
Darren sudah berada di kampus. Setelah mengikuti kelas pertama dan setelah selesai mendiskusikan acara Baksos. Kini Darren duduk di lapangan yang luas dan juga dingin dengan laptop di pangkuannya.
Ketika Darren sedang fokus dengan laptopnya. Ketujuh sahabat-sahabatnya datang menghampirinya. Mereka pun langsung menduduki pantatnya berjejeran di samping kiri dan kanan Darren.
"Yaelah, Ren! Istirahat sejenak napa," sahut Zidan.
"Iya, nih! Ren, apa lo gak lelah? Dua jam lo di kelas. Dua jam membahas kegiatan baksos. Sekarang waktu istirahat, lo malah berkutat dengan anak lo. Ntar tumbang lo," sela Briyan.
"Apa mata lo nggak perih dan sakit setiap hari mantengin layar laptop terus?" tanya Barra.
Mendengar perkataan dari Zidan, Barra dan Briyan. Darren langsung menolehkan wajahnya melihat satu persatu wajah ketujuh sahabat-sahabatnya yang duduk berjejeran di sampingnya.
Setelah puas melihat wajah ketujuh sahabat-sahabatnya. Darren kembali menatap ke layar laptopnya.
Dan detik kemudian....
"Kalian bersisik sekali," sahut Darren.
Mendengar ucapan dari Darren membuat mereka saling melirik satu sama lainnya. Dan jangan lupa kening yang mengerut.
"Berisik kali Ren. Mana ada bersisik," sela Chello membenarkan ucapan Darren.
"Iya, itu maksud gue. Kalian berisik," ucap Darren dengan tatapan matanya masih fokus ke layar laptopnya.
Mereka yang mendengar perkataan dan melihat kelakuan Darren hanya bisa mengusap wajah masing-masing.
Melihat interaksi Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya membuat para kakak-kakaknya tersenyum.
Para kakak-kakaknya bersama para sahabatnya berada di lokasi yang sama dan berbeda tempat. Hanya jarak saja yang membatasinya.
Ketika Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya fokus dengan dunia mereka, tiba-tiba beberapa orang datang mengganggu ketenangannya. Salah satunya menatap marah kearah Darren.
Para kakak-kakaknya beserta sahabatnya melihat kedatangan lima orang gadis yang menghampiri Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
"Bukannya itu gadis yang sering beradu mulut dengan Darren ya?" tanya Erick sahabatnya Afnan.
"Iya. Mau ngapain tuh cewek?" tanya Aayla sahabatnya Naura.
"Cari penyakit tuh cewek," sahut Valeo
Ya! Kelima gadis itu adalah Arinda dan keempat sahabatnya. Arinda dan keempat sahabatnya datang menghampiri Darren. Lebih tepatnya Arinda yang sepertinya tampak marah menatap Darren.
Melihat kedatangan Arinda. Ketujuh sahabat-sahabatnya Darren langsung menatap Arinda dan keempat sahabatnya. Sementara Darren masih fokus menatap layar laptopnya.
"Mau ngapain lagi nih cewek?" batin Barra.
"Ini masih pukul 11 siang nona. Jangan cari masalah. Dan jangan membangunkan singa yang lagi tidur," batin Chico.
__ADS_1
"Kau...," sahut orang itu dengan nada ketus dan wajah marah.
Arinda sudah berdiri tepat di hadapan Darren dan menatap Darren tajam. Sementara Darren masih fokus dengan laptopnya. Bagi Darren, menatap layar laptopnya lebih menarik dari pada menatap gadis yang selalu membuatnya naik darah. Darren sudah tahu siapa gadis itu. Mendengar suaranya saja, Darren sudah hafal.
Melihat pemuda yang ada di hadapannya yang sama sekali tidak mau menatapnya membuat Arinda marah. Dalam hidup Arinda tidak ada yang boleh mengabaikan dirinya, tidak ada yang boleh cuek dan acuh padanya. Jika dirinya bertanya, maka orang itu harus menjawabnya.
Arinda tak terima melihat sikap Darren. Dan detik kemudian, Arinda dengan berani menarik kasar laptop milik Darren. Dan setelah itu, Arinda membantingnya.
PRAANNNGG!
Melihat apa yang dilakukan oleh Arinda membuat para kakak-kakaknya beserta sahabatnya dan ketujuh sahabat-sahabatnya menatap marah Arinda.
Darren tiba-tiba berdiri dari duduknya dan matanya menatap marah melihat laptop kesayangan hancur berkeping-keping di tanah.
Setelah itu, Darren mengalihkan perhatiannya menatap wajah gadis yang ada di hadapannya.
Darren menatap nyalang Arinda dan detik kemudian...
Plak!
Darren memberikan tamparan keras ke wajah Arinda sehingga membuat Arinda meringis kesakitan.
Setelah itu, dengan sekuat tenaga. Darren mendorong tubuh Arinda sehingga membuat tubuh Arind tersungkur di tanah.
BRUUKK!
"Arinda, lo gak apa-apa?" tanya Belinda.
Keempat sahabatnya menghampiri Arinda dan membantu Arinda untuk berdiri.
Darren menatap amarah Arinsa. Terlihat jelas dari kilat amarahnya ketika menatap Arinda. Tangannya mengepal kuat.
