
Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya saat ini berada di lapangan. Mereka menghabiskan waktu bersama disana hanya untuk menghilangkan rasa lelah dalam mengikuti beberapa materi kuliah yang begitu panjang dan menguras otak.
Mereka mengobrol, bercerita dan tertawa walau tatapan matanya menatap ke layar ponsel masing-masing.
Mendengar obrolan dan tawa dari Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya, para mahasiswa dan mahasiswi yang berada di sekitarnya juga ikut tertawa. Begitu juga dengan para kakak-kakak Darren beserta sahabat-sahabatnya.
Ketika Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya asyik dengan dunianya, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara seorang gadis.
Gadis itu menatap wajah tampan Darren dengan senyuman manisnya. Diam-diam selama ini gadis itu sudah menaruh hati terhadap Darren.
"Hei, Darren." gadis itu memberanikan diri menyapa Darren.
Darren melirik sekilas ke arah gadis itu. Setelah itu, Darren kembali menatap layar laptopnya.
Melihat reaksi dari Darren membuat gadis itu berdecak kesal.
"Darren, lo mau jadi pacar gue?"
Mendengar ucapan dari gadis itu seketika Darren langsung menatap wajah gadis itu intens. Darren menatap bingung gadis itu. Tidak ada angin dan tidak ada hujan, tiba-tiba gadis itu menembak dirinya.
Sementara gadis itu tersenyum manis ketika telah mengeluarkan apa yang tersimpan selama ini di hatinya.
Prisa Birendra atau sering di panggil dengan sebutan Prisa. Siapa yang tidak kenal dengan Prisa. Prisa termasuk gadis yang suka membully di Kampus. Sama seperti Devina dan kelompoknya.
Dikarenakan Devin dan kelompoknya memiliki pengaruh yang kuat. Ditambah lagi mereka memiliki kekasih yang sangat kejam sehingga membuat Prisa dan kelompoknya berhenti dari dunia pembullyan sementara waktu.
Nama Prisa sudah cukup terkenal banyak orang. Banyak laki-laki yang ingin menjadi kekasihnya. Namun sayangnya semua laki-laki itu ditolak mentah-mentah oleh Prisa. Alasan Pria menolah mereka semua adalah karena hatinya sudah kepincut dengan satu laki-laki yang sifatnya dingin, cuek, pendiam dan tak banyak bicara. Laki-laki itu adalah Darren.
"Lebih baik lo pergi dari sini. Apa lo nggak lihat gue dan ketujuh sahabat-sahabat gue sedang sibuk?" ucap dan tanya Darren dengan matanya masih menatap wajah Prisa.
Prisa berdecak kesal ketika mendengar jawaban dari Darren. Bukan jawaban itu yang diinginkan Prisa.
Namun bukan Prisa namanya jika dirinya harus menyerah sebelum berperang.
"Aku akan pergi dari sini setelah kamu menerimaku jadi pacar kamu," sahut Prisa.
"Gila," jawab Darren.
Darren kembali menatap layar ponselnya. Dirinya tidak ingin terus melayani gadis gila yang ada di hadapannya saat ini.
"Ya, aku memang gadis gila. Aku menjadi gila seperti ini karena ulah kamu," ucap Prisa.
Mendengar ucapan dari gadis itu membuat Darren kembali menatap wajah Prisa.
Melihat Darren yang kembali menatap dirinya, Prisa memberikan senyuman semanis-manis mungkin kepada Darren.
__ADS_1
Sementara ketujuh sahabat-sahabatnya menatap tak suka kearah Prisa. Begitu juga dengan para kakaknya beserta para sahabatnya.
"Kemarilah." Darren mengangkat tangannya ke udara dengan bermaksud menyuruh Prisa mendekat padanya.
Melihat Darren yang menyuruhnya mendekat membuat Prisa tersenyum lebar. Prisa dengan semangat empat lima langsung melangkah lebih dekat lagi ke arah Darren.
"Dekatkan wajahmu kesini," ucap Darren. Prisa pun menurut.
Dan detik kemudian...
"Kening lo panas. Bahkan panasnya melebihi batas. Lebih baik segera lo periksa ke dokter. Takutnya nanti lo tambah gila."
Setelah mengatakan itu, Darren menutup laptopnya. Dan pergi meninggalkan Prisa sendirian. Dan disusul oleh ketujuh sahabat-sahabatnya.
Mendengar perkataan dari Darren dan melihat kepergiannya seketika tawa para kakak dan para sahabatnya pecah. Mereka tidak menyangka jika Darren akan berkata seperti kepada Prisa.
