
Kediaman keluarga Austin tampak ramai dimana semua anggota keluarga berkumpul di ruang tengah termasuk ketujuh sahabat-sahabat Darren.
Zidan, Chico, Barra, Chello, Faza, Briyan dan Kevin memutuskan untuk mendatangi keluarga Austin. Alasan mereka datang kesana untuk bertemu dengan Darren. Mereka ingin membahas masalah hilangnya Arinda dan juga kecurigaan Zidan tentang pelaku hilangnya Arinda.
"Ren," panggil Zidan.
Darren langsung melihat kearah Zidan yang duduk di depannya.
"Iya, ada apa Zidan?" tanya Darren.
"Aku sudah mendapatkan sebuah petunjuk akan hilangnya Arinda!"
Mendengar perkataan dari Zidan. Darren seketika menatap wajah Zidan intens, terutama tatapan mata Zidan. Begitu juga dengan anggota keluarga Darren lainnya.
"Apa itu benar Zidan?" tanya Darren.
"Iya, Ren!" jawab Zidan.
"Petunjuk apa?" tanya Darren.
"Apa lo ingat ketika Arinda dihadang beberapa orang dijalan ketika hendak pulang dari kampus?" tanya Zidan.
Mendengar pertanyaan dari Zidan membuat Darren berusaha untuk mengingat kejadian dimana Arinda yang dihadang dan diganggu oleh beberapa orang.
Darren seketika Darren membelalakkan matanya ketika mengingat kejadian tersebut. Pandangan mata Darren langsung menatap wajah Zidan.
"Dan. Jangan bilang kau mencurigai laki-laki itu?" tanya Darren.
"Kau tidak salah lagi, Ren! Aku memang mencurigai dia," jawab Zidan.
"Kenapa kau bisa mencurigai laki-laki itu Zidan?" tanya Briyan.
"Gampang saja. Pertama, dia adalah sahabat dari calon tunangan Arinda yang telah meninggal. Dan kedua, laki-laki mencintai Arinda."
"Kemungkinan laki-laki itu terlebih dahulu mencintai Arinda, namun sahabatnya yang mendapatkan Arinda."
"Dan kemungkinan juga dia yang menjadi penyebab kecelakaan yang dialami oleh calon tunangannya Arinda."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Zidan membuat Darren membenarkan perkataan dari Zidan. Begitu juga dengan sahabatnya yang lain dan anggota keluarganya.
"Masuk akal juga apa yang dikatakan oleh Zidan!" seru Qenan.
"Terus apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Chello.
Drtt... Drtt..
Seketika mereka semua dikejutkan dengan suara ponsel milik Darren. Mereka semua melihat kearah Darren yang tengah mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
Mereka semua memasang telinga untuk mendengar pembicaraan Darren dengan seseorang di seberang telepon.
"Hallo, Reno!"
"Hallo Bos. Aku mendapatkan kabar mengenai nona Arinda,"
__ADS_1
"Informasi apa yang kau dapatkan?"
"Nona Arinda berada di sebuah gudang yang sudah tidak terpakai. Lokasinya berada di perbatasan kota Sidney. Waktu yang dibutuhkan untuk kesana hanya 2 jam."
Mendengar perkataan dari Reno tangan kanannya seketika terukir senyuman manis di bibirnya.
Melihat senyuman di bibir Darren membuat ketujuh sahabat-sahabatnya dan semua anggota keluarganya langsung mengerti. Mereka semua beranggapan bahwa Reno sudah mendapatkan kabar terbaru.
Darren melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi.
"Waktu sudah pukul 10 pagi. Jarak kesana membutuhkan waktu 2 jam... Eemm... Berarti Arinda berada di....."
Reno yang di seberang telepon sudah mengerti arah pembicaraan sang Bos. Reno seketika tersenyum ketika Bos nya sudah langsung mengetahui lokasi tersebut.
"Reno, siapkan orang-orangmu. Katakan juga kepada Maxi untuk menyiapkan segala keperluan seperti biasa."
"Baik, Bos!"
"Kita bergerak sekarang!"
"Baik, Bos!"
Setelah mengatakan itu, Darren langsung mematikan panggilannya.
"Reno memberitahukan padaku bahwa dia sudah tahu dimana lokasi Arinda. Dari sini kita membutuhkan waktu 2 jam." Darren berbicara sembari menatap wajah ketujuh sahabat-sahabatnya satu persatu.
"Kalian pasti tahu nama lokasinya kalau kita berangkat sekarang dan membutuhkan waktu 2 jam untuk kesana? Lokasi itu berbatasan dengan kota Sidney."
"Tunggu apa lagi. Kita berangkat sekarang!" seru Briyan.
