REVENGE

REVENGE
Kembali Menjalin Kerja Sama


__ADS_3

Setelah perkenalan diri sebagai pemilik sekaligus PRESIDEN DIREKTUR di Perusahaan AYJ CROP dua hari yang lalu membuat Darren merasakan kepuasan dan kebahagiaan. Ditambah lagi dukungan dari keempat kakaknya yang mempercayakan perusahaan KSR tersebut kepadanya.


Satu kesedihan hilang. Namun Darren belum benar-benar merasakan kebahagiaan karena dalang pembunuhan ibu, tante dan neneknya masih hidup dan saat ini ditahan di penjara bawah tanah yang gelap dan pengab di markas BLACK LION. Begitu juga dengan Marissa atau nama aslinya Martina Harvey.


Darren saat ini sudah berada di Kampus. Dirinya tidak sendirian melainkan bersama keempat sahabatnya. Mereka tengah berada di Kantin.


"Jadi hari ini?" tanya Chello kepada Darren.


"Jadi," jawab Darren sambil menyeruput jus pokatnya.


"Jam berapa? Siapa aja yang akan ke markas Black Lion?" tanya Chico.


"Dari keluarga Fernandez hanya om Julian, kak Andra dan kak Adnan. Dari keluarga Smith hanya om Erland, om Ronald dan keempat kakak-kakakku. Sementara untuk Kakek tidak ikut. Kami melarang kakek untuk ikut dalam memberikan hukuman kepada para iblis itu. Dari keluarga Austin semuanya, kecuali Michel. Kita akan melakukannya jam 9 malam." Darren menjelaskan waktu pelaksanaannya dan orang-orang yang akan ikut serta dalam memberikan hukuman kepada orang yang sudah merenggut nyawa orang-orang terdekatnya.


Mendengar penjelasan dari Darren. Zidan, Chico, Barra dan Chello mengangguk mengerti.


"Sebelum pukul 9 malam. Kami sudah berada di markas untuk mempersiapkan semuanya," sahut Barra.


"Hm." Darren mengangguk sebagai jawaban.


Darren dan keempat sahabatnya tengah membahas tugas terakhir mereka. Tugas terakhir mereka adalah memberikan eksekusi mati terhadap Andara, Arnold, Marissa serta suami dari Marissa.


Sementara untuk ketiga anak-anaknya Marissa telah dikirim ke negara terpencil dan juga jauh dari pusat kota. Di negara ini tidak didukung dengan telekomunikasi dengan negara lain. Telekomunikasi yang dimiliki oleh negara itu hanya berlaku untuk negara mereka saja. Di negara itu sudah lengkap dengan semua persediaan.


Setelah Darren, keempat sahabatnya, kelompok mafianya berhasil menangkap Arnold, Andara, Marissa dan suaminya. Darren memerintahkan para mafiosonya untuk membawa para pembunuh tersebut ke markas BLACK LION. Darren juga memerintahkan para mafiosonya untuk mengurung mereka semua ke dalam penjara bawah tanah yang gelap dan pengab.


Bukan itu saja. Darren juga memerintahkan para mafiosonya untuk memberikan siksaan kepada para pembunuh itu dengan siksaan yang begitu menyakitkan sebelum masuk ke siksaan yang sebenarnya dari Darren, keluarga Smith, keluarga Austin dan keluarga Fernandez.


Ketika Darren dan keempat sahabatnya sedang membahas eksekusi untuk Andrara, Arnold, Marissa dan suaminya. Afnan, Naura, Vito, Velly, Nasya, Kiran dan Daniel beserta para sahabatnya datang.


"Apa kita mengganggu!" seru Vito yang berdiri di belakang Darren.


Mendengar seruan dari Vito membuat Darren mendegus kesal. Bagaimana tidak kesal? Vito berseru tepat di telinga Darren sehingga membuat Darren terlonjak kaget.


Melihat keterkejutan Darren dan wajah kesalnya membuat mereka tersenyum.


Mereka semua telah duduk di bangku masing-masing. Sementara Darren masih menunjukkan wajah kesalnya. Bahkan Darren mengabaikan mereka semua dan sibuk dengan dunianya sendiri.


"Kita dikacangin," sahut Naura dan Nasya bersamaan.


"Bodo," jawab Darren.

__ADS_1


"Darren," panggil Radika.


"Apa?" Darren menjawab dengan sedikit ketus tanpa menatap wajah lawannya.


Mendengar nada ketus Darren mereka semua hanya bisa mengurut dada masing-masing, terutama Radika. Bahkan Radika sendiri tidak marah atau pun tersinggung. Justru Radika tahu sikap asli dari Darren. Darren memang seperti itu jika sedang kesal.


"Ketus amat sih Dek," ucap Afnan.


"Bodo," jawab Darren.


"Hah!" Afnan menghela nafasnya mendengar jawaban singkat dari adik kelincinya itu.


Velly dan Nasya menatap horor sang kakak. Mereka meminta pertanggung jawaban dari kakaknya itu karena sudah membuat adik manis mereka kesal dan merajuk.


Vito yang menyadari akan tatapan maut dari kedua adik kembarnya menjadi paham. Vito kemudian menatap wajah tampan adik kelincinya yang ada di sampingnya. Vito langsung menduduki pantatnya di samping Darren ketika datang tadi.


"Darrendra Austin, adik Kakak yang paling tampan dan ketampanannya mengalahkan semua laki-laki yang ada di kantin ini. Maafin kakak ya." Vito berbicara sambil memuji dan memohon.