Sementara Prisa seketika mematung ketika mendengar ucapan kejam dari Darren. Dirinya tidak menyangka jika Darren akan berkata seperti itu.
"Dasar laki-laki tidak punya perasaan," kesal Prisa dengan mulutnya mengeluarkan sumpah serapah untuk Darren.
^^^
Darren kini sudah berada di kelasnya bersama ketujuh sahabat-sahabatnya. Kini mereka tengah sibuk dengan tugas masing-masing. Apalagi kalau bukan tugas Kampus mereka yang kemarin. Mereka sama sekali belum mengerjakan tugas-tugas itu, karena mereka sibuk mengurus di perusahaan masing-masing.
"Bagaimana dengan kabar Cemal? Apa sudah ada kabar dari dia" tanya Faza kepada Darren yang duduk di sampingnya.
Darren menatap satu persatu wajah ketujuh sahabat-sahabatnya yang kini tengah menulis di buku kuliahnya.
"Kalian bagaimana? Apa salah satu tangan kanan kita atau anggota mafia kita menghubungi kalian?" tanya Darren.
"Belum!" Zidan, Chico, Barra, Chello, Faza, Kevin dan Briyan menjawab secara bersamaan dengan tatapan matanya fokus buku di hadapannya.
"CK!" Darren seketika berdecak kesal akan kelakuan ketujuh sahabat-sahabatnya.
Ketika Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya tengah mengerjakan tugas-tugas kampusnya sembari membahas masalah hilangnya Cemal. Ponsel milik Zidan tiba-tiba berbunyi menandakan panggilan masuk.
Zidan yang mendengar ponselnya berbunyi langsung mengambilnya di saku celananya.
Setelah ponselnya di tangannya, Zidan melihat nama 'Reno' di layar ponselnya.
"Ini Reno menghubungi gue," ucap Zidan.
"Angkat!"
"Jangan lupa di loudspeaker panggilannya!"
__ADS_1
Darren, Chico, Barra, Chello, Faza, Kevin dan Briyan menjawab bersamaan.
"Aish," kesal Zidan lalu kemudian menjawab panggilan dari Reno.
Kebetulan saat ini di dalam kelas tersebut hanya ada Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
"Hallo, Reno!"
"Hallo, Prince. Saya ada kabar baik untukmu dan ketua."
Seketika terukir senyuman manis di bibir Zidan. Begitu juga dengan Darren, Chico, Barra, Chello, Faza, Kevin dan Briyan.
"Kabar baik apa, Reno?" tanya Darren.
"King, anda juga mendengar saya?"
"Iya, saya dengar!"
"Kami semuanya disini!" Chico, Barra, Chello, Faza, Kevin dan Briyan.
"Ach, baiklah! Begini King saya mendapatkan informasi tentang keberadaan Cemal. Dan saya juga mendapatkan informasi tentang kecelakaan yang dialami oleh mendiang tunangan nona Arinda."
"Buruan katakan!" seru Darren.
"Laki-laki itu masih berkeliaran di kota Sidney dan dalam penampilan yang berbeda."
"Jadi maksud kamu kalau Cemal menyamar?" tanya Faza.
"Benar, Prince. Laki-laki itu jika ingin keluar, dia akan merubah penampilannya agar tidak mudah dikenali selama diluar."
"Seperti apa penyamaran bajingan itu?" tanya Chello.
"Laki-laki itu merubah dirinya menjadi laki-laki culun. Berkaca mata tebal. Jika dia memakai kemeja, maka dia mengancingkan kemejanya sampai atas. Dan untuk celananya, laki-laki itu menggunakan celana yang di bagian pinggangnya ada tali kiri kanan. Anda pasti mengerti maksud saya King, Prince!"
"Iya, kami mengerti!"
"Dan dia kuliah di kampus yang sama dengan anda King. Dia sengaja mendaftarkan diri ke kampus itu agar bisa terus mengawasi pergerakan nona Arinda."
"Apa kau sempat mengambil foto bajingan itu ketika dalam penyamaran?" tanya Chico.
"Ada Prince. Nanti akan saya kirimkan fotonya."
"Terus apa penyebab kecelakaan yang menimpa mendiang tunangan Arinda? Apa kau mengetahui pelakunya?" tanya Barra.
"Kecelakaan itu disengaja. Dan yang menjadi pelaku dari kecelakaan tersebut adalah laki-laki itu."
__ADS_1
"Apa? Cemal!"