REVENGE

REVENGE
Menceritakan Kondisi Darren


__ADS_3

Setelah membahas masalah tentang dalang pembunuhan anggota keluarga Smith dan anggota keluarga Austin. Darren memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya.


Awalnya keempat kakak-kakaknya tidak mengizinkan dirinya untuk pulang dan meminta untuk menginap dua hari di kediaman Smith.


Namun bukan Darren namanya jika tidak bisa meluluhkan hati keempat kakak-kakaknya untuk mengizinkannya pulang. Dengan memperlihatkan wajah sedih sedemikian rupa di hadapan keempat kakak-kakaknya membuat keempat kakak-kakaknya mau tidak mau mengizinkannya pulang ke rumah dengan beberapa syarat. Dan Darren dengan senang hati menerima syarat tersebut.


Kini Darren berada di rumahnya. Tepatnya Darren saat ini berada di ruang tengah sedang berbicara dengan salah satu sahabatnya. Darren meminta keempat sahabatnya untuk datang ke rumahnya.


"Chello. Jangan lupa beritahu Zidan, Chico dan Barra untuk datang ke rumahku."


"Siap, Ren!"


Setelah selesai, baik Chello maupun Darren sama-sama mematikan panggilannya.


Bukan hanya keempat sahabatnya saja yang disuruh untuk datang ke rumahnya, melainkan keluarga Fernandez dan keluarga Austin juga.


Darren mencari kontak Julian. Setelah mendapatkannya, Darren pun langsung menghubungi om nya itu.


Beberapa detik kemudian, terdengar suara seseorang di seberang telepon.


"Hallo, Darren. Ada apa sayang?"


"Hallo, Om Julian. Om ada dimana? Sibuk tidak?"


"Om di rumah sayang. Tidak. Om saat ini bersama dengan ketiga kakak-kakakmu. Ada apa, hum?"


"Bisa Om ke rumahku sekarang? Ada hal penting yang ingin aku bahas."


"Baiklah sayang. Om dan ketiga kakak-kakakmu akan kesana."


"Baik, Om. Aku tunggu."


PIP!


Setelah berbicara dengan Julian. Darren langsung mematikan. panggilannya.


"Aku harus segera menyelesaikan balas dendam ini. Aku tidak ingin menunggu terlalu lama. Kali ini aku tidak akan membiarkan kedua manusia iblis itu mengambil orang-orang yang aku sayangi. Sudah cukup aku kehilangan Mama, tante Amanda dan nenek Victoria. Aku tidak mau ada yang pergi lagi," batin Darren.


...***...


Felix dan kelima anak-anaknya berada di ruang tengah. Bahkan Felix, Raka dan Satya sudah mengetahui tentang kondisi terakhir putranya/adiknya Darren dari Vito, Velly dan Nasya.


Ketika mendengar cerita dari Vito, Velly dan Nasya membuat Felix, Raka dan Satya benar-benar sangat mengkhawatirkan Darren.


"Aku benar-benar khawatir akan kondisi kesehatan Darren, Pa!" seru Satya.


"Pa, Kak. Bagaimana kalau sekarang ini kita ke rumah Darren? Kalau perlu kita menginap disana lagi. Nanti aku akan minta sama Darren buat izinin aku, Nasya dan Kak Vito tinggal disana untuk ikut jagain Darren," usul Velly.


"Baiklah sayang. Nanti sekitar pukul 10 pagi kita akan kesana mengunjungi Darren," jawab Felix.


Mendengar jawaban dari Felix membuat Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya tersenyum bahagia.


Ketika mereka tengah memikirkan Darren, tiba-tiba ponsel milik Felix berbunyi. Mendengar bunyi ponselnya, Felix langsung mengambilnya.


Ketika ponselnya sudah di tangannya. Matanya melihat ke layar ponselnya tertera nama putra bungsunya. Seketika terukir senyuman manis di bibir Felix.


"Panjang umur kamu sayang. Papa dan kakak-kakakmu disini sedang memikirkanmu," batin Felix.


Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya yang melihat ayahnya tersenyum dibuat penasaran.


"Papa. Kenapa senyam senyum begitu? Siapa yang menelpon Papa?" tanya Vito.


"Adikmu," jawab Felix yang langsung menjawab panggilan dari putra bungsunya itu.


Mendengar ayahnya yang menyebut nama adiknya membuat Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya tersenyum.


"Papa. Loundspeaker panggilannya. Kami juga mau dengar!" seru Satya.

__ADS_1


Mendengar permintaan Satya. Felix pun menlounspeaker panggilan dari putra bungsunya itu.


"Hallo, sayang."


"Hallo, Pa! Papa dimana?"


"Papa ada di rumah. Kenapa sayang?"


"Sibuk tidak?"


"Tidak sayang. Kenapa, hum?"


"Bisa tidak Papa ke rumahku sekarang?"


Mendengar perkataan dari Darren membuat hati Felix benar-benar bahagia. Begitu juga dengan Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya.


"Tentu bisa sayang. Sekali pun Papa sibuk hari ini. Papa akan tetap milih untuk datang ke rumahmu."


Darren yang berada di seberang telepon tersenyum ketika mendengar jawaban dari ayahnya.


"Terima kasih Pa."


"Sama-sama sayang. Oh iya! Papa sendiri yang kesana atau..." perkataan Felix terpotong.


"Kalian semua," jawab Darren.


Lagi-lagi Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya tersenyum mendengar ucapan dari adiknya.


"Darren," panggil Vito.


Darren yang mendengar panggilan dari Vito seketika terkejut. Namun detik kemudian, Darren tersenyum.


"Ada apa Kak Vito."


Vito tersenyum bahagia ketika mendengar jawaban dari Darren.


Mendengar permintaan sederhana dari kakaknya membuat Darren tersentuh.


"Kakak yakin ingin tinggal bersamaku?"


"Iya, Ren! Kakak sangat yakin. Tidak ada alasan Kakak untuk tidak yakin tinggal bersama kamu. Kamu adiknya Kakak. Selamanya kamu akan tetap menjadi adiknya Kakak."


"Baiklah. Kakak boleh tinggal bersamaku."


"Benarkah, Ren?"


"Iya."


"Terima kasih ya sayang."


Mendengar perkataan sayang yang dilontarkan oleh Vito membuat Darren seketika menangis. Ini adalah kata pertama yang diucapkan oleh Vito semenjak kejadian itu. Sebelum kejadian itu, kakaknya itu selalu mengucapkan kata sayang untuknya.


"Hiks... Kak Vito. Kakak bilang apa barusan?"


"Kakak bilang 'Terima kasih sayang'."


"Hiks... Hiks..."


"Darren. Kenapa kamu nangis? Apa ada yang salah dengan ucapan kakak?" tanya Vito.


"Tidak ada ucapan Kakak yang salah. Aku... Aku merindukan panggilan itu."


"Kakak juga rindu memanggilmu dengan sebutan itu, Ren!"


"Kakak mau tidak memanggilku dengan panggilan itu lagi?"


"Tentu. Dengan senang hati."

__ADS_1


"Ya, sudah kalau begitu. Aku tunggu kalian di rumahku."


Setelah mengatakan hal itu, Darren pun langsung mematikan panggilannya.


...***...


Felix, Raka, Satya, Vito, Velly, Nasya, Julian, Andra, Adnan dan Merryn sudah berada di rumah Darren. Mereka saat ini berada di ruang tengah ditemani oleh Lory.


Sementara Darren berada di kamarnya. Setelah selesai menghubungi Julian dan ayahnya. Darren pergi ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Tiba-tiba Darren kembali merasakan sakit di kepalanya.


"Kak Lory. Darren mana? Kenapa kita dari tadi gak lihat Darren?" tanya Nasya.


"Darren ada di kamarnya sedang istirahat. Beberapa menit yang lalu Darren kembali merasakan sakit di kepalanya," jawab Lory.


Mendengar perkataan Lory membuat Felix, Julian dan anak-anaknya terkejut.


