
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Baik Erland, Ronald dan Steven sudah berada di markas mafia mereka masing-masing.
Mereka saat ini tengah mempersiapkan perlengkapan dan persenjataan untuk menyerang keluarga Cristhoper, keluarga Jordan dan keluarga Troye.
Kali ini baik Erland, Ronald dan Steven tidak akan memberikan kata ampun untuk orang-orang yang sudah berani mengusik anak-anaknya. Mereka akan membantai habis seluruh anggota keluarga tersebut.
Tepat pukul 12 malam. Erland, Ronald dan Steven memulai aksi mereka. Aksi pembalasan untuk orang-orang yang sudah mengusik keluarganya terutama putri bungsu mereka.
***
Erland dan kelompok mafianya MARA SALVA, Ronald dan kelompok mafianya PRIMERO. Serta Steven dan kelompok mafianya CAPILLO sudah berada di depan gerbang markas mafia DRAGON. Erland dan kedua adiknya membawa sekitar 6000 anggota mafiosonya. Sementara untuk jumlah anggota mafioso dari kelompok mafia DRAGON hanya berjumlah 5000 mafioso.
"Bunuh mereka semua dan jangan ada yang terlewatkan!" seru Ronald.
"Tidak ada kata ampun untuk mereka. Mereka semua harus mati!" seru Steven.
"Sisakan pemimpinnya. Dan kami yang akan membunuhnya!" seru Erland.
"Siap King!" ucap para mafioso mereka.
Setelah itu, mereka pun menyerang markas DRAGON dengan mendobrak gerbang yang menjulang tinggi itu dengan sekali serangan.
Mereka semua masuk ke perkarangan markas DRAGON dengan memberikan tembakan kepada para mafioso yang sedang berjaga. Suara tembakan mereka tidak terdengar sama sekali.
DOR!
DOR!
DOR!
Sekitar 1000 mafioso yang berjaga mati dengan mengenaskan. Para kelompok mafia Erland, Ronald dan Steven menembak dengan jarah dekat dan juga jauh. Mereka menembak tepat sasaran yaitu Jantung dan kepala hingga menembus serta berlubang. Tembakkan yang didapatkan oleh para musuh sebanyak tiga tembakkan.
Setelah membunuh semua mafioso musuh yang berada di luar. Erland, Ronald dan Steven melangkah masuk ke dalam markas dan diikuti para mafiosonya di belakang. Sementara sebagiannya masuk melalui arah lain.
BRAAKK!
Pintunya markas yang besar itu di tendang oleh Erland, Ronald dan Steven.
Dengan dua kali tendang yang dilakukan oleh Erland, Ronald dan Steven. Pintu itu pun terbuka dan mengalami kerusakan.
Pemimpin dari kelompok mafia DRAGON terkejut ketika mendengar bunyi dobrakkan dari pintu utama markasnya.
^^^
Kini Erland, Ronald dan Steven sudah berdiri di hadapan ketua mafia DRAGON dengan tatapan tajam masing-masing di balik topengnya.
Seketika ketua mafia DRAGON membelalakkan kedua matanya ketika melihat tiga ketua mafia yang terkenal kejam dan tanpa ampun terhadap musuh-musuhnya berdiri di hadapannya.
"MARA SALVA, PRIMERO, CAPILLO!" batin ketua mafia DRAGON.
Ketua mafia DRAGON langsung berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati ketiga ketua mafia yang berdiri di hadapannya itu.
"Kenapa kalian menyerang markasku? Aku tidak pernah mengusik kelompok kalian. Dan aku juga tidak pernah mengusik anggota keluarga kalian!" teriak ketua mafia DRAGON.
__ADS_1
Mendengar teriakkan dan perkataan dari ketua mafia DRAGON membuat Ronald, Erland dan Steven tertawa. Bagi mereka, apa yang dikatakan oleh ketua mafia DRAGON adalah sebuah lelucon.
"Kau memang tidak mengusik kelompok mafia kami," ucap Erland di balik topengnya.
"Tapi kau mengusik salah satu anggota keluarga kami," ucap Ronald di balik topengnya.
Mendengar perkataan dari salah satu ketua mafia yang saat ini menatap marah padanya sembari mengatakan bahwa dirinya telah mengusik salah satu anggota keluarganya membuat ketua mafia DRAGON tersebut terkejut.
"Jangan asal menuduh kalian! Aku tidak pernah mengusik keluarga kalian!" bentak ketua mafia DRAGON.
"Hahahaha."
Erland, Ronald dan Steven tertawa keras ketika mendengar ucapan sekaligus jawaban dari ketua mafia DRAGON.
"Apa kau yakin jika tidak pernah mengusik salah satu anggota keluarga kami?" tanya Steven di balik topengnya.
"Coba pikirkan lagi. Mungkin kau lupa," pungkas Ronald.
"Untuk apa aku memikirkan hal yang tidak penting. Aku tekankan sekali lagi bahwa aku tidak pernah mengusik keluarga kalian! Jadi, silahkan kalian pergi dari sini!"
"Setelah apa yang kau dan kelompokmu lakukan kepada keluarga kami. Kau mengusir kami, hum!"
