh, mereka!" seru Satya.


Mendengar seruan dari Satya. Mereka semua melihat kearah Satya.


"Kakak kenal?" tanya Darren.


"Kenal secara pribadi tidak, Ren! Hanya saja Perusahaan milik kakak hampir saja menjadi korban mereka," jawab Satya.


Mendengar jawaban dari Satya membuat mereka semua terkejut. Mereka tidak menyangka jika kedua Perusahaan itu berani bermain curang dengan keluarganya.


Mereka semua kembali menatap wajah Darren untuk meminta penjelasan tentang masalah yang dihadapi oleh Darren.


"Sekarang katakan pada Kakak, Ren! Apa yang telah dilakukan oleh dua Perusahaan brengsek itu terhadap Perusahaan kamu?" tanya Raka.


"Kedua Perusahaan itu dengan seenaknya membatalkan kerja sama dan juga proyek yang sudah ditetapkan dengan Perusahaan milikku. Ditambah lagi proyek tersebut sudah berjalan selama dua bulan. Bahkan Perusahaanku sudah mengeluarkan sejumlah dana sebesar $10rb." Darren menjawab pertanyaan dari Raka.


"Brengsek!" Marco, Raka dan Satya marah seketika mendengar penjelasan dari adiknya.


"Sudahlah. Kak Raka, Kak Marco dan kak Satya tidak perlu marah seperti itu. Aku sudah mengatasi masalah itu. Sebentar lagi kedua Perusahaan itu akan hancur dan aku akan mengambil alih kedua Perusahaan itu." Darren berucap.


Mendengar perkataan dari Darren membuat mereka semua tersenyum bak iblis. Mereka bangga akan kerja adiknya. Adiknya langsung bertindak membalas orang-orang yang mengusik miliknya.


"Kami bangga padamu, Ren!" seru mereka semua sembari tersenyum hangat menatap wajah Darren.


Darren menatap kearah Vito, Velly dan Nasya.


"Kakak Vito, kakak Velly, kakak Nasya."


"Iya, Ren."


"Perusahaan yang mana?" tanya Vito menggoda adiknya.


"Perusahaan yang berhasil aku rebut yang sekarang sudah menjadi satu menjadi DRN GRUP, kecuali perusahaan AYJ. Kak Vito, kak Velly dan kak Nasya berbagi tugas di masing-masing perusahaan itu.


"Baiklah. Kita mau," jawab Vito, Velly dan Nasya bersamaan.


"Bagaimana dengan kak Afnan?" tanya Darren.


"Apanya?" tanya Afnan yang benar-benar lupa.


"Tawaran aku saat itu. Kalau aku berhasil merebut perusahaan Alonso dan keluarganya. Aku mau kakak membantu aku memimpinnya," jawab Darren.


"Baiklah, kakak akan bantu kamu."


"Terima kasih ya kak."


"Ya, sayang. Sama-sama."


***


Di kediaman Parvez terlihat kedua orang tuanya Ataya dan kedua kakaknya Ataya sedang duduk di sofa ruang tengah. Mereka masih memikirkan tentang kabar yang membuat mereka bahagia.

__ADS_1


"Mami masih tidak percaya jika Mami melahirkan putri kembar," ucap Claudia.


"Apalagi Papi. Papi bahkan lebih tidak percaya akan kebenaran ini," sela Zaidan.


"Ataya, sayang! Seandainya kamu masih hidup dan berada disini mungkin kamu juga akan ikut merasakan kebahagiaan ini, Nak! Bahkan kamu yang akan lebih merasakan kebahagiaan ini dari pada kami karena memiliki saudari kembar," ucap Claudia dengan berlinang air mata.


Mereka semua menangis karena mendapatkan kabar menggembirakan tentang putrinya/adiknya kembarnya. Tangisan mereka seketika pecah ketika mereka merindukan sosok Ataya.


Mereka menangis terisak ketika Ataya yang sudah tidak bersama mereka lagi untuk ikut merasakan kebahagiaan.


"Ataya... Hiks... Sayang! Kakak rindu kamu," ucap Azka.


"Hiks... Ataya. Kakak rindu kamu. Kamu datang ya ke mimpi kakak. Kita bermain bersama-sama," isak Nathan.


"Ataya, princess nya Papi! Apa kabar kamu disana, Nak? Papi rindu kamu. Kamu rindu Papi nggak?"


"Sayangnya Mami... Hiks,"


***


Keesokkan harinya di kediaman keluarga Austin tampak ramai dimana semua anggota keluarga telah berkumpul di meja makan. Dan yang membuat suasana menjadi ramai adalah kepulangan Rafael dan ketiga anak-anak dari liburan.


"Waah! Makanannya enak-enak semua tante Clarissa!" seru Michel.


Mereka semua tersenyum ketika mendengar antusias Michel yang melihat begitu banyak makanan dan minuman tersaji di atas meja.


Michel yang tergiur dan udah tidak sabaran langsung mengambil salah satu makanan yang disukainya.


Ketika tangannya sedikit lagi menyentuh makanan itu, tiba-tiba seseorang memukul punggung tangannya.


PLAAKKK!


"Aww!" Michel sedikit meringis ketika mendapatkan pukulan di punggung tangannya.


Pelaku pemukulan itu siapa lagi kalau bukan Darrendra Austin. Dirinya menatap dengan bibir digerak-gerakkin.


"Yak, Ren! Kenapa memukul tanganku, hah?!" teriak Michel.


"Kenapa? Nggak terima? Mau lagi? Atau mau kita berantem, hum?" Darren balik bertanya sambil menantang Michel.


Mendengar perkataan dan pertanyaan serta wajah menantang dari Darren membuat Michel mendengus.


"Dasar kelinci kurap," gumam Michel.


"Aku bukan kelinci kurap," sahut Darren dengan menatap horor Michel.


"Ooppss! Maaf! Salahkan bibirku yang tidak bisa direm," jawab Michel.


Setelah mengatakan itu, Michel pergi menjauh dari Darren dan menduduki pantatnya di salah satu kursi yang ada di sana.


Sementara anggota keluarga yang lainnya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar perdebatan antara Darren dan Michel.

__ADS_1


Setelah semuanya telah duduk di kursi masing-masing. Mereka semua pun memulai menyantap sarapan pagi mereka.


Mereka menyantap sarapan pagi dengan penuh hikmat, walau sesekali terdengar perdebatan kecil antara Darren dan Michel.


__ADS_2