"Lory. Jika Om boleh tahu. Apa yang terjadi pada Darren setelah kecelakaan itu?" tanya Julian. Julian benar-benar mengkhawatirkan Darren saat ini.


"Ach! Setelah kecelakaan yang menimpa Darren satu tahun yang lalu. Ada pembekuan darah di kepala Darren dan harus segera dioperasi.


Namun setelah operasi kondisi Darren tidak menunjukkan tanda-tanda akan membaik. Sebelum operasi itu. Dokter sudah mengatakan akan ada efek sampingnya."


"Efek sampingnya adalah Darren akan mengalami sakit kepala setiap Darren memikirkan masalah. Maka dari itulah kami selalu berusaha untuk membuat Darren nyaman dalam menghadapi hari-harinya. Kami berusaha menjauhkan Darren dari masalah yang akan mengganggu pikirannya. Masalah kematian Darren satu tahu yang lalu. Itu adalah ide dari Kakek dan om Erland. Tujuannya adalah agar Darren melupakan kejadian itu. Dan Darren juga memiliki trauma mendalam setelah kejadian itu."


"Dan masalah kematian tante Amanda. Ketika Darren mendengar kabar itu. Darren kembali bersedih. Darren kembali teringat ketika Darren yang gagal menyelamatkan Tante Clarissa dan Tante Amanda. Darren kembali menyalahkan dirinya. Dan setelah pulang dari rumah Om Julian dan dari pemakaman Tante Amanda. Ditambah lagi setelah bertemu dengan kalian. Trauma Darren muncul kembali. Rasa takut dan juga rasa bersalah Darren keluar secara bersamaan sehingga membuat Darren benar-benar hancur."


Lory menatap wajah Felix, Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya. "Kalian tahu apa yang Darren lakukan saat itu?"


"Apa nak? Katakan pada Om," lirih Felix.


"Darren melukai dirinya sendiri dengan cara menggoreskan lengannya," jawab Lory kala mengingat adik sepupunya itu ingin melukai lengannya.


Mendengar Lory yang mengatakan bahwa Darren ingin melukai lengannya membuat Felix, Raka, Satya, Vito, Velly, dan Nasya benar-benar terkejut dan juga syok. Mereka tidak menyangka jika perbuatan mereka satu tahun yang lalu membuat hidup Darren tertekan.


"Jika ada orang-orang terdekatnya terluka di depan matanya. Trauma Darren akan muncul."


"Jangan bilang ketika di rumah sakit dimana Nasya yang mengorbankan dirinya untuk melindungi Darren. Kami melihat ada ketakutan dalam tatapan mata Darren. Apa itu...?" perkataan Vito terpotong.


"Iya. Saat itu trauma Darren hampir keluar. Namun untungnya Afnan berusaha memberikan ketenangan pada Darren sehingga traumanya tidak keluar," jawab Lory.


"Ya, Tuhan. Darren," lirih Merryn.


"Aku mau ke kamarnya Darren!" seru Merryn.


Setelah itu, Merryn pun beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamarnya Darren.


"Merryn, kami ikut!" seru Velly dan Nasya.


Merryn hanya melihat sekilas Velly dan Nasya. Setelah itu, Merryn kembali melangkahkan kakinya menuju kamar adik kesayangannya.


Setelah kepergian, Merryn, Velly dan Nasya ke kamar Darren. Detik kemudian, terdengar suara bell rumah.


TING!


TONG!


Mendengar suara bell. Seorang pelayan berlari untuk membukakan pintu.


Beberapa detik kemudian, terdengar suara beberapa orang memasuki ruang tengah.


"Selamat pagi Kak Lory," sapa Zidan, Chico, Barra dan Chello.


Baik Lory, keluarga Austin dan keluarga Fernandez melihat ke asal suara.


"Kalian sudah datang?" tanya Lory.


Dan setelah itu Zidan, Chico, Barra dan Chello mendudukkan dirinya di sofa ruang tengah.

__ADS_1


__ADS_2