Mereka yang mendengar perkataan Vito menatap Vito dengan tatapan maut mereka. Vito yang sadar itu hanya acuh dan tak peduli.


Saat ini yang Vito pikirkan adalah bagaimana caranya membuat adik manisnya mau menatapnya dan bicara dengannya.


"Hei, ayolah! Jangan abaikan kakakmu yang tampan ini." Vito berucap dengan memperlihatkan wajah tampannya.


Melihat Darren yang menatap Vito membuat mereka semua memekik gemas. Bagaimana tidak gemas? Wajah Darren saat ini seperti anak kecil yang berusia lima tahun. Lucu dan menggemaskan sekali.


Setelah puas melihat dan menatap wajah kakaknya itu. Darren kembali fokus pada ponselnya dan jus alpukatnya.


"Tadi memuji dan mengatakan hanya aku yang paling tampan. Sekarang malah memuji diri sendiri. Gak konsisen," sindir Darren.


"Konsisten, Ren." Devon sahabatnya Afnan membenarkan perkataan dari Darren.


"Yeeeyy! Terserahku dong," jawab Darren.


"Iyain aja dech," sahut mereka secara bersamaan termasuk keempat sahabatnya.


Mendengar ucapan kompak dari orang-orang yang ada di hadapannya seketika Darren langsung menatap satu persatu mereka semua dengan wajah kesalnya.


"Kalian semua benar-benar menyebalkan," ucap Darren.


"Hahahahaha." mereka semua tertawa menatap wajah kesal Darren.

__ADS_1


"Ya ya! Terus aja tertawa. Jangan salahkan aku jika aku akan mengabaikan kalian semua selama satu tahun," sahut Darren yang sudah kembali ke posisi semula.


Seketika mereka semua berhenti tertawa ketika mendengar ucapan dari Darren. Mereka semua menatap wajah Darren serius, terutama Afnan, Naura, Vito, Velly dan Nasya.


Ketika para kakak-kakaknya itu dengan kompak membuka mulut ingin bertanya. Darren sudah terlebih dahulu bersuara dengan matanya menatap Radika.


"Tadi Kak Radika manggil aku ada apa? Apa ada yang mau ditanyakan?" tanya Darren.


Mendengar ucapan dan pertanyaan dari Darren membuat Radika bahagia. Sementara para kakaknya merengut kesal.


"Iya, Ren! Ada yang ingin Kakak tanyakan sama kamu," jawab Radika.


"Apa kakak Radika ingin menanyakan soal kerja sama Perusahaan keluarga Rasendria dengan Perusahaan DRN''CORP dan Perusahaan DRN'Smith?" tanya Darren to the point.


DEG!


Baik Radika, Kiran dan mereka semua terkejut mendengar pertanyaan dari Darren. Mereka tidak menyangka jika Darren telah mengetahui dan juga peka akan sikap Radika beberapa hari ini.


Radika memang beberapa hari ini berusaha untuk menanyakan masalah kerja sama tersebut kepada Darren, namun selalu gagal.


"Ren, kamu...," perkataan Radika terpotong.


"Iya, aku tahu! Masalah itu Kak Radika tidak perlu khawatir. Semuanya sudah kembali normal. Begitu juga dengan Perusahaan keluarga Fausta, keluarga Mahendra, keluarga Avanindra, keluarga Yadavendra, keluarga Dharmendra, keluarga Pramatya, keluarga Giyatsa dan keluarga Dirandra."


Mereka semua terkejut ketika mendengar ucapan dari Darren. Dan tanpa sadar mereka semua menangis. Mereka menangis karena bahagia.


"Ren. Apa semua ini benar?" tanya Daniyal.


"Kamu lagi gak bohongin kitakan Ren?" tanya Novan.


"Ini beneran kan Ren. Perusahaan keluarga kami kembali menjalin hubungan kerja sama dengan dua Perusahaan kamu?" tanya Gisella.


Melihat tangisan kebahagiaan di wajah para sahabat ketiga kakaknya. Dan mendengar pertanyaan demi pertanyaan dari mereka membuat Darren menjadi tidak tega karena sudah bersikap buruk hanya karena dendamnya.


Darren tersenyum tulus menatap wajah-wajah para sahabat ketiga kakaknya itu.


"Aku serius. Mulai besok Perusahaan keluarga kalian dan dua Perusahaan milikku sudah bisa bekerja sama lagi seperti biasanya," ucap Darren.


Mendengar ucapan dari Darren membuat mereka semua tersenyum bangga dan juga bahagia, terutama Radika, Kiran, Novan, Daniyal, Danar, Farrah, Gisella, Hanna, Arianna, Sania, Bella, Erlina dan Rara.


Mereka bahagia karena Perusahaan milik ayah mereka kembali bekerja sama dengan dua Perusahaan milik Darren. Dan otomatis semua Perusahaan yang keluar meninggalkan Perusahaan ayah mereka juga kembali. Begitu juga Perusahaan keluarga Smith.

__ADS_1


Semenjak dua Perusahaan milik Darren memutuskan hubungan kerja sama dengan Perusahaan ayah mereka. Banyak masalah yang menghampiri keluarga mereka, terutama Perusahaan ayah mereka. Perusahaan ayah mereka banyak mengalami kerugian dan juga penurunan omset.


"Terima kasih Darren. Terima kasih banyak," ucap mereka secara bersamaan. Darren tersenyum sebagai jawabannya.


__ADS_2