
Seluruh anggota keluarga berada di ruang tengah. Pikiran mereka semua tertuju kepada Darren. Mereka semua memikirkan keadaan Darren. Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi kepada Darren sehingga membuat Darren yang tiba-tiba jatuh pingsan.
"Aku akan ke kamar Darren. Aku tidak bisa membiarkan Darren yang berdiam diri di kamar. Ini sudah pukul 10 pagi. Sampai detik ini tidak ada tanda-tanda Darren akan keluar dari kamarnya. Bahkan dari semalam Darren belum mengisi perutnya. Dan sekarang Darren melewati sarapan paginya. Bisa-bisa Darren tambah parah sakitnya!" seru Marco.
Setelah mengatakan itu, Marco pun langsung pergi meninggalkan keluarganya untuk menuju kamar adiknya di lantai dua.
Melihat kepergian Marco. Mereka semua pun ikut menyusul Marco ke kamar Darren.
Darren dan anggota keluarga lainnya sudah berada di depan kamarnya Darren. Tangan Marco menyentuh knop pintu kamar Darren, kemudian Marco berlahan membuka pintu kamar itu.
CKLEK!
Pintu kamar terbuka. Setelah pintu itu terbuka. Baik Marco dan anggota keluarga lainnya melangkah memasuki kamar Darren.
Ketika tiba di dalam kamar. Mereka semua bisa melihat Darren yang kini tengah duduk di sofa sembari tangannya memegang bingkai foto. Mereka semua yakin jika bingkai foto yang di pegang Darren adalah bingkai foto ibunya.
Mereka semua menatap sendu Darren. Hati mereka kembali sakit kalau melihat Darren yang saat ini.
"Darren. Kenapa jadi seperti ini? Bukankah kamu sudah janji sama Kakak akan hidup bahagia jika balas dendammu dan kita semua selesai," batin Saskia.
Mereka semua masih terus menatap Darren. Mereka ingin terlebih dahulu mendengar curhatan apa yang akan Darren sampaikan pada ibunya lewat bingkai foto ibunya yang ada di tangannya. Dengan begitu mereka semua bisa tahu permasalahan apa yang dihadapi Darren saat ini.
"Ma! Aku rindu Mama. Aku rindu tante Amanda. Aku rindu nenek. Dan... Hiks... Aku juga rindu Ataya. Bagaimana kabar kalian disana? Kalian baik-baik sajakah? Apa kalian bahagia? Apa kalian sudah saling bertemu?"
Darren menangis ketika menyebut nama-nama orang yang begitu di rindukannya. Detik kemudian, kilasan-kilasan tentang kebersamaan Darren dengan ibunya, tantenya, neneknya dan Ataya berputar-putar di pikirannya. Dalam kilasan-kilasan itu. Darren begitu tampak bahagia karena ibunya, tantenya, neneknya dan Ataya begitu menyayanginya.
Di kilasan-kilasan itu bukan hanya ada ibunya, tantenya, neneknya dan Ataya. Melainkan seluruh anggota keluarganya juga ada disana. Baik Ataya dan seluruh anggota keluarganya tampak begitu bahagia.
Setelah mengingat momen-momen indah itu. Terukir senyuman manis di bibirnya.
"Aku merindukan momen-momen kebersamaan kita dulu disaat Mama, tante Amanda dan nenek masih ada."
"Ma! Mama tahu tidak? Kemarin aku, Zidan, Chico, Barra dan Chello makan di sebuah cafe. Selesai dari sana keempat sahabat aku langsung pulang. Sementara aku harus ke hotel untuk menghadiri acara yang aku buat. Tapi... Hiks..." Darren terisak kala mengingat wajah wanita yang ditolongnya kemarin.
Anggota keluarganya masih setia memperhatikan dan mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut Darren.
"Kemarin aku nolongin seorang ibu-ibu yang dipalak oleh tujuh preman. Aku berhasil kalahin ketujuh preman-preman itu. Aku berhasil menyelamatkan ibu itu. Mama... Hiks. Apa Mama ingin tahu siapa ibu itu? Apa Mama ingin tahu seperti apa wajah dari ibu yang aku tolong itu... Hiks?"