"Aku, Chello, Briyan dan Kevin yang berangkat kesana. Sementara untuk kalian tetap disini untuk memantau dan mengawasi pergerakan Cemal."
Darren sudah memahami semua kejadian yang menimpa Arinda. Dan yang menjadi dalangnya adalah Cemal.
Jadi seseorang yang dicurigai oleh Zidan akan hilangnya Arinda adalah Cemal.
"Baik!" jawab Zidan, Chico, Barra, Chello, Faza, Briyan dan Kevin bersamaan.
Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan kediaman keluarga Austin untuk melakukan tugasnya masing-masing.
Darren menatap kedua kakak kesayangannya yaitu Marco dan Afnan. Dirinya membutuhkan tenaga kedua kakaknya itu untuk langsung menghancurkan keluarga Cemal.
"Kak Marco, kak Afnan. Aku membutuhkan tenaga kalian berdua," ucap Darren.
"Apa itu Ren?"
"Katakan saja," sahut Afnan.
"Aku mau kalian berdua langsung menghancurkan keluarga dari Cemal. Aku ingin menyelesaikannya hari ini juga termasuk perusahaan milik ayah dan pamannya itu."
"Baiklah!" seru Marco dan Afnan bersamaan.
"Aku mau mereka semua hancur dan tidak memiliki apa-apa lagi. Sisakan perusahaannya untukku," ucap Darren.
__ADS_1
"Baiklah," jawab Marco dan Afnan bersamaan.
Setelah itu, Marco dan Afnan pergi meninggalkan kediaman Austin untuk melakukan apa yang diinginkan oleh adik kesayangannya.
Darren menghubungi tangan kanannya Vicky. Dan meminta Vicky untuk menyiapkan beberapa anggotanya.
Setelah menghubungi Vicky. Darren pun pergi meninggalkan kediaman Austin setelah berpamitan dengan anggota keluarga.
***
"Hiks... Papi, Mami, Kak Nathan, kak Azka... Hiks," isak Arinda yang saat ini dalam kondisi yang tak baik saja.
Seperti biasanya, kondisi tubuh Arinda tidak bisa digerakkan kecuali bicara dan kepalanya yang bisa bergerak.
Flashback On
"Kau...."
"Kenapa sayang? Apa kau bahagia melihat kehadiranku?"
"Kenapa kau lakukan ini padaku? Apa salahku padamu Cemal?" tanya Arinda.
Yah! Laki-laki yang menyebabkan Arinda menghilang adalah Cemal, laki-laki yang menyukai Arinda sekaligus sahabat dari calon tunangan Arinda.
"Kau sudah tahu jawabannya Arinda. Aku sangat mencintaimu. Dan hanya aku yang pantas menjadi pendamping hidupmu."
"Tapi aku tidak mencintaimu, Cemal!"
"Maka dari itulah aku akan membuatmu mencintaiku. Sudah cukup selama ini aku menunggumu sehingga kau memilih sahabatku. Sekarang dia sudah mati. Tidak ada alasan lagi untukmu menolakku."
"Tidak! Sampai kapan pun aku tidak akan mencintaimu!" teriak Arinda.
Mendengar perkataan dan juga teriakan dari Arinda membuat Cemal tersenyum. Dirinya sama sekali tidak marah akan perkataan dari Arinda.
"Aku tidak peduli. Mau kau mencintaiku, mau kau tidak mencintaiku atau bahkan kau ingin memakiku. Sekali lagi aku katakan padamu. Aku tidak peduli!"
"Kau gila!" teriak Arinda.
"Terima kasih pujiannya sayang," ucap Cemal dengan mengusap lembut pipi putih Arinda.
Arinda langsung memutar wajahnya kearah lain. Dirinya tidak ingin tangan Cemal menyentuh wajahnya.
"Kau sangat cantik Arinda. Kenapa aku bisa jatuh cinta padamu?"
"Jauhkan tanganmu dari wajahku. Aku tidak sudi tanganmu menyentuhku!" bentak Arinda.
"Tapi aku sangat menyukai pipi putihmu ini sayang. Biarkan tanganku menyentuh pipi putihmu ini," ucap Cemal.
Arinda menatap tajam wajah Cemal. Dirinya benar-benar jijik akan perlakuan buruk Cemal padanya. Seketika setetes air mata jatuh membasahi wajah cantiknya.
"Kau benar-benar menjijikkan Cemal!"
Mendengar perkataan yang menurut Cemal adalah sebuah pujian dari Arinda hanya memperlihatkan senyuman manisnya. Seperti yang sudah dikatakan oleh Cemal bahwa dirinya tidak peduli apapun yang keluar dari mulut Arinda. Yang dipedulikan dirinya saat ini dan seterusnya adalah Arinda adalah miliknya.
__ADS_1