"Lo punya dendam apa sama gue, hah? Gue gak kenal lo. Gue gak kenal siapa keluarga lo. Gue gak pernah mengusik kehidupan lo. Kenapa lo terus-terusan mencari masalah sama gue?! Apa lo marah karena setiap ketemu berantem mulu. Ingat! Disini lo yang salah. Lo jalan kayak dikejar setan. Lo jalan tanpa melihat ke depan. Lo jalan tapi mata lo sibuk mandangi pacar lo. Lo yang nabrak gue. Malah justru lo yang marah-marah!" Darren berbicara dengan berteriak sambil tangannya menunjuk kearah Arinda.
"Beberapa hari ini gue sudah cukup sabar ya menghadapi cewek seperti lo. Gue sabar bukan berarti gue gak berani nyakitin lo. Kesabaran orang itu ada batasannya. Gak selamanya bakal sabar terus!" teriak Darren.
Darren menatap laptopnya yang telah hancur dengan penuh amarah. Setelah itu, Darren kembali menatap nyalang Arinda.
"Gue kasih waktu dua minggu buat lo nyelesain pekerjaan gue. Gue gak butuh laptop baru dari lo. Yang gue butuh adalah isinya. Lo tahu gak?! Semua isi dalam laptop gue itu semuanya hasil kerja keras gue. Hasil pemikiran gue. Lo tahu gak?! Gue sampai gak tidur hanya untuk menyelesaikan semuanya itu. Gue sampai rela bergadang demi menyelesaikan semua itu. Bahkan gue rela menunda makan gue di kantin demi menyelesaikan semua tugas-tugas gue. Dan lo!" teriak Darren dengan menunjuk kearah Arinda. "Lo seenaknya merampas laptop gue dan lo banting gitu aja. Lo pikir lo itu siapa?!"
Darren hendak melayangkan tamparan kedua ke wajah Arinda. Namun dengan gesitnya Barra dan Chico langsung menahan tubuh Darren. Sementara Faza langsung menahan tangan Darren yang hendak menampar wajah Arinda untuk yang kedua kalinya.
"Ren, sabar!" ucap Barra di telinga Darren.
"Bagaimana pun dia perempuan Ren. Dan Lo udah nampar dia sekali. Jangan lagi," bisik Chico.
Faza sedikit mendorong tubuh Darren ke belakang dan dibantu oleh Barra dan Chico. Barra memeluk tubuh Darren dari belakang. Barra takut jika Darren kelepasan lagi. Begitu juga dengan yang lainnya.
__ADS_1
Arinda menatap penuh amarah kearah Darreb. Dirinya tidak terima diperlakukan seperti ini. Pemuda yang ada di hadapannya itu sudah membantai habis seluruh keluarganya. Dan pemuda di hadapannya itu juga sudah merebut Perusahaan milik ayahnya. Dirinya harus membalaskan dendamnya atas apa yang telah dilakukan oleh pemuda yang ada di hadapannya.
"Awalnya memang aku yang salah. Dan aku mengakuinya kalau aku berjalan tidak melihat ke depan sehingga selalu menabrak orang yang berjalan berlawanan arah denganku. Aku menyadari hal itu ketika pertengkaran terakhir itu. Maka dari itulah aku tidak mau mencari masalah lagi denganmu. Dan aku berusaha untuk lebih berhati-hati lagi ketika berjalan."
Arinda berlahan melangkahkan kakinya menghampiri Darren. Faza yang berada di depan Darren berusaha menghalangi Arinda.
"Kau tahu apa alasanku marah padamu sehingga berani menghancurkan laptop milikmu, hah?!" teriak Arinda.
Hening...
Baik Darren maupun Arinda sama-sama memberikan tatapan tajamnya. Keduanya sama-sama diliputi amarah yang begitu besar.
Ketika Arinda ingin melanjutkan perkataannya, tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi. Darren yang menyadari itu langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
Ketika ponselnya sudah berada di tangannya. Darren melihat nama 'Vicky' tangan kanannya. Tanpa membuang waktu lagi. Darren langsung menjawab panggilan dari tangan kanannya itu.
"Hallo, Vicky!"
"Hallo, Bos! Aku kabar baik untukmu Bos."
"Katakan."
"Aku sudah mendapatkan foto anak perempuan dari Fazio Bernard."
"Benarkah?"
"Benar, Bos!"
"Kirimkan padaku."
"Baik, Bos!"
PIP!
Darren langsung mematikan panggilannya. Dan tak butuh lama setelah Darren mematikan panggilan dari Vicky. Ponselnya kembali berbunyi.
TING!
Terdengar suara notifikasi yang menandakan bahwa ada sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.
Darren langsung membuka pesan itu dan melihatnya. Ketika Darren melihat foto yang dikirimkan oleh Vicky. Seketika Darren tersenyum. Lebih tepatnya senyuman iblis.
Barra dan Chico sempat melihat foto gadis di layar ponsel Darren. Dan mereka terkejut.
"Itu kan foto gadis itu," batin Barra dan Chico.
Setelah mendapatkan foto anak perempuan dari Fazio Bernard. Darren memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
__ADS_1