"Mama... Hiks... Ibu itu... Ibu itu... Hiks... Wajahnya mirip Mama. Aku... Aku seakan-akan tengah menolong Mama." dan pada akhirnya isak tangis Darren pun pecah.
Seluruh anggota keluarganya sontak terkejut ketika mendengar perkataan Darren yang mengatakan bahwa wanita yang ditolongnya wajahnya mirip ibu/adik/kakak/putri/tante mereka.
"Mama... Hiks. Katakan padaku. Apa Mama memiliki saudari kembar? Apa Mama masih hidup? Apa... Hiks... Apa ibu itu adalah Mama. Tidak mungkin jika hanya sekedar mirip. Kalau hanya mirip sedikit aku tak mempermasalahkannya. Tapi ibu itu benar-benar mirip Mama. Apalagi tahi lalat di bawah bibirnya. Dan aku sangat mengenal dan hafal betul bentuk tahi lalat milik Mama."
"Mama. Aku moh... on..."
Darren tiba-tiba merasakan sakit di kepalanya. Seketika Darren menghempaskan punggungnya ke punggung sofa dan memejamkan matanya. Dan tangannya meremat rambutnya.
"Darren!" teriak mereka semua ketika melihat Darren yang tengah kesakitan di bagian kepalanya.
Mereka semua menghampiri Darren. Felix dan Saskia duduk masing-masing di samping kiri dan kanan Darren.
"Darren."
__ADS_1
"Sayang."
Baik Saskia maupun Felix sama-sama berucap memanggil kesayangan mereka. Felix dan Saskia tampak khawatir akan Darren. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.
"Darren, ini Papa sayang." Felix mengelus lembut kepala putranya.
"Ini Kakak, Ren!" Saskia mengecup pelipis adiknya sayang.
"Kita semua disini, Ren!" seru Velly, Nasya, Tamara dan Merryn secara bersamaan.
Darren berlahan membuka kedua matanya dan dapat dilihat oleh Darren, semua anggota keluarganya sudah berada di dalam kamarnya.
"Kakak... Papa," lirih Darren.
"Apa kambuh lagi sakit kepalanya?" tanya Saskia.
"I-iya. Kali ini benar-benar sakit. Nggak kayak biasanya," jawab Darren dengan nada lemahnya.
"Kalau gitu Kakak periksa dulu ya!" seru Nuria.
Saskia beranjak dari duduknya dan membiarkan adiknya duduk di samping adik bungsunya agar bisa diperiksa.
Setelah itu, Nuria pun memeriksa kondisi adik bungsunya itu dengan telaten. Sementara anggota keluarga lainnya memperhatikan Nuria yang sedang memeriksa Darren dan menatap khawatir Darren.
Setelah beberapa menit, Nuria pun selesai memeriksa Darren.
"Bagaimana keadaan Darren, Nuria?" tanya Clara.
"Sama seperti sebelumnya tante. Tapi...," menghentikan perkataannya sembari menatap wajah sedikit pucat Dareen.
"Ada apa, Kak?" tanya Darren.
"Kamu sayang Kakak kan?" tanya Nuria.
"Kok kakak nanya kayak gitu?"
"Jawab saja pertanyaan kakak."
"Sayang atau tidak?"
"Aku sayang Kakak. Aku sayang kalian semua," jawab Darren. Mereka semua tersenyum ketika mendengar jawaban dari Darren
"Kalau kamu beneran sayang sama Kakak dan kita semua. Kamu harus nurut apa kata Kakak. Untuk beberapa hari ke depan kamu harus istirahat di rumah. Nggak boleh ke Perusahaan dulu, kamu nggak boleh ke Kampus dulu. Kamu nggak boleh ngapain-ngapain dulu. Bisa?"
Mendengar perkataan dari kakaknya membuat Darren seketika membelalakkan kedua matanya.
Ketika Darren ingin membuka mulutnya. Nuria sudah terlebih dahulu berbicara.