"Tidak semudah itu kau mengusir kami dari sini."
"Kau harus mempertanggung jawabkan atas apa yang telah kau lakukan kepada keluarga kami."
"Dikarenakan kau dan kelompok mafiamu telah berani menculik para putri bungsu kami, maka kau dan semua kelompok mafiamu yang tersisa harus mati."
Deg!
"Ja-jadi, para gadis yang diculik dua hari yang lalu adalah para putri bungsu mereka," batin ketua mafia DRAGON gugup.
Melihat keterkejutan di wajah ketua mafia DRAGON membuat Erland, Ronald dan Steven tersenyum di balik topengnya.
"Bagaimana? Sudah ingat sekarang?"
"Jadi kami tidak asal menuduhmu, bukan!"
Setelah mengatakan itu, baik Erland, Ronald maupun Steven langsung menyerang ketua mafia DRAGON secara bersamaan dan membabi buta.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 pahi. Di kediaman Smith tampak ramai malam ini dimana semua anggota keluarga berkumpul. Termasuk keluarga Austin dan keluarga Fernandez.
Semua anggota keluarga kecuali Darren memilih berkumpul di ruang tengah. Mereka ingin tidur tapi tidak bisa karena pikiran mereka semua tertuju kepada tiga anggota keluarga yang sedang pergi bertarung melawan para musuh.
"Ma, aku takut!" Lory berucap lirih.
Stefany langsung memeluk tubuh putri bungsunya. Dirinya tahu bahwa saat ini putri bungsunya itu tengah ketakutan.
"Kita berdoa untuk Papa dan kedua om kamu ya. Semoga mereka baik-baik saja," ucap Stefany lembut.
"Iya, Lory. Kita berdoa untuk om Erland, om Steven dan om Ronald. Semoga mereka baik-baik saja. Begitu juga dengan para kelompok mafia mereka," sahut Tamara yang ikut menenangkan sepupunya.
__ADS_1
Ketika mereka semua tengah memikirkan ketiga anggota keluarganya yang sedang bertarung melawan musuh, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara teriakan dan suara pecahan kaca dari lantai atas.
"Aakkhh!"
Prang..
"Itu suara Darren!" seru Qenan.
Seketika mereka semua berlari menuju kamar Darren di lantai dua. Mereka semua panik dan khawatir ketika mendengar suara teriakan dari Darren. Apalagi ketika mendengar suara pecahan kaca.
Yang terlebih dulu berlari adalah Marco dan Theo lalu disusul oleh anggota keluarga lainnya.
^^^
Brak...
Theo dan Marco mendobrak pintu kamar Darren. Keduanya tampak cemas. Pintu kamar Darren dikunci oleh Darren dari dalam.
Dengan sekali dobrak, pintu kamar Darren terbuka. Setelah itu, Marco dan Theo langsung melangkah masuk dan diikuti oleh yang lainnya di belakang.
"Darren!" teriak Marco dan Theo ketika melihat Darren yang tidak sadarkan diri di lantai.
"Astaga, Darren!" teriak Clarissa. Begitu juga dengan yang lainnya.
Theo dan Marco dibantu oleh Qenan dan Alfin mengangkat tubuh Darren dan membawanya ke tempat tidur.
Setelah Darren berada di tempat tidur, Nuria yang berstatus dokter langsung memeriksa kondisi adiknya.
Sementara Clarissa serta anggota keluarga lainnya menatap dengan tatapan sedih kearah Darren.
Setelah beberapa menit, Nuria pun selesai memeriksa Darren.
"Bagaimana Nuria? Apa yang terjadi pada adikmu?" tanya Clarissa.
"Dari hasil pemeriksaanku. Darren baik-baik saja," jawab Nuria jujur.
"Kamu yakin Nuria?" tanya Saskia.
"Iya, kak!"
"Tapi kenapa Darren tadi berteriak lalu jatuh pingsan?" tanya Vito.
"Kita tunggu Darren sadar dulu. Setelah itu, kita tanyakan padanya. Tapi jika Darren tidak ingin bercerita. Biarkan saja. Jangan dipaksa."
"Baiklah!"
"Kamu kenapa, Nak?" tanya Clarissa yang kini sudah berada di atas tempat tidur putra bungsunya dengan tangannya mengusap lembut kepalanya sehingga memperlihatkan kening putihnya.
Qenan menatap satu persatu anggota keluarganya lalu berkata, "Lebih baik kalian kembali ke kamar dan istirahat. Biarkan kami para saudara laki-laki berada di kamar Darren. Kami akan menjaga Darren."
Mendengar perkataan sekaligus perintah dari Qenan membuat mereka semua mau tidak mau harus mematuhinya. Bagaimana pun Qenan adalah saudara tertua di keluarga Smith. Dan untuk hari ini Qenan bertanggung jawab atas keluarganya dikarenakan tiga kepala keluarga sedang tidak berada di rumah.
"Baiklah," jawab mereka semua.
__ADS_1
Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan kamar Darren. Dan sebelum pergi meninggalkan kamar Darren, mereka menyempatkan diri untuk memberikan ciuman di kening Darren secara bergantian.