"Jika kamu sayang Kakak. Maka kamu akan melakukannya untuk kakak dan untuk kita semuanya."
Darren seketika melihat kearah Saskia. Darren berharap kakaknya itu mau menolongnya. Saskia yang mengerti arti dari tatapan adiknya itu berusaha untuk tidak terhipnotis.
"Maafkan Kakak, sayang! Semua keputusan ada ditangan kamu dan Nuria kakak kamu."
__ADS_1
Mendapatkan penolakan dari kakaknya itu membuat Darren mempoutkan bibirnya.
Detik kemudian, Darren tersenyum. Kemudian Darren mengalihkan perhatiannya kearah sang Kakek. Mereka semua melihat tatapan mata Darren yang tertuju kepada sang Kakek.
Nuria yang melihat hal itu langsung memberikan kode pada kakeknya. Nuria sangat yakin pasti kakeknya itu akan langsung terhipnotis oleh cucu jadi-jadiannya itu.
Robert yang mendapatkan kode berupa pelototan dari cucunya Nuria hanya bisa pasrah dan menurut. Toh, ini juga demi cucu kelincinya juga.
"Darren sayang. Kali ini opa tidak bisa bantu kamu. Jadi lebih baik kamu nurut saja apa yang dikatakan oleh kakakmu itu."
Diam-diam Erland, Ronald, Clara dan anggota keluarga lainnya tersenyum geli ketika melihat wajah ciut ayah/kakek mereka yang mendapatkan pelototan dari Nuria.
Darren mendengus kesal dengan menatap tak suka kakaknya Nuria. Nuria yang melihat hal itu hanya bisa pasrah dan mengabaikan tatapan tak suka adiknya itu. Bagi Nuria saat ini yang lebih penting adalah kesehatan adiknya.
"Bagaimana Darrendra Austin?" tanya Nuria.
"Baiklah," jawab Darren sedikit ketus.
"GOOD BOY!" Nuria mengacak-acak rambut adiknya itu.
Mereka semua tersenyum gemas ketika melihat wajah merengut dan wajah pasrah Darren ketika berhadapan dengan Nuria. Mereka semua sangat tahu Darren akan selalu kalah jika berhadapan dengan kakaknya itu. Apalagi kakaknya itu berstatus sebagai Dokter.
"Kakak kasih saran sama kamu Darren! Cara kamu agar terhindar dari kakak kamu yang berstatus sebagai Dokter itu. Jauhi yang namanya sakit. Sebisa mungkin kamu jangan sakit," ucap Alfin.
"Gampang banget ya kalau ngomongnya. Siapa juga yang mau sakit," jawab Darren dengan menatap kesal Alfin.
"Hahahaha." mereka semua tertawa mendengar perkataan Darren.
"Ya, sudah! Sekarang kamu istirahat. Tapi sebelumnya kamu harus makan dulu. Kakak akan buat kamu makanan dan susu segelas." Saskia berbicara sambil membelai kepala adiknya.
"Aku mau spaghetti dan nugget," ucap Darren.
"Baiklah. Kakak akan buatkan. Kakak akan masak sama Velly dan Nasya," jawab Saskia.
"Susunya aku mau susu pisang. Aku gak mau susu yang lain," kata Darren lagi.
"Iya. Baiklah," jawab Saskia.
Setelah itu, Saskia, Velly dan Nasya pun pergi meninggalkan kamar Darren.
Darren menatap satu persatu wajah anggota keluarganya. "Kalian ngapain masih disini. Kalau kalian masih disini. Aku mana bisa istirahat."
Mereka hanya bisa menghela nafas pasrahnya akan sikap dan perkataan Darren.
"Baiklah. Kita semuanya keluar!" seru para kakak-kakaknya.
"Ingat! Makan dulu baru istirahat," sahut Nuria memperingati adiknya.
"Iya, bawel!"
"Dasar."
"Wleeee."
__ADS_1
Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan kamar Darren. Sedikit kelegaan di hati mereka setelah melihat keadaan Darren.